I Am Fine

I Am Fine
Siksaan



PLAK


Heri menghamburkan uangnya pada wajah Karin, hingga membuat Karin malu setengah mati. Fia pun langsung tersentak, dan menutup mulut ya tak percaya dengan keduanya tangannya.


"Kau sudah puas? Sudah cukup kan? Bukankah itu yang kau butuhkan selama ini?" Ucap Heri kesal, lalu hendak menarik tangan Fia untuk keluar dari resto tersebut.


Sungguh Heri sudah sangat berapi-api sekarang, namun dengan sekuat tenaga Heri berusaha untuk tetap tenang dalam menghadapi segalanya.


Namun Fia melepaskan paksa genggaman Heri padanya, yang hendak membawanya keluar dari restoran itu.


PLAK


Fia menampar Heri, hingga membuat pria terkejut.


"Apa kau Setega itu? Kau pikir semua perempuan hanya memikirkan uang hah?! Ya kau benar! Kami perempuan memang suka uang, tapi kau tidak pantas merendahkan perempuan seperti itu!"


"Dengan cara kau menghaburkan uang mu di depan wajahnya?! Kau gila Heri, kau bahkan tak menghargai perempuan sedikit pun!" Bentak Fia pada Heri.


Fia pun berjalan mendekat pada Karin, berusaha untuk membantu perempuan itu dan mengajaknya keluar dari restoran tersebut.


Brakhh


Saat Fia ingin menolong Karin, Karin malah menolak Fia mentah-mentah. Hingga mendorong Fia, membuat Fia terpental dan jatuh ke lantai.


"Astaga Fia!" Pekik Heri menghampiri Fia, lalu menatap tajam Karin yang sudah berjalan keluar meninggalkan keduanya.


"Lihat, apa yang dilakukannya padamu? Lihat apa balasannya setelah kau membelanya astaga!" Ucap Heri kesal sambil membantu Fia berdiri.


"Kau berisik! Awas! Aku bisa sendiri!" Ucap Fia menghempaskan tangan Heri yang hendak membantunya tunjuk berdiri.


Lantas Fia pun pergi meninggalkan restoran tersebut, dan meminta maaf pada pegunjung yang berada disana. Heri pun ikut mengejar Fia, tentu saja dengan perasaan yang masih kesal, marah, dan khawatir.


...⚡⚡⚡...


Keisha menatap kosong pada minuman yang berada di hadapannya saat ini, ucapan yang diucapkan Thalia tadi terus menghantuinya. Sungguh, Keisha semakin menjadi merasa bersalah, pada Thalia.


Keisha berpikiran, kalau dirinya harus melupakan Jaiden dengan segera. Dan itu sudah keputusan bulatnya tak dapat untuk di ganggu gugat.


Tapi Keisha sendiri pun tak tahu bagaimana caranya, apa mungkin dia harus kabur? Tapi bukankah kabur dan lari dari suatu masalah itu salah? Pikir Keisha.


Karena lari dari masalah, hanya akan membuat hidup tidak tenang. Dan pasti akan menyesal pada akhirnya, lalu akan menimbulkan anak-anak masalah.


Keisha menghembuskan nafasnya kasar, kini gadis itu sedang berada di sebuah cafe yang tepat berada di pinggir jalan. Dan Keisha duduk di luar, sembari menikmati dinginnya angin malam.


Drtt drtt drtt


Ponsel milik Keisha itu pun berbunyi, hingga membuat lamunan gadis itu pudar seketika.


..."Kak Jaiden"...


Keisha menarik nafasnya dalam-dalam, lalu mengangkat telepon itu. "Halo?" Ucap Keisha.


"Apa kau sibuk? Besok siang aku sudah keluar dari rumah sakit," Jelas Jaiden.


Keisha tersenyum gemas, Keisha tahu pasti kalau Jaiden berkata seperti ini. Itu pasti karena Jaiden ingin dirinya, menjemput pria itu besok di rumah sakit.


"Ah begitu ya Kak? Lalu?" Tanya Keisha menggoda Jaiden, dan berusaha untuk tidak peka.


"Ck, tidak pengertian sekali!" Gerutu Jaiden, lalu mematikan telepon itu sepihak.


Keisha pun terkekeh geli, melihat sikap pujaan hatinya itu. Tapi sedetik kemudian, Keisha langsung tersadar atas apa yang diucapkan Thalia beberapa jam yang lalu.


