DEAR, MY RON

DEAR, MY RON
BAB 54



Ron dan Thrisca sudah bersiap dengan pakaian rapi untuk menghadiri acara wisuda Nadine.


Suami Thrisca hanya mengenakan kemeja ala kadarnya, begitu pula dengan sang istri.


Ron dan Thrisca berpakaian sesantai mungkin dengan baju sederhana.


"Tidak akan ada yang mengenalimu, kan? Bagaimana kalau kau memakai masker?"


Thrisca cukup khawatir akan ada seseorang yang mengenali suaminya. Bagaimanapun juga mereka akan datang ke tempat yang dipenuhi oleh orang-orang dari seluruh penjuru negeri.


Bukan tidak mungkin jika di kampus tempat belajar Thrisca, terdapat satu dua orang mahasiswa yang berasal dari kota tempat tinggal sang suami.


"Aku bukan selebriti! Kenapa kau heboh sendiri?! Ini bukan di kotaku. Bukan di wilayah rumah kita. Tidak akan ada yang mengenaliku," protes Ron.


"Baiklah," jawab Thrisca mengalah.


Ron menggandeng tangan Thrisca keluar dari kamar. Terlihat Susan juga berpakaian rapi dan bersiap untuk pergi.


"Icha, kau mau pergi?" tanya Susan.


"Kenapa, Bi?"


"Aduh, Bibi ada hal yang harus diurus di pabrik. Bibi tidak bisa membawa Elma. Bisakah kau menjaga Elma sebentar? Bibi tidak akan lama," pinta Susan.


"Aku juga tidak pergi ke acara formal. Bolehkah aku mengajak Elma?"


"Tentu saja! Bawa saja adikmu. Bibi sedang terburu-buru,"


Susan mencium pipi sang putri dan bergegas keluar dari rumah kecil itu.


"Gendut, memangnya kau bisa mengurus anak kecil?!" omel Ron pada sang istri.


"Ron, Elma ini adikku! Anak dari ayahku! Apa salahnya aku mencoba mengakrabkan diri?!" timpal Thrisca.


"Terserah kau saja! Aku tidak ingin terlibat!"


Ron duduk di kursi ruang tamu dengan wajah cemberut, sementara sang istri mencoba mendekati gadis kecil yang masih sibuk dengan mainan bonekanya.


"El, mau ikut kakak? Ayo, kita beli es krim!" ajak Thrisca.


Elma menatap Thrisca sejenak, kemudian gadis itu mulai menjauh dan menangis kencang karena Thrisca.


"El, El tenang dulu ya? Jangan takut, ini kakak Icha. Jangan menangis, ya?"


Thrisca kembali mendekat dan mencoba menenangkan gadis kecil itu, namun Elma justru menangis semakin kencang karena Thrisca.


Ron yang melihat balita menangis kencang dihadapannya, hanya memasang tampang cuek dan mengejek sang istri yang tidak bisa mengurus anak kecil itu.


"Urus sana bayi kecil berisik itu!"


Suami Thrisca itu beranjak dari kursi dan hendak melarikan diri tanpa membantu sang istri yang tengah kesulitan membujuk anak kecil.


"Ron, bantu aku!" rengek Thrisca seraya menarik kemeja sang suami.


"Kau sendiri yang menawarkan diri untuk merawat bocah itu! Rawat saja sendiri!" tolak Ron mentah-mentah.


"Ron, kau tega sekali padaku! Kau juga akan seperti ini jika anak kita yang menangis nanti? Kau akan membiarkanku kesulitan mengurus anak kita sendirian?!"


Mendengar kata 'anak' keluar dari mulut sang istri, Ron segera menoleh dan menatap sang istri dengan mata bulatnya.


"Anak? Anak apanya? Malam pertamaku bersamamu saja belum terwujud!" batin Ron kesal.


"Sayang, tolong bantu aku.." rengek Thrisca dengan manja.


"Si gendut ini benar-benar licik! Memangnya aku akan luluh hanya dengan rengekan manja seperti itu?!" omel Ron dalam hati.


"Ya sudah kalau begitu,"


Thrisca melepas tangannya dari baju sang suami dengan lesu.


"Gendut, jangan curang! Kau akan marah padaku hanya karena hal sepele seperti ini?!" protes pria berkemeja hitam itu.


Thrisca mengabaikan sang suami dan menghampiri Elma yang masih menangis.


"Baiklah! Hanya mengurus bocah kecil, apa susahnya?!"


Ron ikut mendekati Elma dan membantu sang istri membujuk gadis kecil itu.


"Sudah ya? Jangan menangis! Kakak gendong mau, ya?"


Ron berbicara selembut mungkin pada Elma.


Tangisan gadis itu terhenti seketika saat Ron menghampirinya dan tersenyum padanya.


Gadis kecil itu hanya menurut saat Ron mengangkat tubuh mungil balita itu. Elma mengalungkan tangannya ke leher Ron dan memeluk suami dari kakaknya itu.


