
Bagaimana keadaan kakak?" Tanya Rina.
"Masih sama," Sahut Dino.
"kak, apa kak Cena akan baik-baik saja?" Tanya Rina khawatir dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Aku takut kak Cena akan meninggalkan kita kak," Lanjut Rina.
"Hei sedang berbicara apa kau ini? Jangan sembarangan oke? Everthing Will be okay hm?" Ucap Dino lalu membawa Rina kedalam dekapannya.
"Dino!" Panggil Saka.
"Ah Kak Saka," Sahut Dino lalu melonggarkan pelukannya pada Rina.
"Ah Rina rupanya, ku kira tadi kekasih Dino" kekeh Saka, "Bagaimana?" Tanya Saka pada Dino.
"Masih sama Kak, apa kau ingin melihatnya Kak?" Tanya Dino.
Saka mengangguk, "Aku ingin melihatnya!" Sahut Saka.
"Ayo!" Ajak Dino dengan di ekori oleh Rina di belakang.
"Astaga Rina, kau pergilah sana belajar!" Usir Dino.
"Ck, iya iya!" Sahut Rina lalu pergi menuju kamarnya.
Setelah sampai dikamar Celine, Dino meninggalkan Saka di dalam kamar itu. Karena Dino yakin pasti Saka membutuhkan waktu untuk bersama Celine, walaupun kakaknya tak kunjung bangun.
Dino sebenarnya mengetahui bagaimana perasaan Saka pada Celine, hanya saja Dino pura-pura tidak tahu dan diam. Dino juga adalah seorang lelaki, Dino dapat membedakannya bagiamana Saka memperlakukan Celine.
Kentara sekali terlihat berbeda saat Saka memperlakukan Celine dengan sangat spesial.
Bahkan Saka rela merelakan waktunya untuk menjaga Celine daripada bergelut dengan beberapa dokumen di kantornya. Apalagi Dino mengetahui bahwa saka ini adalah orang yang sangat workholic dalam pekerjaan.
Astaga, Saka juga sering membawa asistennya serta laptop kerjanya ke rumah Celine.
Saka sering menyelesaikan pekerjaan kantornya di rumah Celine.
Saka duduk di pinggir ranjang queen size milik Celine, lalu mengambil tangan Celine.
"Celine cepatlah bangun, aku sudah sangat merindukanmu. Apa kau tidak ingin melihat ku lagi? Sehingga kau enggan sekali untuk membuka mata mu hm?" Ucap Saka lirih yang hampir menangis, namun Saka menahannya.
Namun Saka tiba-tiba terdiam dan melihat tangannya, Saka merasakan bahwa saat ini jari Celine sedang bergerak di dalam genggamannya.
Dengan nafas yang terburu-buru Saka keluar dari kamar Celine dan berteriak di rumah Celine untuk memanggil dokter.
"Dokter! Dokter! Tangannya bergerak!" Teriak Saka di depan pintu kamar Celine.
Dokter yang berada di kamar sebelah Celine pun, langsung berlari-larian saat mendengar teriakan tersebut.
Bahkan Dino dan Rina pun, langsung terburu-buru keluar dari kamar mereka untuk menghampiri Saka.
"Kenapa Kak? Apa kak Celine sudah bangun?" Tanya Dino antusias.
"Dino, aku melihatnya, aku melihatnya tadi sungguh. Aku melihat jarinya bergerak di genggaman ku!" Ucap Saka senang.
"Kau serius kak?!" Tanya Rina antusias.
Sedangkan di dalam kamar Celine.
"Celine, kedipkan mata mu sekali jika kau dapat mendengar suara saya" Ucap dokter tersebut.
Celine menurut dan mengedipkan matanya sekali.
"Ucap A" Ucap dokter itu lagi.
Namun Celine tak kunjung untuk membuka mulutnya dan tidak menyebutkan 'A' tersebut. Para dokter yang berada di kamar Celine pun saling menatap, begitu pun dengan perawat yang di dalam sana.
"Baiklah panggil kan dokter John untuk kemari, Nona Celine membutuhkan psikiater saat ini" Ucap dokter tersebut pada salah satu perawat.
"Baik dokter" Sahut perawat tersebut.
Dokter pun akhirnya keluar dari kamar Celine yang membuat Dino, Juna dan Rina langsung menghampiri dokter tersebut.
"Bagaimana dok?" Tanya Dino.
"Nona Celine sudah sadar tuan muda, hanya saja sepertinya Nona Celien enggan untuk berbicara. Kita hanya dapat menunggu sampai kapan beliau mau kembali berbicara, untuk saat ini tolong jangan menekan Nona Celine atau membentaknya dan jangan biarkan dia sendiri didalam kamarnya, sebaiknya kita harus mencoba untuk mengajaknya berbicara dengan lembut, saya akan meminta salah satu perawat untuk menemaninya di kamar Nona Tuan muda" Ucap dokter tersebut pada Dino.
"Baiklah" Sahut Dino.
"Kalau begitu saya permisi Tuan muda" Ucap dokter tersebut.
"Kak ayo cepat hubungi Ayah dan Bunda!" Ucap Rina pada Dino.
Saka dan Rina pun masuk ke dalam kamar Celine, Celine juga sudah tidak menggunakan alat bantuan bernapas lagi dan beberapa selang yang akhir-akhir ini terpasang di tubuhnya.
Celine sedang duduk di atas tempat tidur ya dan saat ini Celine tidak mau menatap Saka dan Rina yang sedang berhadapan dengannya.
