
Drtt drtt drtt
Jaiden pun melirik pada ponselnya.
'Bianca is calling you'
"Ah gadis ini sangat menyebalkan! Sudah di tolak berkali-kali juga! Aku hanya suka Keisha!" Ucap Jaiden meninggikan suaranya dan sedikit mabuk.
Iya, sebelum pulang ke rumahnya tadi Jaiden pergi ke bar terlebih dahulu. Untuk menenangkan hati, dan juga pikirannya. Dan pulang setelahnya saat dirinya sudah merasa cukup lega, dan berkahirlah seperti itu.
Drtt drtt drtt
Ponsel itu kembali bergetar, namun Jaiden menatap malas ponselnya hingga panggilan itu mati dengan sendirinya.
Drtt drtt drtt
'10 call missed from Bianca'
Drtt drtt drttt
"Kau berisik sekali! Berhenti untuk menganggu ku Bianca! Aku tidak menyukai mu! Aku hanya menyukai Keisha! ****! D*mn f*ck!" Ucap Jaiden di telepon dan langsung memutuskan panggilan itu sepihak.
Bianca yang mendapatkan umpatan seperti itu pun menatap ponselnya tak percaya, dan terlihat sangat kesal dan sakit hati.
Bianca adalah teman satu jurusan Jaiden di kampus, dan semua orang disana mengetahui bagaimana sukanya Bianca pada Jaiden. Bahkan Bianca mau melakukan apa saja untuk Jaiden, namun Jaiden tidsk pernah menganggap Bianca ada.
Ingat, Jaiden hanya menyukai Keisha sebagai gadisnya.
Jaiden hanya memanfaat Bianca, dan menarik ulur perasan gadis itu dan melampiaskan perasannya pada Bianca.
Jaiden memegang kepalanya frustasi, "Keisha... hiks... ku rasa aku akan gila... aku hilang harapan untuk memiliki alasan untuk tetap bertahan..." Ucap Jaiden tersiksa dan tertidur di lantai rumahnya begitu saja.
...⚡⚡⚡...
Tok tok tok
"Masuk!" Ucap sang pemilik kamar.
Ceklek
"Kemana mobil mu Kak? Kau pialang dengan Dika Dika itu ya?" Tanya Riki sambil masuk ke dalam kamar Keisha.
"Hm seperti yang kau lihat tadi, mobil ku kempes tadi. Kenapa?" Tanya Keisha.
"Oh gitu, apa kau baik-baik saja? Kak Jaiden pulang, aku tadi sempat mengira Kate adalah pacarnya ataupun istrinya. Kau pasti sepemikiran dengan ku kan?" Tanya Riki tekekeh pelan.
"Hm.... aku bahkan hampir menangis tadi kalau itu benar huaaaa Riki! Aku ingin sekali marah padanya dan memukulnya kuat! Aku benci, aku marah karena dia tidak pernah mau menghubungi ku sekali pun! Dan pergi datang seenanknya begitu saja! Aku masih sangat kesal padanya, dan Kau! Jangan ebut namanya di depan ku!" Omel Keisha.
"Ck iya iya, tapi dari yang aku dengar dia tinggal di rumahnya yang lama. Kau tidak ingin mengunjungi rumah mantan tunangan mu!" Goda Riki pada Keisha.
"Apa sih?! Sana! Aku mau tidur, urus urusan mu sana sendiri!" Kesal Keisha mengusir Riki dari kamarnya.
"Iya iya tidak! Tapi Kak, Kate cantik ya? Aku bahkan sudah di beri lampu hijau sama Kak Jaiden astaga... gas saja tidak sih hehe, dia juga baru saja memfollow Instragram mu. Ku rasa Kak Jaiden pasti berada di LA selama ini," Ucap Riki panjang lebar.
"Terserah sih, lagian sudah di beri lampu hijau juga. Hei, ternyata dulu dan Kak Jaiden juga satu kampus waktu mereka kuliah, dia memang berada di LA selama ini" Jelas Keisha.
"Tapi Kate memang cantik sih, aku merasa dia sangat mirip dengan Tante Celine. Ahh... aku jadi merindukannya lagi," Ucap Keisha membanting tubuh mungilnya ke atas kasur.
