
Thrisca diam membeku begitu melihat sosok Genta yang duduk dihadapannya. Thrisca dan Genta saling bertatapan lama hingga akhirnya Genta mulai menyadarkan diri dan mencoba memahami situasi.
"Kenapa ada Genta disini? Pria jahat ini ternyata hanya mengerjaiku!" batin Thrisca kesal.
"Siapa kau? Seharusnya si Gendut Thrisca yang duduk disini! Kau bukan si gendut!" ujar Genta dengan sinis.
"Mas Gen, ini aku.." ujar Thrisca lirih.
"Kau bahkan bisa meniru suara si gendut?! Kembalikan si gendut padaku!" Genta menggebrak meja hingga membuat Thrisca terkejut.
"Ini aku. Thrisca."
"Mana mungkin! Dimana pipi tembemmu? Rambut Thrisca tidak sebagus ini, badan Thrisca tidak seramping ini, dan wajah Thrisca juga tidak secantik ini!"
Genta mencubit kedua pipi Thrisca untuk mencari lemak yang menghilang dari gadis itu.
"Aku bisa jelaskan," ujar Thrisca dengan senyuman tipis.
Genta duduk bersandar di kursinya dengan wajah datar seraya mendengarkan penjelasan dari Thrisca. Pria itu tidak menunjukkan respon apapun selama Thrisca bercerita mengenai bagaimana dirinya bisa berakhir menjadi Thrisca gendut sejak menikah dengan Ron.
"Jadi kau dan Ron saling membodohi satu sama lain? Dan kalian juga sudah ketahuan satu sama lain?" tanya Genta mulai membuka suara.
"Begitulah. Maaf aku tidak bermaksud membodohimu," sesal Thrisca.
"Gendut, eh bukan! Aku harus memanggilmu apa sekarang?! Kau benar-benar membuatku canggung!" omel Genta.
"Panggil saja seperti biasa. Ron juga memanggilku gendut seperti biasanya," ujar Thrisca tak peduli.
"Ada satu hal yang ingin kujelaskan."
Genta menatap Thrisca dan melempar senyum tipis pada gadis itu.
"Apa?"
"Kau pernah ke kantor Ron dengan penampilan seperti ini?" tanya Genta.
"Kenapa? Kau tahu aku hanya sekali mengunjungi kantor Ron dan itu baru terjadi beberapa hari yang lalu,"
"Soal wanita yang kubicarakan itu.."
Genta mulai menjelaskan bahwa wanita yang ia lihat di ruangan Ron bukanlah wanita lain simpanan sepupunya itu, melainkan adalah Thrisca berbadan ramping yang tidak dikenali oleh Genta.
Akhirnya kesalahpahaman antara Thrisca dan suaminya dapat terselesaikan dengan baik dengan hasil bahwa Ron tidak memiliki simpanan dan Ron tidak berselingkuh dengan wanita manapun.
"Jadi, Ron tidak pernah membawa wanita lain?!"
Giliran Thrisca yang menggebrak meja hingga membuat Genta terkejut.
"Itu bukan sepenuhnya salahku. Kaulah yang membodohiku hingga membuatku salah paham," bela Genta.
"Kau tahu apa yang sudah kau lakukan?! Kau sudah membuatku bertengkar dengan Ron selama berhari-hari! Kau sudah membuatku hampir mengkhianati Ron dengan mengikuti kencan buta! Kau juga sudah menipuku untuk kencan malam ini!!"
Thrisca menjambak rambut Genta di restoran yang ramai dengan pengunjung itu.
"Gendut, jangan seperti ini disini! Banyak orang yang melihat!" rengek Genta.
"Aku tidak peduli! Kau hampir saja membuatku membenci suamiku sendiri!!" amuk Thrisca.
***
Thrisca duduk di meja makan seraya mengaduk-aduk gelas susunya dengan malas. Gadis itu terus menatap layar ponselnya menunggu panggilan telepon dari sang suami. Thrisca tidak berani menelepon suaminya terlebih dulu karena takut sang suami masih sibuk mengurus pekerjaan.
Gadis itu juga tidak ingin mengirim pesan pada sang suami karena ia bingung apa yang harus ia tulis sebagai permintaan maaf. Terlebih lagi setelah pertengkaran mereka terakhir kali, Ron sama sekali tidak menghubungi Thrisca.
"Gen-- emm.. Thrisca, kau mau camilan malam? Bagaimana kalau duduk disana dan menonton film bersama?" ajak Genta.
"Tidak perlu," jawab Thrisca malas.
Genta menarik tangan Thrisca untuk membawa gadis cantik dengan piyama tidur itu menemaninya menonton film.
