I Am Fine

I Am Fine
Celine dan Renan Lagi



"Alda...Alda..." Panggil Renan lirih pada Celine.


"Kak Renan? Kau sudah bangun kak? Kak Renan hiks aku ingin pulangg, aku ingin bersama Bundaa hiks" Rengek Celine menangis pada Renan.


"Alda aku juga takut tapi aku tidak tahu kau ada dimana, aku tidak bisa melihat mu dengan jelas" Sahut Renan.


"Hiks Kak Renan Celine mau pulang, aku ingin pulang hikss" Rengek Celine dengan isakan tanggisnya.


"Alda jangan menangis nanti aku ikut menangis," Sahut Renan.


Ceklek


"Kenapa kalian ini sangat berisik huh?!" Kata penculik yang bertugas menjaga pintu.


PLAK


penculik itu pun menampar Celine, karena Celine sejak tadi tiada hentinya merengek dan menangis.


"Diam atau akan ku jahit mulut mu itu!" Bentak penculik tersebut.


Celine menggeleng takut.


"Sekali lagi aku mendengar mu menangis dan merengek, akan ku buang kalian berdua ke dalam laut. Biar di makan oleh hiu mau hah?!" Bentak penjahat tersebut.


"Tidak Om tidak, Renan dan Alda Janji tidak akan menangis dan merengek lagi, ampun!" Ucap Renan takut dan memohon kepada penjahat tersebut.


"Oke bagus, penurut!" Sahut penculik tersebut.


...⚡⚡⚡...


Sudah sebulan Celine dan Renan selalu disiksa, bahkan di sekujur tubuh Renan dan Celine sudah penuh dengan luka. Mulai dari diberi makan sehari sekali, dipukuli karena terus merengek dan menangis untuk pulang. Sampai-sampai Celine yang usianya baru menginjak 6 tahun sudah di lecehkan oleh salah satu penculik tersebut.


Keduanya sudah tidak berdaya.


Orang tua Celine dan Renan juga juga ketar-ketir, untuk mencari dimana keberadaan anak-anak mereka yang hilang secara bersamaan.


Orang tua Celine dan Renan adalah teman dekat, Ayah Celine dan Ayah Renan dulu berteman sejak kecil. Jadi keduanya memutuskan untuk saling bekerja sama, mencari informasi dimana keberadaan anak-anak mereka.


Sudah satu bulan lebih, akhirnya Ayah Renan mendapati informasi bahwa anaknya saat ini sedang di sekap oleh 3 penjahat. Yang ternyata penjahat itu adalah incaran polisi karena menjual organ tubuh anak-anak dengan cara mencurinya dan dijual secara ilegal ke luar negeri.


Joya Bunda Celine dan Ibunya Renan juga sudah menangis terisak-isak, saat mendengar bahwa putra dan putri mereka di culik oleh penjahat yang menjual organ tubuh anak-anak.


Kedua wanita itu takut, kalau anak mereka bahkan sudah meninggal dan organnya sudah di jual oleh ketiga penjahat itu.


"Sudah 11 anak, ayo kita mulai sekarang!" Ucap penculik itu.


"Baiklah kita akan membelah mereka satu-satu dari blok 1, Udin kau ambil perlengkapannya dan sediakan es batunya. Zai apa kah sudah menajamkan pisaunya?" Tanya salah satu penculik tersebut.


"Tentu saja sudah, kau tenang saja. Ayo kita bergerak sekarang" Sahut Zai.


Beruntung sekali Renan dan Celine berada di blok 3, karena setelah penjahat tersebut keluar dari blok 2 dan sudah membelah seluruh isi tubuh anak-anak yang berada di blok 2.


Barulah para penjahat itu menghampiri blok 3, dimana tempat Celine dan Renan.


Jadi, setiap blok diisi oleh 2 anak hingga 3 anak.


Namun saat salah satu penculik ingin memebalah tubuh Renan, tiba-tiba saja terdengar ada suara sirine polisi. Sontak ketiga penjahat itu saling menatap satu dan berlari ketakutan.


Sayangnya, salah satu penjahat itu tidak sengaja menjatuhkan besi dan dengan tepat sasaran mengenai kepala Renan.


