I Am Fine

I Am Fine
Jaki & Keira 1



"Apa Jaiden pergi ke luar kota?" Tanya Jinata pada Rena.


"Hm, dia pergi ke luar kota bersama Keira, Jaki dan 2 temannya. Aku tidak mengenal mereka siapa," Jelas Rena sambil menyedu teh hangatnya di pagi hari.


"Dalam rangka apa?" Tanya Jinata.


"Katanya gurunya meminta mereka untuk membuat laporan, tentang tempat peninggalan Sejarah Mataram Kuno" Sahut Rena.


"Sudahlah Jinata, bukankah kau semalam sudah bertekad untuk membebaskannya saja?" Tanya Rena.


"Apa tidak ada yang menjenguk Celine di rumah sakit?" Tanya Jinata.


Rena meletakkan teh hangatnya di atas meja dan menatap malas pada suaminya itu, "Untuk apa menjenguk orang yang tidak dapat di ajak berbicara? Biarkan saja!" Ucap Rena lalu bangkit dari duduknya, dan hendak meninggalkan Jinata sendiri.


Jinata menahan tangan Rena dan menghela nafasnya pelan, "Kau tidak boleh seperti itu Rena, kita berutang budi banyak pada keluarga Aldebarano. Apalagi Dino, yang sudah mau merepotkan dirinya untuk membantu mengurus perusahaan kita" Jelas Jinata.


"Baiklah, formalitas" Sahut Rena lalu pergi meninggalkan suaminya begitu saja di atas balkon.


...⚡⚡⚡...


Kini kelima remaja itu sudah berada di tempat yang mereka tuju, kelimanya pun memilih untuk memesan tiket masuk terlebih dahulu.


Tiket tersebut dipesan oleh Jaki dan Jaiden. Hingga menyisakan Thalia, Fia, dan Keira.


Auranya jelas sekali sangat tidak enak, Fia tidak mengeluarkan suara dan tidak berbicara pada Thalia. Karena Fia merasa kesal, dan cemburu pada Thalia.


Keira dapat melihat itu dari raut wajah Fia temannya itu, tapi Keira tetaplah Keira yang sangat penasaran akan sesuatu.


"Thalia kau sepertinya akrab sekali dengan Jaiden? Baru kali ini aku melihatnya tertawa lepas seperti itu dengan seorang gadis," Jelas Keira sembari bertanya.


Lantas Thalia pun menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal itu, "Ah benarkah? Ku rasa biasa saja" Sahut Thalia seadanya.


"Kau menyukai Jaiden?" Tanya Fia tiba-tiba, hingga membuat Keira menatap Fia tak percaya.


"Astaga bodoh sekali," Batin Keira.


"Hah? Tidak? Kenapa kau berpikir seperti itu?" Tanya Thalia, karena Thalia memang tidak memiliki perasaan pada Jaiden.


Lebih jelasnya untuk saat ini, tidak tahu untuk kedepannya.


Baiklah, Thalia memang mengakui paras tampan yang dimiliki oleh Jaiden. Tapi Thalia tidak segampang itu, untuk dapat jatuh cinta hanya dengan melihat tampang wajahnya saja.


"Ah begitu ya? Ku kira kau sengaja mendekati Jaiden, ternyata memang murni tidak sengaja ya?" Balas Fia.


Thalia mengerutkan keningnya binggung, "Hah? Maksudmu?" Tanyanya.


Keira yang merasa pembicaraan ini sudah tak sehat pun, langsung menyela keduanya agar berhenti.Tepat waktu sekali, Jaki dan Jaiden yang sedang berjalan ke arah mereka bertiga.


"Hei sudah sudah! Itu Jaki dan Jaiden!" Ucap Keira sambil menunjuk Jaki dan Jaiden yang sedang berjalan menuju ketiga gadis itu.


"Ayo!" Ajak Jaiden.


Keempat remaja itu pun menurut, dan melakukan tugas mereka masing-masing. Keira bertugas untuk merekam, sedangkan Jaki, Thalia, dan Jaiden menjelaskan sejarah Candi Borobudur melalui video yang direkam oleh Keira. Dan Fia mencatat untuk membuat laporan.


Tak terasa, jam pun sudah menunjukkan pukul 11 siang, kelimanya pun memutuskan untuk kembali dan mencari makanan terlebih dahulu sebelum kembali ke apartemen Jaiden.


"Ingin makan apa?" Tanya Jaki pada Keira sambil mengusap rambut Keira pelan.


Jaiden mendelikkan matanya malas, saat melihat perlakukan yang Jaki berikan pada Keira. Sudah Jaiden pastikan, kalau Keira sedang berteriak-teriak di dalam hatinya.