Entah karena nasib mujur pria tampan atau karena Elma menyukai Ron, gadis kecil itu nampak tenang berada di gendongan pria berbadan tinggi itu.


"Ron, kau keren sekali!" puji Thrisca dengan takjub saat melihat sang suami dapat menenangkan balita itu dengan mudah.


"Kau baru sadar kalau suamimu ini sangat keren?!" ujar Ron berbangga diri.


Thrisca tersenyum kecil menanggapi ocehan suaminya. Gadis itu melingkarkan tangan di pinggang suaminya dan memeluk erat pria yang masih sibuk menggendong anak kecil itu.


Ron menyambut pelukan sang istri dan mencium pucuk kepala gadis yang tengah memeluknya itu bertubi-tubi.


"Elma, ayo cepat bersiap! Elma pergi bersama kakak, ya? Mau, kan?" ajak Thrisca.


Namun, gadis cilik yang ada di gendongan Ron itu tidak menghiraukan sedikitpun ucapan Thrisca.


"Sepertinya Elma tidak menyukaiku," gumam Thrisca dengan frustasi.


"Elma sudah makan? Bagaimana kalau minum susu dulu sebelum berangkat?" oceh Thrisca lagi.


Lagi-lagi hanya wajah cemberut yang didapatkan oleh gadis berusia dua puluh dua tahun itu. Ron tidak bisa menahan tawanya saat melihat bujukan sang istri yang terus menerus mendapat penolakan.


"Ron, lakukanlah sesuatu!" omel Thrisca geram.


"Kau sendiri yang menawarkan diri untuk menjaga anak ini, kan?! Sekarang lihat hasilnya?!"


"Baik, ini semua salahku! Aku memang tidak bisa merawat anak kecil! Kau puas?!"


Thrisca meninggalkan Ron sambil berdecak kesal.


"Kau mau kemana, Gendut?!"


"Membuat susu!" teriak Thrisca dari dapur.


Gadis itu kembali seraya membawa sebotol susu di tangannya.


"El, minum susu dulu, ya?" ujar Thrisca dengan senyuman ramah.


"Idak mau!" celoteh Elma dengan bahasa yang masih belepotan.


"El, Kakak sudah membuat susunya. Minum dulu, ya?" bujuk Thrisca.


Gadis cilik itu terus menolak dan kembali menangis kencang di gendongan suami Thrisca.


"Sini berikan padaku!"


Ron merebut botol susu itu dan memberikannya pada gadis cilik di pelukannya.


Gadis kecil itu kembali tenang dan mengambil botol susu dari tangan Ron tanpa banyak drama.


"Sepertinya Elma hanya menyukai pria tampan," gumam Thrisca dongkol.


"Ron, apa kau menyukai anak kecil? Kau tampak ahli menangani anak kecil.." puji Thrisca.


"Tidak suka," timpal Ron dengan wajah datar.


"Oh," komentar Thrisca nampak kecewa.


"Sepertinya Ron tidak berencana memiliki anak," batin Thrisca.


"Kecuali anak darimu.." ujar Ron tiba-tiba.


"Apa?"


"Aku hanya akan menyukai anak kecil yang lahir darimu," ucap Ron tanpa menoleh sedikit ke arah sang istri. Pria itu sibuk memalingkan wajah untuk menyembunyikan pipi merahnya.


"A-apa yang kau katakan?! El, Kakak ambilkan jaket, ya? Kita berangkat sekarang saja!" ujar Thrisca tergagap.


Gadis itu mulai salah tingkah dan tersenyum-senyum sendiri setelah mendengar perkataan sang suami.


***


"Jadi, ini kampusmu?" tanya Ron seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling bangunan universitas.


Pria itu berjalan bersama sang istri di sekitar universitas masih dengan Elma di gendongan tangannya.


"Begitulah. Memang bukan kampus yang besar dan terkenal. Tapi kampus ini cukup dekat dari rumah,"


"Kau memilih tempat belajar hanya dengan mempertimbangkan jaraknya? Benar-benar tipikal gadis rumahan," ejek Ron.


"Aku memang bukan bintang kelas yang rajin belajar," tukas Thrisca.


Pasangan suami istri yang membawa anak kecil itu berjalan semakin dekat ke gedung tempat wisuda berlangsung.


"Ramai sekali," gumam Thrisca melihat kerumunan di luar gedung.


"Kenapa kau mengambil cuti?" tanya Ron membuka perbincangan.


Pasangan suami istri itu duduk menjauh dari kerumunan di luar gedung. Elma nampak sibuk dengan mainan di pangkuan Ron, sementara Thrisca terus memandangi gedung tempat wisuda dengan tatapan iri.


"I-itu, kau tahu sendiri usaha ayahku sedang bermasalah." ujar Thrisca lirih.


"Tidak perlu iri melihat temanmu." hibur Ron pada Thrisca.


