I Am Fine

I Am Fine
Jaki tahu Keira menyukainya



"Ada apa dengan mu?" Tanya Jovan pada Riki.


"Tidak ada, Kak Keisha tidak bisa dihubungi 3 bulan terakhir ini. Katanya sih hpnya rusak, tapi ku rasa tidak. Karena tidak mungkin kan ponselnya rusak selama 3 bulan? Dia juga meminta padaku untuk menyembunyikan ini dari Kak Jaiden" Jelas Riki pada Jovan dan Sufa.


"Um... Riki" Ucap Sufa ragu-ragu.


"Apa?" Sahut Riki.


"Kau sudah tanya Kak Jaiden belum? Mungkin dia tahu sesuatu, bukankah selama ini mereka sering bertukar kabar?" Tanya Jovan semberi memberi saran.


Riki pun menggelengkan kepalanya, "Kalau Kak Jaiden tahu sesuatu, tidak mungkin Kak Kei meminta ku untuk menyembunyikannya dari Kak Jaiden" Sahut Riki.


"Ah iya, benar juga. Lalu bagaimana? Kenapa kau... tidak mencoba untuk menelepon Mama mu dan bertanya padanya?" Saran Jovan ragu-ragu.


Karena Jovan dan Sufa mengetahui, kalau hubungan Riki dan Mamanya itu memang lah tidak baik-baik saja.


Riki terdiam sejenak lalu berucap, "Tidak akan pernah bertanya padanya" Ucap Riki malas, lalu pergi meninggalkan kedua temannya.


"Aku ke toilet sebentar ya! Izinkan aku pada Guru yang masuk nanti!" Pinta Riki di depan pintu Kelas.


Keduanya pun hanya mengangguk saja.


"Hei Jovan, apa mau ku beri tahu sebuah rahasia? Tapi kau jangan bilang pada siapa-siapa ya!" Ucap Sufa pada Jovan.


"Memangnya apaan sih?" Tanya Jovan malas.


"Kau tahu kan kalau Yuna satu sekolah dengan Kak Keisha di Amerika?" Tanya Sufa.


Jovan pun mengangguk pasti, "Apa ini tentang Kak Kei? Ayo ceritakan! Aku penasaran!" Ucap Jovan mulai tertarik.


"Tapi kau janji dulu! Jangan katakan pada siapapun!" Jelas Sufa.


"Aku berjanji!" Ucap Jovan.


"Kalau kau sempat mengatakan ini, kau harus memberi ku sertifikat rumah mu!" Ucap Sufa.


"Ck, enak saja! Ya sudah ayo cepat ceritakan pada ku! Tidak akan ku beri tahu pada orang lain, kalau ku beri tahu akan ku berikan sertifikat rumah ku!" Ucap Jovan memaksa Sufa.


"Bagus! Sudah ku rekam!" Ucap Sufa sambil memperlihatkan layar ponselnya yang menyala.


Ya, Sufa memang sengaja merekam percakapannya dengan Jovan. Alasannya sih, hanya untuk berjaga-jaga saja.


"Ck, menyebalkan! Aku kan sudah berjanji tidak akan mengatakannya pada siapa pun, ya sudah iya cepat ceritakan! Sebelum Riki kembali dari toilet!" Ucap Jovan.


"Oke oke, Kak Keisha dan Kak Thalia saling mengenal satu sama lain. Dan alasan Kak Thalia pindah sekolah ke Indonesia juga karena Kak Keisha!" Ucap Sufa mengecilkan suaranya.


"Hei apa kah Kak Kei?" Sahut Jovan menduga-duga, "Hei tidak mungkin itu Kak Keisha!" Ucap Jovan tak percaya, karena dirinya mengenal siapa itu Keisha.


"Hei kalian sedang bicara apa? Kenapa berbisik-bisik?" Tanya Riki yang baru saja kembali dari toilet.


...⚡⚡⚡...


Nenek dan Kakek ku tahu aku ikut balapan waktu itu," Jelas Jaiden pada teman-temannya.


"Hah demi apa?" Tanya Surya.


"Lalu bagaimana reaksi Nenek dan Kakek?" Tanya Jaki.


"Tentu saja marah," Sahut Jaiden terkekeh, "Tapi aku tidak akan berhenti, aku hanya ingin bebas" Lanjutnya.


"Bukan kah malam ini juga ada balapan? Kali ini apa taruhannya?" Tanya Surya.


"Tidak menarik! Taruhannya perempuan!" Sahut Heri tak suka.


"Karin ya?" Tanya Jaiden.


"Apa kau tertarik padanya Jai?" Tanya Jaki terkekeh.


"Apa?! Yang benar saja, iuw murahan!" Sahut Heri kesal.


