I Am Fine

I Am Fine
Urusan Penting



Ceklek


Jaiden menghela nafasnya sambil tersenyum, menatap punggung seorang gadis yang sedang tidur dan membelakanginya.


Lantas Jaiden meletakkan tasnya dengan pelan dan berjalan mendekat kearah gadis itu, Jaiden pun perlahan-lahan untuk menaiki kasur king size nya yang sedang ditempati oleh Keisha.


Grep


Jaiden pun memeluk Keisha dari belakang, hingga membuat Keisha terbangun dari tidur lelapnya.


"I miss you baby girl" Bisik Jaiden di telinga Keisha.


"Ah geli Kak Jai..." Ucap Keisha, lalu dirinya pun membalikkan badannya untuk menghadap pada Jaiden.


Jaiden pun tersenyum senang saat melihat wajah cantik Keisha, Jaiden menyelipkan anak rambut yang menghalangi pandangannya.


"Kau menghilang selama 3 bulan Kei, kemana saja Hm?" Tanya Jaiden lalu membawa Keisha masuk kedalam dekapannya.


Keisha sendiri pun membalasnya, dan memeluk erat Jaiden sembari menyembunyikan kepalanya di dada bidang milik Jaiden.


"Maaf soal itu, i miss you to more Kak" Jawab Keisha sambil mencari tempat nyaman di dada Jaiden.


"Biar seperti ini sebentar," Ucap Jaiden yang tidak mau untuk melepaskan pelukannya pada Keisha.


"Hm..." Sahut Keisha.


"Jangan ganti shampoo, Aku suka wanginya" Jelas Jaiden dan Keisha pun hanya menganggukkan kepalanya.


"Kak, ayo ke rumah sakit" Ajak Keisha mendongak pada Jaiden.


Jaiden pun ikut melihat kebawah dan menatap Keisha, "Ah menggemaskan sekali damn!" Batin Jaiden.


Cup!


Jaiden mengecup bibir Keisha sekilas.


"Kak Jaiden!" Pekik Keisha terkejut memukul Jaiden, "Nyebelin! Sana mandi! Kakak bau" Kesal Keisha lalu bangkit dari tidurnya.


"Hahaha iya iya," Kekeh Jaiden gemas.


"Hei Kei kau harus tahu ini," Ucap Jaiden yang hendak turun dari ranjangnya.


"Aku hanya mencium mu, aku tidak pernah mencium gadis lain selain kau dan Momy" Jelas Jaiden terkekeh pelan, laluu pergi meninggalkan Keisha yang tersipu malu.


"Astaga Pipiku..." Ucap Keisha memegangi kedua pipinya yang sudah memanas itu.


Keisha pun memutuskan untuk keluar dari kamar Jaiden dan menghampiri Bi Sarah yang selalu berada di dapur.


"Eh Non Keisha, sudah bangun? Sudah ketemu Tuan Muda kan?" Tanya Bi Sarah.


"Sudah kok Bi," Jawab Keisha, "Bibi sedang apa?" Tanya Keisha mendekati Bi Sarah.


"Ini Non, Bibi lagi membuat makanan untuk Nyonya Rena. Katanya mau dibawa ke Masion besok," Jelas Bi Sarah.


Keisha pun hanya mengangguk-anggukkan kepalanya paham, lalu berjalan menuju kulkas dua pintu milik Jaiden.


Saat membuka kulkas, dahi Keisha mengerut binggung. Karena di dalan sana, terdapat beberapa box cheesecake kesukaan Jaiden.


Keisha merasa binggung karena Jaiden, tidak akan pernah menyetok makanan sebanyak itu. Ah iya perlu diingat, kalau Jaiden ini adalah pencinta keju dan apel.


"cheesecake? Bi ini beli dimana? Kenapa banyak sekali?" Tanya Keisha sembari menunjukkan box cheesecake itu.


"Ah itu ya Non, itu Non Thalia yang membuatnya kemarin dirumah Non" Jelas Bi Sarah benar adanya.


"Ck, Thalia yang membuatnya? Kenapa dia menyebalkan sekali sih?!" Gumam Keisha pelan, lalu memasukkan makanan itu kedalam kulkas dan menutupnya.


"Apa Thalia sering datang kesini Bi?" Tanya Keisha.


"Hm... sepertinya lumayan sering Non, Tuan Muda sering mengajak Nona Thalia kesini. Mereka juga cukup dekat, mungkin pacaran" Jelas Bi Sarah terkekeh pelan.


Bi Sarah tidak tahu saja, kalau Keisha sedang membara disebelahnya. Karena Bi Sarah berpikir kalau Keisha dan Jaiden ini sudah seperti Kakak dan Adik. Maka dari itu, Bi Sarah dengan santainya, mengatakan hal seperti itu pada Keisha.


