I Am Fine

I Am Fine
Pertengkaran



"Kila aku ingin kau berhenti dari pekerjaan mu itu! Kau bahkan tidak segan-segan membuka seluruh tubuh mu di depan umum, apa aku kurang untuk membiayai kehidupan mu huh?" Tanya Bram kesal pada istrinya.


"Astaga Bram aku lelah sekali, aku sangat muak. Kau selalu membahas hal ini, ayolah itu kesenangan ku! Jadi ya wajar saja!" Jelas Shakila pada Bram.


"Apa kau bilang?! Kesenangan? Kau yakin? Kau tidak berpikir bagaimana pandangan orang-orang di luar sana padaku, dan kau membuat saham perusahaan ku turun!" Jelas Bram dengan nada yang mulai meninggi.


"Lalu? Ayolah Bram! Aku lelah sekali setiap bertemu mu selalu bertengkar tentang ini!" Sahut Shakila kesal.


"Tinggalkan pekerjaan mu itu! Rawatlah Keisha dan Riki dengan benar!" Bentak Bram.


Shakila tertawa sinis, "Akhir-akhir ini kau sangat senang membentak ku ya huh?!" Teriak Shakila pada Bram.


Bram memutar bola matanya malas, "Apa begitu menyenangkan menjadi model erotis? Hahaha aku binggung sekali, Kenapa juga Orang Tua ku malah menjodohkan ku dengan wanita murahan seperti mu!" Ucap Bram menunjuk-nunjuk Shakila dengan tangannya.


"Wanita menjijikan!" Lanjutnya.


Shakila merasa sakit hati atas umpatan yang baru saja, di lontarkan oleh suaminya


"Apa Mama dan Papa sulit sekali untuk akur ya? Astaga aku muak sekali jika mengetahui kalian berdua sedang berada dirumah bersama!" Ucap Riki.


"Riki..." Gumam Bram pelan.


"Ma, Papa tidak salah. Selama ini yang membuat pertengkaran antara Mama dan Papa karena pekerjaan Mama kan? Kenapa sulit sekali untuk mengalah? Apa Mama tau? Aku dan Kak Kei, di buly di sekolah. Karena Mama model erotis! Aku dan Kal Kei beruntung memiliki Bang Jaiden dan Bang Jaki, untuk menyelamatkan ku dari teman-teman yang membuly kami!" Ucap Riki kesal lalu meninggalkan kediamannya.


"Lihat, kau lihat kan?! Anak mu yang masih kelas 6 SD, di ejek oleh teman-temannya di sekolah karena mu!" Bentak Bram.


Shakila menatap tajam pada Bram, "Aku tidak akan berhenti!" Final Shakila lalu pergi meninggalkan kediaman keluarga Aditya.


...⚡⚡⚡...


"Hah panas sekali rasanya di rumah!" Ucap Riki yang baru saja memasuki rumah Jaiden.


"Apa Orang Tua mu berantam lagi Ki?" Tanya Jaki.


"Mereka terus memperdebatkan pekerjaan Mama ku, dan Mama ku tidak ingin berhenti. Karena itu Ambasador besar, rumah Bang Jaiden adalah tempat terbaik untuk perlarian ku, jika mereka sedang bertengkar" Sahut Riki sambil memejamkan matanya.


"Rileks lah selagi Tuan Mudanya tidak disini," Sahut Keira.


"Oh Riki? Baru Datang?" Ucap Rena saat baru saja melihat Riki.


Riki pun langsung merapikan duduknya, dan duduk dengan sopan di hadapan Rena. Hingga membuat Rena terkekeh, saat melihat prilaku Riki.


"Hei kenapa tiba-tiba merubah duduk mu?" Tanya Rena menggoda Riki.


Riki pun hanya tersenyum geli, dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Jaiden dan Keisha belum pulang dari Bandara ya?" Tanya Rena pada ketiganya.


"Belum Nek," Sahut Jaki.


"Ah begitu ya, yasudah nanti kalau Jaiden sudah sampai dirumah, sampaikan padanya kalau Nenek akan ke kantor pusat sebentar," Ucap Rena ke tiganya.


Ketiganya pun mengangguk paham.


Rena pun pergi meninggalkan ketiganya dan bergegas ke kantor pusat Choren Group, kantor pusat keluarga Renandra. Rena akan memimpin sementara perusahaan tersebut, dan membereskan beberapa hal yang harus di bereskannya.


Keira menghela napasnya pelan, "Bagaimana ya kira-kira keadan Jaiden? Sepertinya kita tidak baik membicarkaan tentang Orang Tua kita di hadapannya, itu akan merasa membuatnya ya begitulah," Jelas Keira.


