
"Kenapa tidak tahu?!" Bentak Keisha pada Jaiden.
"Kenapa kau marah padaku? Aku tidak tahu! Jangan bertanya tentang orang tua ku, nanti aku akan menangis!" Kesal Jaiden pada Keisha.
"Maaf" Ucap Keisha tertunduk, karena menyesal membentak Jaiden.
"Keisha!" Panggil Keira.
Keisha yang awalnya sedang tertunduk pun mendongakkan kepalanya, begitu pula dengan Jaiden. Jaiden mengalihkan atensinya kepada arah dimana Keisha sedang menatap.
"Loh Jaiden? Kau sekolah disini juga ya?" Tanya Keira.
"Kau mengenalnya Kei?" Tanya Keisha.
"Hm tentu saja, dia anak Om Juna. Ah iya Keisha aku ingin memberitahu mu kalau Om Juna masuk ke rumah sakit. Aku nanti sore akan menjenguknya kesana bersama Mama, kau mau ikut?" Jelas Keira sembari bertanya untuk mengajak Keisha.
"Kau juga sekolah disini?" Tanya Jaiden berbalik.
"Huh? ah iya, aku sekolah disini" Sahut Keira.
"Tentu! Aku akan ikut bersama mu, Mama ku pasti sibuk pemotretan nanti!" Sahut Keisha sedikit cemburut.
Tin!
"Ah itu pak supirku, ayo kak!" Ajak Keisha.
"Apa kalian pulang bersama?" Tanya Keira.
"Iya, aku pulang dengannya" Sahut Jaiden.
"Kei kami duluan ya? atau kau ingin pulang bersama?" Tanya Keisha.
"Tidak aku akan pulang bersama Mama sebentar lagi," Sahut Keira.
"Baiklah kalau begitu, nanti ku telepon ya Kei!" Ucap Keisha.
"Baiklah hati-hati!" Ucap Keira semangat.
"Terima kasih Kei!" Sahut Keira.
Jaiden dan Keisha pun masuk ke dalam mobil, "Maaf menunggu lama Nona," Ucap Supir tersebut.
"Tidak apa-apa pak," Sahut Keisha.
Supir pribadi keluarga Keisha pun melajukan mobil dengan kecepatan sedang.
"Kak bagaimana kau bisa mengenal Keira?" Tanya Keisha penasaran.
"Bertemu di rumah sakit," Jawab Jaiden.
"Hah apaan?" Tanya Keisha.
Jaiden menghela nafasnya kasar, lalu menatap Keisha "Aku bertemu dengannya dirumah sakit kemarin!" Jelas Jaiden pada Keisha.
"Oh begitu ya" Sahut Keisha.
"Apa kau dekat dengan Dadyku?" Tanya Jaiden.
"Tentu, aku sering ke kantor Dady kakak, Ah tidak aku kesana karena Papa ku sering mengunjungi Uncle Juna" Jelas Keisha pada Jaiden.
"Kak apa kau suka permen? Aku punya banyak sekali permen!" Ucap Keisha sambil mengeluarkan sekantong plastik permen dari tasnya.
"Tidak terima kasih, aku tidak ingin sakit gigi."
"Ck, coba ini!" Ucap Keisha memaksa, sambil memberikan peremen cucuk pada Jaiden.
"Makan satu permen tidak akan membuat mu sakit gigi!" Ucap Keisha kesal.
...⚡⚡⚡...
6 Tahun kemudian.
Celine dan Juna tidak pernah pulang ke Indonesia, bahkan Celine sangat sibuk untuk mengurus Juna. Hingga tidak sempat untuk menjenguk anaknya yang sedang berada di Indonesia.
Bahkan Jaiden lah yang selalu datang ke Amerika, saat liburan akhir semester bersama Rena dan Jinata.
Rena dan Jinata juga jadinya terpaksa untuk tinggal dirumah Juna dan Celine selama 6 tahun belakangan ini. Karena Jaiden tidak mau tinggal di masion Kakek dan Nenenknya.
Alasannya karena Jaiden tidak ingin merasa kesepian dirumah sebesar itu, lagipula jalanan menuju kelantai dasar itu sangat jauh, maka dari itu Jaiden bersikeras untuk tetap tinggal di rumahnya.
Diusianya yang baru menginjak 12 tahun, Jaiden sudah seperti orang dewasa. Bahkan Jaiden tidak membutuhkan bantuan Rena lagi untuk memakaikan dan menyiapkan seragam sekolahnya.
Jaiden benar-benar mandiri.
Kedadaan Juna sama sekali tidak memiliki banyak perubahan, namun sudah lebih baik. Celine dan Juna berencana untuk kembali ke Indonesia dan melanjutkan pengobatan di Indonesia.
