I Am Fine

I Am Fine
Dino dan Lia 2



"Kak Juna memang punya ku, tapi bukan aku yang berada dihatinya" Sahut Lia sambil memanyunkan bibirnya.


Setelah beberapa 2 bulan terakhir, saat Juna ditinggalkan oleh Celine. Juna sama sekali tidak memperdulikan Lia, bahkan akhir-akhir ini hubungan keduanya semakin jauh. ah tidak, tepatnya Juna lah yang menjauh dari Lia.


Lia juga sudah mendekati Juna kembali, tapi Juna tetap tidak memperdulikannya. Bahkan beberapa kali Lia datang ke club untuk membujuk Juna, karena Juna terus berada di sana.


"Hei Chika, ku rasa aku harus mendekatinya. Dia pasti lebih kaya dari Kak Juna," Ucap Lia pada Chika.


"Apa kau bercanda? Apa segila itu kau dengan uang Lia?" Sahut Chika berbisik, tak menerima ide bodoh sahabatnya itu.


"Tentu saja! Kalau tidak, untuk apa aku mempertahankan Kak Juna selama ini di sisiku? Sudah saatnya untuk melepaskan Juna sekarang!" Sahut Lia santai.


"Hei, bukankah kau sudah melakukan itu dengan Juna? Kenapa kau tidak meminta pertanggungjawaban darinya saja?" Saran Chika pada Lia.


"Tidak, dia melakukannya dalam pengaruh alkohol. Lagipula aku ingin dijadikan seperti ratu, bukan tidak dipedulikan seperti ini olehnya. Mulai hari ini aku akan mencari cara untuk menjadikan pria itu milikku," Ucap Lia tersenyum senang.


Chika hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja, karena temannya itu sangat keras kepala dan tidak pernah memikirkan kejadian apa yang akan menimpanya nanti. Secara sederhananya adalah Lia itu orang yang sangat sulit, untuk diberi arahan yang baik dan benar.


Karena Lia memang tidak suka di atur.


"Permisi?" Ucap Lia.


"Eh? Ah iya ada apa?" Tanya Dino.


"Kemeja mu sangat kotor karena ku, ini aku tadi memesan di toko online," Ucap Lia sambil menyerahkan paper bag kemeja pada Dino, "Walaupun ini tidak sebanding dengan harga kemeja mu, tapi aku ingin bertanggung jawab atas perbuatan ku," Lanjut Lia panjang lebar.


"Ah terima kasih," Ucap Dino sembari mengambil paper bag tersebut dari tangan Lia.


"Kalau begitu...aku Permisi," ucap Lia terpotong.


"Lia!" Panggil Chika tiba-tiba.


"Astaga menganggu saja!" Batin Lia kesal menatap sinis temannya.


"Ayo makan malam di depan! Aku pikir tokonya Barus aja buka, eh? Ini siapa? Apa ini pacarmu?" Ucap Chika berpura-pura, untuk membantu Lia dekat dengan Dino.


"Bagus! Ku kira kau akan menganggu rencana ku," Batin Lia tersenyum senang.


"Ah tidak, kami baru saja bertemu," Sahut Lia.


"Iya benar, kau salah paham Nona" Sahut Dino sopan.


"Ah begitu ya, aku hampir saja memarahi mu tadi Tuan. Ku kira kau adalah pacar yang sudah menelantarkan temanku" Sahut Chika santai.


Lia membelalakkan matanya terkejut, saat mendengar ucapan tersebut keluar dari mulut sahabatnya.


Dino pun tertawa garing untuk mencairkan suasana, "Putuskan saja lelaki yang menelantarkan mu itu" Sahut Dino.


"Iya kan? Aku pun berpikir begitu. Temanku ini memang sangat bodoh!" Sahut Chika santai sekali lagi.


Sedangkan Lia sudah tak habis pikir dengan temannya tersebut, bisa-bisanya Chika menjelek-jelekkan dirinya di hadapan pira yang akan di incarnya, astaga.


"Hei sebentar, aku baru menyadarinya. Bukankah kau yang memiliki galeri ini? Kau yang tadi memotong pita bukan?" Tanya Chika heboh.


Dino tersenyum dan mengangguk pelan, "Ya kau memang benar, tapi aku bukan pemilik sebenarnya. Pemilik galeri ini adalah kakaku, aku hanya mewakilkannya saja. Karena beliau sedang tidak sehat," Sahut Dino ramah.


