I Am Fine

I Am Fine
Pasrah



...'Aku melepasmu karena keadaan bukan karena pilihan'...


                              °°°


Pagi ini awan biru menghiasi langit yang bisanya selalu di tutupi awan gelap semoga begitu juga dengan hariku.


Seperti biasa aku akan berangkat ke sekolah menaiki angkot meski harus berdesakan tapi aku menikmati nya.


Ku langkahkan kaki ku menuju ruang makan.


Untuk sarapan?


Huh~ andai aku bisa mungkin dulu ia namun sekarang... Kurasa hal itu mustahil.


"Mah sel mau berangkat sekolah" kata ku sambil terus berharap mamah menjawab 'iyah sayang hati-hati ya' atau 'sarapan dulu nak' namun sayangnya itu hanya angan-angan ku saja, bahkan menjawab saja tidak mamah tetap fokus dengan sarapannya.


"Mau tambah sayang?" Tanya mamah pada Sintia


"Mau dong mah" jawab Sintia


"Assalamualaikum" salamku kemudian melangkah keluar


Ingin menangis meratapi apa yang menimpa bukankah hanya menyiksa?


Sudah berusaha untuk menutup satu luka namun selalu ada yang baru.


...°°°...


Akhirnya greysel sampai juga di sekolahnya, setidaknya di sini ia masih bisa merasakan apa itu bahagia dan tau bagaimana caranya tersenyum bahkan tertawa.


Greysel melewati koridor sekolah nya yang sudah ada beberapa siswi namun tidak satu pun dari mereka menyapa greysel.


lagi pula ia juga bukan tipe orang yang mengajak berkenalan lebih dulu justru sebaliknya bukan karena ia sombong atau apa, tapi kalian pasti juga pernah mengalami nya bukan?


Di dalam kelas sudah ada beberapa teman yang lumayan akrab dengan greysel.


"Assalamualaikum" salam greysel sambil memasang senyum manis nya


"Waalaikumsalam" jawab mereka


"Manis banget neng senyumnya Abang bungkus boleh?" Canda Dika teman sekelas greysel


greysel terkekeh mendengarnya kemudian membalas Dika


"Jangan atuh bang nanti neng senyumnya gimana"


Langsung saja gelak tawa terdengar dari teman greysel yang lainnya.


"Gry kayaknya bahagia banget hari ini" ujar Risti sambil menaik turunkan alisnya


"Jangan-jangan kita ketinggalan berita lagi" sabung si Wulan


Greysel memutar bola matanya kemudian berkata


"Gk usah nyebarin berita hoax"


"Jubaedah kau jangan berdusta lagi nak kami telah tau semuanya" kali ini gio yang bicara dengan bahasa baku nya.


"Tau opo?" Tanya greysel


Belum sempat ada yang menjawab hp greysel tiba-tiba berbunyi.


"Siapa gry?" Tanya Risti


Bukannya menjawab pertanyaan Risti greysel malah menjauh "Gue angkat dulu ya"


"Pasti dari ayang beb nya" celetuk dika


"Gue tunggu Lo di belakang sekolah"


"Mau apa?"


"Ck_ gk usah banyak tanya Dateng aja"


"Gue gk mau"


"Ow jadi Lo mau nge-bangkang  sekarang, mau gue aduin Mamah?"


"Kalau lo gk Dateng gue akan aduin Lo" sambung nya kemudian telpon berakhir.


Greysel mengusap wajahnya prustasi ia bingung kalau ia Datang pasti ia hanya akan di siksa, tapi kalau ia tidak datang juga hasil nya sama saja ia pasti akan dapat siksaan dari mamah nya di rumah.


Tuhan aku tau engkau tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan umatmu.


Akhirnya greysel memutuskan untuk menurutinya dan memasrahkan segalanya yang akan terjadi nanti..


"Berani juga ternyata dia sin" ujar salah satu teman Sintia yang namanya putri


Sintia menanggapinya dengan senyum iblisnya yang di tembakan langsung ke arah greysel.


"Ada apa?" Seolah greysel tidak menyadarinya ia langsung bertanya pada Sintia.


"Gue udah peringat in lo jalang JAUHIN RISKI" ujar Sintia


"Kayaknya dia gk akan dengerin Lo deh sin gimana kalau kita kasih pelajaran aja?" Usul givni


"Bagus juga usul Lo vi kalau Lo gimana sin?" Jawab Putri


"Ok gue rasa itu bagus"


Sedangkan Greysel benar-benar tidak Ada keinginan untuk pergi dari sana, bukan karena takut tapi karena sudah tidak ada pilihan.


Langsung saja givni meraih rambut greysel yang kebetulan saat ini di kepang mempermudahkan menariknya.


Lalu Sintia mencengkeram dagu greysel dengan kuat sampai meninggal kan bekas kuku Sintia di sana.


Givni Masih setia menarik rambut greysel dengan seluruh tenaganya sepertinya ia berniat membuat rambut greysel terlepas.


"JALANG KAYA LO ITU PANTES NYA MATI"


Plak_


Giliran putri yang beraksi ia langsung saja menampar wajah grysel


Plak


Plak


Kedua pipi grysel sudah terasa panas bahkan sudut bibirnya sudah mengeluarkan darah segar.


Plak_


Tamparan itu terus berlanjut sampai ketika hidung greysel mengeluarkan darah barulah mereka berhenti.


Givni langsung saja menghempaskan kepada greysel ke tanah.


"Denger gue baik-baik kalau Lo masih deketin Riski kita bakal ngelakuin lebih dari ini" ujar Sintia sebelum meninggalkan greysel yang masih terbaring di tanah sendiri.


"Ngelakuin lebih dia bilang" greysel tertawa sinis "mungkin kalo aku udah mati itu yang di maksud lebih"


...~fine~...