"Kau benar, kita tidak bisa membicarakan tentang kedua Orang Tua kita padanya. Itu akan membuatnya terluka," Sahut Jaki.


"Jangan pada Bang Jaiden saja! Aku dan Kak Kei juga!" Ucap Riki kesal.


"Ah iya, maafkan kami" Ucap Jaki.


Jaiden dan Keisha pun masuk ke dalam rumah, dan mendapati ketiganya yang sedang duduk di ruang tv rumahnya.


Jaiden dan Keisha pun memutuskan, untuk ikut bergabung bersama keempatnya.


Hening.


Tidak ada pembicaraan sama sekali.


"Ei kenapa canggung sekali?" Ucap Jaki berusaha untuk mencairkan suasana.


"Apa kalian sudah menyiapkan untuk peralatan sekolah besok? Besok kita sudah masuk SMP, astaga aku sudah remaja!" Sahut Keira senang.


Keisha pun melirik Jaiden yang sepertinya sedang terkejut, Keisha dapat menebaknya. Kalau Jaiden sama sekali belum menyiapkan perlengkapan untuk sekolah besok.


"Ehm Kak Jai?" Panggil Keisha.


"Huh?"


"Jaiden kau belum menyiapkan peralatan sekolah mu besok?" Tanya Jaki.


Jaiden pun menggelengkan kepalanya, sebagai jawaban.


"Jaiden kau kan bisa meminta tolong pada Om Dimas, untuk menyiapkan peralatan sekolah mu besok," Ucap Keira santai.


"Ah iya, bagaimana kalau kami saja yang membantu mu? Apa yang kau perlukan besok? Kami akan mencarinya di toko jika kau tidak mood untuk keluar," Saran Jaki.


"Tidak, aku tidak ingin merepotkan kalian. Aku akan merepotkan Om Dimas saja!" Ucap Jaiden sambil terkekeh, begitu pun yang lainnya.


...⚡⚡⚡...


"Lia apa kau sudah mendengarnya? Ku rasa kau belum tahu tentang ini!" Ucap Chika.


"Hah apa?" Tanya Lia penasaran.


"Juna! Juna mantan mu meninggal!" Ucap Chika heboh.


"Apa katamu?!" Ucap Lia berteriak karena terkejut, Lia merasa ingin sekali menangis saat mendengarnya.


"Chika kau sedang berbohong kan? Kak Juna tidak mungkin meninggal! Dia sedang di Amerika bersama istrinya!" Sahut Lia tak terima.


Chika pun memberikan ponselnya pada Lia, "Lihat ini, Kak Juna meninggal 1 minggu yang lalu. Namun beritanya baru keluar sekarang, ku rasa keluarga Renandra menyembunyikannya" Jelas Chika pada Lia.


"Tidak Chika aku harus menjenguk Kak Juna, aku harus ke makamnya untuk memastikannya. Kau bisa membantu kan? Ku mohon..." Ucap Lia memohon pada Chika.


"Hei ada apa denganmu?" Tanya Chika binggung.


"Bagaimana pun Kak Juna itu kan, akh kau mengetahuinya Chika. Ayolah, bantu aku! Aku yakin sekali keluarga Juna pasti tidak akan membiarkan ku untuk mengoreksi infromasi tentang mereka," Jelas Lia pada Chika.


"Baiklah, aku akan mencari informasi dimana Juna di makamkan. Oh iya, Celine juga sedang koma di rumah sakit. Aku tidak tau jelas apa penyebabnya," Jelas Chika.


"Wanita penyakitan!" Umpat Lia, "Aku senang mendengarnya jatuh sakit!" Ucap Lia kesal.


Chika menatap Lia sejenak diam, "Sedendam itu ya kau dengan Celine?" Ucap Chika terkekeh.


"Tentu saja, kau pikir saja Chika. Celine merusak segalanya, kalau dia tidak hadir, mungkin aku akan bahagia bersama kak Juna dan aku akan menjadi Nyonya Renandra terhomat. Namun sekarang? Bahkan tidak ada perusahaan yang ingin menerima ku untuk bekerja, karena keluarga Juna memblokir ku dimana pun!" Kesal Lia kesal.


"Ayo lah Lia itu sudah berlalu lama, bahkan itu sudah 10 tahun lebih. Kau juga sudah memiliki anak yang kau sayangi, kau memiliki harapan!" Sahut Chika.


"Apa aku harus membuat Celine untuk berhenti bernafas? Aku ingin membantunya kembali ke sisi Kak Juna. Ku rasa keduanya akan menjadi sepasang kekasih yang sempurna!" Kekeh Lia.


"Hei kau jangan gila Lia!" Bentak Chika tak setuju dengan siasat sahabatnya tersebut.