
Setelah membersihkan diri, Jaiden terlebih dahulu mengecek ponselnya terlebih dahulu. Jaiden membuka Line nya, tidak ada beberapa hal atau Chat yang penting.
Hanya ada Chat grup kelas, grup Pathetic, dan beberapa Chat dari beberapa gadis yang menyukai dirinya. Seperti biasa, Jaiden akan mengabaikan Chat tersebut.
Ah iya, Jaiden sangat populer disekolahnya, bahkan itu tidak hanya di sekolahnya saja. Jaiden sangat populer di luar sekolah, pengikut akun Instagram Jaiden juga sudah mencapai 800K.
Padahal Jaiden sendiri jarang meng update akun Instagram nya itu. Jarang sekali siswa-siswi yang tidak mengenal siapa itu soerang Jaiden Renandra, Jaiden adalah anak yang berprestasi, atlet olahraga, dan visual Jaiden memang lah sangat tampan.
Jaiden juga sering sekali mendapat coklat, dan beberapa surat dari siswa-siswi di sekolahnya maupun dari luar sekolahnya.
Intinya, Jaiden cukup populer.
Jaiden pun akhirnya memutuskan untuk memakai mobil Civic nya, untuk mengunjungi Masion Kakek dan Neneknya. Jaiden juga sepertinya akan tidur disana, karena sangat melelahkan sekali kalau harus pulang lagi kerumahnya.
Jaiden juga tidak lupa, untuk membawa tas dan perlengkapan sekolahnya untuk besok.
Setelah 15 menit dalam perjalanan, Jaiden pun akhirnya smapai di Masion keluarga Renandra dengan selamat. Gerbang depan Masion itu pun terbuka lebar untuk Jaiden, dan Satpam itu mempersilahkan Jaiden untuk masuk.
Setelahnya, Jaiden turun dari mobil Civic nya itu dan memasuki Masion keluarga Renandra. Pintu pun terbuka lebar untuk Jaiden, pintu itu di buka oleh 2 Maid.
Enak sekali bukan menjadi seorang Jaiden Renandra? pintu saja di buka kan untuknya, Jaiden tidak akan merasa kesusahan lagi untuk membukakan pintu lebar itu.
Bahkan tas Jaiden yang di bawanya tadi, sudah Jaiden berikan kepada Maid yang mengikutinya di belakang.
"Letakkan itu di dalam kamar ku" Jelas Jaiden pada Maid tersebut.
"Baik Tuan Muda," Sahut Maid yang membawa tas Jaiden.
Jaiden memiliki kamarnya sendiri di Masion keluarga Renandra, karena Jaiden juga lumayan sering untuk menginap di Masion keluarga Renandra.
Walaupun itu bisa di hitung berapa kali setahun Jaiden menginap disana, Jaiden juga menempati kamar mendiang Dady nya.
Bahkan dekorasi kamar Juna tidak pernah berubah, tetap di biarkan seperti itu oleh Jaiden sendiri.
"Mari Tuan Muda Nyonya dan Tuan besar sudah menunggu di Ruang Makan," Ucap Kepala Pelayan tersebut.
Jaide pun menurut dan menuju Ruang Makan, "Hah kenapa jauh sekali sih?!" Gumam Jaiden kesal, karena arah pintu masuk dan Ruang makan sangat jauh baginya.
Itulah salah satu sebabnya, Jaiden tidak mau tinggal di masion. Masion itu terlalu besar untuknya, Jaiden tidak menyukainya. Jaiden akan merasa kelelahan, kalau Jaiden harus berjalan kaki ke Dapur.
Lagipula, rumah yang terlalu besar itu sudah pasti sangat sepi, maka dari itu Jaiden tidak ingin dirinya merasa kesepian. Dan akhirnya, Jaiden pun memutuskan. untuk tinggal sendirian saja di rumahnya.
Setelah 4 menit menuju ke Ruang Makan, akhirnya Jaiden pun tiba di ruang makan dan ikut bergabung.
"Selamat datang sayang!" Sapa Rena.
"Hm" Sahut Jaiden lalu menyalami Jinata dan Rena secara bergantian, setelahnya Jaiden pun menarik krusi dan duduk di hadapan Rena.
"Kau sudah makan malam?" Tanya Jinata.
"Belum Kek" Sahut Jaiden.
"Baik lah, ayo kita mengisi perut kita dahulu" Ucap Rena.
Jaiden pun hanya mengangguk saja dan mengambil makanan yang ingin di makannya.
Selama makan malam, tidak ada pembicaraan sama sekali. Karana Jinata sendiri menerapkan, kalau sedang makan tidak ada yang boleh mengeluarkan suara sedikit pun.
Hanya ada suara dentuman sendok dan piring saja lah yang terdengar.
Ketiganya pun akhirnya selesai dengan makan malam mereka.
"Jelaskan pada Kakek dan Nenek, kenapa kau menjadi seperti ini?!" Ucap Jinata dengan nada yang meninggi, sambil melemparkan foto-foto.
