
Sesuai rencana yang sudah di janjikan keduanya, kini Keisha dan juga Thalia sudah berada di sebuah restoran yang berada tidak jauh dari sekolah.
Keisha baru saja menyelesaikan kelas lukisnya, dan setelah kelasnya selesai baru lah Keisha menyusul Thalia di Caffe.
Sedikit canggung, karena pertemuan mereka beberapa waktu yang lalu tidak berakhir dengan tidak baik. Bahkan, saling membuang muka jika keduanya berpapasan.
Kini keduanya sedang sibuk dengan pikirannya masing-masing, tidak tahu harus mengatakan apa antara satu sama lain.
Thalia pun berusaha untuk memecahkan keheningan antara mereka berdua, "Bagaimana kelas lukis mu? Apa itu menyenangkan?" Tanya Thalia.
"Hah? Ah iya itu... lumayan. Gurunya juga baik, dan yang ikut juga tidak banyak. Tapi aku merasa sedih soal itu, karena saingan ku tidak banyak" Jelas Keisha terkekeh.
Thalia pun membasahi kedua bibirnya, "Um canggung sekali ya? Terkahir kali kita bicara di rumah. Dan kita ribut, maaf soal itu. Mood ku sedang buruk," Jelas Thalia.
"It's okey, bagaimana dengan mu sekarang? Apa mood mu sudah baikan?" Tanya Keisha
"Hm, lumayan" Jawab Thalia mengangguk-anggukan kepalanya pelan.
"Bagaimana hubungan mu dengan Papa? Sudah baikan kan? Maaf ya," Ucap Keisha merasa bersalah karena dirinya adalah penyebab Thalia selalu di siksa oleh Rafa secara mental dan fisik.
"Hei tidak perlu minta maaf soal itu, kita berdua jelas sama-sama salah disini. Aku juga tidak seharusnya melawan Papa, sekarang aku dan Papa sudah biasa saja."
"Papa juga sudah memberi ku kebebasan, dan Papa juga sudah mengizinkan ku untuk bertemu dengan Jaiden" Jelas Thalia.
"A... ahh begitu," Sahut Keisha sedikit merasa cemburu, saat Thalia menyebut nama Jaiden di depannya.
Tapi Keisha harus memperlihatkan pada Thalia, kalau dirinya sekarang sudah melupakan Jaiden. Walaupun nyatanya tidak, tapi Keisha harus melakukan itu agar dapat berbaikan dengan Thalia.
"Bagaimana hubungan mu dengan Kak Jaiden? Baik-baik saja kan?" Tanya Keisha.
"Hm dia baik, perhatian, ada 24/7 untukku, dan selalu mau pergi untuk menemani ku kemanapun. Untuk saat ini hubungan kami benar-benar baik," Pamer Thalia bangga.
Keisha pun mengangguk-anggukan kepalanya, "Apa kalian sama sekali belum bicara?" Tanya Thalia.
"Apa Kak Jaiden mengatakan sesuatu pada mu?" Tanya Keisha berbalik.
"Tidak, Jaiden tidak pernah membicarakan dirimu sedikit pun saat bersama ku. Kalau pun aku bertanya soal dirimu, Jaiden pasti akan mengalihkan pembicaraan kami" Jelas Thalia benar.
"Ah begitu kah? Kenapa jadi bahas Kak Jaiden sih," Ucap Keisha terkekeh pelan lalu tertunduk.
"Kau masih menyukainya?" Tanya Thalia.
"Tidak," Bohong Keisha.
"Kau sedang berbohong Keisha," Balas Thalia.
...⚡⚡⚡...
"Eh kita mau kemana?" Tanya Thalia binggung, saat Jaiden menyetir mobil tidak pulang ke arah rumahnya.
Kini keduanya baru saja pulang dari sekolah, dan hendak menuju rumah, ah tidak. Namun, Masion milik keluarga Renandra.
"Nenek ku mengajak mu untuk makan malam bersama, hari ini kita makan malam di Masion keluarga ku saja ya? Nenek ku juga sudah meminta izin pada Papa mu," Jelas Jaiden mengenggam tangan Thalia.
"Hah? Apa kau?! Astaga Jaiden!" Rengek Thalia, " Apa yang harus ku lakukan nanti, ayo putar balik dulu! Setidaknya aku harus mandi dulu, aku tidak mungkin" Ucap Thalia terpotong.