"A... aku ikut saja" Sahut Keira gugup.


"Apa ku bilang, dia pasti deg deg an" Batin Jaiden.


"Aku ingin makan di rumah nasi padang," Ucap Fia.


Setelah sampai di rumah makan padang, kelimanya pun memesan makan siang sesuai dengan selera mereka masing-masing. Tak jarang juga sesekali diisikan dengan beberapa obrolan santai.


"Apa kita akan langsung pulang?" Tanya Keira.


"Memangnya kau mau kemana?" Tanya Jaiden.


"Kenapa kita tidak jalan-jalan dulu? bukankah itu menyenangkan?" Tanya Fia.


"Sepertinya aku tidak bisa ikut, aku akan pulang sendiri nantinya kalau kalian ingin bermain dulu disini" Jelas Thalia.


"Ah iya kah? Baiklah, it's okey Thalia" Sahut Keira.


"Kalau kau Jaiden bagaimana?" Tanya Fia.


Lantas keempat anak remaja itu pun melirik Jaiden yang sedang memainkan ponselnya sedari tadi.


Jaiden yang merasa terpanggil pun mendongakkan kepalanya, "Kau bertanya padaku?" Tanya Jaiden dan Fia pun mengangguk canggung.


"Aku tidak bisa, aku ada kegiatan lain. Aku akan pulang naik pesawat, kalian bisa pakai supir ku" Jelas Jaiden.


Keira dan Jaki pun mengangguk paham, karena keduanya yakin sekali. Kalau Jaiden pasti akan menjenguk Mama nya dirumah sakit, sabtu dan minggu adalah jadwal Jaiden untuk menjenguk Mamanya.


"Ah begitu ya," Ucap Fia sedih.


Fia berpikiran, kalau Jaiden memiliki janji dengan Thalia. Makanya keduanya memutuskan untuk pulang terlebih dahulu, padahal tidak sama sekali.


"Thalia kau pulang dengan siapa? Kenapa tidak bersama Jaiden saja naik pesawat?" Tanya Jaki.


"Apa boleh?" Tanya Thalia melirik Jaiden.


"Oke," Sahut Jaiden tanpa menatap Thalia, dan masih sibuk dengan ponselnya.


...⚡⚡⚡...


"Jaki apa kau tidak bisa berhenti untuk bersikap manis pada Keira? Kau tidak peduli tentang bagaimana perasaannya saat kau berlaku seperti itu padanya?" Tanya Jaiden.


"Maksud mu?" Tanya Jaki sedikit binggung.


"Kau tahu jelas, kau tahu kalau Keira menyukaimu. Berhenti bersikap manis padanya, jangan beri Keira harapan lebih padamu" Jelas Jaiden.


"Ah itu ya, hm... aku tidak tahu Jai. Bukankah kita sudah membahas ini semalam?" Tanya Jaki berbalik.


Tanpa keduanya sadari, dari tadi Keira sedang menguping di balik pintu itu. Keira awalnya ingin masuk begitu saja ke dalam, karena dia ingin mengatakan sesuatu pada Jaiden.


Tapi diurungkannya dikala dirinya mendengar, namanya disebut di dalam pembicaraan mereka.


Rasanya sesak sekali bagi Keira, ternyata Jaki mengetahuinya. Kalau dirinya menyukai Jaki, menyebalkan sekali pikirnya.


Jaiden mengehela nafasnya kasar, "Kau tidak memikirkan perasaan Keira? Jangan membuatnya semakin berharap padamu" Jelas Jaiden sekali lagi pada Jaki.


"Jaiden, aku hanya memperlakukan Keira seperti Adik ku sendiri. Tidak lebih dari itu" Jawab Jaki.


"Kau yakin? Ku rasa itu terlalu berlebihan, berhenti membuatnya berdebar-debar kalau kau tidak menyukainya" Saran Jaiden.


"Lalu aku harus berlaku seperti apa? Aku tidak mungkin menjauhi Keira, itu akan kentara sekali" Jelas Jaki.


"Cukup berlaku seperti seorang teman, jangan melakukan skinship dan berhenti perlakukan Keira like your girlfriend. Just stop to treat her like your gf Jek, jika kau ingin memberi perhatian padanya. Cukup sewajarnya saja, jangan beri harapan padanya, itu akan berdampak buruk pada Keira," Saran Jaiden sekali lagi pada Jaki.


"Aku akan mencobanya," Ucap Jaki lalu bangkit dari duduknya untuk keluar dari tempat dimana biasanya 7 anak laki-laki itu berkumpul selain di kantin sekolah.


Betapa terkejutnya Jaki saat melihat Keira, yang berdiri di depan pintu dengan wajah yang tertunduk.


"Kei..." Lirih Jaki.