"Mas Gen, apa kau tidak bisa melihat situasi? Aku masih kesal padamu!" omel Thrisca.
"Hei, kau juga menipuku?! Kau pikir siapa akar masalah disini? Pertengkaranmu dengan Ron tidak akan terjadi jika kau tidak membodohiku!" bela Genta.
Thrisca terdiam sejenak dan berteriak setuju dalam hati menanggapi ucapan Genta. Bagaimanapun juga penyebab pertengkarannya dengan sang suami adalah karena kesalahannya sendiri.
"Ron belum juga menghubungimu?" tanya Genta.
"Belum. Aku hanya ingin minta maaf padanya secara langsung. Tapi dia tidak juga meneleponku. Aku takut mengganggu pekerjaannya jika aku menghubunginya lebih dulu," jawab Thrisca lemas.
"Kirim pesan singkat saja dulu," usul Genta.
"Aku belum berbicara dengan Ron lagi setelah kita bertengkar terakhir kali. Ron sangat marah karena dia tahu aku keluar rumah," ungkap Thrisca.
"Tunggu sebentar, gendut. Awalnya kukira Ron menyimpanmu di rumah karena malu. Tapi ternyata kau gadis yang sangat menawan. Untuk apa Ron menahanmu di rumah?" tanya Genta.
Thrisca mencoba mencerna baik-baik perkataan Genta. Pria itu benar-benar memuji kecantikan Thrisca, namun di telinga gadis manis itu kata "menawan" yang diucapkan Genta masih terdengar seperti sindiran.
"Aku sedang berbicara serius! Bisakah nanti saja mengejeknya?!" protes Thrisca.
"Siapa yang mengejek?!" tanya Genta kebingungan.
Thrisca terus menatap layar ponsel tuanya dengan tatapan kosong. Genta yang tidak tega melihat wajah murung gadis cantik yang duduk dihadapannya, segera melakukan sesuatu untuk menghibur Thrisca.
"Berhentilah menunjukkan wajah masam seperti itu!" ujar Genta seraya menyuapkan makanan ke mulut Thrisca.
"Apa ini?" tanya Thrisca seraya mengunyah pelan makanan yang tersumpal ke mulutnya.
"Makan saja. Aku memesan banyak makanan untuk kita," ujar Genta dengan bangga.
Thrisca dan Genta duduk menikmati camilan malam seraya berbincang bersama.
"Gendut, kau tidak ingin melanjutkan kencan buta lagi kan?" tanya Genta membuka perbincangan.
"Entahlah. Mungkin aku masih harus melakukannya,"
Thrisca segera mengambil gelas minuman dan menepuk-nepuk punggung pria yang duduk disampingnya itu.
"Kau sudah membereskan kesalahpahamanmu dengan Ron. Kenapa kau masih ingin bercerai dengannya?"
"Apa Mas Gen tahu wanita yang bernama Lilian?" tanya Thrisca dengan hati-hati.
"Ada apa dengan Lilian?"
"Sepertinya Ron belum bisa melupakan wanita itu. Dan Ron hanya mencoba melarikan diri dengan mengejarku. Aku tidak ingin Ron terus menerus membohongi dirinya sendiri,"
"Gendut, wanita itu sudah lama putus dengan Ron. Aku jamin Ron tidak akan sudi kembali bersama wanita itu!" ujar Genta mencoba meyakinkan Thrisca.
"Kenapa? Karena wanita itu tidak bisa memberikan keturunan untuk Ron? Karena wanita itu pernah mengandung anak pria lain dan melakukan aborsi?"
"Kau sudah tahu banyak sekali, gendut.." ujar Genta tak percaya.
"Ron sendiri yang menceritakannya padaku. Aku benar-benar berterimakasih Ron mau bercerita sedikit mengenai hidupnya. Karena itu aku juga ingin mendukung kebahagiaan Ron,"
"Kau yakin Ron tidak memiliki perasaan apapun padamu? Kau terima saja Ron jika dia benar-benar ingin mencoba bersamamu." Genta masih berusaha membujuk.
"Aku tidak ingin memaksa Ron untuk terus tinggal disisiku. Aku tahu dia sudah berusaha keras membangun suatu hubungan denganku. Tapi aku merasa Ron tidak bahagia bersamaku," ujar Thrisca lirih.
"Kau tidak tahu isi hati Ron. Jangan menyimpulkan sendiri seperti itu!"
"Mas Gen, tolong bantu aku berpisah dari Ron. Bagaimanapun juga, aku dan Ron tidak ditakdirkan bersama.."
***
Pagi-pagi sekali Thrisca bangun dan langsung memeriksa ponselnya. Lagi-lagi ia hanya mendapati layar kosong tanpa panggilan maupun pesan dari sang suami.
