
Thrisca berjongkok di gundukan tanah yang menggunung di hadapannya. Wanita itu mengusap nisan yang bertulisankan nama sang ayahanda dan menatap tanah kubur itu penuh rindu.
Sementara Ron yang ikut berjongkok di samping sang istri, tak berani mengeluarkan suara sedikitpun di dekat Thrisca yang tengah tengah tenggelam dalam lautan rindu pada orang tua.
Pasangan suami-istri itu kini tengah berada di kota kelahiran Thrisca dalam acara kunjungan ke makam orang tua dari istri Ron.
"Ron, aku belum pernah mengajakmu ke makam ibuku, kan?" ujar Thrisca.
"Hm?"
"Aku akan memperkenalkanmu pada ibuku.." ajak Thrisca.
"Ibuku tidak dimakamkan di sini. Jarak pemakamannya agak jauh dari sini. Apa kau mau mengunjungi ibuku juga?" tambah Thrisca.
"Kenapa kau masih bertanya?! Tentu saja aku harus mengunjungi ibu mertuaku!" ujar Ron seraya menyeret sang istri kembali ke mobil.
Pria itu segera melajukan kendaraan roda empatnya menuju tempat peristirahatan terakhir dari wanita yang sudah melahirkan istrinya.
Thrisca menarik lembut tangan Ron dan berjalan perlahan menuju tanah kubur sang ibunda.
"Ibu.. maaf aku sudah lama tidak berkunjung," ujar Thrisca lirih pada batu nisan sang ibu.
Wanita itu menatap tanah makam ibunya dengan mata berkaca-kaca. Setelah hampir satu tahun menikah dengan Ron, baru kali ini wanita itu menyempatkan diri untuk mengunjungi ibunya bersama dengan sang suami.
"Ibu, ini suamiku.. ibu pasti tidak menyangka kan kalau aku sudah menikah? Lihat, dia bahkan memberiku cincin berlian mahal." ujar Thrisca dengan wajah sendu seraya memamerkan cincin pernikahannya pada sang ibu.
"Ibu pasti sudah bertemu ayah di sana, kan? Aku baik-baik saja di sini, Bu. Aku hidup dengan baik sekarang--"
Thrisca tak sanggup lagi melanjutkan kalimatnya. Wanita itu mengusap kasar kedua matanya yang berlinang air mata.
"Sudah.. tidak perlu berbicara lagi."
Ron menarik tubuh sang istri dalam pelukannya seraya menepuk-nepuk pelan bahu mulus istrinya itu.
"Ron, boleh aku tinggal di sini selama beberapa hari.." pinta Thrisca takut-takut.
"Kau bisa tinggal kapanpun kau mau," jawab Ron cepat.
"Aku akan menginap di rumah ayahku. Kau bisa kembali lebih dulu. Aku akan pulang dalam beberapa--"
"Aku juga akan tinggal!" potong Ron cepat.
Thrisca mendengus kesal mendengar jawaban sang suami. Tingkah posesif Ron semakin hari benar-benar semakin meresahkan. Wanita itu hampir tak bisa bergerak kemanapun karena suami yang mengekang.
***
"Ron.. apa yang terjadi dengan rumah ayahku?"
Thrisca nampak terkejut melihat rumahnya yang tak terawat dan terdapat papan yang bertuliskan "rumah dijual" tepat di depan pintu rumah peninggalan sang ayah.
Setelah beberapa bulan tak kembali dan mempercayakan rumah pada Susan, Thrisca benar-benar tak menyangka rumah penuh kenangannya bersama sang ayah akan berakhir menjadi seperti ini.
"Kenapa tidak bisa dibuka?!"
Thrisca menggedor-gedor pintu rumahnya dengan kesal.
"Bibi! Bibi Susan!"
Thrisca mulai memanggil-manggil nama Susan dengan air mata bercucuran.
"Sudah, Sayang. Aku akan mengurusnya. Sekarang kita cari tempat lain untuk beristirahat," ujar Ron mencoba menenangkan Thrisca.
"Sudah apanya, Ron?! Semua barang peninggalan ayahku ada di dalam! Semua barang ibuku juga tersimpan di sana! Aku tidak memiliki apapun lagi selain barang peninggalan ayahku!" racau Thrisca.
"Kita kembali besok saja. Aku akan mengurus rumah ini. Besok kita bersihkan semua barang ayahmu." bujuk Ron.
"Aku harus ke pabrik, Ron! Bibi Susan pasti juga melakukan sesuatu pada pabrik ayahku!" ujar Thrisca agak tergesa-gesa.
"Icha, tenangkan dulu dirimu. Sekarang sudah hampir gelap. Kita istirahat dulu, ya?" bujuk Ron dengan sabar.
"Bibi Susan sudah lama tidak menghubungiku, Ron! Apalagi sejak ponselku menghilang dan aku memakai nomor baru, aku tidak mendengar kabar sedikitpun dari wanita itu! Bagaimana kalau dia melakukan sesuatu pada pabrik ayahku?!"
"Aku akan mengurus semuanya malam ini. Kau tenang saja. Sekarang kau harus beristirahat,"
Kali ini Ron menarik paksa tangan sang istri menuju mobil.