"Tenang saja, Nenek tidak akan mempersalahkan itu. Bahkan Keisha juga jarang mandi dan tidur bersama Nenek," Ucap Jaiden terkekeh saat mengigat Keisha yang malas mandi.
Jaiden pun barusan tersadar atas ucapan nya barusan, "Astaga kenapa aku jadi membicarakan Keisha di depan Thalia?" Batin Jaiden tak enak.
"Kau tenang saja oke? Nenek oke-oke saja, kita hanya akan malam disana dan Nenek ingin berkenalan dengan mu" Ucap Jaiden melirik Thalia dengan tersenyum, dan tidak lupa untuk mengenggam erat tangan mungil Thalia.
Thalia pun menganggukkan kepalanya pasrah, "Kenapa tidak protes lagi seperti Keisha?" Batin Jaiden.
Selama 40 menit dalam perjalanan, akhirnya mereka pun sampai di Masion milik keluarga Renandra. Tempatnya memang lumayan jauh dari kota, namun tempat itu sangat lah nyaman.
Menurut pandangan Thalia sendiri, Masion keluarga Jaiden ini sangat indah. Bahkan dari pintu masuk gerbang, matanya sudah di manjakan dengan taman yang sangat luas dan bergaya modern.
Thalia merasa dirinya sedang berada di taman bunga, saat dirinya mulai masuk dari pintu gerbang. Di sepanjang jalan perjalanan, Thalia tiada hentinya terkagum-kagum dengan apa yang dilihatnya hingga air mancur dan juga sebuah bundaran.
Menurut Thalia, butuh waktu 5 menit untuk dirinya dapat melihat sebuah bangunan klasik yang megah itu dan sekarang sudah berada di hadapannya. Tidak lupa, di depan rumah itu, terdapat kolam renang yang sangat besar.
Untuk apa? Pikirnya. Wah gila, Kekasih ku ini benar-benar sangat kaya raya pikir Thalia.
"Ayo turun," Ajak Jaiden.
"Ah iya ayo," Ucap Thalia melepaskan seat belt yang terpasang lalu turun dari mobil.
"Selamat datang Tuan Muda, sudah lama tidak berkunjung" Sapa seorang kepala pelayan, yang sedari tadi menunggu kedatangan Jaiden.
Jaiden pun tersenyum simpul, "Terima kasih Bi sudah menyambut ku" Ucap Jaiden sambil menyerahkan kunci mobilnya pada salah satu pekerja disana.
"Nyonya dan Tuan sudah menunggu di dalam Tuan, Nona," Jelas pelayan tersebut.
Jaiden pun menarik tangan Thalia untuk di genggamannya, hingga membuat beberapa maid disana berteriak dalam hati cemburu.
"*Astaga Tuan Muda Jaiden sudah memilik kekasih."
"Ku kira Nona Keisha adalah kekasihnya, ternyata bukan."
"Iya, aku juga berpikir seperti itu."
"Ku rasa Tuan Muda Jaiden, sangat menyukai kekasihnya sekarang. Lihat! bahkan Tuan Muda mengenggam tangan gadis itu."
"Ku rasa,Tuan Muda dan Nona Keisha sudah berakhir*."
"Bukankah ini semakin membuatnya merasa kalau aku serius padanya? Oh damn!" Batin Jaiden.
Kini keduanya sudah berada di depan pintu kaca dapur, dua orang maid yang berada disana pun membukakan lebar pintu kaca itu. Hingga memperlihatkan Rena, dan juga Jinata yang sudah duduk tenang disana.
Jinata fokus dengan majalah yang di bacanya, sedangkan Rena fokus dengan ponselnya.
"Apa Nenek dan Kakek sangat menikmati waktu santai, hingga tak sadar kalau aku sudah berada disini?" Kesal Jaiden pada keduanya.
Jaide pun menarik tangan Thalia, untuk mendekat pada meja makan.
"Oh? Astaga hai sayang, welcome" Ujar Rena pada Jaiden.
Jaiden pun menyalami neneknya, begitu pun juga dengan Thalia. Setelahnya Jaiden menyalami Jinata, begitu pun juga dengan Thalia yang mengikuti gerak-gerik Jaiden.
"Ayo silahkan duduk," Ujar Rena pada Thalia, dan Thalia pun hanya menganguk canggung.