I Am Fine

I Am Fine
Juna pulang untuk selamanya



Dirumah sakit.


"Astaga kak Juna hikss..." tangis Celine pecah.


"Momy tenang lah, Dady akan baik-baik saja oke huh?" Ucap Jaiden berusaha menenangkan Celine.


"Kanta apa sebaiknya kita menghubungi orang tua Juna?" Bisik Tara.


"Cepat hubungi keduanya, orang tua Juna dan Celine. Aku yakin akan terjadi sesuatu," Bisik Kanta.


"Ck, mulut mu itu dijaga!" Ucap Tara berbisik.


"Jaiden, Momy tidak bisa membayangkan bagaimana nanti," Ucap Celine dipotong cepat oleh Jaiden.


"Momy hentikan! Jangan berbicara yang tidak-tidak, Dady akan baik-baik saja!" Ucap Jaiden dengan nada sedikit meninggi.


Celine hanya bisa menghela napasnya kasar.


Tak lama dokter pun keluar dari unit gawat darurat, yang terdapat di pinggir kota dekat puncak mereka menginap.


"Dokter bagaimana?" Tanya Kanta khawatir.


"Maafkan saya, saya sudah berusaha sebaik mungkin" Ucap Dokter tersebut tertunduk.


Dan Seketika itu, Celine menangis sejadi-jadinya. Sedangkan Jaiden berusaha tetap tegar dan membawa Momynya ke dalam pelukannya.


"Jai, Dady mu tidak meninggalkan kita kan sayang? Hiks...Ini cuma mimpi mimpi Momy saja kan?" Ucap Celine terisak.


Tara dan Kanta sudah tak tahan untuk menahan tangisnya, rasanya perih sekali saat mendengar ucapan dokter barusan.


Tara sangat merasa bersalah pada Juna, dia adalah seorang Dokter. Tapi Tara berpikir dia tidak dapat menyembuhkan Juna dengan total. Bahkan tara terlambat menyadarkan Juna untuk menjalani pengobatan, hingga membuat Tara semakin merasa bersalah pada semuanya.


"Mom, Dady sudah meninggalkan kita..." Lirih Jaiden.


Celine menatap Jaiden tak suka, "Tidak Jai! Kau ini berbicara omong kosong apa huh? Dady mu masih hidup, dia di dalam sedang di obati oleh Dokter!" Bentak Celine pada Jaiden.


"Mom...hentikan..."Lirih Jaiden.


"Jaiden biarkan dulu, Celine ayo kita melihat Juna di dalam," Ajak Tara membawa Celine ke dalam untuk melihat jenazah Juna.


"Kanta kau hubungi yang lainnya, termasuk orang tua Juna dan Celine" Pinta Tara pada Kanta.


Kanta menepuk pelan punggung Jaiden, "Kau yang kuat ya Nak" Ucap Kanta lalu berlalu pergi, untuk menelepon orang-orang di vila dan orang tua Juna dan Celine.


Jaiden menangis sejadi-jadinya di pojok unit gawat darurat, Jaiden merasa dunia sangat tidak adil baginya. Jaiden baru saja bertemu dengan Dadynya selama 1 bulan, namun Dadynya harus berangkat ke Amerika untuk menjalankan pengobatan intensif.


Namun setelah 6 tahun lebih pisah dari Dady dan Momynya, tuhan berkehendak lain. 1 minggu setelah kepulangannya dari Amerika, setelah mendapat pengobatan. Juna meninggalkannya dan Celine untuk selama-lamanya.


30 menit kemudian, Celine sudah sadar kalau dia sedang tidak bermimpi saat melihat Juna yang sudah pucat dan hendak di kremasi, untuk di masukkan ke dalam peti Mayat dan dibawakan ke rumahnya.


Celine menatap kosong kebawah, air matanya juga enggan untuk berhenti. Sedangkan Jaiden hanya menutup wajahnya dengan tangannya, Jaiden juga menjauh dari Kanta, Tara dan Celine. Karena saat ini, Jaiden butuh untuk ruangnya sendiri.


Tepatnya, Jaiden sedang berada di parkiran, sambil menunggu Jenazah Juna yang sedang di kremasi.


"Kak Jai..." Panggil Keisha.


Jaiden pun langsung mendongakkan kepalanya dan mendapati Keisha yang sedang berdiri di depannya.


Dengan cekatannya, Keisha langsung memeluk Jaiden. Alih-alih ingin memberi Jaiden kekuatan, namun apalah daya, Jaiden semakin menangis saat Keisha memeluknya.


"Kei Papa aku sudah tidak Kei," Ucap Jaiden disela-sela tangisnya.


"Kakak masih punya Kei, i Will beside you. Everthing Will be okay hm?" Ucap Keisha sambil menepuk-nepuk punggung Jaiden.


