
"Memangnya kenapa Uncle tiba-tiba saja ingin memasak disini? Biasanya Bi Sarah yang Uncle minta memasak atau tidak memesan dari luar?" Tanya Jaiden binggung dan penasaran.
"Kau seperti tidak tahu Uncle saja!" Sahut Dino.
"Apanya?" Tanya Jaiden binggung.
"Uncle ingin mencoba memasak, karena Uncle ingin membuat makanan buat Aunty mu besok" Ucap Dino bangga.
"Ck, pacaran tidak pernah jelas. Selalu gonta-ganti pacar. Dasar tua!" Ucap Jaiden lalu beranjak dari duduknya, untuk membersihkan dirinya.
"Hei bocah tengik apa kau bilang?" Ucap Dino tak terima di bilang tua oleh keponakannya.
Sedangkan Jaiden tidak memperdulikan Dino dan pergi begitu saja untuk menuju kamarnya.
Jaiden pun membuka pintu kamarnya dan menghempaskan badannya di kasur, Jaiden pun mengambil ponselnya dari kantongnya dan membuka Line.
...Room Chat...
^^^Jaiden:^^^
^^^Kei kapan kau akan pulang ke Indonesia?^^^
^^^Kenapa menghilang?^^^
^^^Kau tidak merindukan ku?^^^
Setelah Jaiden mengirimkan pesan kepada Keisha, Jaiden pun melemparkan ponselnya ke asal arah.
"Menyebalkan!" Gerutu Jaiden.
"Sangat bosan," Gerutunya lagi.
Jaiden pun akhirnya memutuskan untuk pergi ke kamar mandi, dan membersihkan dirinya. Setelahnya, Jaiden turun kebawah dan menuju ke dapur rumahnya, dan betapa terkejutnya Jaiden saat melihat dapur rumahnya yang berantakan.
Siapa lagi pelakunya kalau bukan Dino?
"Astaga Uncle, apa kau yakin?" Tanya Jaiden memerhatikan sekeliling dapurnya yang berantakan.
"Entah lah, sepertinya kita memesan makanan diluar saja. Lihat, aku bahkan tidak tahu mana gula dan mana garam" Ucap Dino sambil menunjukkan pada Jaiden makanannya yang kemanisan.
Jaiden pun tertawa terbahak-bahak, "Hahaha aduh perut ku sakit sekali, anak SD saja dapat membedakan mana garam dan gula" Ucap Jaiden menertawai Dino.
"Ck, jangan mengejek Uncle mu yang tampan ini!" Sahut Dino kesal.
"Percaya diri sekali sih? Lalu ini bagaimana? Siapa yang akan membereskannya? Uncle tidak bertanggung jawab sekali," Ucap Jaiden bercanda pada Dino.
"Bi Sarah saja, Uncle tidak sanggup" Sahut Dino.
"Ck, ya sudah. Sebentar Jaiden mau ambil jaket dulu" Ucap Jaiden meninggalkan dapur.
"Oke Jai, Uncle tunggu di mobil ya!" Teriak Dino
"Iya!" Balas Jaiden berteriak.
Jaiden pun mengambil jaketnya dan juga ponselnya, setelahnya Jaiden turun ke lantai dasar dan menuju parkiran garasi rumahnya.
Lalu Jaiden pun masuk ke dalam mobil Dino, dan Dino pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Mau makan apa Jai?" Tanya Dino sambil melirik Jaiden sekilas.
"Terserah Uncle saja" Sahut Jaiden sambil bermain ponselnya.
"Kau sudah punya pacar ya?" Tanya Dino menggoda keponakannya tersebut.
"Aku single, tidak seperti Uncle yang setiap bulan ganti pacar terus!" Sindir Jaiden.
"Ck, Uncle menyesal bertanya pada mu!" Ucap Dino kesal pada Jaiden.
Jaiden pun terkekeh pelan lalu mengalihkan atensinya pada Dino, "Uncle tidak ingin menikah ya? Uncle kan sudah Om Om"Ucap Jaiden mengejek Dino.
Dino pun hanya mengindikkan bahunya.
"Bagaimana dengan mu? Uncle pikir kau sangat popluer disekolah, pasti banyak anak perempuan yang mendekati mu bukan?" Tanya Dino berbalik mengoda Jaiden.
"Tidak tertarik," Sahut Jaiden malas.
"Jangan-jangan kau ini?!" Ucap Dino menduga-duga.
"Keira?" Tanya Dino.
"Apanya?" Tanya Jaiden balik karena binggung.
