
"Kau tak apa Thalia?" Tanya Fia sambil membantu Thalia untuk berdiri.
"Ngapain lihat-lihat? Bubar bubar!" Pinta Heri.
Keira pun membantu Thalia untuk berdiri, "Astaga Thalia tangan mu terluka," Ucap Keira khawatir.
"Eh bawa aja ke UKS Kei" Saran Jaki.
"Iya betul kata Kak Jaki Kak Kei," Sahut Sufa.
"Aku bisa sendiri, maaf ya gara-gara aku kalian jadi terganggu jam makan siangnya" Ucap Thalia lalu pergi meninggalkan kantin.
"Kei Fia, temani cepat!" Pinta Heri.
Keira dan Fia pun menurut, dan mengikuti Thalia.
"Kelihatannya Tuan muda marah sekali ya," Ucap Surya terkekeh.
"Hei kau pikir saja Kak, siapa juga yang tidak marah kalau ketumpahan seperti itu"Sahut Jovan terkekeh pelan.
...⚡⚡⚡...
Jaiden baru saja keluar dari kamar mandi setelah membersihkan bajunya, Jaiden pun memutuskan untuk pergi ke ruang koperasi.
Untuk membeli pakaian baru, karena tidak mungkin Jaiden memakai pakaian kotor seperti sekarang ini, pikirnya.
Brak
Jaiden tidak sengaja menabrak seoarang gadis yang sedang berlari sembari menangis, hingga membuat anak gadis itu terjatuh di lantai.
"Akh..." Ringisnya.
"Eh?" Ucap Jaiden terkejut, "Kau lagi! Makanya jalan pakai mata!" Ucap Jaiden kesal, lalu pergi meninggalkan Thalia.
"Jaiden," Panggil Kiera yang berselisih dengan Jaiden.
Namun Jaiden tidak mengubris Keira dan hanya melambaikan tangannya saja, tanpa membalikkan badannya dan pergi begitu saja.
Sedangkan Fia membantu Thalia untuk berdiri, "Astaga kau tidak apa-apa Thalia?" Tanya Fia.
"Aduh Thalia maaf kan soal Jaiden ya, dia memang seperti itu anaknya. Tapi hatinya lembut kok, dia cuma sedikit merasa kesal saja," Jelas Keira pada Thalia.
"Aku memang salah, maaf" Ucap Thalia tertunduk.
"Ayo kita ke UKS!" Ajak Keira.
...⚡⚡⚡...
Jam suda menunjukkan pukul 6 sore, namun Thalia belum juga di jemput oleh supir Papanya. Padahal Thalia sudah pulang dari 2 jam yang lalu.
Kalau saja Thalia tahu jalan pulang, mungkin Thalia sudah sampai di rumahnya sejak tadi. Atau tidak Thalia memesan ojek atau grab sejak tadi atau pun taksi.
Namun Thalia takut, karena dia tidak tahu pasti alamat rumahnya. Yang Thalia tahu hanya nama alamatnya saja, dan Thalia hanya tau letak rumahnya setelah dirinya memasuki komplek perumahannya.
Thalia juga sudah beberapa kali menghubungi nomor Papa, Mamanya, dan juga sekretaris Papanya. Namun tidak ada satupun dari sana yang menjawab.
Dapat Thalia tebak, pasti Papanya itu sedang menghukum Mamanya. Maka dari itu, keduanya tidak ada yang menjawab telepon darinya.
"Loh Thalia ya?" Tanya Heri yang baru saja keluar dari perkarangan sekolah.
Jangan lupakan, Heri membonceng seorang gadis. Namun, gadis itu bukan lah pacarnya. Tapi mainan barunya, karena Heri suka bermain dengan banyak gadis tanpa niat untuk berpacaran.
Atau disebut dengan, Heri enggan memiliki hubungan dengan seorang gadis.
"Eh? Ah iya?" Sahut Thalia sedikit terkejut.
"Sudah jam 6," Ucap Heri sambil melirik jam tangannya, "Kenapa masih disini?" Tanyanya.
"Papa ku belum menjemput ku, mungkin ada pekerjaan yang harus di selesaikannya dulu," Sahut Thalia.
"Ah begitu ya, eh itu Jaiden sebentar. Jaiden!" Panggil Heri saat melihat Jaiden yang baru saja keluar dari perkarangan sekolah.
Ya, Jaiden dan Heri memang baru saja pulang dari sekolah, karena keduanya mengikuti ekstrakurikuler basket sampai jam 6.
"Hm? Kenapa?" Tanya Jaiden.