"Bukan kah Karin sangat cantik?" Ucap Surya terkekeh, "Kau kan juga pernah berkencan dengannya Heri," Lanjutnya menggoda Heri.


"Tidak tidak! itu kesalahan besar!" Ucap Heri tak terima.


"Jaki kau ini memang tidak peka ya?" Tanya Jaiden.


Namun sayang sekali, Jaiden tidak melihat itu.


"Maksud mu? Peka terhadap apa?" Tanya Jaki binggung.


"Keira sepertinya sangat menyukai mu hahaha" Ucap Jaiden tertawa.


"Astaga kau bodoh sekali!" Ucap Surya pada Jaiden, sambil menoyor kepala Jaiden.


"Ck, apanya?!" Protes Jaiden.


"Seharusnya kau tidak mengatakannya! Keira akan marah pada ku, pasti Keira mengira kalau aku yang mengatakan ini pada kalian!" Protes Surya kesal.


"Kenapa juga Keira harus marah pada mu?" Tanya Heri.


"Karena dia hanya memberitahu ku!" Sahut Surya kesal.


"Ah jadi ternyata benar ya hahaha, ku kira hanya perasaan ku saja! Jaki kau dengar sendiri kan, ternyata memang benar kalau Tuan Putri kita itu menyukai mu," Ucap Jaiden terkekeh pelan.


Jaki pun hanya menyengir saja dan menggaruk pundaknya yang tidak gatal, "Tapi bagaimana ya, aku sudah menganggap Keira seperti adikku sendiri" Ucap Jaki.


"Aku hanya melindungi Keira layaknya seorang adik, bukan seorang kawan jenis yang kalian pikirkan" Lanjut Jaki.


"Ah sayang sekali sepupu ku itu, kau akan melukai perasaannya" Ucap Surya.


"Hei Jaki juga tidak salah disini" Sahut Jaiden membela Jaki, dan itu memang benar adanya.


"Sepertinya aku harus mengajak Keira untuk melupakan mu saja ya!" Ucap Surya.


"Hm, aku setuju dengan itu!" Seru Jaiden.


Heri pun mengangguk setuju.


"Hei Jaiden kau memang tidak tertarik pada anak perempuan ya?" Tanya Heri.


"aheh enak saja! Mulut itu di filter dulu" Sahut Jaiden kesal pada Heri.


"Hahaha kau benar, aku bahkan tidak pernah melihatnya bersama gadis lain. Selain Keira dan Keisha astaga menyedihkan sekali, apa kau masih menyukai Keisha?" Tanya Jaki.


"Hei sudah lah, jangan membahas itu" Ucap Surya yang merasa malas, ketika teman-temannya itu membahas tentang hubungan Keisha dan Jaiden.


Karena sejujurnya, Surya juga menyukai Keisha.


Surya adalah ciri seorang lelaki yang pandai menyembunyikan perasaannya, hingga membuat teman-temannya itu tidak menyadarinya dan bahkan tidak tahu.


Kalau dirinya sebenarnya sudah lama menyimpan perasaan pada Keisha, karena Surya juga mengetahui dengan jelas kalau Jaiden juga sangat menyukai Keisha.


...⚡⚡⚡...


"Thalia!" Panggil Rafa berteriak di dalam rumahnya.


Rafa adalah ayah tiri Thalia Auriya, Rafa ini adalah seorang CEO pemilik dunia hiburan terbesar di Jakarta. Namun sudah selama 10 tahun Rafa berada di Amerika bersama istri, anaknya, dan anak tirinya.


"Iya Pa!" Sahut Thalia, sambil berlari turun ke bawah untuk menghampiri Papa tirinya itu, yang sedang memanggil namanya.


PLAK


Rafa pun menampar Thalia dengan kasar, hingga membuat Thalia terjatuh begitu saja ke lantai.


"Pa... ampun... Paa... ampun!" Ucap Thalia sambil meringis kesakitan.


Karena Rafa menarik paksa Thalia untuk masuk ke dalam ruangan kerjanya.


"Pa... ampun... sakit..." Ringis Thalia terisak menangis karena kesakitan.


Kalian pasti bertanya-tanya dimana keberadaan Mama Thalia?


Mama Thalia saat ini berada di Amerika bersama adiknya, Mamanya di hukum oleh Rafa. Karena tidak becus merawat Thalia dengan benar, hingga membuat masalah besar di sekolahnya.


Dan tentu saja, hal itu yang membuat seorang Rafa Sandika sangat malu. Akibat ulah dari anak tirinya tersebut, Thalia Auriya.


"Berani sekalii kau menumpahi pakaian sekolah anak dari Keluarga Renandra hah?!" Bentak Rafa pada Thalia.