
Ck, kau tennag saja Kak! Kau tidak akan mati menaiki ini!" Ucap Riki kesal, karena melihat Surya yang dari tadi selalu merengek untuk turun.
"Tau tuh belum mulai juga, tanggung sekali kalau mau turun!" Ucap Keira bersemangat.
Yang lainnya hanya menertawai raut wajah Surya, berbeda dengan Keisha,Jaiden, dan Riki. Ketiganya melepaskan amarah mereka dengan berteriak sekencang-kencangnya.
Keisha dan Riki melampiaskan segalanya karena Orang Tua nya yang akan bercerai. Sedangkan Jaide berteriak kesal, karena ternyata Nenenknya sedang memakai topeng dihadapannya.
"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!" Teriak Surya melengking karena takut.
"Astaga ayolah Surya, nikmati saja! Kuping ku sakit mendengar teriakan mu!" Teriak Keira yang duduk di sebelah Surya.
Setelah turun dari permainan koro-koro tersebut, Suarta membungkukkan badannya sambil memegang kedua lututnya.
"Hei Surya kau tak apa?" Tanya Jaiden khawatir.
"Hah... h... hah.... Ja... ngan bertanya dulu padaku," Ucap Surya yang masih jantungan.
"Hahaha maaf kan kami best!" Ucap Keira lalu merangkul Surya.
"Ah lepas kan Kei! astaga aku tidan akan mau menaiki wahana seperti itu lagi!" Gerutu Surya kesal pada Keira.
Karena Keira lah yang menarik paksa Surya, agar Surya mau menaiki wahana permainan tersebut.
"Hahaha" Kekeh yang lainnya.
Keisha dan Riki pun saling tatap dan enggan untuk ikut bersenda gurau bersama yang lainnya.
"Aku haus sekali, kak aku ingin membeli minuman dulu" Ucap Jovan.
"Aku juga!" Sahut Sufa.
"Baiklah, kalau begitu kita berpencar saja dulu. Aku juga ingin mencari makanan," Sahut Jaki.
"Oke" Sahut yang lainnya.
"Berbicaralah pada Riki Kei, aku akan ikut dengan yang lain" Ucap Jaiden pada Keisha.
Keisha pun mengangguk paham, "Terima kasih kak" Sahut Keisha.
Jaiden pun teesegun gemas lalu mengacak gemas rambut Keisha, "Surya, Keira! Tunggu aku!" Seru Jaiden.
"Cepat!" Pinta Keira.
Keisha pun mengikuti Riki diam-diam yang pergi bersama Heri dan Jaki untuk mencari makanan. Sebenarnya Riki mengetahuinya, kalau kakaknya itu mengikutinya dari belakang dengan diam-diam.
Riki pun memutuskan untuk pamit pada Heri dan Jaki, awalnya Jaki dan Heri ingin bertanya. Tapi di urungkannya, karena Riki terlebih dahulu mengatakan kalau dia ingin bertemu dengan Keisha, Kakaknya.
Grep
Riki menarik Keisha, dan membawa Keisha untuk duduk di atas kursi panjang yang disediakan di taman. Keduanya pun hanya duduk dan diam saja, karena canggung dan tidak tahu harus mengatakan apa.
"Riki... Maaf kan aku" Ucap Keisha tertunduk.
"Hm"
"Riki" Panggil Keisha.
"Apa?" Sahut Riki ketus.
"Apa kau sayang dengan Mama?" Tanya Keisha.
"Wanita itu sudah membuang ku, bagaimana menurutmu?" Tanya Riki berbalik pada Keisha.
Keisha menghela nafasnya kasar, "Riki apa kau tahu kenapa aku memilih ikut dengan Mama? Aku tidak ingin Mama sendirian Ki, Karena aku sudah yakin sekali kau akan memilih Papa" Jelas Keira pada Riki.
"Sebenarnya aku juga ingin memilih Papa, tapi aku tak bisa membiarkan Mama kira sendirian" Lanjut Keisha.
"Kau membuang ku Kak Kei" Jelas Keisha.
Keisha pun meraih tangan Riki untuk di genggamnya, "Aku tidak membuang mu, aku sangat menyayangi mu. Kau keluarga yang ku miliki. Besok aku akan ke Amerika, kita harus tetap saling berhubungan oke? Kita tidak boleh memutuskannya tali persaudaraan kita," Jelas Keisha pada Riki.
