
Thrisca berlari kecil menghampiri Genta dengan senyum sumringah, sementara pria yang didatangi oleh istri sepupunya itu berdiri terdiam menatap wajah asing yang memanggil namanya.
"Siapa wanita sok kenal ini?!" batin Genta seraya mengernyitkan dahi.
"Tuan Gen, aku benar-benar senang bertemu denganmu disini! Aku tidak bisa menemukan satu orang pun yang bisa kuajak bicara, aku juga tidak bisa menghubungi Mas Han.."
Thrisca mengoceh panjang lebar pada Genta.
"Apa kau salah minum obat? Aku tidak mengenalmu! Carilah orang lain untuk kau goda! Aku tidak tertarik dengan trikmu,"
Genta berbicara dengan ketus pada Thrisca.
Senyuman Thrisca musnah seketika saat mendapat tatapan dingin dari Genta. Gadis itu menunduk lesu dan tidak berani lagi mengoceh banyak pada sepupu suaminya itu.
"Maaf, Tuan Gen.."
Thrisca berjalan lemas meninggalkan Genta. Saat menunduk dan menatap pergelangan tangannya sendiri, gadis itu baru teringat bahwa ia tidak mengenakan pakaian tebalnya.
"Lenganku, kenapa kecil sekali?!" batin Thrisca mulai menyadari penampilannya.
"Astaga! Pantas saja Tuan Gen mengabaikanku!" omel Thrisca dalam hati seraya memukul-mukul kepalanya sendiri.
Thrisca segera berlari menjauh dari Genta sebelum pria itu mulai mengenalinya.
Setelah melewati perjalanan panjang, akhirnya gadis itu dapat berjumpa dengan makanan dan memuaskan rasa laparnya. Sementara sang suami yang melarikan diri dari rapat, nampak mengamuk mencari sang istri yang sudah menghilang dari ruang istirahatnya.
"Si gendut itu benar-benar! Sudah kubilang jangan pergi kemana-mana!"
Ron menyobek-nyobek kertas di mejanya dengan geram saat ia melihat ruangannya sudah kosong tanpa adanya sosok sang istri.
"Han! Cepat cari si gendut sekarang!" teriak Ron pada Han.
"Bos, kita harus segera bersiap untuk ke bandara. Tuan Besar sudah menunggu,"
ujar Han lirih.
"Aku tidak peduli dengan tua bangka itu! Aku tidak akan pergi sebelum melihat istriku! Cepat cari si gendut sampai dapat!"
Ron mencengkeram kerah baju Han hingga membuat asistennya itu tercekik hingga sesak nafas.
"B-baik, Bos!" Han segera berlari keluar ruangan bosnya untuk mencari Thrisca di dalam gedung perusahaan.
Sementara, Ron duduk manis di mejanya dan memeriksa seluruh CCTV perusahaan untuk mencari keberadaan sang istri.
"Makanan disini enak sekali.. Ron tidak perlu memiliki koki di rumah jika pria jahat itu mempunyai makanan enak di kantornya," gumam Thrisca seraya menyeruput minumannya.
Gadis itu masih menikmati waktunya bersama banyak makanan disaat sang suami kebingungan mencarinya. Tak butuh waktu lama begitu Ron melihat sang istri tengah bersantai di kantin perusahaan, pria itu segera bersiap dengan kursi rodanya untuk menghampiri istrinya.
"Bodoh sekali! Kenapa aku tidak memiliki nomor telepon istriku sendiri! Aku tidak bisa menghubungi si gendut jika gadis itu menghilang seperti ini!"
Ron mengomel sendiri seraya mendorong perlahan kursi rodanya.
Han yang masih sibuk melihat CCTV, segera berlari menghampiri bosnya dan membantu Ron menjemput sang istri.
Ron melihat sang istri menikmati makan siang sendirian dari kejauhan. Gadis itu nampak lahap dengan makanan di mulutnya tanpa menyadari kehadiran sang suami.
Nampak terlihat jelas beberapa karyawan pria yang datang ke kantin menatap Thrisca sambil berbisik-bisik. Wanita cantik yang asyik menikmati makanan itu sudah mengundang banyak lebah yang hendak mencoba untuk mendekatinya.
Ron bergegas mendekati meja sang istri sebelum beberapa pria menduduki bangku panjang tempat Thrisca menyantap makan siang.