Karena saat ini pintu blok 3 terbuka Celine dapat melihat jelas bagaimana mengenaskan Renan. Bahkan darah Renan mengalir ke arahnya dan sangat banyak.


"Kak Renan hikss Kak Renan bangun...jangan tinggalin Celine..." Isak Celine pecah melihat Renan yang sudah tak sadarkan diri dan sudah bercucuran dengan darah.


"Astaga Paaaa! Renan astaga Paa Renan disini!!"


Teriak seoarang wanita itu saat melihat keadaan putranya yang sudah tidak sadarkan diri dan bercucuran dengan darah.


"Celine!"


"Ayah..."


Tanaro pun merangkul anaknya tersebut ke dalam pelukannya.


"Tanaro! cepat hubungi ambulan hikss... ku mohon, Renan nak Mama mohon bangun lah sayang, kau harus kuat ya?!" Ucap Wanita tersebut terisak.


"Ah iya iya sebentar!" Ucap Tanaro dan merongoh kantong jasnya untuk mengambil ponselnya dan menelepon ambulan.


Tanaro pun sudah menelepon ambulan.


"Celine? Celine? sayang? Cena bangun nak!" Ucap Tanaro sambil menggoyangkan badan anaknya yang sudah tidak sadarkan diri.


Air mata Tanaro sudah jatuh begitu saja, begitupun dengan Papa Renan, Papa Renan buru-buru membuka baju kemeja kerjanya untuk menahan darah yang terus keluar dari kepala anaknya.


Tidak membutuhkan waktu yang lama, ambulan sudah tiba di lokasi kejadian. Renan dan Celine pun secepatnya di larikan kerumah sakit, begitu pun dengan anak-anak yang lainnya.


Keadaan Renan sangat mengenaskan, Renan mengalami geger otak berat dan sampai saat ini belum sadarkan diri. Karena banyak darah yang keluar bahkan saat ini Renan sedang koma.


Di tubuh Renan pun banyak sekali luka lebam, hingga membuat kedua orang tuanya tak bisa menahan tangisnya saat melihat keadaan putra semata wayangnya itu.


Bedanya Celine malah tidak terlalu memiliki luka berat, namun sayannya Celine mengalami gangguan psikisnya. Celine diduga mengalami Claustrophobia.


Sebenarnya disini Renan lah yang paling beruntung karena hanya mengalami geger otak, karena setelah bangun Renan sudah pasti melupakan kejadian yang menimpanya dengan Celine barusan.


Namun sayangnya, hingga saat ini Renan masih tertidur dan didiagnosa koma oleh dokter.


Setelah Celine sadar dari komanya, Celine sama sekali tidak berbicara dan lebih banyak untuk memilih diam. Bahkan semenjak Celine keluar dari rumah sakit Celine dirumahkan.


Celine homeschooling hingga SMP, karena takut menghadapi keadaan luar rumah.


Tepatnya, Celine tidak pernah keluar rumah jika tidak bersama kedua orang tuanya, terutama taman bermain. Celine yang dulu selalu ceria sudah hilang sekarang.


Semenjak kejadian tersebut, Celine banyak diam dan tidak banyak berbicara dan selalu mengekspresikan dirinya dengan menggambar.


Celine berbicara jika hanya perlu saja, bahkan Celine tersenyum bisa dihitung dalam setahun.


Celine juga adalah tipe anak yang tidak bisa ditinggalkan sendirian di rumah apalagi di tempat yang gelap dan sempit.


Celine juga tidak bisa di beri perlakuan kasar dan di bentak, karena hal itu bisa membuatnya kembali takut dan bayang-bayang kejadian tersebut terulang lagi di dalam ingatannya.


Namun, pada saat mulai masuk SMA Celine sudah mencoba untuk membuka dirinya kepada dunia luar. Celine mencoba untuk melawan segala ketakutannya dan kembali bersekolah dan bertemu dengan teman-temannya.


Kedua orang tua Celine berasumsi bahwa Celine saat ini sudah sembuh total, namun kedua orang tuanya salah.


Padahal selama ini Celine sering sekali kambuh namun dia menyembunyikannya dari orang tuanya dengan meminum obat penenang sejak masuk SMA hingga sekarang.


Flashback off