I Am Fine

I Am Fine
Keisha menjenguk Thalia



"Satu lagi, jangan sampai Keisha pulang kerumah ku dengan air mata karena Jaiden. Aku yakin sekali, pasti kau lah penyababnya. Jaiden hanya miliknya, kau tak berhak. Kau tidak bisa bersama Jaiden, aku tidak akan menyetujuinya" Jelas Rafa.


Setelah mengatakan itu, Rafa pun pergi meninggalkan Thalia dan rumah. Thalia pun menangis sejadi-jadinya, namun setelah menangis tiba-tiba dirinya tertawa sinis.


Hingga para pelayan rumah takut, saat melihat nona mudanya yang berprilaku seperti itu.


"Hahahaha Keisha? Lagi dan lagi? Hahahaha", Tawanya namun tiba-tiba Thalia terdiam lalu berteriak keras. "Aaaaaaaaaaaa Keisha! I hate you! Damn f*ck b*tch!!!" Umpat gadis itu berteriak.


Sudah 2 hari Thalia tidak menampakkan wajahnya disekolah semenjak Rafa berkunjung ke rumahnya beberapa waktu lalu. Menyiksanya, lahir dan batin.


Thalia juga tidak keluar untuk makan, bahkan tidak tidur selama 2 hari. Dan Thalia hanya merebahkan badannya di kamar, menatap kosong ke depan.


Kepala pelayan rumah tangga itu sangat khawatir dengan kondisi anak majikannya, sungguh dirinya tak tega saat majikannya selalu melampiaskan kekesalannya pada Thalia.


Gadis yang malang, Batin kepala pelayan itu.


Pelayan rumah tangga itu juga sudah menghubungi Rafa, dan memberitahu Rafa tentang kondisi Thalia saat ini. Namun Rafa malah menyerahkan segala urusan Thalia pada pelayan itu, hingga membuat pelayan itu pun binggung sendiri harus melakukan apa terhadap Thalia.


Karena Thalia bahkan tak mau berbicara padanya dirinya hanya diam saja jika ditanyai pun.


Namun pada malam hari Thalia mulai membaik, karena gadis itu sudah bangun dar tempat tidurnya. Dan berjalan ke kamar mandi, pelayan itu berpikir kalau anak majikannya itu akan bergegas untuk mandi.


Pasti Thalia sudah risih, karena dua hari tak mandi pikirnya.


Sudah 10 menit Thalia di dalam kamar mandi, akhirnya gadis itu keluar dengan pakaian yang sudah berbeda dari yang digunakannya tadi.


"Bi, aku ingin makan martabak Mesir dengan nasi. Tolong buatkan ataupun beli di luar untuk ku," Pinta gadis itu tiba-tiba hingga membuat kepala pelayan itu terkejut.


"Huh? A... Ahh baik nona, saya akan membelinya. Kalau begitu saya pamit sebentar," Ucap pelayan itu pamit pada Thalia.


Setelah berucap seperti itu, lantas Thalia pun menghidupkan TV kamarnya.


Ting!


Ting!


Ting!


Thalia mendapatkan notifikasi di ponselnya, berarti tandanya ada pesan masuk.


...Room Chat...


Keisha :


Thalia kau tak apa?


Maafkan aku, aku mendengar kabar mu saat aku mendengar Papa sedang menelepon dengan kepala pelayan rumahmu


Apa kau butuh bantuan ku?


Apa perlu aku kesana?


Hei jawab pesan ku setelah kau membaca ini ya


read


^^^Thalia:^^^


^^^Hm, actually i'm not okey right now^^^


^^^can you came here?^^^


Keisha:


Baiklah aku akan kesana


Tunggu ya, aku akan pergi setelah Papa pergi


^^^Thalia:^^^


^^^Oke^^^


^^^read^^^


Keisha sudah memikirkannya matang-matang x kalau dirinya akan menyerah pada Jaiden. Keisha tidak ingin merengut kembali kebahagiaan milik Thalia, Keisha ingin berbaikan dan kembali berteman dengan Thalia.


Keisha memutuskan untuk melupakan Jaiden, Keisha memang dapat merasakan kalau Jaiden memiliki perasaan padanya.


Namun semakin Keisha yakin soal itu, malah membuat Keisha yakin kalau kehadirannya di antara Jaiden dan Thalia. Membuat Jaiden menjadi binggung, dan bimbang pada perasaannya pada Thalia.