Gadis yang masih mengunyah makanan itu, segera berdiri dengan panik dan mengusap mulutnya dengan tisu saat sang suami menghampiri meja Thrisca.
"Ron, i-itu aku belum makan siang jadi aku keluar dari ruanganmu! Aku tidak bisa menghubungimu dan aku tidak tahu cara memesan makanan dari luar! Aku kesini hanya untuk makan!"
Thrisca menjelaskan pada sang suami dengan tergagap panik.
"Mana ponselmu?" tanya Ron dengan wajah datar.
Thrisca menyodorkan benda kotak miliknya dengan takut-takut tanpa mengucapkan apapun pada sang suami.
"Benda apa ini? Kau yakin bisa menyebut ini ponsel?!" tanya Ron seraya mengerutkan keningnya.
Pria itu menatap benda kecil milik sang istri yang nampak usang dengan warna case hampir pudar. Ponsel model lama itu benar-benar membuat Ron semakin tidak tega untuk memarahi sang istri.
Ron mengotak-atik ponsel sang istri seraya melihat kumpulan pesan hingga foto yang tersimpan di ponsel jadul itu.
"Hanya ada nomor ayahnya? Apa si gendut tidak memiliki teman yang bisa dihubungi?" batin Ron heran saat melihat kontak ponselnya yang kosong.
Sedetik kemudian wajah heran Ron berubah menjadi wajah senang kegirangan. Ron bersorak dalam hati saat ia tidak mendapati satupun nomor laki-laki tersimpan dalam ponsel istrinya. Pria itu bahkan tidak menemukan foto pria asing dan hanya melihat beberapa foto Thrisca bersama sang ayah di dalam benda usang itu.
"Hubungi aku jika kau butuh sesuatu." ujar Ron dengan senyuman manis seraya mengembalikan ponsel milik sang istri.
"Kau tidak marah padaku?" tanya Thrisca takut-takut.
"Kita bicara di ruanganku saja. Kau selesai makan?" tanya Ron dengan suara pelan.
Pria itu mulai tidak nyaman menjadi tontonan para pegawai yang hendak menyantap makan siang di kantin. Beberapa karyawan bahkan tidak jadi masuk ke kantin dan menunggu sampai Ron pergi.
Sementara para pegawai wanita sibuk menatap wajah tampan Ron dengan wajah berbinar sambil berbisik-bisik.
"Itu wajah bos kita? Benar-benar tampan. Aku tidak menyangka bisa melihat wajahnya sedekat ini," bisik para wanita seraya memandangi Ron.
"Benar. Aku sudah lama bekerja disini dan ini pertama kalinya aku melihat bos berada di kantin. Hari ini aku benar-benar beruntung," sahut wanita lain.
"Tapi siapa itu wanita yang berbicara dengan bos? Aku belum pernah melihatnya,"
"Tidak mungkin istrinya bos kan? Bukankah istrinya gendut? Ada yang melihat wanita gemuk datang bersama bos tadi pagi,"
Obrolan mereka semakin seru saat membahas istri gendut sang bos.
"Mungkin saudaranya bos sedang berkunjung? Wajahnya lumayan cantik." komentar para pria yang ikut bergosip.
"Kalau sudah selesai, kembali ke ruanganku sekarang!"
Ron menyuruh Han mendorong kursi rodanya lagi untuk kembali ke ruangannya sebelum para pegawainya menatap lebih lama.
Thrisca mengekor langkah suaminya kembali ke ruangan bos yang letaknya beberapa lantai dari kantin. Begitu Ron meninggalkan kantin, tempat makan itu langsung ramai dengan perbincangan para pegawai yang asyik membicarakan sang bos beserta istrinya.
"Gendut, kenapa kau memakai baju seperti itu? Mana Thrisca gendut yang sebenarnya?!" omel Ron saat mereka memasuki lift.
"Bajunya masih dijemur. Aku sudah kelaparan jadi aku memakai baju yang ada dibawakan Mas Han," jawab Thrisca dengan wajah cemberut.
"Banyak alasan! Aku tidak mau melihatmu berkeliaran disini menggunakan pakaian seperti itu!" omel Ron yang masih kesal pada istrinya yang berdandan cantik hanya untuk makan di kantin perusahaan.
"Baiklah. Aku tahu apapun yang kupakai hanya akan membuatmu malu," ujar Thrisca seraya menundukkan kepala.
