
"Jaiden, kau sudah lihat? Kau sudah puas kan? Kau! Astaga... aku tak mengerti dengan jalan pikiran mu!" Ucap Keira lalu meninggalkan yang lainnya dan memilih untuk menuju ruang inap Keisha.
Surya pun berjalan mendekat pada Jaiden, "Kau hebat! Kau sudah melakukannya, aku menyesal sudah menyerah soal perasaan ku pada Keisha. Seharusnya aku membuat Keisha suka pada ku, dan meninggalkan pria tak brengsek seperti mu!" Bisik Surya.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Keira mendengar keributan di belakangnya, dan membalikkan badannya untuk melihat apa yang terjadi. Seketika matanya membola, dan berlari untuk kembali menghampiri teman-temannya yang sedang memisahkan Surya dan Jaiden.
"Astaga Surya!" Pekik Fia hendak menahan Surya.
Tapi Heri lebih dulu menahan Fia, dan memberi isyarat pada Fia untuk tetap diam saja. Takut kalau nanti Via malah tidak sengaja di hajar oleh Surya, dan Jaiden pun diam saja.
Sama sekali tidak ada perlawanan, karena menurutnya dirinya pantas untuk mendapatkan itu.
"Ck hentikan!" Ucap Jaki memegangi Surya erat dan Heri membantu Jaiden berdiri.
"Kalian ini teman! Astaga!" Pekik Jaki frustasi melihat Surya dan Jaiden bergantian.
"Maaf, ku rasa aku pantas mendapatkannya" Ucap Jaiden menundukkan kepalanya menyesal.
"Ya! Kau memang pantas mendapatkannya! Arghh lepaskan aku Jaki!" Ucap Surya kesal agar Jaki melepaskannya.
Setelah Jaki melepaskan Surya dari genggamannya, Surya pun pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun pada teman-temannya.
"Keira, Jaki susul Surya. Biar aku dan Fia yang mengurus Jaiden," Saran Heri dan keduanya pun mengangguk setuju.
"Ayo kita obati dulu luka mu," Ucap Heri pada Jaiden yang hanya bisa menurut saja.
Sedangkan Sufa, Riki, dan Jovan begegas menuju ruang inap milik Keisha.
Seharusnya disini yang marah besar pada Jaiden, Riki bukan? Tapi Riki menahannya, Riki sedang sibuk dengan pikirannya soal beberapa waktu yang lalu dirinya bertemu dengan Mamanya setelah 4 tahun lamanya.
...⚡⚡⚡...
"Thalia katakan, kenapa kau melakukan itu pada Keisha hm? Apa Keisha mengatakan hal buruk pada mu?" Tanya Rafa lembut.
"Pa... hiks... Thalia tidak sengaja Pa... hiks... maaf.. Keisha juga sama sekali tidak berkata buruk pada ku. Thalia melakukannya tanpa sadar, maafkan Thalia... hiks..." Isak Thalia merasa bersalah.
"Pa... kenapa? Kenapa bukan Thalia saja yang bertunangan dengan Jaiden? Hiks... Kenapa harus Keisha? Papa tahu... Papa tahu bagaimana hubungan mu dengan Jaiden dan seperti apa," Ucap Thalia terisak dengan bahu yang begetar.
"Thalia, kau dan Jaiden tidak akan pernah bisa untuk bersama. Apapun itu caranya," Jawab Rafa.
"Maksud Papa? Apa karena aku anak tiri Papa? Makanya Papa memilih Keisha untuk bertunangan dengan Jaiden? Apa karena itu Pa? Iyakan Pa? Ini kan pertunangan bisnis yang di maksud teman ku?" Tanya Thalia bertubi-tubi.
"Tidak Thalia, tidak sama sekali. Kau dan Jaiden memang tidak bisa bersama sampai kapan pun, pertunangan Keisha dan Jaiden juga bukan seperti yang kau pikirkan sekarang."
"Itu murni keinginan Jaiden sendiri, walaupun ada terbesit bisnis di antara ketiga keluarga" Jelas Rafa.
"Mama mu akan pulang besok, tenangkan dirimu. Papa akan kembali, Papa hendak bersih-bersih dulu" Ucap Arafah karena kemejanya yang digunakannya saat ini sudah di lumuri oleh darah milik Keisha.