"Ah begitu ya, mau ikut makan malam bersama kami di depan?" Ajak Chika.


"Hei Chika, apa apaan kau ini. Sangat tidak sopan ayo kita pergi," Ucap Lia sambil berusaha menarik Chika.


"Eh? tidak apa-apa, apa aku boleh ikut malam bersama kalian berdua? Karena aku tidak tahu makanan enak di sekitaran sini," Sahut Dino.


"Tentu saja! Apa kau pernah mencoba minuman Soju?" Tanya Chika.


"Apa di Indonesia ada Soju?" Tanya Dino binggung.


"Kau tidak tahu? Apa kau bukan orang Indonesia? Tapi sepertinya kau sangat fasih bahasa Indonesia" Sahut Lia.


"Aku asli Indonesia, hanya saja kewarganegaraan ku Amerika," Sahut Dino.


"Ah begitu ya," Sahut Lia.


"Apa disana menyediakan nasi mangkok?" Tanya Dino.


"Ku merasa mereka pasti menyediakannya!" Sahut Chika.


Dino pun akhirnya memilih ikut bersama Lia dan Chika, untuk makan malam di restoran Korea yang baru saja buka di depan galeri seni tersebut.


"Hei kenapa kau sangat pintar bersandiwara?" Bisik Lia pada Chika.


"Sudah, kau tenang saja! Buat dia sampai mabuk dan menginap di apartemen mu" Sahut Chika berbisik.


...⚡⚡⚡...


Matahari pun sedikit demi sedikit masuk ke dalam kamar apartemen Lia, hingga membuat Dino bangun dari tidurnya.


"Akhh" Ucap Dino memegangi kepalanya yang terasa sakit karena terlalu banyak minum.


Dino sangat terkejut, saat mendapati Lia yang sedang tertidur disebelahnya tanpa busana. Dengan cekatannya Dino pun menyibakkan selimut dan mendapati dirinya juga yang ternyata tanpa busana.


Dino berusaha mengingat kejadian yang terjadi semalam, tapi Dino merasa tidak melakukan apapun pada Lia dan tidak dapat mengingat apapun.


Dino hanya mengingat saat dia sedang makan dan minum bersama Lia dan Chika.


"Li..Lia" Panggil Dino ragu-ragu.


"Dino astaga! Apa yang sudah kita lakukan tadi malam?!" Pekik Lia bersandiwara.


Padahal ini adalah rencana busuknya dan Chika, sahabatnya.


"Aku...aku tidak tahu maafkan aku, aku tidak tahu apa saja yang terjadi tadi malam," Sahut Dino memijit kepalanya yang pusing.


Flashback off


"Kejadian tersebut terjadi 6 tahun yang lalu? Lalu kenapa kau baru memberitahu putra ku sekarang?" Sahut Joya yang merasa janggal.


"Karena saat itu, saya dan Dino sama sekali tidak mengenal satu sama lain dan kami memutuskan kalau ini hanya sebuah kesalahan. Tapi aku tidak menyadarinya, karena beberapa minggu dari kejadian tersebut, kalau aku ternyata sedang hamil. Aku juga tidak tahu bagaimana cara untuk memberitahu Dino dan meminta pertanggungjawaban Dino, karena aku tidak pernah melihatnya lagi di galeri seni" Jelas Lia panjang lebar.


"A..apa kau serius Lia?" Tanya Dino hati-hati, "Kau...benar hamil setelah kita melakukan itu? Bukankah kata mu kau sudah meminum obat pil pencegah kehamilan?" Lanjut Dino.


"Hei Dino, apa kau pikir dengan meminum pil setelah melakukannya tidak akan membuatnya hamil huh?!" Protes Joya kesal pada Dino.


"Astaga kenapa anakku ini sangat gegabah sampai harus menghamili wanita ini?" Batin Joya kesal.


"Lakukan tes DNA secepatnya, aku dan Dino akan pergi ke Indonesia untuk mengeceknya sendiri. Ah iya satu lagi, jangan pertemukan Dino dengan anakmu dulu. Jika hasilnya sudah positif, aku akan membuat anakku ini bertanggungjawab atas kesalahannya dan tentu saja kesalahan mu juga" Sahut Joya, lalu bangkit dari duduknya dan pergi.


"Huh? Bunda tunggu!" Panggil Dino yang berusaha untuk menyusul Joya.