Foto tersebut memperlihatkan Jaiden yang ikut balapan mobil bersama teman-temannya di sircuit.
Jaiden pun terdiam kaku, Jaiden tidak mengira kalau Nenek dan Kakeknya akan memantaunya sejauh ini.
"Apa Kakek dan Nenek sengaja mengirim orang untuk memata-matai ku?" Tanya Jaiden kecewa dan melirik keduanya secara bergantian.
Jaiden pun tertawa kesal, "Kakek dan Nenek tidak mempercayai ku?" Tanya Jaiden.
"Bagaimana bisa Kakek dan Nenek mempercayai mu Jai, lihat ini! Hentikan hobi tidak berguna mu itu!" Bentak Jinata memaksa Jaiden.
"Sepertinya Nenek dan Kakek akan menyesal memarahi ku, kalau tahu mengapa alasan ku ikut balapan" Ucap Jaiden lalu bangkit dari duduknya, dan pergi begitu saja dari Ruang Makan.
Memang terdengar tidak sopan, tapi Jaiden tidak ingin memperpanjang masalah. Maka dari itu, Jaiden pun memutuskan untuk melarikan diri dari sana dan masuk ke dalam kamarnya.
Setelah Jaiden sampai di kamar, Jaiden membanting pintu dengan keras. Hingga membuat beberapa maid yang berada di dekat kamar Jaiden terkejut.
Jaide tidak pernah sepeti itu, Jaiden juga mengunci pintu kamarnya. Agar tidak ada siapapun yang dapat masuk ke dalam kamarnya.
Rena menghela nafasnya kasar, "Apa kita terlalu mengekangnya?" Tanya Rena.
...⚡⚡⚡...
"Pagi Kei!" Sapa Jaki pada Keirs yang baru saja masuk ke dalam kelas.
"Hm, pagi" Sahut Keira lalu pergi menuju meja belajarnya, untuk menghampiri Fia.
"Tumben sekali Jaiden belum datang," Gumam Fia sambil memperhatikan luar kelasnya melalui jendela.
"Tidak sekolah mungkin," Sahut Keira santai.
"Eh?" Ucap Fia terkejut, "Sejak kapan kau tiba?" Tanya Fia heran, karena dirinya tidak melihat Keira.
"Ck, kau tidak melihat ku masuk memangnya?" Tanya Keira kesal.
Fia pun menggelengkan kepalanya, karena mrmang benar adanya kalau dirinya tidak melihat Keira masuk ke dalam kelas.
"Ck, di pikiran mu itu hanya Jaiden, Jaiden dan hanya Jaiden. Fiuh ayolah Fia, Jaiden tidak akan menyukai mu sebagai lawan jenis!" Jelas Keira.
Fia mwrasa benci, saat kata-kata itu kembali keluar dari mulut Keira dengan santainya. Jika boleh Jujur, Dia merasa sakit hati saat mendengar perkataan yang di ucapkan oleh teman dekatnya itu.
"Oke" Ucap Fia singkat lalu pergi keluar dari Kelasnya.
"Eh Fia! Bukan begitu maksud ku!" Ucap Keira yang baru sadar, kalau ucapannya itu baru saja menyakiti perasaan Fia.
Brakh!
Fia dan Thalia tak sengaja saling menabrak di depan pintu, "Makanya mata itu di pake!" Bentak Fia kesal pad Thalia.
Thalia pun sangat terkejut dengan ucapan Fia barusan, dimana Fia membentak dirinya. Bahkan Fia pergi begitu saja, dari hadapan Thalia.
Thalia pun menatap kepergian Fia dengan binggung, "Ada apa dengannya? Apa aku membuatnya marah?" Batin Thalia.
"Thalia!" Panggil Keira, hingga membuat si empu pun melihat pada Keira l.
"Ah iya?" Sahut Thalia.
"Maaf kan Fia ya, tadi Fia membentak mu. Itu karena aku membuatnya jadi tidak mood, makanya membentak mu tadi" Jelas Keira tak enak pada Thalia.
"Apa kalian bertengkar?" Tanya Thalia.
"Minggir, jangan di jalan" Ucap Jaiden ketus.
Jaiden baru saja datang, dan kesal karena tidak dapat masuk ke dalam Kelasnya.
"A... ah iya maaf" Sahut Thalia lalu mengeser dirinya agar Jaiden dapat masuk ke dalam Kelas.
"Pagi Kei" Sapa Jaiden pada Keira.
Keira pun tsrsneyum canggung, karena merasa tak enak pada Thalia "Pagi juga Jai, tumben terlambat?" Sahut Keira sembari bertanya.
"Tidur di rumah Kakek dan Nenek" Sahut Jaiden, lalu pergi begitu saja melewati Keira dan Thalia.
Keira pun. hanya membalasnya dengan memebntuk buah birbinya dengan huruf 'o' tanpa mengeluarkan suaranya.