
Drtt drtt drttt
Tidak ada jawaban
Drtt drtt drttt
"Halo?" Ucap Keisha berusaha untuk menetralkan suaranya, agar tak terdengar seperti orang yang baru saja selesai menangis.
"Loh? Kak Kei? Kau menangis? Kenapa?" Tanya Riki panik sekaligus khawatir.
"Tidak, ini aku sedang memotong bawang merah. Aku ingin membuat sambal, akhh aduh perih sekali" Ucap Keisha bohong.
Karena nyatanya, Keisha sedang menangis karena perlakuan yang di dapatkannya dari Mamanya bebebera6 waktu yang lalu. Bukan karena dirinya yang sedang memotong bawang merah, untuk memasak sambal.
"Astaga ku kira Kakak menangis, bikin panik saja!" Omel Riki.
Keisha pun yang mendengar ucapan Riki terkekeh pelan setidaknya dirinya sedikit terhibur saat mendegar Omelan dari Adik kesayangannya itu. Keisha sangat bersyukur, kalau dirinya masih memiliki orang yang sangat menyayanginya.
Dan tulus, tidak sandiwara seperti Mamanya.
"Kenapa kau menelepon? Kau rindu pada ku ya? Ck, padahal kita baru saja bertemu tadi di sekolah" Goda Keisha pada Riki.
"Ck, percaya diri sekali!" Sinis Riki, "Oh iya Kak, kau ikut tidak? Kami akan ke taman hiburan sekarang!" Tanya Riki sembari mengajak Kakaknya itu.
"Sekarang sekali?" Tanya Keisha, dan Riki pun hanya bedehem saya sebagai jawaban 'iya'.
"Ikut tidak?" Tanya Riki lagi.
"Ikut lah! Jemput aku ya! Aku mau siap-siap dulu!" Ucap Keisha semangat di telepon, lalu mengakhiri telepon itu sepihak hingga membuat Riki mendegus kesal.
"Ck, menyebalkan!" Gerutu Riki saat sambungan telepon terputus begitu saja.
Setelah 30 menit lamanya menunggu, akhirnya kini mereka semua sudah berkumpul di tempat biasa. Tentu saja itu di Caffe milik Sufa, tempat favorit mereka. Disana sudah ada Keira, Jaki, Heri, Surya, Fia, Jovan, Yura, Keisha, Riki, Sufa, Jaiden, dan juga Thalia.
Sebenarnya mereka semua sangat merasa canggung pada Jaiden, Thalia dan Keisha saat berada di tempat yang sama. Karena Thalia dan Keisha memang sedang tidak berbaikan, dan juga Jaiden dan Keisha yang tak kunjung berinteraksi selama 2 minggu lebih lamanya.
Seperti bermusuhan.
"Eh ayo kita pergi! Apa kalian membawa mobil semua? Gabung saja, biar hemat parkir!" Saran Jaki.
"Aku, kau, Surya, Jaiden bawa mobil. Yang lain bawa motor," Jelas Heri.
"Yang bawa motor, motornya tinggal saja disini. Aman kan Sufa?" Tanya Surya. "Aku juga sepertinya meninggalkan mobil ku," Lanjutnya.
"Aman kok Kak, nanti biar ku bilang ke karyawan disini" Jawab Sufa.
"Ya sudah ayo kita gerak sekarang, biar pulangnya tidak kemalaman. Besok kita sekolah," Ucap Heri.
Lantas mereka pun segera bergegas, tentu saja Keisha tidak satu mobil dengan Jaiden dan juga Thalia. Apa yang akan terjadi kalau mereka berada di dalam satu mobil? Astaga tidak akan terbayangkan.
Keisha, Riki, Surya naik di mobil milik Jaki dan Keira. Ah iya Surya meninggalkan mobilnya, karena malas menyetir katanya.
Sedangkan Sufa, Jovan, Yura satu mobil dengan Heri dan juga Fia. Mobil Jaiden? Tentu saja hanya di isi oleh Thalia dan juga sang pemilik kendaraan.
"Apa aku sebaiknya tidak ikut?" Tanya Thalia, "Sungguh. Aku merasa tidak enak, mereka seperti menjauh darimu semenjak kita pacaran Jai" Jelas Thalia tak enak.
"Santai saja, mereka tidak menjauh. Aku sering berkumpul dengan mereka. Dua hari yang lalu juga Jaki, Surya, dan Heri datang berkunjung ke rumah."
"Mereka memang seperti itu, itu karena kalian tidak terlalu mengenal satu sama lain" Jelas Jaiden mengusap surai rambut panjang Thalia.
