
"Bi, boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Katrina berniat mengajak Bi Inah berbincang.
"Silahkan, Nona."
"Istri Ron itu.. pengusaha apa keluarganya? Kenapa penampilannya biasa sekali?"
"Maksud, Nona?"
"Maksudku, dia anak pejabat atau anak bos apa?"
"Nyonya sempat masuk artikel berita. Nona bisa memeriksanya sendiri. Nyonya Thrisca bukan putri pejabat maupun putri pengusaha." terang Bi Inah.
"Benarkah? Apa dia anak dokter atau dosen?"
"Bukan juga, Nona."
"Lalu? Dia hanya seorang gadis miskin?" tanya Katrina dengan nada meremehkan.
"Nyonya memang berasal dari keluarga sederhana."
"Bagaimana bisa wanita itu menikah dengan Ron? Kenapa ibunya Ron juga terlihat suka sekali dengan menantunya?"
"Nyonya Thrisca adalah istri yang dipilihkan langsung oleh mendiang Tuan Besar." ungkap Bi Inah.
"Istri pilihan Tuan Hasan?"
"Benar, Nona."
"Memang apa prestasi gadis itu sampai Tuan Hasan memilihnya sebagai istri Ron?"
"Nyonya Thrisca adalah cucu dari teman mendiang Tuan Besar."
"Oh, hanya itu.." gumam Katrina meremehkan.
"Ternyata sainganku hanya wanita kampung," gumam Katrina menyeringai.
Wanita itu bergegas masuk ke kamar tamu tempatnya beristirahat dan menghubungi pengacaranya.
"Ardhan, paman-pamanku tidak curiga dengan berita pernikahanku, kan?" tanya Katrina melalui telepon.
"Tidak, Nona. Semua masih terkendali. Aset sudah dipindahkan atas nama wali Nona yang baru, yaitu Tuan Ron."
"Apa kau bisa mencabut hak walinya? Aku tidak ingin Ron terdaftar sebagai waliku. Aku ingin.. Ron terdaftar sebagai suamiku. Apa kau bisa mengaturnya?" pinta Katrina.
"Em, mengenai hal itu.."
"Bisa, kan?"
"Silahkan diskusikan terlebih dulu dengan Tuan Ron jika Nona ingin mendaftarkan pernikahan."
"Apa tidak bisa kau saja yang mengurusnya?" rengek Katrina.
"Mohon maaf, Nona. Saat ini kita tidak bisa lagi meminta persetujuan dari Tuan Hasan, jadi untuk ke depannya silahkan Nona menunggu keputusan dari Tuan Ron. Untuk hal ini, lebih baik Nona rundingkan terlebih dahulu dengan mempelai pria juga."
***
"Dasar Ron bodoh! Tega sekali bocah itu membawa istri keduanya kemari! Kemasi barangmu sekarang, Sayang. Pulang saja ke rumah ibu," ujar Nyonya Daisy berapi-api.
Sebagai sesama istri pertama, tentu saja Nyonya Daisy sangat mendukung Thrisca dan benar-benar memahami posisi Thrisca.
"Ibu, aku juga tidak akan mengijinkannya tinggal kalau gadis itu benar-benar istri Ron."
"Maksudmu?"
"Kakek memberitahu sesuatu padaku, Bu."
"Apa?"
"Ron tidak menikah lagi. Gadis itu hanya membuat pengumuman pernikahan palsu untuk mengecoh keluarganya yang mengejarnya." ungkap Thrisca.
"Benarkah? Kalau begitu kenapa kakek tidak bilang pada kita sejak awal?"
"Kakek bilang hanya ingin mengerjai Ron."
"Kakek tua itu benar-benar!"
"Kakek.. ingin memastikan sesuatu dari Ron sebelum kakek pergi." ujar Thrisca.
"Memastikan apa?"
"Memastikan kalau sifat jeleknya tidak akan menurun pada Ron." ungkap Thrisca mengingat kembali salam perpisahan sang kakek.
"Kakek khawatir, Ron juga akan memiliki banyak istri seperti kakek dan ayah. Kakek tidak ingin aku hidup dengan suami yang berpoligami, jadi kakek mencoba menguji Ron." lanjut Thrisca.
"Aku cukup paham, Ron pasti kesulitan membuat pilihan. Aku benar-benar berterimakasih pada kakek, karena kakek tidak benar-benar memberikan ijin pada Ron untuk memiliki istri lagi." imbuhnya.
"Ron.. bocah itu pasti sangat kesulitan sekarang. Ayah sudah pergi dan perusahaan terbengkalai. Ibu cukup berterimakasih dengan bantuan keluarga Katrina, tapi ibu juga tidak terima kalau Ron sampai harus menikah lagi." ujar Nyonya Daisy.
"Aku juga kasihan pada Ron, Bu. Tapi aku tidak bisa membantu." sesal Thrisca.
"Kakek bilang, kakek meninggalkan berkas dan surat untuk Ron. Bisa tolong temani aku untuk mengambilnya, Bu?" pinta Thrisca.
"Tentu saja. Nanti ibu akan menemanimu ke rumah kakek."
***
Ron, Genta dan Han masih duduk manis di ruang rapat meskipun rapat telah selesai beberapa saat yang lalu.
Ron dan Genta yang masih bersitegang, tak saling bertegur sapa hingga berminggu-minggu lamanya.
Kedua pria itu duduk berhadapan, namun saling membuang muka dan mengabaikan satu sama lain.