Lantas Rafa pun meninggalkan ruang inap Thalia, dan Thalia pun menangis tersedu-sedu. Thalia terus memikirkan apa maksud ucapan Rafa barusan, ekanapa dirinya harus terlahir tidak jelas seperti ini? Pikirnya.
"Kenapa?!" Teriak Thalia.
...⚡⚡⚡...
"Tidak Papa Nek, biasa anak laki-laki. Jangan khawatir," Ucap Jaiden pada Rena dan melirik Shakila. "Tante, dimana Om Rafa?" Tanya Jaiden.
"Sedang menganti pakaiannya, sebentar lagi kembali" Jawab Shakila.
Dokter pun mempersilahkan mereka semua untuk masuk, namun maksimal hanya dua orang saja. Hingga hanya Rena dan Shakila saja lah yang masuk, dan menjenguk Keisha.
Kata dokter, Keisha tidak mengalami hal yang serius di bagian kepalanya. Hanya saja, Keisha belum sadarkan diri jelas dokter itu tadi.
Baru saja Rena dan Shakila masuk, datanglah Surya, Keira dan Jaki.
Maaf soal tadi," Ucap Surya pada Jaiden.
"Hm, aku juga minta maaf pada mu" Jawab Jaiden.
Dan tanpa sadar, keduanya pun berbaikan begitu saja.
"Riki kau yakin tak apa?" Tanya Heri khawatir pada Riki berbisik, karena sedari tadi Riki hanya diam saja.
"Kak kau tahu? Ku rasa aku akan baik-baik saja kalau dia tidak menyapa ku tadi. Seharunya dia mengabaikan ku saja tadi," Ucap Riki tersenyum miris enggan menatap Heri dan menundukkan kepalanya.
"Astaga! Aku belum memberitahu Nenek dan Papa soal Kak Kei, apa harus?" Tanya Riki pada yang lainnya.
"Ku rasa mereka juga perlu tahu, iya kan?" Tanya Keira pada yang lainnya, dan mereka pun mengangguk setuju.
"Sebentar ya," Pamit Riki pada yang lainnya.
"Jaiden, Om ingin bicara dengan mu" Ucap Rafa pada Jaiden.
Rafa baru saja kembali dari toilet, setelah membersihkan dirinya dari darah Keisha tadi dan menganti pakaiannya.
Jaiden pun menurut, dan mengikuti langkah kaki Rafa kemana pergi. Tentu saja, Rafa membawa Jaiden untuk duduk di luar. Dan jauh dari jangkauan dari yang lainnya, dan hanya ada mereka berdua disana.
"Maaf Om," Ucap Jaiden merasa bersalah.
"Sudah terlanjur, kau masih remaja dan harus banyak belajar. Apa kau bisa memilih salah satu pilihan, jika Om memberi mu sebuah pilihan?" Tanya Rafa.
Jaiden pun terdiam, binggung harus menjawab dan merespon seperti apa atas pernyataan yang di lontarkan Rafa padanya.
"Om rasa itu akan sulit, baiklah. Lagi pula, kau dan Thalia memang tidak akan bisa bersama. Om rasa Om akan membawa Thalia jauh dari kalian berdua sementara, Om akan membawanya pada psikiater di luar negeri," Jelas Rafa pada Jaiden soal rencananya.
"Sebenarnya, ini tidak sepenuhnya salah mu. Hanya saja langkah mu salah, dan ini bisa di bilang adalah salah Om sendiri" Jelas Rafa terkekeh.
"Mungkin Om bisa saja masuk penjara, karena sudah melakukan hal buruk pada Thalia," Lanjut Rafa.
"Om... sebenarnya aku tahu. Aku tahu soal Thalia adalah anak dari Lia Auriya, mantan kekasih Dady" Ucap Jaiden tiba-tiba membuat Rafa tersentak.
"K..kau tahu?" Tanya Rafa tak percaya, karena dirinya merasa sudah mengubur informasi soal Lia dan Thalia rapat-rapat.
"Hm, Jai tahu. Jaiden juga berpacaran dengan Thalia bukan karena menyukainya," Jelas Jaiden lantang.
"Itu karena aku membenci Thalia," Jelas Jaiden membuat Rafa kesal.