
Keisha menggoyangkan kakinya yang menggantung begitu saja di atas kursi cafe tersebut, dan menatap koosong kebawah kakinya. Hingga sebuah tangan menepuk bahunya, dirinya pun tersadar dari lamunannya.
"Kei" Panggil Jaiden, hingga membuat Keisha terkejut.
"Hei ada apa? Kenapa terkejut? Kau sedang melamun ya?" Tanya Jaiden sambil terkekeh.
Keisha pun hanya membalas dengan senyuman, dan menggelengkan kepalanya. Jaiden pun memutuskan, untuk duduk dihadapan Keisha.
"Ada apa?" Tanya Jaiden.
"Kak?" Panggil Keisha enggan menatap Jaiden.
"Kenapa diam? biasanya cerewet sekali," Sahut Jaiden.
"Kak aku akan ke Amerika."
"Lalu?" Ucap Jaiden terkekeh.
"Kenapa tertawa sih? Aku sedang serius Kak," Gerutu Keisha kesal.
"Kalau kau ke Amerika memangnya kenapa? Toh kau juga akan pulang lagi kan?" Ucap Jaiden sambil menyeruput minuman Keisha.
"Mama dan Papa akan bercerai," Ucap Keisha tertunduk.
Jaiden pun menatap Keisha dengan lekat, " Kei kau tak apa?" Tanya Jaiden khawatir, sambil meraih tangan Keisha untuk di genggamnya.
Keisha menggelengkan kepalanya, rasanya Keisha ingin sekali menangis saat ini juga, dan menumpahkan kekesalannya pada ornag tuanya. Yang lebih memilih untuk berpisah, tanpa memikirkan anak-anaknya.
Jaiden pun langsung bangkit dari duduknya dan duduk disebelah Keisha, Jaiden membawa Keisha kedalam dekapannya. Berakhirlah Keisha yang menangis sejadi-jadinya di dalam dekapan Jaiden.
Untung saja Keisha mencari tempat tersudut, agar tidan menjadi perhatian banyam orang. Apalagi mengigat usia mereka yang masih belia.
Pasti orang-orang akan berpikir yang tidak tidak, saat melihat keduanya sedang berpelukan. Karena sebenarnya keduanya hanyalah seorang teman, perlu di garis bawahi.
Hanya seorang teman.
"Kak Mama dan Papa akan becerai, aku dan Riki akan tinggal terpisah. Riki marah pada ku, aku memilih Mama dan Mama akan membawa ku ke Amerika besok Kak hiks..." Tangis Keisha pecah, mengadu pada Jaiden.
Sedangkan Jaiden hanya diam, tidak bisa berkata-kata lagi. Jaiden hanya bisa menepuk-nepuk pelan punggung Keisha, agar Keisha merasa tenang.
"Kak... aku..." Ucap Keisha tertahan karena menangis.
"Nangis aja, luapkan semuanya Kei" Ucap Jaiden sambil menepuk-nepuk pelan punggung Keisha.
Setelah beberapa menit Keisha menangis di dalam dekapan Jaiden, keduanya pun terpaksa melepaskan pelukan mereka. Karena suara ponsel Jaiden, yang mana benda pipih itu baru saja berdering.
......Nenek is calling you......
Begitulah tampak layar ponsel yang terlihat di ponsel Jaiden saat ini.
"Halo nek?"
"Jai apa kau tadi ke Masion? Ada apa? Kenapa langsung pulang?" Ucap Rena.
"Dasar bermuka dua!" Batin Jaiden kesal.
"Tidak apa-apa nek, tadi Jai memang ke Masion untuk melihat Nenek dan Kakek. Tapi Keisha meminta Jaiden untuk bertemu sebentar," Jelas Jaiden.
"Ah baiklah kalau begitu, nanti datang lah kemari. Ada yang ingin nenek sampaikan padamu," Ucap Rena di telepon.
"Baik nek," Ucap Jaiden menurut.
Tut
Rena pun memutuskan sambungan telepon tersebut.
"Jadi bagaimana?" Tanya Jaiden pada Keisha, sedangkan Keisha enggan untuk menjawab.
Tidak, bukannya Keisha enggan untuk menjawab pertanyaan dari Jaiden, tapi Keisha binggung harus menjawab apa.
"Kei apa kau akan ke Amerika dan tidak akan pulang ke Indonesia?" Tanya Jaiden.
"Tidak tahu Kak," Sahut Keisha tertunduk, begitu pun dengan Jaiden.
Jaiden pun tersenyum miris dalam hati, "Kenapa semuanya jadi ingin meninggalkan ku seperti ini?" Batin Jaiden.