"Aku tidak mau dandanan cantikmu dilihat oleh pria lain! Kau dengar tidak?! Saat pergi bersamaku kau selalu menggunakan sumpalan kain anehmu itu, tapi demi bertemu pria lain kau sampai berdandan cantik seperti ini?! Kau sengaja ingin membuatku kesal?"
"Berdandan apa? Aku memang mandi, badanku berbau masam karena berkeringat. Aku hanya ingin menghilangkan baunya! Kenapa kau menuduhku yang tidak-tidak?!"
Thrisca memberanikan diri menjawab sang suami dengan lantang.
"Lain kali tidak usah ikut kesini lagi! Memang lebih baik kau di rumah saja! Kau benar-benar membuatku repot saat kau menghilang dari ruanganku! Aku pasti sudah gila karena terlalu mencemaskanmu!"
Ron keluar dari lift terlebih dulu meninggalkan istrinya.
Thrisca mendengar dengan jelas ucapan suaminya bahwa pria itu sangat mencemaskan dirinya. Gadis itu berlari kecil menyusul suaminya dan menggantikan Han mendorong kursi roda Ron.
"Ron bilang dia mencemaskanku? Ron mengkhawatirkanku?!!"
Thrisca bersorak kegirangan di dalam hati.
Saat hendak memasuki ruangan Ron, Genta tidak sengaja melihat Thrisca yang masuk bersama Ron ke dalam ruangan sepupunya itu. Genta masih mengingat dengan jelas sosok wanita yang berbicara sok akrab dengan dirinya tadi.
"Itu.. kenapa wanita itu masuk ke ruangan Ron?" batin Genta.
Ron segera menyingkirkan kursi rodanya begitu pria itu memasuki ruangannya. Han segera keluar mengurus pekerjaan sementara Thrisca duduk di sofa seraya menebar senyum manis pada sang suami.
"Ada apa dengan senyuman bodoh itu?!" ujar Ron dengan wajah datar saat melihat sang istri tersenyum ramah padanya.
Thrisca segera menghilangkan senyumannya begitu mendapat ejekan dari sang suami.
"Aku harus pergi mengurus pekerjaan selama beberapa hari," ujar Ron membuka perbincangan.
"Hem.." jawab Thrisca singkat.
"Selama aku pergi, jangan keluyuran! Genta masih tetap menginap. Kau bisa meminta bantuan Genta jika kau membutuhkan sesuatu,"
"Hem.."
"Hanya itu? Tidak ada hal yang ingin kau katakan padaku?!" ujar Ron mulai jengkel hanya mendapat jawaban singkat dari sang istri.
"Kapan berangkatnya?"
Thrisca mulai membuka suara sebelum Ron kembali mengomel padanya.
"Sebentar lagi aku harus ke bandara. Kakek sudah menungguku," kata Ron seraya membereskan berkas-berkas di mejanya.
"Kalau begitu aku pulang sekarang saja,"
Thrisca beranjak dari tempat duduknya dan hendak mengambil pakaian yang masih ia jemur di kamar istirahat Ron.
"Tunggu sebentar, gendut.."
Ron menarik tangan sang istri dan menenggelamkan gadis itu ke dalam pelukannya.
"Aku tidak akan pergi lama. Aku juga tidak ingin pergi, tapi kakek tua itu memaksaku!"
Ron mencoba memberi penjelasan pada istrinya.
"Kenapa tidak ingin pergi? Kau ingin bermalas-malasan? Kau adalah panutan di tempat ini. Kalau bosnya malas sepertimu, bagaimana bawahanmu akan semangat bekerja?"
Thrisca memeluk balik sang suami dan menepuk-nepuk punggung Ron dengan lembut.
"Hubungan kita belum masuk ke tahap apapun. Kalau kita terpisah terlalu lama, aku takut hubungan kita akan menjadi canggung lagi saat bertemu kembali nanti" ujar Ron seraya mengecup kening sang istri.
"Sepertinya Ron benar-benar ingin membangun suatu hubungan denganku. Apa pria itu sudah tidak berniat untuk menceraikanku?" batin Thrisca kebingungan.
"Kalau aku bahas perceraian lagi, Ron pasti hanya akan memarahiku.." batin Thrisca mencoba menahan diri untuk tidak membahas hal yang tidak perlu.
"Gendut, berjanjilah kau tidak akan sungkan lagi padaku saat aku pulang nanti.."
Ron mengecup bibir sang istri dengan lembut.
***
Bersambung..