I Am Fine

I Am Fine
Kantin sekolah



Tok tok tok


"Tuan muda?" Panggil Bi sarah di balik pintu kamar Jaiden.


"Tinggalkan Jai sendirian Bi! Jaiden akan makan nanti!" Ucap Jaiden berteriak dari dalam kamarnya.


Apa kalian mengetahuinya? Ternyata sejak pulang dari bandara tadi, Jaiden langsung saja pulang kerumahnya dan masuk ke dalam kamarnya.


Jaiden sedang menangis saat ini.


Padahal Jaiden sudah berjanji pada dirinya sendiri, kalau dirinya tidak akan menangis lagi. Ayolah, Jaiden ini adalah seorang anak laki-laki. Tidak seharunya Jaiden menjadi cenggeng, seperti sekarang ini.


Namun entah mengapa, Jaiden merasa sakit sekali di uluh hatinya. Karena ditinggalkan oleh orang-orang yang disayanginya.


Jaiden merasa dirinya tidak memiliki tempat untuk berkeluh kesah lagi, karena Keisha adalah tempatnya untuk mengeluh selama ini.


Jaiden memang juga selalu mengeluh dan bercerita pada Kakek dan Neneknya, tapi sepertinya itu tidak mungkin lagi. Apalagi mengigat kenyataan, kalau ternyata Neneknya itu tidak menyukai Momy nya dan terpaksa merawat dirinya.


Karena dirinya adalah anak dari anak Neneknya, yaitu mendinag Dady nya Juna.


Jaiden benar-benar berharap, Tuhan akan mengabulkan doanya. Agar Momy nya cepat bangun dari tidurnya, Jaiden sudah terlalu lelah merasa sendirian.


...⚡⚡⚡...


4 Tahun kemudian.


Celine masih belum bangun dari komanya, Jaiden juga sekarang sudah berada di kelas 2 SMA. Saat ini Jaiden sedang berada dirumah sakit, untuk menjenguk Momy nya.


Jaiden akan selalu datang di hari Sabtu dan Minggu, pada hari itu Jaiden akan selalu berada di rumah sakit dan akan pulang di malam hari.


Ah iya, Jaiden akhir-akhir ini juga sedang dituntut oleh Rena dan Jinata, termasuk juga Dino. Jaiden dituntut untuk dapat mempelajari tentang dunia bisnis dan manajemen perusahaan, di usianya yang masih terbilang muda.


Choren Group, perusahaan keluarga Renandra sudah dipercayakan pada Dino semenjak Juna meninggal. Karena Rena dan Jinata sudah tidak sanggup lagi, mengingat usia mereka yang sudah masuk umur 60 tahunan.


Sedangkan perusahaan keluarga Aldebarano, Rina mengambil alih untuk sementara. Karena Dino tidak sanggup harus mengurus kedua perusahaan besar tersebut, apalagi dalam bidang yang berbeda.


Walaupun Dino dan Saka juga terkadang ikut andil dalam mengambil keputusan, agar Rina tidak salah langkah.


"Mom hari ini Jaiden dapat nilai ulangan Fisika 95, Jaiden cuma salah satu soal. Tidak apa-apa kan Mom? Momy tidak ingin memarahi Jaiden? Ayo lah Mom bangun, marahi Jaiden sepuas Momy. Jaiden ingin seperti Tante Naura yang selalu memarahi Jaki, karena Jaki sering mendapat nilai merah di raport nya," Ucap Jaiden terkekeh.


"Mom, Jaiden kangen Momy. Jaiden juga kangen dengan Dady, Jaiden belum sempat menjenguk Dady di makamnya. Jaiden juga... kangen dengan Keisha Mom..." Jelas Jaiden.


"Jaiden..." Ucap Jaiden terhenti dan berakhir dengan mengis tersedu-sedu.


"Ayolah Mom, bangun... Apa Momy tidak ingin melihat Jaiden? Empat tahun Momy sudah tidur. Apa Momy tidak merindukan anak tampan Momy ini hm?" Tanya Jaiden sambil meraih tangan dingin Celine, dan meletakkannya di pipinya.


"Mom, kenapa semuanya pergi meninggalkan Jaiden huh?" Tanya Jaiden.


"Mom... Ayo jawab Jaiden," Ucap Jaiden sambil terisak.


Tara melihat dibalik pintu dan mendengar semua racauan dan ucapan yang di ucapkan oleh Jaiden barusan pada Momy nya, yang tidak kunjung bangun dari tidurnya.


Rasanya perih sekali, saat Tara melihat Jaiden yang selalu seperti itu saat datang kerumah sakit. Jaiden terlalu banyak kehilangan orang terdekatnya, di usianya yang masih terbilang sangat muda sekali.


...⚡⚡⚡...


"Keira!" Panggil Fia berteriak.


"Apa sih Fia?" Sahut Keira.


Keira dan Fia adalah sahabat dekat semenjak SMP, awalnya Keira tidak ingin berteman dengan Fia dulu. Namun Keira merasa malas sekali untuk mendengar ucapan orang-orang, karena dirinya tidak pernah mau bergabung dengan teman-teman yang lainnya, selain dengan 7 prince sekolahnya.


Apa kalian mengetahui siapa saja 7 Prince itu? Tentu saja itu Jaiden, Jovan, Sufa, Heri, Surya, Jaki, dan Riki. Semenjak SMA, Keira dan ketujuh anak laki-laki itu sudah mulai jarang berkumpul.


