
Ron duduk berjongkok di pojokan kamar hotel seraya memainkan ponsel. Sejak sang istri menjadi artis dadakan dan melayani banyak fans yang ingin berfoto, pria itu terus menampakkan wajah cemberut dan mendiamkan sang istri selama seharian penuh.
"Ron, kau belum makan sejak siang tadi. Ayo, makan dulu!" ajak Thrisca seraya menarik lengan sang suami.
Ron tidak menjawab dan menepis tangan sang istri. Pria itu berbalik badan dan membenamkan wajahnya ke lutut dengan pandangan mata masih fokus pada ponsel yang ada di genggaman tangannya.
"Ron, sudah hampir jam delapan malam. Kalau kau tidak makan, aku juga tidak akan makan." ujar Thrisca ikut berjongkok di samping Ron.
Kruukk..
Thrisca mengusap-usap perutnya yang berbunyi kencang tanpa melirik makanan yang sudah tersaji di atas meja di hadapannya.
Wanita itu sibuk memandangi wajah manyun sang suami tanpa mempedulikan perutnya yang keroncongan.
"Makanlah. Suara perutmu semakin kencang." ujar Ron tanpa melirik sedikitpun ke arah sang istri.
"Sampai kapan kau akan mendiamkanku seperti ini, Ron? Aku sudah minta maaf, kan?" rengek Thrisca dengan wajah memelas.
"Lebih baik kau mengomeliku daripada kau terus diam seperti ini.." imbuhnya.
"Aku tidak marah padamu! Untuk apa aku mengomelimu!"
"Lalu kenapa kau diam saja sejak tadi? Aku minta maaf, Ron. Aku janji aku tidak akan meladeni orang-orang yang meminta berfoto lagi." bujuk Thrisca.
Sebenarnya Ron tidak sedikitpun marah pada Thrisca. Pria itu marah pada dirinya sendiri yang tidak mampu menyeret sang istri keluar dari kerumunan hingga membuat wanita itu terpaksa meladeni puluhan pria yang meminta foto bersamanya.
Rasa kesal Ron pada pria-pria yang memiliki foto bersama istrinya itu membuat suasana hati pria tampan itu makin berantakan.
"Aku minta maaf, Ron. Ayo makan bersamaku. Kau bisa sakit, Sayang.." bujuk Thrisca lagi.
Ron yang tidak tega melihat perut sang istri yang terus berbunyi, akhirnya menyerah dan menemani istri tercintanya menyantap makan malam.
Pria itu menarik tangan sang istri tanpa mengucapkan sepatah katapun. Ron mengambil piring makanan untuk Thrisca dan menyuapi wanita kesayangannya dengan telaten.
"Aku bisa makan sendiri, Ron. Aku saja yang menyuapimu," tawar Thrisca seraya merebut piring dari sang istri.
Pria yang tengah merajuk itu hanya menurut dan menyerahkan piring makanan pada Thrisca. Ron juga menyambut suapan makanan dari Thrisca dengan mulut terbuka lebar meskipun pria itu masih memasang wajah masam.
"Ron, wajahmu menggemaskan sekali.." ujar Thrisca seraya mencubit pipi sang suami.
Wajah Ron langsung memerah begitu ia melihat senyum merekah dari bibir sang istri. Hati suami Thrisca itu ikut berbunga-bunga melihat senyuman manis yang menghiasi wajah cantik istri tercintanya.
"Maaf, Ron. Aku akan langsung melarikan diri jika ada orang yang meminta foto lagi. Tadi aku benar-benar tidak bisa kabur--"
Ron langsung membungkam mulut sang istri dengan kecupan dalam untuk menghentikan ocehan wanitanya itu.
"Sudah, Sayang. Aku tidak marah padamu. Tidak perlu meminta maaf terus-terusan padaku. Aku yang salah. Maaf aku sudah membuat perutmu keroncongan," ujar Ron seraya mengusap-usap perut sang istri.
"Hanya kau yang boleh menyimpan fotoku. Aku tidak akan lagi memberikan fotoku dengan mudah pada orang asing," ujar Thrisca sembari melayangkan kecupan ke bibir sang suami.
"Aku masih lapar.." goda Ron seraya menarik lembut gaun tidur tipis sang istri.
"Boleh aku memakanmu juga?" imbuhnya.
"Kemarilah.." goda Thrisca seraya merentangkan kedua tangan lebar-lebar.
Ron langsung masuk dalam dekapan Thrisca dan membenamkan kepala di gundukan kenyal yang bertengger di dada sang istri.
"Sayang, jangan ladeni pria-pria jelek itu lagi!" rengek Ron manja.