...⚡⚡⚡...


Setelah pemakaman selesai, Celine hanya berdiam diri dikamar. Awalnya Rena dan Jinata sangat khawatir melihat Celine yang enggan untuk berbicara dan jika ditanya pun hanya dijawab seadanya saja.


Sedangkan Jaiden berusaha untuk tetap tegar, apalagi mengigat Jaiden adalah anak laki-laki satu-satunya di keluarganya. Maka dari itu, Jaiden berpikir kalau dirinya tidak boleh cengeng dan menangis sepeti perempuan.


Ah iya, Tanaro dan Joya juga sedang dalam penerbangan ke Indonesia. Tanaro dan Joya sangat terkejut saat mendengar kepulangan Juna ke sisi Tuhan secara tiba-tiba.


Karena keduanya baru seminggu yang lalu pulang dari Amerika, untuk menjenguk Juna. Bahkan keadaan Juna saat itu sudah sangat membaik.


Namun apalah mau dikata, sekarang Juna sudah pergi untuk selama-lamanya. Meninggalkan istri, anak dan keluarga.


Sedangkan Rina, Dino, dan Saka, ketiganya sudah berada di Indonesia sejak sebelum pemakaman tadi. Karena ketiganya berangkat lebih dulu daripada Joya dan Tanaro.


Joya dan Tanaro baru berangkat ke Indonesia setelah pemakaman tadi, karena ada hal yang harus di urus.


"Apa kak Cena ada di dalam?" Tanya Rina pada Bi Sarah.


"Iya Non, Nyonya tidak mau makan" Ucap Bi Sarah degan raut sedih dan khawatirnya.


"Sini Bi, berikan padaku!" Pinta Rina pada Bi Sarah.


Bi Sarah pun memberikan nampan yang berisi sepiring nasi dan segelas air putih hangat tersebut kepada Rina. Mungkin Celine akan makan dengan bujukan maut yang diberikan Rina, pikir Bi Sarah.


Rina menghela nafasnya panjang, karena saat membuka pintu kamar Celine. Rina melihat Celine yang melamun sambil tiduran di ranjangnya dan tentu saja memunggungi dirinya..


Bahkan sepertinya Celine sedang memeluk sesuatu, Rina menebaknya itu adalah foto mendiang Kakak iparnya, Juna.


"Bi kan sudah ku bilang, aku tidak ingin makan! Keluar!" Bentak Celine tanpa melihat kebelakang.


"Kak...ini aku Rina" Ucap Rina.


Celine pun langsung bangun dari tidurnya dan melihat Rina yang sedang berdiri di ujung pintu kamarnya.


"kak ayo makan kau belum makan sejak tadi pagi," Ajak Rina pada Celine.


"Rina biarkan aku sendiri."


"Kak ayolah, sampai kapan kau akan membutuhkan waktu untuk sendiri? Apa kau tidak memperhatikan Jaiden? Huh? Ayo cepat makan kau harus tegar, kau harus kuat!" Ucap Rina pada Celine.


"Rina...please!"


"Kak Ayolah, satu suap saja!" Ucap Rina dengan nada bicara yang sedikit meninggi.


"Rina! Celine!" Panggil Saka berlari dan langsung menerobos masuk ke dalam kamar Celine tanpa izin.


Rina dan Celine pun langsung tersentak karena terkejut, saat melihat Saka yang masuk begitu saja, Ah tidak. Saka tidak sendiri, namun Saka datang bersama Jaiden.


"Rina..Celine" Panggil Saka pelan.


"Kenapa? Ada apa dengan kalian berdua?" Tanya Rina binggung, saat melihat raut wajah Saka dan Jaiden begantian.


Dengan cekatannya Saka langsung membawa Rina kedalam pelukannya, hingga membuat nampan tersebut jatuh begitu saja di atas lantai.


Celine menatap Rina dan Saka binggung, " Ada apa dengannya? Kenapa perasaan ku jadi tidak enak begini?" Ucap Celine.


Celine pun mengalihkan padangannya pada anak semata wayangnya untuk meminta penjelasan, "Jaiden ada apa?" Tanya Celine.


Jaiden pun berjalan pada Celine dan mengambil kedua tangan Celine untuk digenggamnya.


"Jaiden ada apa? Kenapa tiba-tiba menjadi seperti ini?" Tanya Celine binggung.


"Mom...Momy yang kuat ya? Jaiden tau Momy wanita yang tangguh bukan?" Ucap Jaiden tertunduk menatap jari munggil Celine.


"Huh?"


Saka melepaskan pelukannya pada Rina, " Celine, Rina pesawat Ayah dan Bunda jatuh saat hendak lepas landas" Ucap Saka spontan.