Hanya beberapa kali, itu pun terkadang kalau berkumpul pasti ada yang tidak ikut bergabung.


Lagipula mereka semua sudah mulai beranjak dewasa, dan Keira juga merasa dirinya sendiri anak perempuan di antara mereka semuanya. Terkadang juga, anak laki-laki itu membahas hal-hal yang tidak dimengerti oleh Keira.


Tapi tujuh anak laki-laki itu selalu protektif pada Keira, karena kaiera adalah teman mereka satu-satunya perempuan, dari mereka kecil dulu hingga sekarang.


Bahkan tak jarang, ketujuh anak laki-laki itu akan menghampiri Keira yang sedang duduk bersama Fia, dan ikut bergabung bersama keduanya di kantin.


Keira juga merasa sedikit tenang kalau berada disekitar mereka, karena Keira tidak perlu takut di ganggu oleh siapapun, walupun itu belum pernah terjadi.


"Astaga! lihat Jaiden makin ganteng saja! Bantu aku untuk dekat dengannya dong Kei..." Mohon Fia pada Keira.


Keira memutar bola matanya malas, "Tidak! tidak! aku tidak akan mengizinkannya! Kau akan sakit hati kalau kau dekat dengan Jaiden, aku serius!" Jelas Keira pada Fia.


"Ck, memangnya ada apa sih?" Tanya Fia penasaran.


"Ck, tidak asik! Eh lihat Kei! Aku yakin mereka semua pasti akan duduk bersama kita lagi!" Seru Fia semangat.


"Tentu saja, tadi mereka juga menanyakan itu pada ku di grup" Jelas Keira.


"Ah begitu ya, kalau begitu biar aku saja yang memesan makanan. Kau tunggu disini saja ya Kei, kau ingin memesan apa?" Tanya Fia hendak bangkit dari duduknya.


Keira pun menarik Fia untuk kembali duduk, "Tidak usah Fia, nanti biar mereka saja yang memesannya! Lumayan kan? hemat kantong hehe" Ucap Keira degan cengirannya.


Fia pun hanya membalas dengan cengiran kuda andalannya, karena siapa juga yang tidak ingin mendapat bayaran dari orang lain?


"Oi Kei!" Panggil Surya.


"Oi? Sini!" Pinta Keira.


Keempatnya pun menghampiri Keira yang sedang duduk dengan Fia.


"Sufa, Riki, Jovan mana?" Tanya Keira saat melihat adik-adik kesayangannya itu tidak ada di antara teman-temannya.


"Seperti tidak tahu saja! Ini nih ketularan Heri!" Ucap Jaki menujuk Heri dengan dagunya.


"Cari degeman ya?" Tanya Keira terkekeh.


"Kok aku sih Surya?!" Ucap Heri tak terima.


"Kan kau memang suka bermain dengan perempuan!" Jelas Surya.


Heri langsung kicep dan diam.


"Sudah, sudah buruan di list. Aku sudah lapar!" Gerutu Jaki sambil menarik kursi yang akan di duduki nya.


"Siapa yang akan memesannya?" Tanya Jaiden.


"Dia!" Ucap Surya menujuk Fia.


"A... Aku? Tanya Fia heran.


"Terus siapa lagi? Kan yang aku tunjuk itu dirimu," Sahut Surya santai.


Keira terkekeh melihat interaksi Surya dan Fia, Surya memang benar-benar tidak pandai mengutarakan perasaannya dengan benar.


"Sudah cepat list, biar aku saja yang memesannya bersama Jaki. Masa kau menyuruh perempuan membawa makanan segaban, yang benar saja!" Sahut Jaiden.


Sedangkan Surya hanya menyengir kuda saja, "Aku kan hanya becanda Tuan muda."


Jaiden pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya heran.


"Kei kau lihat kan? Jaiden sepertinya menyukai ku!" Ucap Fia berbisik pada Keira.


Keira memutar bola matanya malas, "Tidak Fia, Jaiden itu sedang suka dengan orang lain!" Balas Keira berbisik.


"Hah siapa? Apa itu aku Kei?" Tanya Fia lagi.


"Kau jangan terlalu percaya diri, Jai itu sudah punya orang yang dia suka. Kau lebih baik mundur deh, saingan mu berat sekali soalnya" Ucap Keira berbisik sambil terkekeh pelan.


"Sudah?" Tanya Jaiden.


"Sudah Tuan Muda!" Sahut Heri dramatis.


"Jangan lebay deh!" Pekik Jaiden kesal.


"Hei!" Panggil Jaiden.


"Aku?" Tanya orang tersebut.


"Hm kau, pesan semua makanan ini. Ini uangnya dan kembaliannya ambil saja untuk mu, antar kesini makanannya ya!" Ucap Jaiden.


"Oke!" Ucap orang itu semangat.


"Ku kira kau akan memesannya sendiri tadi Jai hahaha" Ucap Surya terkekeh.


"Helo! Surya, Apa kau pikir Tuan muda kita ini mau mengantri?" Ucap Keira menggoda Jaiden sambil terkekeh geli.


"Fia? Kenapa kau diam saja? Maaf ya kita jadi menganggu mu dengan Keira," Ucap Jaki tak enak pada Fia.


"Ah Aku? Ah tidak kok tidak papa," Ucap Fia sambil melirik Jaiden yang malah sedang meliriknya juga.