
"Tuan muda saya rasa tuan muda perlu mengecek beberapa berita terkait Ibu Shakila Wiliani dan juga Thalia Auriya, ini adalah perintah titipan dari Tuan Jinata pada saya," Jelas Emyliana memberikan Ipad-nya pada Jaiden.
Jaiden pun mengambil iPad itu, dan melihat beberapa berita terkini yang sedang panas di tanah air. Mata Jaiden langsung membola saat melihat berita pertama yang di lihatnya, bahwasanya Mama Keisha di tangkap oleh polisi di rumah sakit. Dengan kasus pembunuhan, dan juga pemalsuan data.
"Apa ini benar? Bagaimana dengan Keisha? Apa dia baik-baik saja?" Tanya Jaiden khawatir.
"Dari yang saya tahu dan yang saya dapatkan, Nona Keisha kabur dari rumah sakit. Namun setelah dua hari ini, keadaanya mulai membaik. Nona Keisha juga tinggal bersama Nyonya Zura di kediamannya," Jelas Emyliana.
"Tuan muda bisa membaca berita selanjutnya," Ucap Emyliana dan Jaiden pun kembali melihat berita selanjutnya.
"Apa apaan ini," Batin Jaiden.
"Ini tidak benar kan? Ini tidak mungkin, pada jam ini aku masih berada di rumah sakit untuk menjenguk Keisha. Aku tidak mendengar suara pun dari dalam sana," Jelas Jaiden dengan suara yang bergetar.
"Berita ini benar adanya Tuan muda, dan sedang di selidiki oleh pihak kepolisian" Jelas Emyliana.
"Tuan muda tidak bisa kembali sekarang," Sela Emyliana yang mengetahui gerak-gerik Jaiden.
"Tapi aku," Ucap Jaiden terpotong.
"Tuan muda bisa saja jatuh sakit, Tuan muda akan kelelehan. Saya akan mengurusnya, istirahat lah disini selama 3 hari. Setelah itu saya sendiri yang akan menemani Tuan muda untuk tebang ke Indonesia, bagaimana?" Tanya Emyliana memberikan saran pada Jaiden.
Jaiden pun tampak berpikir, benar kata Emyliana kalau dia tak mungkin kembali dan tebang ke Indonesia sekarang juga. Itu akan sangat lelah, dan mungkin saja dia akan jatuh sakit setiba disana pikirnya.
"Maaf Tuan muda kalau saya terdengar seperti memaksa Tuan muda, ini adalah permintaan dari Nyonya Rina. Beliau ingin Tuan muda untuk menetap disini selama 3 hari, Tuan muda sangat mengenal Adik dari ibu tuan muda kan?" Tanya Emyliana lagi berusaha untuk menyakini Jaiden agar tetap tinggal di LA untuk 3 hari belakang.
"Baiklah, antar aku ke rumah sekarang juga" Ujar Jaiden dan Emyliana pun menganggukkan kepalanya setuju.
Selama perjalan menuju Masion keluarga Aldebarano, Jaiden tidak dapat berpikir dengan jernih. Jaiden terus memikirkan soal keadaan Keisha, juga Thalia. Jaiden berpikir keadaan Keisha akan memburuk, apalagi kejadian itu bertepatan saat dirinya baru saja pergi ke luar negeri.
Lalu soal Thalia, Jaiden merasa menyesal sekali. Seharusnya dirinya mengunjungi Thalia terlebih dahulu, Sedayu saran Dimas. Walaupun itu terlambat, setidaknya dirinya dapat menangkap pria yang sudah berani melecehkan Kakaknya itu.
Walau masih terbesit rasa benci itu di dalam hatinya, percayalah Jaiden juga masih menganggap Thalia sebagai keluarganya sendiri.
"Tuan muda bersiap lah, kita akan segera sampai" Ucap Emyliana pada Jaiden dan Jaiden pun langsung menegakkan badannya dan menatap lurus ke depan.
"Dia sama sekali tidak berubah sedikit pun, masih sama saat usianya masih 5 tahun" Batin Emyliana terkekeh geli.
"Ah itu dia, Kakak mu sudah sampai Kate!" Ucap Rina menyambut kedatangan Jaiden yang mana mobilnya baru saja sampai di depan pintu Masion.
