I Am Fine

I Am Fine
Keisha atau Thalia?



Siapa yang akan pembaca pilih?


Jaiden × Keisha


Jaiden × Thalia


Disana terlihat jelas, Jaiden yang sedang duduk berdua bersama dengan Thalia. Surya dan Heri saling menatap satu sama lain, berusaha untuk mencoba menghentikan Keisha menatap kedua insan yang sedang tertawa lepas itu.


Grep


Riki menarik Keisha keluar dari kantin, "Eh Riki!" Pekik Heri saat melihat Keisha yang sudah ditarik terlebih dahulu oleh Riki.


"Sudah ayo Kak, biarkan saja dulu. Ayo kita makan," Ajak Jovan pada Heri dan Surya.


"Iya Kak, biarkan saja dulu. Nanti belikan saja makanan untuk Kak Kei," Sahut Sufa.


Lantas keempat remaja lelaki itu pun, memilih untuk duduk bergabung bersama dengan komplotannya.


"Keisha melihatnya?" Tanya Keira sedikit khawatir.


"Sudah tenang saja," Ucap Jaki menenangkan Keira, Ah iya Keira sudah menceritakan semua pada Jaki.


Maksudnya, Keira sudah menceritakan semuanya pada Jaki. Atas apa yang terjadi pada Keisha dan Thalia, dan bagaimana hubungan keduanya.


Tentu saja Keira sudah mendapatkan lampu hijau terlebih dahulu dari Keisha, maksudnya. Keira bertanya terlebih dahulu, pada Keisha untuk menceritakan tentang hal itu pada Jaki.


Dan Keisha mengizinkannya, asalkan Jaki tidak membocorkannya pada Jaiden. Karena Keisha berencana untuk mengatakan itu sendiri pada Jaiden, Keisha tak ingin kalau Jaiden nanti mendengarnya dari buah bibir orang lain selain dirinya.


Cukup teman-temannya saja.


"Riki..." Panggil Keisha lirih.


Riki menghela nafasnya kasar, setelah membawa Keisha ke dalam tempat dimana biasanya mereka berkumpul.


Dan tempat itu memang disediakan khusus, untuk mereka oleh orang tua Jovan. Tentu saja itu karena Jovan yang merengek pada orang tuanya, hingga tempat itu pun dijadikan tempat berkumpul mereka.


"It's okey, don't worry. Him love you more" Ucap Riki menenangkan Kakaknya itu.


"Apa aku terlambat?" Tanya Keisha dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"No, kau tidak terlambat Kak Kei. Selagi keduanya belum memiliki status hubungan yang jelas. Kau masih ada kesempatan untuk mengambil hatinya kembali," Jelas Riki.


"Riki..." Panggil Keisha.


"Hm?"


"Aku... a... aku sebenarnya bukan anak kandung Papa," Ucap Keisha tertunduk dan mengigit bibir bawahnya agar air matanya tidak mengalir.


"Huh? What do you talking about? Kau anak kandung Papa!" Jelas Riki dengan nada bicara yang meninggi.


Keisha menggelengkan kepalanya ribut, "Tidak Ki. Mama...hiks... Mama hamil aku sebelum Mama dan Papa menikah Ki" Jelas Keisha menatap Riki lekat.


"Kau bercanda kan?!" Ucap Riki.


"Aku tidak bercanda, awalnya aku juga sulit percaya soal fakta itu. Tapi aku sudah melakukan tes DNA, dan itu benar. Aku adalah anak secara biologis dari pria yang sekarang menjadi suami Mama Ki..." Ucap Keisha terisak.


"Kau sedang berbohong kan Kak?" Ucap Riki tak terima.


...⚡⚡⚡...


"Jaiden apa boleh aku bertanya?" Tanya Thalia.


"Anything, mau menanyakan apa?" Tanya Jaiden berbalik.


"Maaf untuk menanyakan ini, apa hubungan mu dengan Keisha?" Tanya Thalia to the point.


"Teman," Jawab Jaiden singkat.


Thalia pun mengangguk-anggukan kepalanya senang, dan merasa dirinya menang banyak dari Keisha.


"Lalu bagaimana dengan kita? Hubungan kita apa?" Tanya Thalia terus terang pada Jaiden.


Jaiden yang mendapati pertanyaan itu pun sedikit tersentak, sungguh saat ini perasaannya sedang kacau balau antara Keisha atau Thalia.