"Keira, maksud ku kenapa kau tidak berpacaran saja dengannya? Bukan kah dia sangat cantik? Dia sopan juga menurut ku," Jelas Dino sembari bertanya.
"Keira... dia bukan style ku, lagi pula Keira juga sepertinya menyukai Jaki" Ucap Jaiden yang di akhirnya dengan kekehannya.
"Jaki anak bang Kanta ya maksud mu?" Tanya Dino heboh.
"Iya, Uncle kenapa kepo sekali sih?" Tanya Jaiden.
Sedangkan Dino hanya cengar-cengir saja.
...⚡⚡⚡...
"Selamat pagi anak-anak" Ucap Bu Tifanny yang baru saja memasuki kelas 11 IPA 1.
Tifanny adalah wali kelas, sekaligus guru Matematika di SMA Haluyi. SMA Haluyi ini adalah SMA bergensi yang berada di Indonesia, bahkan uang sekolah pertahunnya kurang lebih sebesar 500 juta.
Jaiden, Keira, Jaki, Sufa, Riki, Jovan, Heri , dan Surya bersekolah di SMA Haluyi.
Jaiden, Keira, Fia dan Jaki berada di satu kelas yang sama yaitu di kelas 11 IPA 1.
Sedangkan Heri dan Surya berada di kelas 11 IPS 1, dan Sufa, Jovan, dan Riki berada di kelas 10 IPA 1.
"Selamat pagi juga Bu!" Seru anak kelas 11 IPA 1 secara bersamaan.
"Baiklah hari ini kita akan mendapatkan teman baru dari Amerika, dan teman kita ini sangat fasih dalam berbahasa Indonesia. Jadi kalian berbicara dan berkenalan dengannya dengan santai saja ya!" Jelas Bu Tifanny.
"Baik Bu!" Sahut siswa kelas 11 IPA 1 itu secara bersamaan.
"Apa itu Keisha?" Tanya Jaki pada Jaiden.
"Baiklah ayo masuk nak," Ucap Bu Tifanny pada murid baru pindahan dari Amerika tersebut.
Anak perempuan itu pun masuk dengan wajah yang tertunduk, Jaiden dan Jaki yang awalnya bersemangat tadi pun langsung melempar pandangan dengan tatapan pasrahnya.
"Bukan ternyata... " Ucap Jaki.
Jaiden pun hanya memutar bola matanya malas.
"Silahkan perkenalkan diri," Pinta Bu Tifanny ramah sambil tersenyum pada siswa baru tersebut.
"Hai teman-teman, perkenalkan nama saya Thalia Auriya. Saya pindahan dari Amerika, New York" Ucap Thalia.
"Baik lah Thalia kau bisa duduk di belakang Jaiden dan Jaki, Jaiden ayo angkat tangan mu Nak" Pinta Bu Tifanny.
Jaiden pun dengan pasrah mengangkat tangannya ke atas.
"Pakaiannya sangat tertutup" Bisik Fia pada Keira.
"Hm, kau benar. Dia anak baik, tidak sepeti kita" Sahut Keira terkekeh, begitu pun dengan Fia yang ikut tertawa pelan bersama Keira.
Pelajaran pun berjalan dengan baik selama 3 jam terakhir , jam istirahat pun baru saja berbunyi dan Bu Tifanny keluar dari kelas 11 IPA. Karena jam pelajarannya sudah habis.
Keira dan Fia pun membersihkan peralatannya dan setelahnya akan bergegas ke kantin.
Jaiden dan Jaki pun memutuskan untuk menghampiri meja Fia dan Keira, "Keira kami tunggu di kantin ya!" Ucap Jaiden.
"Oke!" Sahut Keira.
"Kei sepertinya aku tidak deh, aku tidak bisa dan radanya canggung sekali jika bergabung dnegan teman-teman konglomerat mu itu," Keluh Fia pada Keira.
"Hei kenapa? Apa ada yang menggangu mu? Kau akan merasa asik kalau kau menikmatinya, makanya kau ikut lah bergabung untuk mengobrol. Jangan hanya untuk duduk saja," Jelas Keira terkekeh.
"Ayo! Apa kau tidak lapar?" Ajak Keira sekali lagi.
Fia pun mengganguk pasar, "Apa dia memang pendiam ya?" Tanya Fia.
Keira pun menghiraungkan pertanyaan dari Fia, Keira berjalan menuju meja Thalia untuk menghampiri anak baru tersebut.
"Mau ikut ke kantin bersama kami?" Ajak Keira pada anak baru tersebut.