DEAR, MY RON

DEAR, MY RON
BAB 99



"Mas.."


Lilian keluar dari kamar dan memanggil Tuan Derry yang baru saja tiba di rumah besar itu.


Tuan Derry menyambut simpanan cantiknya dengan antusias dan melayangkan beberapa kecupan di wajah wanita hamil itu.


"Kau baik-baik saja, kan? Bagaimana kabar anak kita?"


Tuan Derry mengusap lembut perut Lilian yang masih rata.


"Kenapa kau jarang sekali ke sini? Aku kesepian," rengek Lilian.


"Maaf, Sayang. Ada banyak pekerjaan yang harus kuurus,"


"Pekerjaan? Kau bukan sibuk mengurus pekerjaan. Kau sibuk mengurus istri-istrimu yang lain, kan? Kapan kau akan meresmikan hubungan kita? Kau bilang kau akan menjadikanku nyonya di rumah utama?" tagih Lilian.


"Kau pikir aku akan menjadikanmu nyonya di rumah utama setelah kau berani mengejar-ngejar putraku?" ujar Tuan Derry sinis.


"Mas, kau jahat sekali!"


Lilian mendorong tubuh Tuan Derry yang tengah mendekapnya. Wanita itu berjalan menjauh dari pria tua itu dengan wajah cemberut.


"Lian, apa benar bayi yang ada di kandunganmu itu adalah anakku?"


Lilian menghentikan langkahnya dan menatap tajam ke arah Tuan Derry.


"Kau tidak percaya padaku?!"


"Aku akan menjadikanmu istriku setelah aku memastikan kalau bayi yang ada di perutmu adalah darah dagingku."


"Mas Derry!"


"Lilian! Kau pikir kau punya hak untuk meninggikan suaramu padaku?!" bentak Tuan Derry.


"Silahkan ambil posisi nyonya di rumah utama setelah kau membuktikan kalau anak itu adalah hasil dari perbuatanku." imbuh Tuan Derry.


"Kau yakin?"


"Singkirkan saja Daisy kalau kau bisa," jawab Tuan Derry santai.


"Bagaimana mungkin aku bersaing dengan wanita tua garang itu?!" keluh Lilian lirih.


"Lilian, kau mungkin bisa menempati rumah utama. Tapi ratu keluarga Diez akan tetap dipegang oleh Daisy dan menantuku. Untuk apa bersusah payah bertengkar dengan wanita galak itu? Lebih baik kau melayaniku dengan baik di sini," ujar Tuan Derry seraya menarik tubuh ramping Lilian ke dalam pelukannya.


"Kau tidak akan menjadikan anak kita sebagai pewaris keluarga?"


"Jangan bercanda! Hanya keturunan dari Ron yang akan menjadi pewaris keluarga."


"Lalu akan kau jadikan apa anak kita nanti?! Pion pendukung untuk kesuksesan putramu?"


"Lian, tidak perlu khawatir. Kau dan anak kita tidak akan kubiarkan hidup menderita." ujar Tuan Derry seraya mendaratkan kecupan di kening wanita simpanannya.


"Sial! Selamanya aku tidak akan mendapatkan panggung? Bahkan anakku juga hanya akan berakhir sebagai figuran?!" batin Lilian geram.


"Kalau anakku tidak mendapatkan apapun, maka anak dari istri Ron juga tidak boleh mendapat apapun!" ujar wanita hamil itu dalam hati.


***


Susan terus melirik ke arah jam tangannya dengan cemas seraya menggendong Elma yang sudah tertidur pulas.


Wanita itu berdiri di pinggir jalan membawa koper besar dan tengah menanti taksi yang akan mengantarnya sampai ke tempat tujuan.


"Susan!" teriakan seorang pria membuat Susan panik dan berlarian seraya menyeret koper.


Wanita itu semakin kerepotan bergerak karena tengah menggendong balita yang masih terlelap.


Pria paruh baya yang mengejar Susan dapat menangkap wanita itu dengan mudah dan langsung merebut Elma dari tangan sang ibu.


"Mas, ini anakku! Kembalikan anakku!" racau Susan pada pria bernama Doni itu.


"Aku butuh dua puluh juta! Berikan sekarang!" hardik pria paruh baya itu pada Susan.


"Aku tidak punya uang! Aku juga sudah menjadi janda sekarang! Apalagi yang kau harapkan dariku?!" ujar Susan seraya berteriak geram.


"Aku tahu kau menjual pabrik mantan suamimu, kan?!"


"Me-menjual apa?! Itu uangku dan Elma! Kau tidak memiliki hak sedikitpun!"


"Hak Elma?! Elma adalah putriku! Kau tidak ingat siapa yang membawa pria tua penyakitan itu padamu?! Jika aku tidak mengenalkanmu pada Egi, kau pikir kau bisa mendapatkan pabrik itu?!"


"Tolong lepaskan aku! Aku sudah tidak memiliki apapun! Putri Mas Egi sama sekali tidak membantu. Aku sudah tidak memiliki sandaran hidup lagi," ujar Susan memohon.


"Aku sudah memberimu kesempatan! Jika kau memang lebih menyayangi uang daripada anakmu, kau bisa pergi membawa kertas-kertas itu!"


Doni mendorong Susan dan berlalu meninggalkan wanita janda itu.


"Mas Doni!!"