"Aaa benarkah?! Aku tidak sabar!" Ucap Kate semangat dengan perasan yang sangat gembira.
Mobil mewah milik keluarga Aldebarano itu pun menepi, dan keluar lah Jaiden dan juga Emyliana dari dalam sana.
"Hai Tante, lama tidak bertemu" Ucap Jaiden memeluk Rina. 'Hai Kate, kau sudah besar ya!" Kekeh Jaiden mencubit pipi Adik sepupunya.
"Hehe," Cengir Kate. Kate pun langsung menggandeng lengan Jaiden untuk mengiring Jaiden masuk ke dalam rumah, "Bagaimana kabar Kakak? Apa Kakak lelah?" Tanya Kate.
Rina yang melihat itu pun menghela nafasnya lega, merasa hatinya menghangat melihat apa yang dilihatnya sekarang.
"Ck, menyebalkan! Pasti Uncle Dino yang memberitahu mu iya kan?!" Tanya Kate dengan raut wajah kesalnya.
Jaiden pun tekekeh pelan, "Kau harus belajar dengan ku mulai sekarang. Terutama mata pelajaran matematika," Ucap Jaiden menepuk-nepuk kepala Kate.
"Ck tidak! Tidak akan! Never! Ayo aku antar Kakak ke kamar," Ucap Kate membawa Jaiden untuk masuk ke kamar yang di tempatinya sewaktu kecil dulu.
"Aku dan Mama sudah membersihkan kamar Kakak kemarin," Ujar Kate bangga.
"Kau yakin yang membersihkannya? Ku rasa kau hanya melihat-lihat pelayan saja disini, untuk membersihkan kamar ku" Ledek Jaiden.
Kate pun memukul lengan Jaiden, "Tidak ya! Aku bahkan mengelap debu di meja itu!" Tunjuk Kate pada meja belajar Jaiden membuat Jaiden tertawa pelan.
"Hahaha baiklah, baiklah" Kekeh Jaiden.
"Kate biarkan Kakak mu istirahat dulu, nanti saja mainnya" Ujar Rina yang baru saja memasuki kamar Jaiden.
"Gak papa kok Tante, rasa lelah Jaiden sudah menghilang semenjak melihat wajah cantik Tante dan Kate" Ucap Jaiden menampilan senyum tampannya.
"Ayolah Jaiden, sejak kapan kau pandai merayu seperti ini hm?" Tanya Rina mengoda keponakannya.
Jaiden pun mengindikkan bahunya tidak tahu, "Berarti tandanya keponakan Tante ini sudah dewasa iya kan?" Tanya Jaiden tekekeh.
"Baiklah, Tante akui itu. Ayo Kate! Biarkan Kakak mu isitrahat dulu, kalau kau butuh apa-apa katakan saja ya! Jika ada masalah cerita," Peringat Rina.
"Siap Tante!" Jawab Jaiden.
...⚡⚡⚡...
Sudah 3 hari lamanya Keisha dan Thalia masih berada di rumah sakit, namun hari ini Keisha keluar lebih dahulu dari Thalia karena sudah di bolehkan pulang oleh dokter.
Sedangkan Thalia belum sama sekali, karena luka jahit di tangannya terbuka kembali dan sedang masa pemulihan secara mental dan psikis.
Akhir-akhir ini Keisha juga sering berkunjung ke ruang inap Thliax untuk menjenguk gadis itu.
"Kau tidak bosan?" Tanya Thalia tiba-tiba.
"Huh?" Sahut Keisha.
"aku tidak bidan terus-menerus melihat ku Keisha? Kau senang kan? Apalagi saat kau tahu, kalau Jaiden dan aku sebenarnya adalah saudara kandung" Ucap Thalia.
"Thalia maaf membuat mu marah seperti ini, tapi aku kesini karena aku ingin menebtu mu ini. Ini dari Kak Jaiden," Ucap Keisha memberikan surat yang dittipkan Jaki padanya.
"Ini dari Jaiden?" tanya Thalia.
"Hm, Kak Jaiden menitipkan surat ini pada Keira dan Jaki. Aku meminta pada Jaki, agar aku saja yang memberikan surat ini pada mu," Jelas Keisha benar adanya.
Lantas, Thalia pun mengambil surat itu ragu-ragu dan membacanya.