
"Kami akan makan siang di kantin, kalau kau butuh apa-apa kabari kami ya? Jangan biasakan menyimpan masalah sendiri. Kami akan membantu mu sebisa kami, oke?" Ucap Heri pada Keisha, dan Keisha pun mengangukkan kepalanya.
"Apa kau ingin makan sesuatu? Atau minuman mungkin?" Tanya Surya pada Keisha.
"Tidak, aku tidak ingin apapun. Terima kasih," Ucap Keisha.
"Kei, hubungi kita ya kalau terjadi sesuatu. Kami sebentar lagi akan kembali, tenangkan dirimu. Kau pasti bisa, semangat!" Ucap Keira menyemangati Keisha.
Lantas kelima remaja itu pun keluar, dan meninggalkan Keisha di dalam sana sendirian atas permintaan gadis itu. Selepas itu teman-temannya pergi, Keisha pun menangis sejadi-jadinya.
Dan meremat selimut erat-erat agar isakannya tak terdengar sampai keluar, walaupun dirinya tahu kalau ruangan itu kedap suara tapi dirinya sangat mewaspadai soal itu.
"Hiks... kenapa berat sekali?" Ucap Keisha terisak, "Dunia tidak adil" Lanjutnya.
"Thalia... Iya Thalia... aku harus melihat keadaannya," Ucap Thalia.
Di depan ruang inap Thalia.
"Hasil sudah keluar, kau perlu menjelaskan sesuatu kan?" Tanya Rafa.
"Ma... maksud mu?" Tanya Shakila gugup.
"Aku sudah mengecek log panggilan mu, kau meminta dokter dan juga perawat disini untuk memalsukan tes DNA ini lagi Shakila?" Tanya Rafa.
"Keisha bukan anak kandung ku, iya kan? Itu terbukti disini. Kau memalsukan semuanya, Karena kau ingin Keisha menjadi pewaris ku satu-satunya. Kau juga meracuni Rio hingga Rio sulit bernafas, dan meninggal. Iya kan?" Tanah Rafa dengan penuh selidik.
"Rafa apa yang sedang kau bicarakan? Aku tidak mengerti," Ucap Shakila berusaha membujuk Rafa dan menarik lengan suaminya.
"Berhenti berpura-pura Shakila," Peringat Rafa pada istrinya.
Jangan lupakan Keisha, Keisha juga mendengar itu saat dirinya baru saja keluar dari ruangannya. Karena terlalu sibuk dengan pikiran masing-masing, Rafa dan Shakila tidak menyadari kehadiran Keisha yang berada tidak jauh dari mereka.
"Rafa... baiklah maafkan aku karena sudah membohongi mu soal Keisha. Tapi soal Rio, aku" Ucap Shakila berusaha meraih tangan Rafa tapi Rafa melepaskan paksa tangan Shakila yang hendak menggenggam tangannya.
"Kau tahu Shakila? Aku punya cukup bukti soal itu, kau menyuruh pelayan di rumah Lia. Iya kan? Pelayan itu sudah bersaksi tanpa aku mintai, karena takut."
"Kau bisa saja masuk penjara, dengan pemalsuan data dan juga pembunuhan berencana pada anak di bawah umur secara tidak langsung," Jelas Rafa panjang lebar hingga membuat Shakila terdiam.
Keisha tersentak dan kembali menatap kedua pasangan itu miris, tanpa tersadar air matanya itu sudah keluar begitu saja. Keisha berusaha sekuat tenaga untuk menerima segalanya dengan lapang dada namun itu tidak mudah.
Sangat banyak hal berat yang di hadapinya hari ini, rasanya kepalanya sakit sekali. Kepergian Jaiden yang tiba-tiba dan meninggalkannya begitu saja, padahal beberapa hari yang kalau Jaiden masih membuat kupu-kupu sedang berterbangan di perutnya.
Karena pujaan hatinya itu, mengajaknya untuk bertunangan.
Lalu, soal hal yang menimpa Thalia yang mengalami pelecehan seksual dan menurutnya ini juga adalah ulah Mamanya sendiri, Shakila.
Karena beberapa waktu yang lalu, teman-temannya melihat Mamanya berada di bar untuk menyewa seroang cabul pria.
Setelahnya? Keisha mengetahui soal kebohongan terbesar yang dibuat oleh mamanya sendiri, ternyata dirinya adalah benar darah daging Bram bukan Rafa.
