DEAR, MY RON

DEAR, MY RON
BAB 94



Kediaman Ron Diez.


"Gen, kau tidak sibuk--"


"Aku sibuk!" potong Genta cepat.


Ron yang berjalan lemas menghampiri Genta, langsung mendapat ucapan ketus dari sepupunya yang tengah bersantai memainkan ponsel.


Pria itu nampak pucat dan tidak memiliki tenaga untuk memukul wajah tampan Genta. Ron hanya sanggup melayangkan bantal sofa yang terletak tak jauh dari tempat Genta berbaring santai untuk memberi sepupunya itu pelajaran.


Bukk!!


"Ron, jangan menggangguku!!" teriak Genta pada sang tuan rumah setelah ia mendapat hadiah lemparan bantal dari sang sepupu.


"Apa pengungsi sekarang banyak yang tidak tahu malu?!" sindir Ron dengan wajah sinis.


"Kau mau apa?! Apa? Apa?!"


"Belikan aku mangga.." ujar Ron datar.


"Mangga apanya?! Minta belikan supir sana!" tolak Genta.


"Aku ingin kau yang beli," paksa Ron dengan suara lemah.


"Kenapa dengan wajahmu?!" tanya Genta keheranan melihat wajah pucat Ron.


"Aku.. emm.."


Belum sempat Ron menyelesaikan kalimatnya, pria itu sudah berlari kalang kabut menuju toilet.


Genta yang penasaran dengan keadaan Ron, mengikuti sepupunya itu dan mendengar suara muntahan dari dalam toilet dimana Ron berada.


"Ron, kau baik-baik saja?!" tanya Genta dari luar.


"Mas Gen?"


Thrisca yang baru saja keluar kamar, menyapa Genta yang mematung di dekat toilet ruang tengah rumah Ron.


Wanita itu melirik ke arah toilet begitu ia mendengar suara orang muntah dari dalam kamar kecil itu.


"Ron ada di dalam?" tanya Thrisca dengan wajah cemas.


"Begitulah," jawab Genta asal.


"Ron,"


Thrisca segera masuk ke toilet untuk melihat keadaan sang suami.


Wanita hamil itu memapah suaminya yang masih mual dan berwajah pucat. Thrisca mendudukkan Ron dengan hati-hati di sofa empuk dan segera berlarian mengambilkan air minum hangat serta minyak angin.


"Sebenarnya siapa yang hamil di sini?!" sindir Genta.


"Gen, belikan aku mangga.." rengek Ron pada Genta tanpa mempedulikan sindiran sepupunya itu.


"Ron, jangan membuatku jijik!"


"Sayang, kau mau mangga? Aku bisa belikan," ujar Thrisca yang kembali menghampiri sang suami dengan membawa minuman hangat.


"Kau tidak boleh pergi kemanapun!"


Ron yang sudah lemas, masih sempat-sempatnya berteriak pada sang istri yang menawarkan diri untuk membelikan mangga.


"Aku juga ingin mangga, Ron. Sekalian saja aku yang beli,"


"Tidak boleh! Kau sedang hamil, mana boleh berkeliaran sendirian di luar sana!"


"Ron, aku hanya akan membeli di toko buah paling dekat. Atau kita pesan saja mangganya, tidak perlu keluar rumah." usul Thrisca.


"Aku ingin mangga muda yang dibelikan langsung oleh Gen. Aku tidak mau mangga yang lain," rengek Ron bak wanita hamil ngidam.


"Apa-apan kau ini?! Kau ini pria! Aku juga bukan suamimu! Kenapa aku harus repot mengurus pria ngidam sepertimu!!" omel Genta geram.


"Aku saja yang belikan, ya? Nanti aku pilihkan yang muda. Aku juga ingin mangga muda yang dibelikan seseorang. Tapi sayangnya tidak ada yang mau membelikan untukku," sindir Thrisca.


"Kau ingin dibelikan mangga? Kenapa tidak bilang? Aku akan belikan sekarang," ujar Ron bersiap untuk beranjak dari sofa.


"Sayang, kau masih lemas. Istirahat saja, aku bisa beli sendiri.." ujar Thrisca pada Ron seraya melirik Genta.


Telinga sepupu Ron itu makin panas mendengar drama pasangan suami-istri yang terus melayangkan sindiran padanya hanya karena mangga.


"Sayang sekali ada pria sehat tidak peka yang membiarkan wanita hamil harus bersusah payah sendirian hanya untuk membeli mangga," sindir Thrisca.


"Kalau saja aku tidak mual seperti ini, aku pasti sudah membelikanmu mangga sejak tadi. Maaf, sayang.." ujar Ron semakin mendramatisir.


Genta yang sudah tidak tahan mendengar cuitan suami-istri itu, menggebrak meja dengan keras untuk menghentikan segala ocehan yang membuat kepala pria itu mendidih.


"Kalian ini benar-benar menyebalkan! Awas kalau mangganya sampai tidak habis! Aku akan belikan sekantong penuh sampai perut kalian meledak karena mangga!" ujar Genta mengomel seraya berjalan keluar rumah dengan terpaksa untuk memenuhi keinginan pasangan suami-istri itu.


Thrisca dan Ron asyik berhigh five ria ketika mereka melihat Genta yang berangkat membelikan mangga.


