
"Cherry!"
Genta menunggu di luar gedung kantor dan menghampiri Cherry saat jam kerja usai.
"Pak Gen?" sapa Cherry seraya mendekati Genta yang melambaikan tangan padanya.
"Bisa bicara sebentar?" pinta Genta.
"Tentu."
Genta berjalan menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Ayo, masuk!" ajak Genta.
Mobil Genta mulai melaju pelan menembus jalanan yang padat di sore yang cerah itu.
"Bagaimana kalau sekalian makan malam? Apa makanan yang kau suka?" tawar Genta.
"Tidak perlu, Pak." tolak Cherry cepat.
"Bulan depan kau akan diangkat menjadi karyawan tetap."
"Apa?!" jerit Cherry kencang hingga membuat jantung Genta terkejut. Pria itu mengerem mendadak di tengah jalan hingga membuat sepupu Ron itu dimaki-maki oleh pengguna jalan lain.
"Bisakah kau tidak berteriak di dekatku?!" omel Genta kesal.
"M-maaf, Pak. Ini benar-benar berita yang mengejutkan,"
"Hanya menjadi karyawan bawah. Apa hebatnya?" cibir Genta.
"Ini sangat berarti banyak bagi saya, Pak." jawab Cherry cuek.
"Cih, hanya demi status karyawan kecil saja kau sudah heboh, bagaimana kalau kau mendapat berita besar seperti dilamar oleh direktur? Apa kau akan melompat dari gunung untuk mengekspresikan rasa senangmu?" ledek Genta.
Cherry hanya diam tanpa menanggapi candaan garing dari Genta. Tak berselang lama kemudian, mobil yang dikendarai Genta berbelok ke salah satu cafe mahal yang memiliki desain interior mewah.
"Hanya makan malam, tidak perlu ke tempat semahal ini, Pak.." protes Cherry lirih.
"Ada hal penting yang ingin kubicarakan padamu. Aku butuh ruang privasi. Aku tidak mungkin menyewa kamar hotel hanya untuk berbicara denganmu, jadi aku memilih cafe ini saja. Ada banyak pilihan private roomnya," terang Genta.
"Memang hal penting apa yang bisa dibicarakan dengan karyawan bawah sepertiku?" gumam Cherry menyipitkan mata.
"Aku mendengarmu!"
Genta masuk ke dalam cafe mahal itu, diikuti oleh Cherry yang mengekor di belakang.
"Pesan saja semua makanan yang kau mau," ujar Genta dengan sok.
"Terima kasih, Pak."
Cherry memesan banyak makanan mahal dengan tidak tahu diri hingga membuat Genta melongo dengan sukses meratapi dompetnya yang bolong seketika.
"Wanita penikmat barang gratis ini benar-benar berniat membuatku bangkrut.." batin Genta lemas.
"Jadi, hal yang ingin kubicarakan itu.. emm.."
Genta memulai berbicara, sementara Cherry sibuk dengan makanannya. Wanita itu asyik mengunyah makanan mahal tanpa menghiraukan ocehan Genta.
"Emm.. anu, itu.."
Genta terus mengoceh tidak jelas dan Cherry nampak masa bodoh dengan atasannya yang mendadak menjadi gagu itu.
"Enn.. jadi.."
"Jadi apa? Apa Bapak punya gangguan bicara? Dari tadi Bapak hanya am, em, anu, itu tidak jelas." cibir Cherry.
"Wanita ini berani sekali meledekku?!" jerit Genta dalam hati.
"Sejak kapan karyawan menjadi lebih galak dari bos?!" sindir Genta.
"Jadi?"
"Jadi, yang ingin kukatakan padamu adalah.. apa kau punya pacar?" tanya Genta.
Cherry tersedak seketika saat mendengar ucapan tak terduga dari atasannya itu.
"M-maksudnya, Pak?"
"Apa kau memiliki calon suami?" tanya Genta lagi.
"P-pertanyaan macam apa ini?!" ujar Cherry tergagap.
"Jawab saja! Punya atau tidak?!"
"Em, mungkin.." jawab Cherry tidak jelas.
"Apa?"
"Bukankah ini hal pribadi? Bos tidak berhak tahu hal-hal pribadi karyawannya! Ini sudah melanggar hak asasi!" omel Cherry tak terima dengan pertanyaan aneh yang dilontarkan oleh Genta.
"Kalau kau tidak punya calon suami, menikahlah denganku!" ujar Genta lantang seraya mengeluarkan kotak cincin dari kantongnya.
Cherry melotot ke arah Genta dengan mata membulat lebar. Wanita itu hampir saja pingsan mendengar perkataan pria yang duduk di hadapannya itu.
"Lamaran macam apa ini? Jangan bercanda--"
"Aku tidak bercanda! Aku akan melepasmu jika kau tidak bahagia dengan pernikahan ini. Aku hanya perlu melangsungkan sebuah pernikahan agar aku tidak membuat nenekku malu. Nenek Aswinda akan membunuhku jika aku membatalkan pernikahan ini seenaknya! Nenekku sudah terlanjur membuat berita pernikahanku menjadi konsumsi publik! Keluargaku akan malu kalau aku tidak jadi menikah.." rengek Genta panjang lebar.
"Itu masalah Bapak! Tidak ada--"
"Kumohon Cherry! Menikahlah denganku! Atau tolong carikan seseorang yang mau menikah denganku. Yang terpenting wanita itu tidak mata duitan dan tidak menuntut hidup mewah dariku. Tolong bantu aku.." pinta Genta dengan wajah memelas.