Susan mencoba mengejar putrinya yang dibawa lari oleh sang ayah. Namun pria berbadan besar itu dapat melarikan diri dengan mudah dari kejaran ibu satu anak itu.


"Elma!!" pekik Susan dengan air mata bercucuran.


Wanita itu terduduk di pinggir jalan dengan derai air mata yang mengucur makin deras. Susan mencoba menghubungi Thrisca, namun sang anak tiri itu telah berganti nomor baru yang hanya diketahui oleh Ron.


"Sial!" umpat Susan seraya membanting ponselnya saat ia tidak bisa menghubungi sang anak tiri.


***


"Ron.."


Thrisca berlari kecil menghampiri mobil Ron yang mulai berjalan pelan memasuki pekarangan rumah.


Wanita itu sudah tidak sabar menyambut kehadiran sang suami yang sudah pergi meninggalkannya selama beberapa hari.


"Bos kita tampan sekali.." bisik Cherry pada Nadine.


"Huss! Pria itu suami temanmu!" tegur Nadine.


"Aku hanya memuji suami Icha. Memangnya tidak boleh?!"


"Kau ini!"


Nadine memukul belakang kepala temannya pelan.


Wanita itu kembali fokus memandangi sang bos beserta istri yang tengah melepas rindu. Mata wanita itu mulai beralih pada sosok Genta yang juga turun dari mobil.


Pipi wanita muda itu mendadak memerah saat ia melihat wajah tampan Genta yang semakin dekat.


"Gendut, kau tidak rindu padaku? Peluk aku juga.." ujar Genta pada Thrisca.


"Siapa pria itu? Kelihatan akrab sekali dengan Icha," bisik Cherry pada Nadine.


"Mas Gen, kau merindukanku?" ledek Thrisca.


Genta mengacak-acak rambut Thrisca lembut seraya tersenyum manis pada istri sepupunya itu.


Nadine semakin terbius melihat wajah tampan Genta yang berhiaskan senyuman manis.


"Nadine! Jangan melamun! Cepat masuk!"


Cherry menyeret temannya yang masih sibuk melamunkan wajah Genta.


"Kalian bisa pulang sekarang," hadang Han di pintu sebelum Nadine dan Cherry kembali masuk mengikuti Thrisca.


"Se-sekarang juga?" tanya Cherry takut-takut.


"Ambil barang bawaan kalian." titah Han.


"Nadine, Cherry! Apa yang kalian lakukan di pintu?!" panggil Thrisca.


"M-maaf, Nyonya."


Nadine dan Cherry kembali bersikap sopan pada temannya. Kedua wanita itu nampak terintimidasi dengan wajah angkuh Ron serta Genta yang memandangi mereka dengan tatapan dingin.


"Sayang, kau masih ingat temanku ini, kan?" tanya Thrisca pada Ron.


"Hem." jawab Ron singkat.


"Mas Gen, kenalkan ini temanku. Nadine dan Cherry.."


Thrisca memperkenalkan dua temannya pada Genta.


"Nadine, Cherry mungkin kalian pernah melihat Mas Gen di kantor? Ini Mas Genta, sepupu Ron." imbuh Thrisca.


"Halo Nadine, Cherry.." sapa Genta dengan senyuman ramah.


"Ya Tuhan, pria tampan ini tersenyum padaku?!" batin Nadine kegirangan.


"Selamat siang, Pak Genta." sapa Nadine dan Cherry bersamaan.


"Aku sudah pulang. Jadi kalian bisa beristirahat sekarang," ujar Ron pada dua pegawainya itu.


"Ron, kau mengusir temanku?!" bisik Thrisca geram seraya mencubiti pinggang sang suami.


"Sayang, siapa yang mengusir? Aku hanya menyuruh mereka beristirahat." elak Ron.


"B-baik, Pak. Kami permisi," pamit Nadine.


"Hati-hati di jalan. Terima kasih sudah menemaniku," ujar Thrisca.


Nadine dan Cherry tersenyum tipis menanggapi ucapan Thrisca. Kedua wanita itu segera pamit undur diri dari kediaman sang bos.


"Tunggu sebentar, Nadine!"


Thrisca bangkit dan mengejar temannya itu.


"Berikan nomor kalian padaku! Aku sudah tidak menggunakan nomor lama," terang Thrisca.


"Tentu." Cherry menyambut antusias ponsel Thrisca dan segera memasukkan nomornya ke dalam ponsel mahal nyonya rumah itu.


"Mas Han, boleh antar temanku pulang?" pinta Thrisca.


"Tentu, No--"


"Tidak perlu!" potong Nadine cepat.


"Nadine, ikut saja. Mas Han akan mengantarmu sampai rumah," bujuk Thrisca.


Ron melirik ke arah teman-teman istrinya itu dan melotot ke arah Nadine yang berani menolak kebaikan istrinya.


Nadine langsung mengalihkan pandangan begitu ia tidak sengaja bertemu pandang dengan Ron yang tengah melotot padanya.


"Te-terima kasih, Nyonya." ujar Nadine mengalah dan mengikuti kemauan Thrisca.


"Nyonya apanya?! Cepat pulang sana, istirahat!"


Thrisca melambaikan tangan pada dua temannya yang mulai berjalan keluar pintu rumah.


"Aku masih ingin melihat Genta.." batin Nadine kecewa mendapat pengusiran dari Han serta Ron.


***


Bersambung...