"Kei! Ayo!" Teriak Jaiden di tangga.


"Iya ayo, bentar! Bi Kei kerumah sakit dulu ya, mau jenguk Tante Celine" Pamit Keisha pada Bi Sarah lalu menyalami wanita itu.


Keisha pun berlari kecil untuk mengejar Jaiden, setelah Keisha sudah berada di sebelah Jaiden, lantas Keisha pun mengandeng lengan Jaiden, "Ayo!" Ajak Keisha semangat.


"Kau yakin akan pergi dengan itu?" Tanya Jaiden.


Lantas Keisha pun melihat dirinya yang masih menggunakan baju Jaiden, dan celana milik Jaiden yang kebesaran untuknya.


"Memagnya baju mu kemana sih Kei?" Tanya Jaiden heran.


"Ck, baju aku itu udah bau tahu Kak!" Jelas Keisha.


"Kakak tunggu disini, Kei mau ganti baju dulu!" Ucap Keisha lalu berlari masuk.


Setelah menunggu selama 5 menit, akhirnya Keisha pun keluar dengan atasan crop top tank. Dan tentu saja, masih menggunakan Celana milik Jaiden.


"Kenapa pakai pakaian seperti ini sih Kei? Pakai jaket atau apa gitu kan bisa" Omel Jaiden kesal melihat Keisha yang keluar dan dengan santainya, perutnya itu terekspos jelas.


"Ihh kan Kei udah bilang, kalau baju Kei itu kotor Kak Jai!" Gerutu Keisha.


"Tunggu disini!" Ucap Jaiden kesal lalu masuk ke dalam rumahnya.


"Ck, memangnya apa salahnya sih? Kan pake kaya gini lagi trendi!" Gerutu Keisha gemas.


Tak lama dari situ, Jaiden pun kembali dan membawa jaket kulitanya. Dan memberikan pada Keisha, "Pakai ini, gak usah sok seksi!" Jelas Jaiden tegas.


"Ck, Iya iya!" Jawab Keisha tak kalah kesal pada Jaiden, dan akhirnya Keisha pun memakai jaket kulit yang di berikan oleh Jaiden.


"Dikancing Kei," Suruh Jaiden.


"Ih Kak Jaiden, Jakarta panas tahu!" Kesal Keisha.


"Ck, pakai yang bagus Kei!" Ucap Jaiden lalu menarik resleting jaket kulit itu sampai atas.


"Nah kan enak dilhat, yaudah mau naik apa hm?" Tanya Jaiden.


"Motor," Jawab Keisha yang masih kesal dengan Jaiden.


Jaiden pun terkekeh pelan dan mengacak rambut Keisha lembut, "Udah aku duga!" Ucap Jaiden, lalu meninggalkan Keisha dan menuju garasi motornya.


Selama perjalanan menuju rumah sakit, keduanya tiada hentinya berbincang-bincang. Bahkan Keisha dan Jaiden sesekali berteriak karena keduanya tidak dapat mendengar ucapan satu sama lain.


Hal itu disebabkan karena angin, dan Jaiden yang membawa motornya yang terlalu cepat.


Ah jangan lupakan juga Keisha yang memeluk posesif Jaiden, bahkan Jaiden sendiri yang memaksa agar Keisha mengeratkan pelukannya.


Tentu saja alasan yang Jaiden gunakan itu sangat klise, agar Keisha tidak terjungkal jatuh kebelakang.


Hingga keduanya berhenti di lampu merah, dan itu membuat keduanya untuk berbicara hal-hal random. Dan tiada hentinya tertawa, entahlah. Entah apa yang dibicarakan kedua insan itu bicarakan hingga membuat kedua insan itu tetawa lepas seperti itu.


Keisha juga tiada hentinya menganggu Jaiden, dari yang menggelitik Jaiden dari perut hingga leher.


Hingga membuat Jaiden terkekeh geli.


"I...itu Jaiden kan?" Tanya Thalia, saat dirinya melihat Jaiden berada di samping mobil milik Heri.


Tentu saja Thalia melihatnya, Jaiden sedang bersama seorang gadis yang sedang memeluknya mesra dan erat.


Tepat sekali, motor Jaiden berada di sebelah Thalia dan agak maju kedepan sedikit. Hingga Thalia dapat melihatnya dengan jelas.


Lantas Heri pun mengalihkan perhatiannya, "Ah sayang sekali, itu pasti Keisha" Batin Heri.


"Hm itu Jaiden," Sahut Heri.


"Apa ini urusan penting yang Jaiden maksud?" Batinnya.