DEAR, MY RON

DEAR, MY RON
BAB 116



"Bagus. Kalian cukup membuat bayi yang ada di kandungan wanita itu menghilang. Jika istri Ron ikut lenyap, kalian akan mendapat bonus dariku." ujar seorang wanita pada sekumpulan preman bayaran yang tengah melaporkan hasil misi.


Wanita itu menutup telepon dan segera membuang nomor kartu yang ia gunakan. Sebuah senyum kemenangan terukir di bibir wanita licik yang baru saja merenggut kebahagiaan orang lain itu.


Selesai menelepon para preman jalanan, wanita itu kembali menghubungi seorang wanita paruh baya untuk melaporkan hasil pekerjaannya.


"Bagaimana hasilnya?" tanya seorang wanita yang bertindak sebagai bos di belakang layar.


"Aman. Target sedang kritis di rumah sakit."


"Bagus."


Wanita paruh baya yang menerima laporan itu, tidak lain ialah Berlin, ibu dari Genta.


"Aku akan menjadikan anak dari Genta sebagai pewaris tahta keluarga Diez. Jika putraku tidak bisa mendapatkan panggung, maka cucuku harus bisa mendapatkan bagian." gumam Berlin dengan antusias.


"Berlin!"


Nyonya Dewi yang mendengar pembicaraan Berlin, segera mendekat ke arah sang menantu dan melayangkan tamparan keras ke wajah ibu Genta itu.


"Apa yang sudah kau lakukan?!" omel Nyonya Dewi.


"I-ibu.. sejak kapan ibu di sini?"


"Kau yang melakukan itu pada menantu Daisy?! Sudah kubilang jangan sentuh keluarga inti! Biarkan saja mereka celaka karena kecerobohan mereka sendiri! Kenapa kau harus ikut campur?!" bentak Nyonya Dewi.


"Aku tidak melukai Ron! Aku hanya melukai menantu mereka! Toh, Ron juga akan beristri banyak seperti ayah dan kakeknya! Hanya demi satu orang istri yang dijodohkan, Ron tidak akan mengambil pusing!" bela Berlin.


"Bagaimana kalau Ron membalasmu? Bagaimana kalau suamiku ikut turun tangan? Wanita itu adalah wanita pilihan Hasan! Kau lupa?!"


Berlin membeku seketika saat mendengar ucapan sang ibu mertua. Wanita paruh baya itu tidak memperhitungkan mengenai Thrisca yang merupakan wanita pilihan sang ayah mertua.


"M-memang apa hebatnya wanita itu? Ron bisa mencari istri lain yang dia mau! Tujuanku hanyalah melenyapkan bayi yang ada di kandungan wanita itu!"


"Berhenti bicara omong kosong! Kau tidak bertindak sendirian, kan? Segera cuci tanganmu dan cari kambing hitam! Aku tidak mau ikut terseret! Kalau kau sampai ketahuan, aku tidak akan segan-segan mengusirmu dari keluarga ini!" ancam Nyonya Dewi.


"Wanita itu bukanlah apa-apa! Ibu pasti hanya melebih-lebihkan! Ron bisa mendapatkan banyak wanita yang dia mau, hanya demi satu wanita saja dia tidak mungkin akan melakukan sesuatu, kan?" gumam Berlin mulai cemas.


***


Ron terduduk lemas di samping ranjang pasien seraya menggenggam erat tangan sang istri.


Thrisca sudah dipindahkan ke ruang rawat, namun wanita itu masih belum sadarkan diri setelah operasi. Kondisi Thrisca sudah berangsur-angsur stabil, tapi sayangnya wanita itu tak kunjung membuka mata setelah terbaring selama dua hari lamanya.


"Ron, kembalilah ke kamarmu. Kau juga harus beristirahat," bujuk Nyonya Daisy pada putranya yang masih mengenakan pakaian pasien.


Dua hari sudah hidup Ron kacau balau tanpa tidur dan makan. Pria itu tak bisa beristirahat dengan nyenyak dan makan dengan enak karena sang istri yang belum sadarkan diri.


"Ibu pergi saja, jangan mengganggu istirahat istriku!" usir Ron dengan suara lemah.


"Ron, jangan menyiksa diri seperti ini! Kau pikir Thrisca akan senang melihat wajah pucatmu saat dia bangun nanti?!" omel Nyonya Daisy.


"Bu.. istriku akan bangun, kan?" tanya Ron dengan wajah sendu nan pilu.


"Apa yang kau katakan, Ron?! Tentu saja istrimu akan bangun!"


Nyonya Daisy memeluk erat sang putra yang sudah berlinang air mata.


"Jangan seperti ini, Ron! Kau melukai hati ibu.."