***
Thrisca dan Ron duduk di ranjang pasien seraya menikmati buah segar di siang hari yang panas. Pria galak suami Thrisca itu sibuk memegang pisau dan apel di tangan, memotong-motongkan buah merah itu menjadi kecil-kecil untuk sang istri.
"Ron, kenapa kau juga memakai baju pasien? Kau juga dirawat di sini?" tanya Thrisca baru sempat bertanya mengenai pakaian sang suami yang sama dengan pakaian yang ia kenakan.
Wanita itu menarik tangan suaminya dan menyingkap lengan panjang baju yang dipakai oleh Ron, memeriksa apakah ada luka di tubuh suami tampannya itu.
"Ron, kenapa dengan lenganmu? Kenapa banyak luka kecil yang sudah mengering?" tanya Thrisca cemas.
Istri Ron itu juga menaikkan kaki sang suami ke ranjang dan menyingkap celana panjang yang dikenakan oleh Ron.
"Em.. itu hanya--"
"Kenapa kakimu juga seperti ini?" tanya Thrisca lagi.
"Emm, anu--"
Thrisca beralih ke bahu dan wajah sang suami. Wanita itu mengusap dahi Ron dan mendapati plester luka berwarna senada dengan kulit yang bertengger di dahi suaminya, tertutup oleh poni rambut Ron.
"Ron, kau terjungkal di aspal?! Kenapa ada banyak luka di tubuhmu?!" omel Thrisca.
"Ini hanya luka kecil--"
"Luka kecil apanya?! Apa yang terjadi padamu sampai kau juga harus memakai baju pasien?!"
"Aku.. hanya, emm--"
"Hanya em apa?!"
Thrisca mencubiti lengan suaminya dengan geram.
"Ron, Thrisca.. apa yang kalian lakukan?" sapa Nyonya Aswinda yang sudah berdiri di ambang pintu ruangan Thrisca.
"Nenek.." balas Thrisca dengan senyum ramah. Wanita itu berhenti mencubiti sang suami dan beralih menyambut nenek mertuanya yang datang berkunjung.
"Kalian sedang makan buah? Nenek membawakan banyak buah untuk kalian,"
Nyonya Aswinda menyodorkan keranjang buah pada sang cucu menantu.
"Kau mau, Ron?"
Thrisca mengambil satu buah jeruk dan mengupaskan buah berwarna kuning itu untuk sang suami.
"Nek, apa terjadi sesuatu dengan Ron? Kenapa tangan dan kakinya penuh luka?" tanya Thrisca.
"Hm?"
Nyonya Aswinda melirik ke arah Ron yang sibuk berkomat-kamit seraya melempar sinyal pada sang nenek agar tidak mengatakan apapun pada sang istri.
"Emm, itu.. Ron hanya.. em, demam. Iya! Demam," jawab Nyonya Aswinda.
"Memangnya demam bisa membuat dahi Ron berdarah?!" sindir Thrisca.
"Sayang, aku tidak apa-apa. Aku hanya terpeleset di kamar mandi saja." ujar Ron asal.
"Ron, buatlah alasan yang lebih masuk akal!"
Thrisca menoyor pelan kepala sang suami.
"Aku baik-baik saja, Sayang. Tidak perlu cemas.."
Ron mendekap manja istrinya di depan Nyonya Aswinda tanpa sungkan.
"Ron, sejak kapan kau menjadi seperti ini?!" ujar Nyonya Aswinda agak merinding melihat cucunya yang bermanja-manja pada sang istri.
"Kenapa? Tidak boleh? Aku hanya memeluk manja istriku, bukan istri tetangga.." cibir Ron.
"Terserah kau saja.." balas Nyonya Aswinda menyerah.
"Nenek hanya ingin memberitahukan kalau pesta pernikahan kalian akan dipercepat." terang nenek dari Ron.
"P-pesta pernikahan? Apa kita perlu mengadakan pesta pernikahan lagi?" tanya Thrisca mulai lupa dengan acara pernikahannya yang akan digelar kembali.
"Tentu saja, Sayang. Aku sudah bilang kan, aku akan memulai kembali semuanya dengan urutan yang benar. Aku ingin membuatkan pesta pernikahan impianmu," ujar Ron.
"Benar, Thrisca. Pernikahanmu dengan Ron dulu pasti tidak memiliki kesan apapun karena kalian belum saling menyukai, kan? Pesta pernikahan seharusnya menjadi momen yang istimewa bagi mempelainya. Kau juga berhak mendapatkan momen istimewa itu," tambah Nyonya Aswinda.
"Biar kuurus sendiri pesta pernikahan istriku," tukas Ron.
"Nenek yang akan menyiapkan semuanya. Nenek akan mengadakan pesta pernikahan kalian bersamaan dengan pesta pernikahan Gen. Bagaimana?" tanya Nyonya Aswinda.
"Apa?"
Ron mengerutkan keningnya dan menatap sang nenek dengan tatapan tidak suka.
"Kalian hanya perlu hadir sebagai mempelai." ujar Nyonya Aswinda tegas.
"Nek, untuk apa membuat acara yang bersamaan dengan Gen--"
"Ron, jangan membantah!" bentak Nyonya Aswinda hingga membuat Thrisca terkejut. Istri Ron itu hampir saja tersedak apel karena suara bentakan sang nenek.
"Nenek Ron menyeramkan sekali.." batin Thrisca merinding ketakutan.
"Pesta pernikahannya akan diadakan dua bulan lagi."
***
Bersambung...