"Kei mau ku antar ke bandara besok?" Tanya Jaiden.
"Kak mau menghabiskan waktu dengan ku sampai tengah malam?" Tanya Keisha.
Jaiden pun hanya menatap Keisha dengan diam, lalu Jaiden pun kembali bersuara setelah memikirkan sesuatu.
"Kei apa perlu kita panggilkan yang lainnya juga? Kau tidak akan pergi begitu saja kan, tanpa pamit kepada mereka?" Tanya Jaiden.
"Tapi Kak Riki," Ucap Keisha terpotong.
"Kau tak usah khawatir, aku akan berbicara padanya nanti" Jelas Jaiden, "Mau ke taman bermain saja? Bagaimana?" Tanya Jaiden.
Keisha pun hanya mengangguk saja dan menyetujuinya.
...Room Chat...
...(Pathetic Person)...
^^^Jaiden:^^^
Keira:
Ei ada apa?
Tumben sekali Tuan muda tiba-tiba ingin ke taman bermain wkwk
Jaki:
Dia mungkin ingin mengenang masa kecilnya sebelum beranjak dewasa Kei hahaha
Surya:
Acc
Heri:
Ayo, kumpul dimana?
Jovan:
Ayo, ayo, kebetulan Papa ku sedang tidak dirumah
^^^Jaiden:^^^
^^^Baiklah kita kumpul di taman tempat kita biasa main dulu ya!^^^
^^^Riki dan Sufa?^^^
Riki:
Ok kak
Sufa:
Acc brother
read
"Ayo Kei, Riki juga akan datang" Ucap Jaiden pada Keisha.
"Kak tapi aku dan Riki" Ucap Keisha lagi-lagi terpotong.
"Kalian berdua itu saudara kandung Kei, jangan bertengkar karena hal ini. Bagaimana ohn Riki hanya memiliki dirimu, begitu pun sebaliknya dengan mu," Jelas Jaiden pada Keira.
Keisha pun hanya mengangguk pasrah saja.
...⚡⚡⚡...
Di taman bermain.
"Astaga dimana Jaiden? Apa dia bersama Keisha? Lama sekali! Jangan-jangan mereka berdua sudah di dalam lagi?!" Gerutu Keira kesal pad Surya.
"Keira kau berisik sekali! Tunggu saja sebentar lagi, mungkin lagi di jalan," Sahut Surya.
"Ck, menyebalkan sekali! Yang lain juga? Kenapa sih belum datang?" Kesal Keira.
"Aku menyesal menjemput mu Kei, mulut mu berisik sekali!" Sahut Surya kesal.
"Kau ini," Ucap Keira terpotong, yang hendak memaki Surya habis-habisan.
"Maaf ya lama" Ucap Jaiden yang datang bersamaan bersama Keisha.
"Hanya kita berempat?" Tanya Jaiden.
"Nah itu mereka!" Ucap Keira semangat sambil melihat yang lainnya, sedang berjalan ke arah mereka.
"Riki..." Panggil Keisha, Riki sebenarnya mendengar panggilan Keisha. Tapi Riki pura-pura untuk tidak mendengarnya, dan memperdulikannya.
"Ayo kita masuk!" Ajak Jaiden pada yang lainnya.
"Ada apa dengan Keisha dan Riki?" Tanya Heri pada Keira berbisik.
"Aku pun tidak tahu, mari kita cari tahu!" Balas Keira berbisik pada Heri.
Heri sengaja bertanya pada Keira, karena Keira ini adalah gudang dari segala gosip.
"Ayo kita naik koro-koro naga!" Ajak Keira.
"Ah tidak, tidak! Kalian saja aku tidak naik!" Balas Surya.
"Kau ini cemen sekali!" Sahut Keisha.
"Tau tuh, ayolah kita disini kan untuk bersenang-senang!" Ucap Keira, lalu menarik Surya dan Jaki secara paksa untuk naik.
begitu pun yang lainnya, kesembilan anak tersebut itu pun memesan tiket, dan menaiki koro-koro naga tersebut.
Jaiden, Keisha, dan Heri duduk diantara tengah-tengah. Keira, Jaki, dan Surya duduk di paling belakang.
Sudah dapat ditebak, ini adalah ide Keira. Maka dari tiu mereka duduk di paling belakang. Sedangkan Riki, Sufa, dan Jovan duduk di depan Keira, Jaki, dan Surya.
"Astaga ayolah Kei, biarkan aku turun..." Ucap Surya pada Keira.
"Ck, kau tenang saja Kak! Kau tidak akan mati menaiki ini!" Ucap Riki kesal, karena melihat Surya yang dari tadi selalu merengek untuk turun.