"Celine aku merindukan mu" Ucap Sama lalu meraih tangan Celine.
Celine tiba-tiba saja menangis, Celine menangis karena dia merindukan Juna.
Celine tidak tahu kenapa dia sekarang berada dirumahnya, seingatnya dia sedang berada di pesta.
Apa Celine bermimpi tentang dia menikah dengan Juna? Pikirnya.
"Hei cantik kenapa menangis? Hm? Kau tidak boleh menangis lagi, ada aku disini oke?" Ucap Saka lalu menarik Celine ke dalam dekapannya.
Rina yang tidak enak melihatnya pun memutuskan untuk keluar dan mendapati Dino kakak yang sedang berdiri di ambang pintu.
"Ayo kita biarkan mereka dulu sebentar" Ucap Dino, lalu menarik adiknya tersebut untuk duduk di sofa yang tersedia di samping pintu kamar Celine.
Saka melonggarkan pelukannya pada Celine dan meraih wajah mungil Celine serta menghapus air mata Celine.
"Apa kau ingin melukis? Apa perlu aku membawa mu ke ruang pribadi mu untuk melukis? Atau kau mau aku membawanya kemari?" Tanya Saka pada Celine.
"Tidak, aku mau kak Juna" batin Celine tapi tidak bisa di ungkapkannya.
Celine menatap Saka dengan bergetar.
Tanaro dan Joya melihat dari ujung pintu kamar Celine, keduanya melihat bagaimana baiknya Saka memperlakukan putri sulung mereka.
Seandainya, Tanaro tidak menikahkan anaknya dengan Juna dan menikahinya dengan Saka. mungkin Celine sekarang akan bahagia, pikir Tanaro.
"Saka" Panggil Joya lembut.
Saka melihat di ujung pintu kamar Celine sudah ada Tanaro dan Joya, Saka pun memutuskan untuk bangun dari duduknya dan mempersilahkan kedua orang tua Celine.
Saka pun keluar dari kamar Celine dan mendapati Dino dan Rina yang sedang duduk di atas kursi sofa.
"Apa kak Cena mau berbicara kak?" Tanya Rina pada Saka yang baru saja duduk di sebelahnya.
Saka pun menggelengkan kepalanya pelan.
...⚡⚡⚡...
"Juna kau sebulan ini kemana saja sih?! Kenapa kau sulit sekali di hubungi? Kau sudah cerai kan dengannya? Kau tidak akan melupakan janji mu padaku kan?!" Ucap Lia berteriak kesal saat memasuki ruang kerja Juna.
Ya, Juna sudah 1 bulan terakhir ini tidak masuk kantor, Juna juga menggirung dirinya di dalam kamar. Tepatnya di kediaman orang tuanya dan Juna 1 bulan terakhir ini juga tidak pernah pergi ke kantor.
Juna baru saja menyesali perbuatannya yang kasar pada Celine, bahkan kedua orang tua Juna juga tidak membiarkan Juna untuk kembali berhubungan dengan keluarga Aldebarano.
Juna juga sampai lupa dengan Lia, yang statusnya saat ini adalah masih sebagai kekasihnya.
Ah iya, Juna juga sangat sering mendapatkan kunjungan dari teman-temannya seperti Tara, Bram dan Kanta. Mereka selalu menghawatirkan Juna dan juga memberitahu Juna soal Lia yang terus-menerus merengek pada mereka menanyakan dimana keberadaannya.
Namun Juna rasanya sangat enggan untuk memikirkan Lia, yang ada di pikirannya saat ini hanyalah Celine, Celine dan Celine.
Dan apa kalian tahu?
Jinata dan Rena sudah tidak mau menau lagi tentang kehidupan Juna, anak semata wayang mereka.
Kalian pasti bertanya-tanya bukan? Alasan mengapa Juna hanya berdiam diri saja dirumah orang tuanya selama sebulan terakhir ini?
'Apa kau tidak dapat berpikir dan menggunakan otakmu Juna? Kau tidak bisa mengingat bagaimana kau dan Celine mengalami kecelakaan tersebut? Kau tidak bisa?!'
Juna sudah berusaha untuk mengingat kecelakaan apa yang di maksud oleh Papanya, Juna juga hanya mengigat dia hanya mengalami kecelakaan sekali dalam hidupnya dan dia hilang ingatan.
Juna selalu berpikir keras tentang itu, apa kecelakaan itu terjadi sebelum dia hilang ingatan? Pikirnya.
Bahkan Juna sering sekali merasakan teramat sakit di kepalanya hingga jatuh pingsan dan beberapa kali di larikan ke unit gawat darurat.
"Aku sangat lelah lia, tolong mengerti lah" Ucap Juna sambil memijat ujung pangkal hidungnya pusing mendegar ocehan Lia.
"Apa kau mencintainya sehingga kau melupakan ku huh?! Ingat Juna kau sudah tidak ada hubungannya lagi dengannya! Kau hanya milikku!" Bentak Lia menggema di ruang kerja Juna.
"Hentikan Lia, apa kau memang tidak mengerti? Aku sangat lelah, keluarlah aku butuh waktu untuk sendirian!" Bentak Juna pada Lia.
"Ck, kau ini sangat menyebalkan sungguh. Kau bahkan hilang selama sebulan tidak ada kabar dan kau malah mengusir ku! Kau jahat!" Ucap Lia merajuk pada Juna lalu meninggalkan Juna.
Juna menghela napasnya kasar, lalu meraih telepon genggamnya dan menelepon seseorang.
"Kau dimana?"