Istri Tuan Derry itu mengomel pada sang anak bercampur dengan tangis sesenggukan.


Ron mengusap wajahnya kasar dan membalas pelukan sang ibu dengan menepuk-nepuk lembut punggung wanita paruh baya yang telah melahirkannya itu.


"Aku akan menjaga istriku di sini. Ibu pulang saja.." ujar Ron lirih.


"Ron, sejak kapan kau berubah menjadi seperti ini? Kau tidak pernah semurung ini sebelumnya. Jika terjadi sesuatu pada Thrisca, ibu bisa mencarikan istri ba--"


"Ibu! Dengarkan aku! Hanya Thrisca yang boleh menjadi istriku. Jika tidak ada lagi Thrisca di hidupku, maka tidak akan ada lagi istri di duniaku." ujar Ron tegas.


"Ron, kau begitu menyukai jodoh pilihan kakekmu ini?"


Ron menggenggam erat tangan sang istri dan memandangi intens wanita yang masih terbaring tak berdaya di ranjang pasien itu.


***


"Nadine, ayolah! Cepat tanya pada Han! Kau dekat dengan Han, kan?"


Cherry mengguncang-guncangkan tubuh Nadine dengan heboh.


"Bukankah kau juga dekat dengan Genta? Tanya saja pada Genta.." sindir Nadine.


Kedua teman Thrisca itu tak berani berkunjung ke rumah sakit untuk menjenguk Thrisca. Karyawan bawah seperti mereka tentu tak memiliki nyali untuk ikut bergabung bersama keluarga bos pemimpin perusahaan tempat mereka bekerja.


Hingga beberapa hari berlalu setelah Thrisca dirawat, kedua teman Thrisca itu masih belum mendapat kabar apapun mengenai kondisi sahabat mereka.


"Sudah kubilang aku tidak ken--"


"Tidak kenal? Tidak kenal tapi dia menarik tanganmu dan pergi bersamamu menggunakan mobilnya? Kau masih ingin bilang kalau kau tidak kenal?!" cecar Nadine.


"Kenapa kau berlebihan sekali?" cibir Cherry.


"Tanya saja pada pacarmu itu!"


"Pacar apa, Nadine? Mana mungkin aku memiliki hubungan seperti itu dengan atasan di perusahaan besar seperti ini? Aku hanya kacung di sini! Jangan menuduh yang macam-macam!" omel Cherry seraya mencubiti lengan temannya itu.


"Kau berkata jujur, kan?"


"Sebenarnya ada apa denganmu? Kau suka pada Genta? Kau takut aku juga akan mengejar Genta?!" ledek Cherry.


"S-suka apa?! Ayo, cepat ke ruangan Han!" ajak Nadine mulai mengalihkan pembicaraan.


"Akui saja! Kau selalu bersikap berlebihan mengenai Genta!" ejek Cherry.


"Diam! Aku tidak kenal Genta!"


elak Nadine seraya berlari menuju ruangan Han.


Tok..tok.


Nadine mengetuk pintu ruangan Han sepelan mungkin.


Kedua wanita itu masuk ke ruangan Han dengan wajah takut-takut. Han yang masih sibuk mengurus kertas-kertas di mejanya, tidak menoleh sedikitpun ke arah Nadine dan Cherry.


"Letakkan saja berkasnya di situ!" ujar Han mengira kedua wanita itu datang untuk mengantar berkas.


"Cepat bilang!" bisik Cherry seraya menyenggol bahu Nadine.


"P-pak, boleh kami meminta waktu Bapak sebentar?" ijin Nadine sesopan mungkin.


Han mendongakkan kepala dan menatap kedua tamu tak diundang yang sudah berdiri di hadapannya.


"Apa?"


"Maaf, kami sudah mengganggu waktu Bapak. Tapi, boleh kami tahu bagaimana keadaan Thrisca sekarang?" tanya Nadine penuh hati-hati.


Wajah Han berubah muram seketika begitu mendengar nama Thrisca. Pria itu mulai mengingat kembali raut wajah sang bos yang nampak pucat dan merana karena sang istri yang tak kunjung sadarkan diri.


"Aku belum bisa memberikan kabar baik." jawab Han lirih.


"Thrisca baik-baik saja, kan? Apa dia terluka parah?" tanya Nadine agak panik.


"Untuk sekarang aku belum bisa memberitahukan apapun. Aku akan mengantar kalian menjenguk Nona jika keadaan Nona sudah membaik." ujar Han seramah mungkin pada teman istri majikannya.


Nadine dan Cherry keluar dari ruangan Han dengan lesu. Kini yang bisa mereka lakukan hanyalah menunggu kabar baik dari teman mereka yang tengah dilanda kemalangan itu.


***


Bersambung...