Pria itu mengemudikan kendaraannya menuju hotel terdekat untuk membawa sang istri beristirahat. Meskipun Thrisca masih memasang wajah cemberut, namun ia tidak berani dan tidak akan bisa membantah keinginan Ron. Hal yang perlu ia lakukan saat ini hanyalah menenangkan diri dan mencoba menyusun rencana untuk esok hari.
***
"Sayang, buka mulutmu.."
Ron duduk di ranjang hotel bersama sang istri seraya menyantap makan malam bersama. Pria itu bahkan berinisiatif menyuapi sang istri yang masih menunjukkan wajah muram.
"Aku bisa makan sendiri.."
Thrisca merebut piring dari Ron dan segera menyuapkan sendok penuh nasi ke dalam mulutnya.
"Pelan-pelan.. nanti kau tersedak," ujar Ron seraya menyodorkan minum pada Thrisca.
Pria itu menatap nanar sang istri yang nampak terpaksa melahap seluruh makan malam hanya untuk menyenangkannya.
"Aku akan mencari wanita itu dan memintanya untuk mengganti rugi! Aku akan memeras kering air matanya untuk menggantikan air matamu yang menetes karena wanita gila itu!" hibur Ron seraya mengusap lembut pipi sang istri.
"Ron.. mau main batu, kertas, gunting?" ujar Thrisca lirih.
"Apa yang kau inginkan? Tidak perlu menggunakan permainan ini, aku akan memenuhi segala keinginan--"
"Aku ingin menangis." potong Thrisca cepat.
"Kali ini saja. Aku ingin menangis sampai aku merasa lega. Boleh, kan?" imbuhnya.
Ron terdiam sejenak tanpa menanggapi ucapan sang istri. Bagaimanapun juga, melihat wanita tercintanya menangis tentu menjadi penyiksaan berat bagi suami Thrisca itu.
"Sepuluh detik! Aku memberimu waktu sepuluh detik untuk menangis!" ujar Ron dengan tatapan dingin.
"Kalau aku menang, kau harus membiarkanku menangis sampai aku lelah dan bosan sendiri!" tukas Thrisca tak menghiraukan perkataan Ron.
"Tidak bisa!"
"Ron!" sentak Thrisca seraya bangkit dari ranjang.
"Kalau begitu gendong aku! Gendong aku sampai keluar pintu kamar! Kalau kau sanggup menggendongku sampai ke pintu itu, aku akan membiarkan kau melakukan apapun yang kau mau!" ujar Ron menantang.
Bugh!
Sebuah pukulan bantal empuk melayang dengan sukses ke kepala Ron hingga membuat tubuh pria itu sempoyongan.
"Kau berani memukulkan bantal padaku?! Kau pikir aku tidak bisa membalas?!"
Ron ikut mengambil bantal dan melayangkan benda empuk itu pada sang istri.
Ron yang tidak sempat mengontrol kekuatannya, membuat Thrisca terjungkal dari ranjang begitu tubuh kurus wanita itu terhantam oleh bantal yang dilayangkan oleh Ron.
Brukk!
"Icha!"
Sang pelaku kalang kabut menyelamatkan korban yang sudah tersungkur di lantai.
Thrisca memegangi dahinya yang benjol seraya meringis kesakitan.
"Ron, kau boleh membunuhku kalau kau kesal padaku!" sindir Thrisca seraya menoyor kepala Ron.
"Maaf, Sayang. Aku tidak sengaja,"
Ron bergegas membopong tubuh sang istri dan membaringkan wanita itu di ranjang.
"Apa begini caramu memperlakukan wanita?!" omel Thrisca kesal. Wanita itu memukul-mukul dada bidang sang suami dan mencubiti lengan Ron geram.
"Aku sudah minta maaf, kan?! Aku tidak bermaksud menyakitimu. Maaf, Sayang.."
Ron meniup-niup dahi sang istri, kemudian melayangkan kecupan bertubi-tubi ke jidat lebar wanita cantik itu.
"Mana yang sakit?"
Ron meraba-raba tubuh sang istri dan memijat pelan beberapa bagian tubuh wanita berbadan ramping itu.
"Ron, jangan mengambil kesempatan!" sindir Thrisca seraya menepis tangan sang suami yang memijat-mijat paha mulusnya.
"Memangnya kenapa? Aku hanya menyentuh istriku sendiri!" ujar Ron cuek.
Pria itu mengecup bibir manyun Thrisca sekilas untuk menghibur sang istri yang masih berwajah masam itu.
"Ron.."
Thrisca menyingkirkan tangan Ron yang mulai membuka kancing baju yang dipakainya.
"Kau tidak sedang datang bulan, kan?" bisik Ron menggoda Thrisca.
"Ron, aku.. aku--"
"Aku tahu ini bukan waktu yang tepat. Tapi tolong lupakan sejenak masalah rumah ayahmu. Aku membawamu ke kota ini untuk menghiburmu, bukan untuk melihat wajah murungmu. Aku janji aku akan membantumu. Aku akan membereskan segalanya. Kau percaya padaku, kan?" potong Ron cepat.
Tanpa menunggu jawaban dari sang istri, pria itu langsung menyambar bibir lembut yang sudah ada di hadapannya. Ron memagut dan menyesap dalam bibir merah istrinya seraya melanjutkan aksi buka kancing baju yang sempat tertunda.
Tanpa aba-aba, Ron langsung melucuti seluruh pakaian sang istri dan menikmati malam panas nan panjang bersama istri tercintanya itu.
***
Bersambung...