Dan terkahir? Dirinya mengetahui, kalau Mamanya ternyata membunuh Adik laki-laki Thalia karena dirinya. Agar Keisha mendapatkan 100% harta warisan dari Rafa sepenuhnya, tanpa di bagi-bagi pada Rio maupun Thalia.
"Mama... Papa..." Panggil akdiahs lirih dan keduanya pun menoleh dan melebarkan matanya saat melihat Keisha yang berdiri tak jauh dari keduanya.
"Keisha..." Lirih Rafa.
"Sayang... Kei..." Panggil Shakila terkejut dan hendak menghampiri Keisha.
"Ma... apa belum cukup untuk Mama? Kei capek, Kei lelah, Kei... hiks... entahlah..." Ucap Keisha lalu pergi meninggalkan keduanya dan berlari.
Keisha membidukan telinganya, saat dirinya mendengar dari kejauhan saja kalau Rafa dan Shakila terus memanggil namanya.
"Kau puas Rafa?! Lihat! Keisha mendengar semuanya arghhh!" Ucap Shakila frustasi sendiri.
Rafa menatap heran tak percaya pada istrinya, "Hei? Sadar lah Shakila. Kau sendiri yang menyebabkan ini, benar kata orang. Kau memang bukan Ibu yang baik untuk anak mu, maka dari itu Bram membuang mu."
"Kau bahkan tidak memperdulikan Riki, anak mu sendiri. See... kau tidak akan mendapatkan apapun dari ku, harta gono-gini ataupun sejenisnya" Jelas Rafa.
"Ma... maksud mu?" Tanya Shakila.
"Aku menceraikan mu Shakila, kita akan berhenti sampai disini. Terima kasih atas segalanya, seharunya aku mendengarkan perkataan orang tua ku. Untuk tidak menikahi wanita seperti mu, dan bodohnya aku percaya saya kala Keisha adalah darah daging ku," Ujar Rafa panjang lebar.
"Ku rasa sebentar lagi, polisi akan mencari mu" Ucap Rafa lalu pergi meninggalkan Shakila begitu saja. Rafa merasa bersalah pada Keisha, dan hendak mencari kemana perginya Keisha untuk memberi penjelasan pada gadis remaja itu.
Rafa tidak ingin, Keisha akan menjadi Thalia. Bagaimanapun, Keisha juga pernah menjadi anaknya. Dan Rafa sangat menyayangi Keisha dengan tulus, bahkan hingga sekarang.
Shakila pun memikirkan berbagai cara, untuk kabur dari polisi yang akan menangkapnya. Namun terlambat, di ujung koridor sana, Shakila sudah melihat tiga orang polisi yang sedang berjalan menuju padanya.
Shakila merasa sesak, dan ingin lari. Namun waktu benar-benar sudah terlambat, karena polisi sudah telebih dahulu menghampirinya dan kebetulan Lia yang keluar dari ruang inap Thalia hendak memanggil Rafa.
Lia sangat terkejut, karena saat membuka pintu ruang inap Thalia. Lia sudah melihat tiga orang polisi, di depan ruang inap putrinya.
"Apa benar dengan saudari Ibu Shakila Wiliani?" tanya salah satu polisi itu.
"Ya saya sendiri," Jawab Shakila jujur.
Shakila hendak kabur, namun tangannya sudah di tarik terlebih dahulu dan di borgol oleh seorang polisi.
"Ibu di tuntut karena sudah melakukan pemalsuan dokumen dan juga melakukan pembunuhan secara tidak langsung pada saudara Rio," Ucap polisi itu menbuat Lianyang awalnya kebingungan membelalakkan matanya terkejut.
"Kau?! Kau membunuh anakku?!" Bentak Lia pada Shakila dan hendak menjambak rambut Shakila karena kesal, namun di tahan oleh polisi itu.
"Tenangkan diri ibu," Peringat polisi itu.
"Tidak! Aku tidak melakukan apapun padanya! Ck, lepaskan aku!" Ucap Shakila memberontak dan membuat keributan di lorong rumah sakit.
"Ibu tenanglah, Ibu sedang berada di rumah sakit. Ibu bisa menjelaskannya nanti di kantor polisi, ayo!" Ucap polisi itu menarik Shakila paksa.
"Eh?? Itu Tante Shakila kenapa??" Tanya Jaki yang masih berada di kantin.