Perihal ini, Juna lah yang terus-menerus merengek kepada Celine dan kedua orang tuanya, untuk membawanya pulang ke tanah air tercintanya. Karena Juna sangat ingin melihat putranya tumbuh.
Juna tidak bisa membiarkan lebih lama Jaiden untuk tinggal sendirian dan merasa sepi dan jauh dari kedua orang tuanya. Maka dari itu Juna ingin sekali kembali ke Indonesia dan menemani putranya bermain.
"Jaiden! Jai!" Panggil Rena dari lantai bawah.
"Kenapa Nek?" Tanya Jaiden sambil menuruni anak tangga rumahnya.
"Mau Nenek beritahu kabar bahagia?" Tanya Rena sambil tersenyum senang pada Jaiden.
"Hm?" Tanya Jaiden.
"Dady sudah membaik dan mereka akan kembali ke Indonesia besok!" Ucap Rena antusias.
Mata Jaiden seketika membola karena senang, "Nenek serius? Dady suda membaik? Momy dan Dady akan pulang? Sungguh?!" Tanya Jaiden bertubi-tubi dan tidak dapat menyembunyikan kesenangannya.
Rena pun mengangguk-anggukan kepalanya dengan semangat.
Jaiden bernafas lega, hari yang ditunggunya akhirnya tiba. Dimana Jaiden akan merasakan keberadaan kedua orang tuanya. Jaiden selalu merasa iri pada teman-temannya yang setiap hari Minggu keluar untuk menghabiskan waktu bersama keluarganya.
"Nek aku akan memberitahu Keisha!" Ucap Jaiden semangat sambil berlari ke lantai atas untuk mengambil ipadnya dan menelpon Keisha.
"Kak Jai? Kenapa?" Tanya Kesiha saat menjawab Video Call dari Jaiden.
"Kei Dady ku akan pulang besok bersama Momy!" Ucap Jaiden gembira.
"Kau serius kak? Wah kita harus merayakannya! " Sahut Keisha semangat.
Akhir-akhir ini Jaiden dan Keisha memang sangat dekat, Jaiden selalu bercerita pada Keisha dan begitupun sebaliknya, Keisha selalu mengeluh pada Jaiden.
Apalagi Keisha sering mengeluh pada Jaiden tentang keluarganya yang tidak pernah akur, bahkan Keisha dan Riki adiknya sering ke rumah Jaiden, untuk mengasingkan diri dari Mama dan Papanya yang selalu bertengkar.
Rumah ketiganya saling berdekatan, hingga membuat ketiganya jadi semakin dekat. Ditambah ketiganya sering berangkat ke sekolah bersama dan pulang bersama. Bahkan tak jarang Jaiden sering menghabiskan waktu bersama Keisha dan Riki, Walaupun Riki lebih sering menghabiskan waktu bersama kedua temannya yaitu Jovan dan Sufa.
...⚡⚡⚡...
Hari yang ditunggu-tunggu oleh semuanya akhirnya tiba, Hari dimana pesawat yang ditumpangi oleh Juna dan Celine baru saja lepas landas.
Celine pun menuntun Juna untuk duduk di kursi roda dan membawa Juna keluar dari lapangan Bandara.
Celine sangat terkejut saat melihat Jaiden, Rena dan Jinata yang sudah berada di Bandara untuk menunggu kepulangannya bersama Juna.
"Dady! Momy!" Seru Jaiden semangat lalu berlari menuju Celine dan Juna, untuk memeluk kedua orang tuanya yang baru saja mendarat dari Amerika.
"Astaga, anak Dady semakin ganteng saja ya?" Ucap Juna sambil megecup pipi putranya.
"Jaiden kenapa tidak sekolah?" Tanya Celine.
"Biarkan dia bolos Celine, dari tadi malam Jaiden sangat senang saat mendengar kalian akan pulang," Jelas Rena.
"Apa kau senang melihat Momy dan Dady pulang hm?" Tanya Juna.
"Tentu saja! Aku sangat merindukan Dady dan Momy!" Sahut Jaiden.
Celine dan Juna pun hanya terkekeh.
"Dady juga merindukan mu Jaiden!" Sahut Juna sambil mengacak-acak rambut anak semata wayangnya tersebut.
Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menuju kediaman Juna dan Celine, saat ini mereka sudah sampai di kediaman Juna dan Celine.
Sudah 6 tahun terakhir Celine mencium bau rumah sakit dan akhirnya dia bisa keluar dari sana dan kembali ke Indonesia bersama Juna.
Walaupun keadaan Juna belum sepenuhnya pulih, namun keadaanya saat ini sudah lebih baik.