"Tentu. Aku hanya akan meladeni pria tampan sepertimu," ujar Thrisca disambut cumbuan penuh gairah oleh Ron.
***
"Cherry!"
Nadine berlari kecil menghampiri Cherry saat mereka berpapasan di gedung perusahaan.
Setelah berhari-hari tidak saling bicara, akhirnya Nadine memberanikan diri untuk memulai langkah lebih awal dalam memperbaiki hubungan dengan sahabat kesayangannya.
"Kenapa?" tanya Cherry dengan wajah datar.
"Dingin apanya? Bukankah kau yang mengabaikanku selama beberapa hari ini?!" sindir Cherry.
"Aku minta maaf. Aku tidak bermaksud begitu. Maafkan aku." ujar Nadine lirih.
Saat kedua wanita itu tengah berbincang, dari kejauhan nampak Genta tengah berjalan gontai memasuki gedung perusahaan.
Begitu melihat Genta yang semakin mendekat, Nadine dan Cherry langsung membuang muka pada CTO baru perusahaan tempat mereka bekerja itu.
Kedua wanita itu melengos dengan kompak dan segera berhambur meninggalkan Genta.
"Hei, aku juga bos kalian! Kenapa pegawai magang sekarang sombong-sombong sekali!" omel Genta berteriak pada Nadine dan Cherry.
"Kau tidak menghampiri pria pujaanmu itu?!" sindir Cherry.
"Pria pujaan apanya? Dia calon suamimu, kan? Bukankah dia sudah melamarmu?" balas Nadine.
"Siapa juga yang mau menikah dengan pria brengsekk yang suka mempermainkan pernikahan sepertinya?!"
"Benar sekali! Gen hanyalah pria brengsekk yang tidak bisa menghargai wanita!" dukung Nadine.
"Kenapa denganmu? Kau bertengkar dengan Gen--"
"Aku sudah tidak ingin lagi mendengar nama itu!" potong Nadine cepat.
"Tos!"
Nadine mengulurkan tangan dan mengajak Cherry untuk berhigh five ria. Teman dari Nadine itu menyambut sumringah tangan sang teman dan bertos riang bersama Nadine.
Kedua wanita itu tertawa geli mengingat kembali pertengkaran mereka yang terjadi hanya karena seorang pria.
"Han terlihat kecewa sekali saat tahu kau dekat dengan Gen.." goda Cherry.
"Kecewa apanya? Aku tidak kenal Han. Biarkan saja dia,"
"Han sangat tampan. Dia juga asisten bos. Kehidupanmu akan terjamin bersama Han," goda Cherry lagi.
"Sudahlah! Aku lebih suka pergi kencan buta bersamamu! Bagaimana kalau kita ikut kencan buta bersama lagi?" ajak Nadine.
"Tentu! Aku akan mencarikan pria yang seribu kali lebih tampan dari Genta." ujar Cherry bersemangat.
Han yang melihat wajah sumringah Nadine, ikut tersenyum kecil dari kejauhan seraya memandangi teman Thrisca itu.
"Han.."
Genta berlari menghampiri Han dengan wajah bermuram durja.
"Ada apa dengan wajah jelekmu itu?! Wajahmu semakin jelek," cibir Han.
"Tolong sampaikan maafku pada Ron kalau besok aku tidak kembali ke kantor. Aku juga ingin meminta maaf pada Thrisca karena aku belum juga berani menemuinya hingga saat ini. Aku juga merasa bersalah pada Nadine dan Cherry. Tolong sampaikan permohonan ma--"
"Jangan berpidato di sini!" omel Han seraya menyumpal mulut Genta dengan sapu tangan.
"Nenek mungkin akan menguburku hidup-hidup besok. Aku mungkin akan dikeluarkan dari anggota keluarga Diez. Aku sudah membuat nenekku malu.." rengek Genta heboh.
"Gen, ini masih terlalu pagi untuk berkeluh kesah! Selesaikan saja pekerjaanmu!" omel Han seraya menoyor kepala Genta.
"Aku sudah tidak pantas hidup lagi. Aku akan membuat malu keluarga Diez.." keluh Genta.
"Gen, berhentilah membuat drama! Menangislah di ruanganmu sana! Banyak karyawan yang melihat di sini!" sentak Han seraya menyeret tubuh sepupu Ron itu menuju tempat sepi.
"Aku sudah tidak ingin hidup lagi, Han! Aku ingin mati saja.." racau Genta makin heboh.
"Gen, aku akan menggulingkanmu dari atap gedung jika kau masih saja merengek! Cepat selesaikan pekerjaanmu!" omel Han seraya melempari sepupu Ron itu dengan sepatu.
***
Bersambung...