
Thrisca mencari kamar kosong di kamar pelayan untuk beristirahat. Bukan tanpa alasan kenapa gadis itu terpaksa tidur di kamar belakang. Tamu bernama Genta itu terus menatapnya dan mengawasi gerak-geriknya. Gadis itu menjadi sungkan masuk ke kamar Ron, sehingga ia lebih memilih beristirahat di kamar asisten.
"Lebih baik aku tidur saja. Ron juga tidak akan pulang malam ini,"
Thrisca melepas baju tebalnya dan berbaring di ranjang kecil kamar pelayan itu.
Sementara di rumah sakit, Ibu Ron terus menahan putranya agar anak laki-lakinya itu tetap berada di rumah sakit.
"Bu, aku sudah lelah. Biarkan aku pulang!" protes Ron pada ibunya.
"Keluarga Lilian menitipkan putrinya pada Ibu. Bagaimana mungkin kita meninggalkan Lian sendirian disini?!" omel Nyonya Daisy.
"Sudah ada ibu. Untuk apa aku disini?!"
"Sebenarnya apa yang membuatmu merasa tidak puas pada Lian? Tahun lalu kau masih meminta ibu untuk mendukung hubungan kalian. Kenapa tiba-tiba kalian menjadi seperti ini?" tanya Nyonya Daisy.
"Ini masalah kami. Ibu tidak perlu tahu," ujar Ron cuek.
"Kau benar-benar ingin hidup bersama wanita berpenampilan aneh itu?! Lian masih bisa menerima keadaanmu yang lumpuh. Kembalilah bersama Lian. Ibu akan mendukungmu menentang kakek tua itu," dukung Ibu Ron itu.
"Ibu, Thrisca bukan wanita aneh. Thrisca istriku. Aku tidak ingin membahas Lian lagi,"
"Kau marah tentang hal apa pada Lian? Cobalah selesaikan masalahmu dengannya. Jangan sampai kau menyesal telah menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan oleh Lian," nasehat Nyonya Daisy.
"Aku tidak akan menyesal. Tanya saja pada Lian, apa yang sudah membuatku marah hingga tidak bisa menerima wanita itu lagi!"
Ron merayap dengan kursi rodanya mencari Han.
"Aku sudah menuruti keinginan ibu. Aku sudah menemani ibu sejak siang hari hingga saat ini. Aku disini untuk menemani ibu, bukan untuk menjaga wanita asing itu!"
Setelah mengatakan hal tersebut, Ron segera meninggalkan rumah sakit.
Ron sedikit tidak tega melihat wanita yang masih dicintainya terbaring tak berdaya di rumah sakit. Namun setelah melihat Lian sudah sadarkan diri, Ron segera pergi meninggalkan rumah sakit.
Setidaknya pria itu sudah menebus rasa bersalahnya karena sudah meninggalkan Lilian di rumahnya sendirian hingga pingsan. Ron sudah menebusnya dengan menemani wanita itu hingga sadarkan diri.
Nyonya Daisy masuk ke kamar Lian dan berbincang sejenak dengan wanita itu.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Ibu Ron itu.
"Sudah lebih baik. Terimakasih sudah menjagaku, Bibi."
"Ron juga terus berada disini sejak tadi. Anak itu punya banyak pekerjaan besok pagi, jadi dia harus pulang untuk beristirahat." ujar Nyonya Daisy.
"Maaf sudah membuat Bibi dan Ron kerepotan,"
"Setelah berbulan-bulan tidak bertemu, sepertinya kalian masih belum berbaikan," komentar Ibu Ron.
"Itu.. Ron sepertinya tidak mau mendengar penjelasan apapun dariku." ujar Lian dengan wajah kecewa.
"Tapi Thrisca bilang, Ron dan Thrisca akan berpisah. Sepertinya Ron masih mencoba memberikan kesempatan untukku," sambung Lian kegirangan.
"Mereka akan berpisah? Bagus sekali. Aku tahu Ron pasti tidak akan tahan tinggal berlama-lama dengan gadis aneh itu," ujar Nyonya Daisy dengan sumringah.
***
Waktu menunjukkan pukul tiga dini hari. Ron masuk dengan tergesa-gesa saat melihat mobil asing terparkir di halaman rumahnya.
"Gendut! Gendut!"
Ron berkeliling rumah mencari keberadaan sang istri.
"Kenapa gendut tidak ada di kamar?"
Pria itu semakin panik saat melihat sang istri tidak berada di kamarnya.