Karena dirinya pernah, ah bukan pernah. Tapi dirinya hanya satu-satunya gadis yang berlabuh di hati pria itu sebelum Jaiden mengenal Thalia.


Bahkan Jaiden dan Keisha, belum menuntaskan masa lalu mereka. Namun Keisha tak ambil pusing soal itu, itu sudah masa lalu.


Jadi, demi kebaikan ketiganya, Keisha memutuskan untuk melupakan Jaiden.


Walaupun itu sulit sekali baginya, namun Keisha sudah bertekad untuk melupakan perasaannya pada Jaiden. Dan mencoba untuk menganggap Jaiden seperti dirinya mengganggap Surya, Heri, Jaki dan juga yang lainnya.


Saat Keisha sudah sampai di rumah yang di tempati oleh Thalia, atensi Keisha beralih pada ponselnya yang berbunyi karena ada yang baru saja meneleponnya.


...'Jaiden calling you'...


Keisha mengigit bibirnya ragu, namun juga tidak bisa menolak panggilan dari pria yang masih disukainya itu.


"Ha..halo?" Jawab Keisha.


"Keisha cepat kesini! Kau kemana saja sih? Dua hari ini sulit sekali dihubungi, kenapa tidak menemani ku disini? Aku malas sekali kalau Keira yang menemani ku aghh" Ucap Jaiden kesakitan karena dipukul oleh Keira.


"Maaf kak, mungkin nanti malam aku kesana? Aku ada urusan" Ucap Keisha tak yakin.


"Urusan?" Tanya Jaiden, "Urusan apa? Kau merahasiakan sesuatu dari ku ya?!" Tanya Jaiden di telepon.


"Huh? A... tidak! Mana mungkin, nanti ku hubungi lagi ya!" Ucap Keisha lalu mematikan ponselnya sepihak.


"Ck, kebiasaan!" Kesal Jaiden.


"Orang kaya emang tidak punya kaca ya Jek?" Tanya Keira menyindir Jaiden.


Ting nong!


Keisha pun menekan bel rumah Thalia, hingga tak lama dari situ pelayan pun keluar.


"Nona... Keisha?" Ucap Pelayan itu ragu, takut salah mengenali Keisha.


Pelayan itu itu tahu betul siapa Keisha, Keisha adalah anak kandung majikannya. Tentu saja Rafa yang memberitahukan soal itu, pada seluruh orang yang bekerja padanya.


Agar mereka juga mengenali Keisha dan Shakila istrinya sebagai Nyonya utama mereka, dan Keisha adalah Nona muda mereka.


Walaupun sebenarnya, Lia lah istri pertama Rafa. Namun apa boleh buat, kalau Shakila memang benar-benar istri sah Rafa dah secara hukum dan agama.


Sedangkan Lia? Lia hanya istri sirih Rafa.


"Ada Thalia?" Tanya Keisha.


"Ah ada Non, silahkan masuk dulu" Ajak pelayan itu mempersilahkan Nona mudanya masuk.


"Sebentar ya Non, saya panggilkan Nona Thalia dulu." Pamit pelayan itu, "Non mau minum apa?" Tanyanya sebelum meninggalkan Keisha.


"Hah? Ah tidak usah Bi, saya nanti bisa ambil sendiri saja ke dapur kalau ingin minum" Jelas Thalia.


"Baiklah, kalau begitu saja permisi dulu ya Non. Mau panggil Non Thalia dulu," Izin pelayan itu, Keisha pun mengangukkan kepalanya.


Tak lama setelah kepergian pelayan itu, pelayan itu pun kembali. "Non, kata Non Thalia langsung ke kamar Non Thalia aja" Jelas pelayan itu menghampiri Keisha.


"Bisa tunjukkan kamarnya Bi?" Tanya Keisha.


"Ayo Non, saya tunjukkan" Ajak pelayan itu.


Setelah sampai di depan kamar Thalia, Keisha pun memutar kenop pintu itu ragu dan terbuka dengan perlahan.


Ceklek


"Thalia?" Panggil Keisha.


"Masuk," Jawab sang pemilik kamar.


Keisha pun masuk, dan menutup rapat pintu kamar Thalia. Disana Keisha melihat Thalia yang sedang berbaring santai di atas kasur empuknya, sembari memegang sebuah iPad.