Dengan rambut masih acak-acakan dan piyama yang berantakan, Thrisca membuka pintu kamar untuk mengambil air minum dari dapur.
Gadis itu membuka pintu dengan mata ngantuk dan menguap lebar-lebar. Ia tidak menyadari ada seseorang yang berdiri tepat di depan pintu kamarnya hingga ia tidak sengaja menabrak orang yang menghalangi jalannya itu.
"Aduh! Maaf, aku tidak sengaja." ujar Thrisca merapikan rambutnya yang berantakan kemudian ia mendongakkan wajahnya ke arah orang yang ditabraknya itu.
Orang yang berdiri di depan pintu kamar itu tidak lain ialah sang pemilik kamar, Ron. Pria itu berdiri mematung menghalangi pintu dengan satu buket bunga besar di tangannya.
"Tuan?"
Thrisca menatap wajah Ron dengan mata berbinar.
Namun kilauan mata itu menghilang dalam sekejap dan berganti dengan wajah datar.
"Mimpi macam apa ini? Sepertinya aku terlalu banyak memikirkan Ron hingga aku berhalusinasi," gumam Thrisca pada dirinya sendiri.
Gadis itu mengira dirinya masih berada di dalam mimpi. Sosok Ron yang nyata itu nampak seperti mimpi indah bagi Thrisca yang tengah merindukan suaminya itu. Istri Ron itu berbalik badan dan kembali menuju ranjangnya tanpa menghiraukan kepulangan sang suami.
"Kau memikirkanku?" tanya Ron setelah mendengar gumaman lirih sang istri.
"Tentu saja aku memikirkanmu. Kau tidak menghubungiku selama beberapa hari. Aku sangat merindukanmu. Sekarang pergilah! Aku harus bangun dari mimpi ini."
Thrisca menarik selimutnya dan kembali memejamkan mata.
Baru beberapa detik gadis itu menutup mata, tiba-tiba ia merasakan tubuhnya melayang seperti ada seseorang yang mengangkat badan rampingnya.
Ron mengangkat tubuh mungil sang istri dan ranjang dan memeluk erat istri yang sangat dirindukannya itu.
"Sudahlah! Aku harus bangun sekarang! Aku harus memeriksa ponselku! Aku sedang menunggu telepon dari Ron asli, jadi tolong biarkan aku bangun, dasar Ron palsu!"
Thrisca memberontak dan mencoba melepaskan diri dari pelukan sang suami.
"Sudah kubilang berhentilah bergaul dengan Gen! Lihat, kau sekarang menjadi semakin bodoh!"
Ron mencubit pipi istrinya dengan kencang.
Aww!
Thrisca berteriak saat menerima cubitan dari suaminya.
Thrisca terdiam sejenak dan mulai mencoba memahami situasi. Gadis itu menatap wajah Ron lurus-lurus tanpa berkedip.
"Tunggu, Ron! Ini bukan mimpi? Kau benar-benar pulang?"
Thrisca mengusap wajah suaminya dan menatap pria itu dengan sorot mata penuh kerinduan.
"Ini aku, Sayang.."
Ron melayangkan kecupan manis ke bibir merah sang istri.
Thrisca memeluk leher Ron dengan erat saat ia mulai menyadari bahwa kepulangan Ron bukanlah sekedar khayalannya.
"Kenapa kau tidak memberi kabar padaku? Kau juga tidak bilang akan pulang secepat ini,"
Thrisca memeluk erat tubuh kekar sang suami.
"Kukira kau masih marah padaku dan tidak ingin berbicara lagi denganku," ujar Ron lirih seraya mendekap tubuh sang istri seerat mungkin.
"Ini semua salahku. Maafkan aku. Aku memang gadis menyebalkan. Aku benar-benar menyesal," ucap Thrisca pada pria berambut coklat gelap itu.
"Aku yang salah. Kau sudah berkata kasar padamu dan mengurungmu di dalam rumah. Maafkan aku, gendut.."
Ron kembali menyambar bibir manis sang istri untuk melepas kerinduan.
Gadis itu seolah lupa dengan ucapannya semalam yang tetap ingin berpisah dari Ron. Melihat sosok suaminya benar-benar membuat Thrisca goyah dan justru semakin ingin mengikat Ron disisinya.
"Bolehkan aku bersikap egois kali ini saja? Meskipun mulutku berkata ingin berpisah dari Ron, tapi nyatanya hati dan tubuhku tidak bisa berbohong kalau aku tidak akan pernah bisa melepaskan Ron untuk wanita manapun." batin Thrisca seraya mengusap lembut wajah sang suami.
***
Bersambung..