Ron berlari ke kamar tamu dan mendapati sesosok pria tengah tertidur pulas dengan bertelanjang dada.
"Genta! Bangun cepat!"
Ron menarik-narik tangan sepupunya itu dengan kasar.
"Aku lelah, Ron! Jangan ganggu aku!" omel Genta.
"Cepat buka matamu!"
Ron tetap memaksa Genta membuka mata dengan menarik-narik kaki jenjang sepupunya itu.
"Apa yang sebenarnya kau inginkan?!"
Genta mengambil bantal dan melemparkan benda empuk itu ke arah Ron dengan kencang.
"Istriku, apa kau melihat istriku? Saat kau masuk tadi apa kau melihat wanita yang berada di rumahku?!" tanya Ron panik.
"Istri siapa? Mana kutahu istrimu ada dimana!"
"Cepat ingat-ingat lagi, otak tumpul! Apa kau tidak melihat wanita asing disini? Kau hadir di pernikahanku kan?! Kau sudah lupa dengan wajah istriku?!" tanya Ron kesal.
"Entahlah. Aku hanya melihat wanita gemuk dengan gaya rambut aneh." jawab Genta tak peduli.
"Benarkah? Apa kau melihat wanita gemuk, dengan leher penuh lemak dan rambut keriting?" tanya Ron lagi.
"Iya mungkin wujudnya seperti itu.."
"Kemana wanita itu pergi? Istriku tidak berada di kamarku!"
"Istri? Wanita aneh itu istrimu? Kupikir dia pelayan," ujar Genta dengan wajah tak berdosa.
"Berani sekali kau mengatai istriku sebagai pelayan!"
Ron menginjak kaki sepupunya itu dengan kuat hingga membuat Genta meringis kesakitan.
"Mana kutahu! Cari saja sana di kamar pelayan!" usir Genta seraya mengusap-usap kakinya yang diinjak oleh Ron.
Pria itu melesat menuju kamar pelayan dan membangunkan Bi Inah.
"Mana kamar yang kosong?" tanya Ron dengan galak.
"Kamar yang diujung, Tuan." jawab Bi Inah dengan takut-takut.
Pria itu berlari membuka pintu kamar ujung, dan benar saja sang istri tengah terlelap di kamar kecil nan sempit itu.
Ron masuk ke kamar itu perlahan agar tidak membangunkan sang istri.
"Bisa-bisanya tertidur pulas di tempat sempit seperti ini?!" gumam Ron.
Pria itu berbaring di samping istrinya dan memeluk gadis cantik itu di ranjang yang sempit.
"Maaf sudah membuatmu menunggu lama, gendut."
Ron mengecup kening sang istri yang masih memejamkan mata.
"Tuan, sudah pulang?" tanya Thrisca seraya menghentikan tangan Ron yang menyentuh tubuhnya.
"Maaf aku sudah membiarkanmu menunggu lama," ujar Ron dengan wajah menyesal.
"Tidak apa. Istirahatlah. Tuan pasti lelah,"
Thrisca mengeluarkan tangan suaminya dari dalam bajunya dan menepuk-nepuk pundak Ron agar pria itu lekas tidur.
"Gendut, kau marah?" tanya Ron lirih.
"Tidak. Aku hanya mengantuk. Besok saja bicaranya,"
ujar Thrisca kembali memejamkan mata.
Ron yang masih masih ingin ditemani sang istri, tidak membiarkan gadis itu kembali tidur dengan mudah.
Ron menyambar bibir manis sang istri yang terbaring dalam pelukannya itu. Thrisca yang sudah kembali terlelap itu, tak dapat melanjutkan tidur pulasnya karena sang suami.
"Tuan, ini sudah larut. Besok saja ya?" tolak Thrisca halus.
Ron tidak menghiraukan ucapan sang istri dan kembali memakan bibir mungil istrinya itu. Pria itu bahkan melucuti pakaian atasan sang istri dan menikmati tubuh bagian atas sang istri dengan antusias.
"Tuan, aku masih berhalangan.." tolak Thrisca lirih.
"Aku tidak akan sampai sejauh itu."
Ron mengecup wajah istrinya bertubi-tubi mulai dari kening hingga dada. Pria itu meninggalkan bekas di setiap jengkal tubuh istrinya.
Thrisca yang tidak berani menolak, hanya bisa membiarkan saja sang suami melakukan sesukanya. Gadis yang sudah bertelanjang dada itu sudah mulai terbiasa dengan sentuhan sang suami dan mencoba menghilangkan rasa gugup serta takutnya saat disentuh oleh Ron.