Hingga membuat tawa gelinya itu, langsung berubah menjadi ekspresi wajah yang terlihat menyedihkan? "Maaf kan aku Kak Jaiden," Lirih Keisha, lalu menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Kei pulang," Ucap Keisha lemas menundukkan kepalanya saat memasuki rumahnya.


Bahkan dengan Riki pun, dia tak peduli.


"Dari mana saja? Kenapa lama sekali pulang? Kau kerumah Thalia, iya kan?" Tanya Rafa bertubi-tubi pada Keisha.


Keisha pun memutar bola matanya malas, "Ck iya. Memangnya kenapa sih Pa kalau Kei kerumah Thalia? Kan bagus! Berarti aku dan saudara tiri ku" Jelas Keisha terpotong.


"Hei? Kau menangis sayang? Ada apa Huh?" Tanya Rafa khawatir, sembari menangkup wajah putrinya itu.


"No, i don't. Kei capek Pa, Kei mau istirahat. Kei besok bangun pagi, besok Kei sekolah" Ucap Keisha lalu berlalu meninggalkan Rafa yang sibuk degan pikirannya sendiri.


Rafa pun menggepalkan tangannya kuat, lalu bergegas untuk mengambil kunci mobilnya dan menuju ke rumah Thalia.


...⚡⚡⚡...


"Rena apa yang kau lakukan?" Ucap Jinata.


"Maksud mu?" Tanya Rena tak mengerti pertanyaan yang di ajukan oleh suaminya.


"Apa yang telah kau lakukan pada mendiang menantu kita?" Tanya Jinata.


Rena membelalakkan matanya terkejut, "Apa dia mengetahui soal ini? Tapi, dari siapa?!" Batin Rena.


Dengan segara Rena pun mengontrol ekspresi wajahnya, "Maksud mu Celine? memangnya apa yang aku lakukan padanya?" Tanya Rena berbalik.


"Apa kita memiliki menantu lain selain Celine? Apa tujuan mu melakukan itu? Bagaimana kalau Jaiden, Dino, Rina dan yang lain tahu soal ini? Kau pikir kau akan aman? Kan sudah menempatkan perusahaan kita di segitiga bermuda Rena," Jelas Jinata.


Rena berusha untuk tetap tenang, lalu berjalan mendekat pada suaminya. "Sayang apa maksud mu? Aku tak mengerti," Ucap Rena.


Jinata pun menghela nafasnya kasar, "Berhenti untuk tidak pura-pura tahu Rena. Kau telah membohongi ku, membohongi semua orang. Kenapa kau tak mengatakan pada kami kalau Celine sempat tersadar setelah dirinya koma selama satu minggu?" Tanya Jinata menjebak istrinya.


"Huh? Celine sadar? Aku bahkan tidak tahu soal ini Jinata, dari mana kau dapat berita ini? Ku rasa pasti ada seseorang yang ingin memfitnah ku," Jelas Rena.


"Kau yakin?" Tanya Jinata dengan mata yang penuh penyelidik.


Rena pun mengangukkan kepalanya ribut, "Tentu, mana mungkin aku menyembunyikan hal seperti ini dari kalian. Iya kan?" Ucap Rena berusaha meyakinkan suaminya.


"Jinata pun memejamkan matanya, dan menghela nafasnya panjang karena pusing. Sungguh, ada-ada saja pikirnya.


"Siapa yang berkata buruk tentang ku seperti ini padamu?" Tanya Rena.


"Apa kau perlu tahu soal itu?" Tanya Jinata berbalik.


...⚡⚡⚡...


BRAKHH!


"Astaga!" Pekik Thalia terkejut, "Pa... Papa" Lirihnya saat melihat Papanya mendobrak paksa pintu kamarnya.


Srekk


Rafa menjambak kembali rambut panjang milik Thalia, "Sudah berapa kali ku bilang huh? Berhenti membuat Keisha menangis Thalia Auriya!" Bentak Rafa.


"Hiks .. Pa ampun... sakit..." Lirih gadis itu.


"Ku peringatan kan sekali lagi Thalia Auriya! Jangan sampai aku melihat Keisha pulang dengan berlinang air mata lagi!" Bentak Rafa.


Plak


Rafa menampar Thalia, hingga membuat Thalia pingsan dan tak sadarkan diri. "Pelayan!" Teriak Rafa memanggil asisten rumah tangganya.


"Panggil dokter pribadi kesini! Jangan sampai ada yang mengetahui kondisinya, selain saya" Ucap Rafa lalu melangkahkan Kakinya pergi dari rumahnya itu.