"Kau yakin akan ikut bersama Mama?" Tanya Riki.
"Kalau ragu jangan pergi, tinggallah disini" Ucap Riki.
"Aku akan ikut Mama ke Amerika besok."
"mau meninggalkanku dan Kak Jaiden ya ternyata" Sahut Riki.
Keisha tidak menjawabnya, Keisha bahkan tidak memikirkan tentang Jaiden.
"Baiklah, aku menghargai keputusan mu kak. Mari kita berdamai, beri aku kabar mu saat kau di Amerika" Jelas Riki.
"Hm, pasti akan ku beri kabar pada Adik ku" Ucap Keisha.
Riki pun terkekeh, "Hentikan Kak Kei" Ucap Riki yang tidak suka dipangg dengan embel-embel Adik ku oleh Keisha.
"Apa kau sudah memberitahu yang lainnya Kak?" Ucap Riki.
Keisha pun kembali tertunduk, "Belum Ki, aku binggung harus mengatakan bagaimana pada semuanya" Ucap Keisha.
"Ayo kita makan malam di tempat itu, dan beri tahu mereka smeuanya," Ajak Riki.
"Kau yakin?" Tanya Keisha ragu.
"Hm aku yakin" Jelas Riki.
Riki pun memberitahu yang lainnya melalui chat grup untuk berkumpul sekaligus makan di tempat yang berada di taman bermain tersebut.
Karena Riki yakin sekali semuanya pasti belum makan malam sama sekali, kesembilan anak tersebut itu pun memesan makanan sesuai dengan selera makan mereka masing-masing.
Sambil menunggu makanan datang, kesembilan anak-anak itu pun sibuk dengan obran mereka. Namun Keisha tiba-tiba saja melontarkan sebuah ucapan, yang berhasil membuat teman-temannya itu diam dan hening seketika.
"Orang Tua ku dan Riki akan bercerai," Ucap Keisha tertunduk.
"Kei? Riki kalian tak apa?" Tanya Keira khawatir.
"Sudah pasti tidak" Ucap Riki jujur sambil mengaduk-aduk minuman yang ada di hadapannya.
"Aku juga akan pergi ke Amerika besok, aku ikut dengan Mama ku" Jelas Keisha sekali lagi.
"Kei... ini?" Tanya Heri.
"Iya, ini hari Keisha terakhir bersama kita" Jelas Jaiden, karena Jaiden yakin sekali. Kalau Keisha pasti tidak sanggup mengatakan itu kepada teman-temannya.
"Riki? kau juga?" Tanya Sufa.
Riki menggeleng, "Aku memilih ikut dengan Papa, aku akan tetap di Indonesia. Hanya Kak Kei yang akan pindah ke Amerika" Jelas Riki pada semuanya.
...⚡⚡⚡...
"Hari ini adalah hari dimana Keisha akan pergi ke Amerika, Jaiden dan Riki akan mengantar Keisha berangkat di pagi hari.
Teman-teman yang lainnya tidak dapat izin, karena itu adalah jam sekolah. Jaiden meminta izin kepada Nenek dan Kakeknya untuk tidak sekolah hari ini saja, karena Jaiden ingin mengantar Keisha.
Begitu pun dengan Riki, ah tidak. Bram juga ikut mengantar Keisha.
"Apa Keisha sedekat itu dengan anak mendiang Juna?" batin Shakila.
"Kei jaga dirimu baik-baik disana oke huh! Sering lah untuk menghubungi Papa, Riki dan Jaiden" Ucap Bram.
Keisha pun menganggukkan kepalanya mengerti, Keisha ingin sekali memeluk Papanya. Tapi rasanya Keisha sepertinya malu untuk melakukan itu.
"Sudah pamitannya? Ayo Kei cepat! Pesawatnya akan lepas landas!" Ucap Shakila pada Keisha.
"Pa, Riki, Kak Jai Kei pamit dulu ya" Ucap Keisha sedih.
Keisha pun mulai berjalan mengikuti Mamanya di belakang, namun setengah perjalanan Keisha berbalik untuk menghampiri Papanya.
Keisha pun memeluk Bram, "Pa jaga kesehatan Papa. Kei akan sering menghubungi Papa" Ucap Keisha di pelukan Bram.
Bram pun menangis, begitu pun dengan Riki.
Shakila pun merasa perih dihatinya saat melihat anak dan Ayah itu.