Entahlah, dirinya merasa bimbang. Jaiden merasakan hal baru, dan atmosfer yang berbeda saat dirinya berada di dekat Thalia.


"Apa kau sedang menanyakan kepastian pada ku?" Tanya Jaiden terkekeh pelan, agar suasana menjadi tidak canggung.


"Ku rasa sejenis itu, apa kau akan terus mengantung ku?" Tanya Thalia lagi to the point pada Jaiden.


"Sangat tidak spesial jika aku mengungkapkan perasaan ku di tempat seperti ini dengan mu, mau makan malam bersama nanti?" Tanya Jaiden.


"Jaiden aku tidak membutuhkan hal-hal seperti itu, apa kau akan mengajak ku ke restoran mewah? Aku tidak akan pergi, bagaimana dengan taman yang berada di dekat rumah mu saja?" Saran Thalia.


Lantas Jaiden pun terkekeh pelan dan mengangukkan kepalanya setuju, dan mengusap lembut rambut Thalia. "Ya sudah nanti ku jemput ya?" Ucapnya.


Lantas Thalia menggelengkan kepalanya ribut, "Aku saja yang kesana nanti!" Sahutnya.


Dan Jaiden pun mengangguk setuju.


Tanpa Jaiden sadari, ternyata Thalia sedari tadi merekam pembicaraan mereka. Thalia berniat untuk mengirimnya pada Keisha, setelah di edit dan dipotongnya.


Ah jangan lupakan juga, kalau Thalia dan Jaiden masih sedang berada di dalam kantin. Banyak pasang mata yang sedang memperhatikan keduanya, tak lain juga teman-teman dekatnya.


"Wah apa Jaiden akan menjadi laki-laki brengsek?" Ucap Surya frontal.


"Hei jaga ucapanmu," Peringat Keira.


Surya tertawa sinis, "Bukankah aku benar? Ah astaga aku merasa kasihan pada Keisha. Apa kalian tidak melihat Keisha yang ditarik oleh Riki tadi?" Tanya Surya.


Lantas mereka pun mengangukkan kepalanya.


"Tapi kita juga tidak bisa menghakimi Jaiden Surya, aku tahu disini Jaiden memang salah. Tapi kita tidak bisa menyalakan perasaannya, maksud ku kita tidak bisa memaksa Jaiden untuk bersama Keisha saja. Hanya karena Keisha adalah teman dekat kita," Jelas Heri.


"Baiklah aku mengerti apa yang di maksud Heri, Thalia disini memang berperan penting untuk Jaiden akhir-akhir ini. Jaiden sudah tidak pernah keluar malam, dan pulang pagi. Tidak balapan, taruhan, dan bolos" Jelas Jaki.


"Tapi... Jaiden sepertinya menjauh dari kita, seolah-olah kita semua adalah pengaruh buruk dari semua tindakan buruknya itu" Lanjut Jaki.


"Apa kalian tidak bisa ya Kak?" Tanya Jovan.


"Maksud mu?" Tanya Keira.


Jovan memutar bola matanya malas, "Disini aku yang jarang berkumpul dengan kalian semua. Tapi kenapa disini hanya aku saja yang dapat membedakannya? Apa kalian tidak bisa melihat bagaimana Kak Jaiden memperlakukan Kak Kei dan Kak Thalia dengan cara yang berbeda?" Jelas Jovan sembari bertanya.


"Hmm... kalau di pikir-pikir, aku menyadarinya. Jaiden lebih memperlakukan Keisha spesial, bahkan sudah 2 kali Jaiden meminta ku untuk mengantar jemput Thalia, dan dirinya pergi bersama dengan Keisha. Apa itu juga salah satu titik perbedaan cara dirinya memperlakukan keduanya?" Jelas Heri.


Sufa pun berdecak sebal, "Ayolah Kakak-kakak ku tersayang. Kak Thalia itu tidak sebaik yang kalian pikirkan," Jelas Sufa kalu menyeruput es tehnya.


...⚡⚡⚡...


Pelayan toko perhiasan itu tersentak, saat melihat ada seorang siswa SMA yang masuk ke dalam toko perhiasan. Bahkan siswa itu masih memakai seragam sekolah, dan seorang laki-laki.


Namun setelah pelayan toko itu melihat logo yang terdapat di seragam Jaiden, pelayan toko itu pun langsung mengangguk mengerti.


Sudah tidak heran, pasti siswa ini anak dari kalangan atas pikirnya.


"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya pelayan itu.