Heri pun menunjukan Thalia dengan dagunya, sedangkan Thalia hanya menunduk karena masih merasa bersalah pada Jaiden.
"Apa sih?" Tanya Jaiden binggung, tidak mengerti apa maksud dari temannya itu.
"Apa kau bisa mengantarnya Jai? Dia belum tahu lingkungan Jakarta, ini juga sudah mau gelap" Bisik Heri pada Jaiden.
"Ck, tidak tidak! Kau saja!" Ucap Jaiden.
"Kau tidak melihat di belakang ku hah? Kau ingin membuat teman mu ini gagal dalam kencannya?" Bisik Heri lagi.
Ck, menyebalkan sekali! Ya sudah Iya!" Gerutu Jaiden.
Heri pun tersenyum senang, "Aku tahu kau ini lelaki tampan yang baik hati hehe" Ucap Heri menyengir pada Jaiden.
Sedangkan Jaiden hanya menatap Heri dengan malas, Heri pun pergi begitu saja hingga meninggalkan Thalia dan Jaiden.
"Cepat naik!" Pinta Jaiden.
"Hah?" Sahut Thalia binggung.
"Aku akan mengantar mu pulang, jangan banyak tanya! Cepat naik!" Ucap Jaiden lagi.
"Apa boleh?" Tanya Thalia, "Aku tidak ingin merepotkan mu," Lanjutnya.
"Aku bilang naik, ya naik!" Ucap Jaiden dengan suara yang terdengar seperti bentakan, namun bukan bentakan.
Thalia yang sudah takut pun, akhirnya memutuskan untuk berjalan mendekat dengan motor Jaiden. Thalia sempat terhenti karena tidak tahu harus naik bagaimana.
karena saat ini Thalia sedang memakai rok sekolah, dan rok tersebut pun berada di atas lututnya.
Ayolah tidak pun kan Thalia akan megumbar paha mulusnya itu?
Jaiden pun akhirnya peka dan melepaskan jaketnya, lalu memberikannya pada Thalia.
"Pake, ikat sendiri. Cepat!" Pinta Jaiden.
Thalia pun menurut dan memakainya.
Selama perjalanan, tidak ada pembicaraan lain. Setelah Thalia mengatakan kepada Jaiden dimana alamat rumahnya.
15 menit perjalanan akhirnya Thalia dan Jaiden pun sampai di kediaman Rafa Sandika dengan selamat.
"Terima kasih, dan maaf soal di kantin dan toilet" Ucap Thalia menunduk tak berani menatap Jaiden.
"Tidak ada orang yang meminta maaf sambil menundukkan kepalanya!" Protes Jaiden.
...⚡⚡⚡...
"Tuan Muda, tadi Nyonya Rena datang mencari Tuan Muda" Ucap Bi Sarah di depan pintu rumah, karena dirinya sedang menunggu Jaiden pulang.
"Nenek?" Tanya Jaiden.
"Benar Tuan Muda" Sahut Bi Sarah, "Nyonya Rena meminta Tuan Muda untuk menemuinya di masion malam ini dan makan malam disana Tuan Muda," Jelas Bi Sarah.
"Oke Bi, Jaiden akan kesana sebentar lagi" Jelas Jaiden lalu naik ke lantai dua, dan masuk ke dalam kamarnya.
Setelah Jaiden sampai di kamarnya, Jaiden pun merebahkan badannya di atas kasur karena lelah, dan mencampakkan tasnya ke asal arah.
Jaiden pun membuka ponselnya, dan menemukan beberapa panggilan tak terjawab dari Rena sebanyak 17 kali. Jaiden pun menghela nafasnya kasar, dan hendak menelepon kembali Neneknya tersebut.
"Halo," Ucap Jaiden terpotong oleh repetan Rena di balik telepon itu.
"Astaga Jaiden! Kenapa sulit sekali di hubungi? Kau kemana saja huh? Ayo cepat datang kerumah Nenek, kita akan makan malam bersama. Ada yang ingin Nenek dan Kakek sampaikan dan tanyakan pada mu!" Jelas Rena di telepon.
"Sangat penting! Tidak ada penolakan!" Lanjutnya memaksa dan mematikan telepon sepihak.
Jaiden mendegus kesal, padahal dirinya baru saja sampai dirumah. Ah menyebalkan sekali, pikirnya.
Jaiden pun akhirnya bangkit dari rebahannya, dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu. Barulah setelahnya, Jaiden akan pergi ke masion Kakek dan Neneknya cerewetnya itu.