"Sayang, lain kali bilang padaku kalau kau mau sesuatu. Aku bisa belikan," ujar Ron seraya mendekap erat tubuh istrinya.


"Biar saja Mas Gen yang belikan. Kau sendiri juga kenapa tiba-tiba ingin mangga muda?"


"Entahlah. Aku juga tidak terlalu suka buah asam, tapi rasanya aku benar-benar ingin melihat mangga sekarang." ujar Ron heran.


"Ron, kau juga ngidam?" tanya Thrisca seraya menahan tawa.


"Mungkin.." jawab Ron disertai cengiran kuda.


***


Ron dan Thrisca asyik menikmati mangga muda yang berhasil dibawakan oleh Genta. Pasangan suami-istri itu duduk di taman belakang seraya bercengkrama bersama dengan mulut penuh mangga asam.


Sementara, korban ngidam dari pasangan suami-istri itu hanya bisa duduk dari jauh memandangi mereka dengan tatapan iri.


"Lebih baik aku pulang saja.." ujar Genta lemas.


Pria itu kembali memikirkan kata-kata sang ibunda yang sudah menyiapkan calon istri untuknya.


Meskipun Genta tidak memiliki rencana untuk menikah dalam waktu dekat, namun pria itu juga tidak bisa terus-terusan menaruh harapan pada wanita yang sudah bersuami. Terlebih lagi wanita itu adalah istri dari sepupu kesayangannya sendiri.


Thrisca melirik ke arah Genta dari kejauhan dan menangkap wajah murung dari pria malang itu. Wanita hamil itu beranjak dari bangku tempat duduknya, menuju tempat Genta duduk seorang diri.


"Kau mau kemana?" tanya Ron yang melihat sang istri bangkit dari bangku.


"Aku hanya ingin berbicara sebentar dengan Mas Gen," pamit Thrisca.


"Bicara apa--"


"Ron, aku hanya ingin bicara dengan Mas Gen. Tidak boleh?!" potong Thrisca cepat.


Ron hanya memasang wajah cemberut tanpa merespon perkataan sang istri. Thrisca melayangkan kecupan di pipi suaminya seraya mengacak-acak rambut Ron gemas.


Wanita itu duduk di hadapan Genta yang tengah melamun memikirkan pernikahan yang sudah diaturkan oleh sang ibu.


"Mas Gen," panggil Thrisca seraya menepuk pundak Genta pelan.


"Hm? Eh, gendut?! Kenapa? Kau butuh sesuatu lagi?" tanya Genta agak tersentak kaget melihat Thrisca yang sudah duduk tepat di depannya.


"Mas Gen melamun?"


"Tidak! Melamun apanya?! Jangan sok tahu!" elak Genta seraya mengacak-acak lembut rambut Thrisca.


"Maaf, aku dan Ron sudah membuatmu repot.."


"Repot apanya? Aku tidak melakukan apapun untuk Ron. Aku melakukannya untukmu,"


Thrisca melempar senyuman manis pada pria tampan yang sudah ia anggap sebagai kakak itu.


Wanita hamil itu benar-benar bersyukur memiliki ipar sebaik Genta yang sangat perhatian dan menyayanginya seperti keluarga.


"Kalau ada masalah, ceritakan saja padaku. Bukankah aku juga adikmu?"


Genta melirik Thrisca dengan tatapan penuh curiga. Pria itu mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan dan mendapati Ron yang melotot padanya dari kejauhan.


Pria jangkung itu menggeser duduknya agak menjauh dari Thrisca setelah ia menerima tatapan penuh ancaman dari suami wanita yang tengah duduk bersamanya.


"Terjadi sesuatu padamu? Kau terlihat murung, Mas Gen. Apa aku sudah membuatmu kesal?" tanya Thrisca dengan wajah penuh sesal.


"Mana mungkin kau membuatku kesal? Aku sangat senang bisa melihatmu setiap hari di rumah menyeramkan ini,"


"Rumah menyeramkan?"


"Rumah ini hanya dihuni oleh Ron dan pelayan. Setiap kali aku mengunjungi Kakek, aku selalu menginap di sini. Suasananya dari dulu sama saja. Kau pikir apa yang bisa dilakukan dua pria lajang di dalam rumah?!" terang Genta.


"Tapi semuanya nampak berbeda saat seorang gadis ikut menyemarakkan tempat ini. Kau sudah mengobati rasa bosanku, Thrisca.." imbuh Genta seraya melempar senyum pada istri sepupunya itu.


"Benarkah kehadiranku seistimewa itu?" tanya Thrisca penuh haru.


"Tentu saja. Aku selalu mendambakan adik perempuan. Kau adalah adik perempuan impianku.."


Genta menatap Thrisca tanpa berkedip. Pria itu memandangi wanita hamil di depannya dengan sorot mata hangat penuh kasih.


Ron yang melihat sang istri berbincang dengan Genta, semakin gusar melihat keakraban pria itu bersama wanitanya.


"Gen tidak mungkin mempunyai pikiran macam-macam tentang istriku, kan?" gumam Ron curiga.


Lama-kelamaan keberadaan Genta di rumahnya membuat suami dari Thrisca itu merasa tidak tenang dan terancam.


***


Bersambung...