Dan Riki pun ikut berbaring, "Ah iya kau benar, wajahnya tak asing. Ku rasa itu yang membuat Kak Jaiden menyayanginnya lebih dari apapun, karena Kate mirip dengan Tante Celine. Iya kan?" tanya Riki dan Keisha pun mengangukkan kepalanya setuju.
"Riki... bagaimana dengan Mama? Apa Mama sudah tenang disana?" Tanya Keisha.
3 tahun yang lalu, Shakila bunuh diri di penjara karena mengalami depresi. Shakila menggantung dirinya di toilet, dan di temukan pada pagi hari di kamar mandi.
"Mama menyayangi kita, hanya saja dengan cara yang berbeda. Mama bahkan sangat perhatian dengan mu, walaupun tidak terlihat. Kau," Ucap Keisha di potong oleh Riki.
"Bisa tidak membahas Mama tidak sih Kak? Aku jadi semakin bersalah padanya," Pinta Riki ingin menangis saja rasanya.
"Hehehe iya maaf," Cengir Keisha.
"Kak Kei," panggil Riki.
"Hmm" Sahut Keisha.
"Apa kau masih sangat menyukainya?" Tanya Riki.
"Entahlah, kenapa bertanya?" Tanya Keisha.
"Apa kau akan memberikan kesempatan padanya?" Tanya Riki.
...⚡⚡⚡...
Hari ini adalah hari kedua Jaiden berada di Indonesia, Jaiden berencana untuk mengunjungi Masion dan bertemu dengan Jinata. Tentu saja Kate ikut dengannya, karena Kate ingin bertemu juga dan menjenguk Jinata.
Ah iya Jinata juga sering mengunjungi Jaiden ke LA, dan Jaiden juga sering mengunjungi Jinata ke Jepang dan juga saat Jinata berada di luar negeri.
beberapa tahun belakangan ini, Jinata di sibukkan dengan urusan perusahaan. Hingga membuatnya harus bolak-balik Jepang, dan juga luar negeri.
Karena Jinata merasa dirinya sudah tua, Jinata punhendak pensiun dari segala urusan bisnis yang di jalankannya. Dan memberikan hak untuk Jaiden, karena menurutnya Jaiden sudah cukup matang untuk menjadi seorang pemimpin.
Sudah saatnya, pikir Jinata.
"Kakak membuat list kunjungan ya?" Tanya Kate melihat catatan list yang di buat oleh Jaiden sendiri.
"Hmm, aku baru saja membuatnya tadi pagi" Sahut Jaiden sambil menyetir mobilnya.
"Pertama kerumah Kakek, menjenguk Nenek, membeli perlengkapan bayi untuk keponakan, kerumah Surya dan Thalia, membeli bunga, mengunjungi Keisha, ke rumah uncle Dino," Ucap Kate membaca semua rencana perjalanan Jaiden hari ini.
"Kenapa rumah Uncle Dino terkahir??" Tanya Kate.
"Aku akan mengantar mu kesana," Jawab Jaiden.
"Hah? Ihh aku juga mau tidur di rumah Kakak!" Rengek Kate.
"Aku juga akan menginap di rumah Uncle Dino, makanya kunjungan terakhir ku disana. Apa kau mau ke rumah ku? Kau mau sendirian disana?" Tanya Jaiden.
"Ck iya iya! Eh tapi aku tidak ikut deh ke rumahnya Surya dan Thalia," Ucap Kate.
"Kakak Kate, mereka lebih tua!" Peringat Jaiden.
"Iya iya! Cerewet sekali!" Kesal Kate. "Oh iya Kak, bagaimana kalau Kakak meminta tolong pada teman Kakak yang bernama Riki itu untuk mengajak ku jalan-jalan? Saat Kakanpergi mengunjungi teman-teman Kakak??" Tanya Kate dengan mata yang berbinar-binar dan penuh harap.
"Tidak, Riki sibuk. Dia tidak akan mau pergi dengan mu," Ucap Jaiden seketika membuat senyum Kate berubah menjadi cemberut.
"Ck, Kakak tidak seru! Tidak mendukung sama sekali! Menyebalkan!" Kesal Kate melipat tangannya di depan dada kesal pada Jaiden.
Dan Jaiden pun terkekeh pelan, dan menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat kelaukan Adik sepupunya itu.
Lucu sekali, pikir Jaiden.