"Stttt..." Ucap Jaiden meletakkan jarinya di bibir Thalia, "Tak apa hei. Apa yang kau khawatirkan? Bukankah ini lebih baik hm?" Tanya Jaiden sambil menatap Thalia dan menggenggam tangan gadis itu.
"Kita bisa berduaan seperti ini kan?" Lanjut Jaiden terkekeh pelan, hingga membuat Thalia tersipu malu.
Sedangkan di mobil Heri, sudah tidak heran. Disana ada Sufa, biang dari segala gosip sekaligus gudang informasi tentang dunia pergosipan.
"Wah aku masih sangat merinding tahu tidak," Ujar Sufa begidik ngeri.
"Kenapa? Kau bisa melihat hantu ya?" Tanya Yura jeleat polos.
"Ck bukan! Itu, maksud ku aku merinding melihat suasana dingin Kak Jaiden dan Kak Keisha. Wah apa mereka akan benar-benar berakhir seperti itu, dan akan seperti itu selamanya?" Celoteh Sufa sembari bertanya.
"Maka dari itu, tidak baik memiliki perasaan yang berlebih pada teman" Sindir Jovan pada Heri.
"Loh? Kak Kei suka Kak Jaiden ya?" Tanya Yura lagi-lagi kelewat polos dan kurang informasi.
"Bukan begitu Yura, tapi dua-duanya sama-sama suka. Tapi ketutup sama gengsi aja," Jelas Heri terkekeh pelan.
Selama 20 menit perjalanan, akhirnya ketiga mobil itu sampai di taman hiburan. Ketiga mobil itu pun memakirkan mobilnya dengan rapi, setelahnya mereka pun turun untuk memesan tiket.
"Biar aku saja yang memesan," Ucap Jaiden sambil menarik tangan Thalia yang berada di genggamannya, hingga membuat Keisha membuang wajahnya ke asal arah.
Asal itu tidak menatap kedua pasangan itu.
Riki yang melihat perubahan ekspresi Kakaknya itu pun menghela nafasnya kasar, "Apa kita pulang saja?" Tanyanya berbisik dan Keisha pun menggeleng kepalanya.
"Bukankah aku harus terbiasa dengan hal itu?" Tanya Keisha pelan pada Riki.
Surya mendengarnya, "Ya kau harus. Ayo!" Ajak Surya menarik tangan Keisha untuk masuk ke taman hiburan, karena Jaiden sudah membeli tiketnya.
"Eh ayo kita naik Komidi putar!" Ajak Keira pada yang lainnya.
"Ck, tidak! Seperti anak-anak saja," Omel Heri tak setuju.
"Ayo Ra! Aku juga mau!" Sahut Fia berlari imut pada Keira.
"Ya sudah aku juga ikut," Ucap Heri tiba-tiba hingga membuat yang lainnya pun menggeleng-gelengkan kepala heran.
"Lihat-lihat! Heri bucin guys! Hahaha" Ejek Surya hingga mengundang tawa dari yang lainnya.
Ah iya, jangan lupakan pasangan spesial kita hari ini. Siapa lagi kalau bukan Jaiden, dan juga Thalia.
"Kau mau naik apa?" Tanya Jaiden pada Thalia.
"Aku takut naik wahana yang ekstrim Jai, kita naik yang ringan-ringan saja ya? Lalu keliling-keliling," Ajak Thalia dan menuruti permintaan Thalia pasrah.
"Ck tidak seru sekali, kalau Keisha pasti akan naik wahan esktrim!" Batin Jaiden lalu mencari dimana keberadaan gadis yang sedang melanda pikirannya saat ini.
"Surya ayo naik itu!" Ajak Keisha pada Surya semangat sembari loncat-loncat, dan menujuk wahana rollercoaster.
"Ck, tidak ah Kei. Kau saja! Atau kau ajak Riki atau Jaki, saja! Lihat itu lihat! Astaga membayangkannya saja aku tidak bisa, itu sangat menyeramkan Keisha."
"Bagaimana nanti kalau aku tiba-tiba terlepas dan jatuh? Ahh tidak! Tidak!" Omel Surya.
"Ck, kau laki-laki kenapa penakut sekali sih?! Tidak seperti Kak Ja," Ucap Ksuaba hampir keceplosan dan reflek menutup mulutnya rapat-rapat.
Keisha dan Jaiden pun tak sengaja saling bertukar tatap, hingga Keisha sendiri lah yang memutuskan tatapan itu dan mengalihkan perhatiannya.