"Aku tidak iri. Aku ikut senang, Nadine sudah menyelesaikan pendidikannya."


"Lalu bagaimana denganmu?"


"Apanya?"


"Apa kau berniat kembali ke kampus dalam waktu dekat? Awal semester sudah akan dimulai, kan?" tanya Ron.


"Kau mengijinkanku?"


"Mengijinkan apa?" tanya Ron seraya mengerutkan keningnya.


"Kembali ke kampus ini. Apa aku boleh menyelesaikan pendidikanku disini?"


Ron membeku seketika saat sang istri mengatakan ingin menyelesaikan pendidikan di kota kelahiran istrinya itu. Awalnya pria itu cukup senang dan terharu serta berniat mendukung sang istri yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.


Namun pria itu mendadak tidak rela jika harus meninggalkan sang istri berlama-lama di kota tempat tinggal sang ayah.


"Kalau si Gendut ingin melanjutkan kuliahnya, itu artinya dia harus berada disini sampai kuliahnya selesai? Lalu bagaimana denganku? Aku tidak bisa membawa gendut pulang dan harus meninggalkannya di kota ini?!" jerit Ron dalam hati.


"Em, kau benar-benar ingin melanjutkan pendidikanmu dalam waktu dekat?" tanya Ron lagi untuk memastikan.


Thrisca masih menimang-nimang keputusannya mengingat gadis itu belum mempersiapkan biaya untuk melanjutkan pendidikannya.


"Itu baru rencana," jawab Thrisca dengan senyum kecut.


"Baguslah! Masih ada banyak hal yang harus kau pertimbangkan, bukan? Pelan-pelan saja. Tidak perlu terburu-buru," bujuk Ron mencoba mengubah pikiran sang istri yang berniat melanjutkan pendidikan di kota yang jauh dari rumah mereka.


Thrisca terdiam tanpa menanggapi ucapan sang suami.


"Ron adalah lulusan dari universitas ternama. Apa sebaiknya aku mencoba mencari beasiswa di universitas yang agak bagus?" pikir Thrisca.


"Apa otakku bisa bersaing dengan Ron? Konsep wanita karir yang keren sepertinya tidak cocok untukku," keluh Thrisca dalam hati.


"Gendut, apa yang kau pikirkan?! Berhentilah berpikir berlebihan!"


Ron mencubit pipi gadisnya dengan lembut.


"Apa sebaiknya aku mencoba peruntunganku di dunia model? Ron selalu dikelilingi wanita cantik dan berkelas. Kalau aku beruntung, paling tidak aku memiliki pekerjaan yang bisa dibanggakan di depan Ron." batin Thrisca masih asyik dengan pikirannya sendiri.


"Gendut, berhenti berpikir yang aneh-aneh!"


Ron mencubit pipi Thrisca dengan kedua tangannya.


"Ron, apa yang kau lakukan?!" omel Thrisca seraya menepis tangan sang suami yang gemas mencubiti pipinya.


"Acaranya sudah selesai, ayo cepat cari temanmu!"


Ron menggandeng tangan sang istri seraya menggendong Elma dengan satu tangan.


Pasangan suami-istri itu nampak seperti keluarga bahagia yang lengkap dengan adanya Elma.


"Icha!" panggil Nadine seraya melambaikan tangan.


"Nadine, selamat!"


Thrisca memberikan buket bunga pada temannya itu dan memeluk Nadine dengan senyum sumringah.


"Icha, bukankah kau bilang belum lama menikah dengan suamimu? Kenapa anakmu sudah besar sekali?" bisik Nadine saat memeluk Thrisca.


"Ini bukan anakku. Ini adikku," jelas Thrisca.


"El, ini teman kakak."


Thrisca mengenalkan Nadine pada Elma.


Gadis cilik itu melirik Nadine dengan waspada, kemudian menenggelamkan kepalanya dalam pelukan Ron.


"Wah, adikmu lengket sekali dengan suamimu. Orang yang tidak tahu, akan mengira kalian keluarga bahagia yang sudah memiliki satu putri.." gurau Nadine.


"Benarkah? Apa aku sudah cocok menjadi ibu?" balas Thrisca diselingi senyum kecil.


"Suamimu terlihat seperti ayah yang baik. Cepatlah buat satu jagoan untuk suamimu. Dia pasti bisa menjadi ayah idaman," bisik Nadine.


Wajah Thrisca memerah seketika saat mendengar candaan dari temannya itu. Ron yang sayup-sayup mendengar bisikan dari teman istrinya, hanya tersenyum kecil seraya mencolek pinggang sang istri.


Thrisca berbalik menyenggol bahu sang suami dengan malu-malu. Pikiran gadis itu mulai melayang membayangkan bagaimana jika dirinya nanti benar-benar memiliki kesempatan untuk mengandung anak dari pria yang berdiri disampingnya itu.


***


Bersambung..