"Tidak perlu!" jawan Ron dan Gen bersamaan.
"Kalian kompak sekali.." gumam Han.
"Diam!" bentak kedua pria itu bersamaan.
Han menghela nafas dan segera berjalan keluar ruangan sebelum ia terlibat dalam perang saudara.
"Kau mau kemana?" tanya Ron dan Gen lagi-lagi bersamaan.
"Kalian serasi sekali! Kenapa tidak menikah saja?!" cibir Han seraya berlari kabur meninggalkan dua pria berwajah dingin itu.
"Berhentilah mengikutiku!" ujar Ron kesal.
"Siapa yang mengikutimu?!" sergah Gen.
"Pulang sana! Kenapa kau masih duduk di sini?" usir Ron.
"Memang kenapa kalau aku duduk di sini?!" balas Gen.
"Dasar perebut istri orang!" sindir Ron.
"Dasar tukang poligami!" balas Gen balik.
Bruak!
"Hei!"
Ron menggebrak meja hingga membuat Genta terkejut bukan main.
Bruakk!
"Hei, Ron! Kau pikir aku juga tidak bisa menggebrak meja?!" sentak Genta seraya ikut menggebrak meja.
Alhasil, saudara sepupu itu saling mengacak-acak ruang rapat dengan menendangi dan menggebrak meja.
Han yang datang membawa tiga cup kopi, langsung menutup pintu kembali setelah ia melihat banyak kursi melayang di ruang rapat itu.
"Haruskah aku menelepon polisi?!" gumam Han cemas.
"Menjauhlah dari istriku! Icha hanya boleh menjadi milikku! Berani sekali kau menyentuhnya?!" omel Ron seraya menjambaki rambut Genta.
Ron dan Genta masih sibuk bangku hantam dengan saling memukul wajah satu sama lain di dalam ruangan. Sementara Han yang menunggu di luar ruangan, nampak sibuk berdoa dan bersiap untuk menghubungi layanan panggilan darurat jika Ron dan Genta tak juga berhenti saling memukul.
"Kau jangan serakah, Ron! Aku akan merebut Thrisca darimu jika kau berani menduakannya! Kenapa kau tega sekali mengkhianati Thrisca?!"
"Kau tidak perlu ikut campur! Kau tidak tahu apapun, Gen! Aku menyesal sudah berkorban hanya untuk keluarga tidak tahu diri seperti kalian!"
"Cih, keluarga tidak tahu diri?! Hanya karena sekarang kau sudah menjadi kepala keluarga, kau bisa mengataiku seenaknya?!"
"Kenapa?! Kau tidak terima?!"
"Ron! Dasar kau mulut sial!"
Pertikaian antara saudara sepupu itupun berakhir dengan sendirinya karena Ron dan Genta yang sudah kelelahan.
Kedua pria itu nampak acak-acakan dengan wajah bonyok dan terbaring di ruangan yang sudah berantakan.
"Kepala keluarga apanya? Aku tidak pantas menjadi kepala keluarga.." gumam Ron lirih.
Genta melirik ke arah sang sepupu yang kini menampakkan wajah murung.
"Kau pasti kesulitan setelah kakek pergi.."
"Aku.. tidak tahu bagaimana aku bisa mempertahankan keluarga besar kita tanpa kakek. Aku sudah terbiasa diperintah, tapi sekarang tidak ada lagi yang memerintahku.. tidak ada lagi yang menuntunku.. aku takut, aku akan tersesat dan menghancurkan semua hal yang telah dibangun oleh kakek." ujar Ron dengan wajah pilu.
"Kau tidak sendirian, Ron. Masih ada nenek yang mendukung kita. Masih ada Thrisca yang mendukungmu. Masih ada aku.. yang akan membantumu." ucap Gen seraya menepuk bahu adik kecilnya pelan.
"Bagaimana kalau kau saja yang mengurus perusahaan, Gen? Kau cucu tertua kakek. Aku akan memberikan posisi CEO padamu."
"Apa yang kau bicarakan, Ron?! Aku tidak--"
"Aku serius, Gen."
"Ron, aku hanya dua tahun lebih tua darimu. Kau juga memiliki kemampuan. Untuk apa kau harus takut? Siapa bilang tidak akan ada lagi yang menuntunmu? Kakak tampan ini akan membimbingmu dengan senang hati.."
"Jijik!" cibir Ron seraya melayangkan tatapan sinis pada Gen.
"Kemarilah, adik kecil! Kakak akan memelukmu.." ujar Genta membuat Ron semakin geli.
"Gen, berhenti membuatku jijik!"
"Ayolah, Ron! Kau pasti rindu padaku, kan? Aku sudah lama terusir dari rumahmu. Rumahmu pasti sepi tanpa aku, kan?"
"Menyingkir dariku!"
Pertikaian dua saudara itu akhirnya selesai dengan perdamaian indah antara Ron dan Genta yang kembali akur.
Meskipun kedua pria itu sama-sama tersakiti satu sama lain, namun kini Ron dan Genta memutuskan untuk melupakan masa lalu dan kembali berkumpul sebagai keluarga seperti sedia kala.
Han yang sudah tidak mendengar suara gaduh dari dalam, mencoba mengintip untuk melihat apa yang dilakukan oleh kedua saudara sepupu itu.
"Syukurlah mereka sudah berbaikan.." gumam Han ikut senang.
***
Bersambung...