"Tuan, apa kau belum makan malam?" tanya Thrisca mulai kesal dengan sang suami yang menyentuhnya bak orang yang kelaparan.
"Kenapa? Aku membuatmu tidak nyaman?"
Ron mengambil pakaian dalam sang istri dan membantu gadis itu memakainya.
"Aku hanya.. hanya merasa gugup dan takut. Maaf aku tidak terbiasa dengan sentuhan seperti ini," ujar Thrisca takut-takut.
"Aku akan membantumu membiasakan diri," ujar Ron dengan senyuman licik.
"Boleh aku memakai bajuku?" ijin Thrisca.
"Sini aku bantu pakaikan,"
Ron mengambil baju atasan istrinya dan memakaikan kain itu untuk menutup kembali tubuh sang istri.
"Kenapa kau tidur disini?"
tanya Ron seraya kembali mendekap sang istri dalam pelukannya.
"Ada tamu yang mencarimu. Tamu itu mengira aku pelayan, jadi aku tidak bisa masuk ke kamarmu." terang Thrisca.
"Dia hanya pengungsi yang tidak tahu diri. Tidak perlu dipedulikan,"
"Apa dia masih anggota keluarga? Apa dia tahu kalau kau berpura-pura lumpuh?" tanya Thrisca.
"Pria itu sepupuku. Dia tahu aku hanya berpura-pura lumpuh,"
"Jadi aku juga tidak perlu berpura-pura di depannya kan? Aku tidak perlu memakai baju tebal itu kan?" tanya Thrisca.
"Tidak bisa! Kau tidak boleh muncul di hadapan orang itu. Sebagai Thrisca gendut ataupun Thrisca langsing!" perintah Ron dengan garang.
Thrisca hanya mengangguk mengikuti aturan dari sang suami. Pasangan suami-istri itu menghentikan obrolan mereka dan mulai memejamkan mata.
***
Thrisca membuka mata dan merasakan ranjang yang lebih empuk dari ranjang yang ia tiduri semalam. Gadis itu bahkan bisa merentangkan kaki dan tangan dengan bebas di ranjang yang seharusnya berukuran kecil itu.
Gadis itu membuka mata lebar-lebar dan menyadari dirinya terbaring di kamar Ron.
Sang suami masih terlelap disamping Thrisca dengan wajah lelah.
"Kapan Ron membawaku pindah ke kamar ini?" gumam Thrisca.
Istri Ron itu bangkit dari ranjang dan berjalan menuju pintu. Namun saat mencoba membuka pintu, benda kotak yang menjadi akses keluar masuk itu tidak bisa terbuka sedikitpun.
Thrisca mulai menyadari jika pintu itu terkunci. Sayangnya tidak ada kunci yang menggantung di pintu berukuran besar itu.
Gadis itu segera menggeledah laci dan lemari yang berada di dalam kamar sang suami. Gadis yang sudah penat mencari itu, akhirnya menyerah dan memilih untuk membangunkan sang suami.
"Tuan.. Tuan,"
Thrisca mengguncang-guncangkan tubuh suaminya perlahan.
"Ron.."
Gadis itu berbisik di telinga suaminya dengan suara selembut mungkin.
Sang suami mulai bergerak dan mengucek matanya untuk melihat siapa yang berani membangunkannya.
"Tuan, mana kunci pintunya? Aku ingin keluar," ujar Thrisca dengan suara lembut.
Pria itu tidak menghiraukan ucapan sang istri dan justru menarik istri cantiknya kembali berbaring di ranjang.
"Aku masih lelah. Tidurlah sebentar lagi," ujar Ron dengan wajah mengantuk.
"Istirahatlah. Aku hanya ingin meminta kunci,"
Thrisca mencoba bangun dari ranjang dan melepaskan diri dari pelukan suaminya.
"Kau tidak boleh pergi!"
Ron memaksakan diri membuka mata.
Pria itu bangun dan terduduk sejenak di tepi ranjang.
"Mandilah, akan kuambilkan sarapan untukmu." ujar Ron seraya mendorong pelan tubuh istrinya.
"Aku akan menyiapkan sarapan untukmu," ujar Thrisca.
"Kau tidak boleh kemanapun! Aku tidak akan membiarkan pria manapun melihat wajah cantikmu!"
Ron mendudukkan sang istri di ranjang dan berjalan keluar kamar. Tak lupa pria itu mengunci sang istri di kamar dari luar.
"Kenapa lagi dengan pria gila itu?!" gerutu Thrisca.
***
Bersambung..