
"Sayang, sudah siap?"
Ron membuka pintu kamar dan mendapati sang istri yang sudah bersiap dengan dandanan kasual bersama tas kecil yang sudah tersampir di pundak mulus wanita itu.
"Sudah.." ujar Thrisca bersemangat.
Suami Thrisca itu nampak gemas melihat sang istri yang mengenakan sweater besar polos, rok selutut berwarna gelap dipasangkan dengan sneaker polos ditambah dengan jepit rambut kecil yang menghiasi rambut. Thrisca nampak seperti remaja yang hendak berkencan dengan pacar dan tidak terlihat seperti istri yang tengah hamil muda.
Pasangan suami-istri itu sengaja mengenakan sweater couple untuk kencan kali ini. Ron bahkan juga memakai sepatu sneaker yang memiliki warna senada dengan sepatu yang dikenakan sang istri.
"Ron, kita terlihat kekanakan sekali.." ujar Thrisca seraya tertawa kecil melihat penampilannya yang nampak seragam dengan sang suami.
"Aku juga sebenarnya tidak ingin berpenampilan norak seperti ini.." ungkap Ron lirih.
"Lalu kenapa kau membelikan baju pasangan untukku? Kalau tidak suka, lepas saja!"
Thrisca mendekati sang suami dan menarik sweater Ron untuk melepas pakaian itu.
"Enak saja! Aku sudah membelikannya untukmu! Tentu saja harus dipakai!"
Ron segera menjauh saat sang istri menarik pakaiannya.
"Kau pasti melihat internet lagi, kan?! Kau membeli baju pasangan ini karena kau melihat saran kencan di internet, kan?" omel Thrisca.
"Memangnya kenapa kalau aku melihat internet? Kebanyakan wanita suka dengan baju couple seperti ini. Kau tidak suka?" tanya Ron dengan wajah manyun.
Thrisca hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah sang suami.
"Ron, kau ini benar-benar payah dalam berkencan!" ejek Thrisca seraya menoyor kepala pria itu pelan.
"Kau ingin kemana? Aku akan menemanimu. Aku tidak tahu gaya kencan wanita.. emm.. wanita b-biasa sepertimu," ujar Ron agak tergagap.
"Kau ingin bilang kalau kau tidak tahu gaya kencan wanita miskin sepertiku. Begitu, kan?!" sindir Thrisca.
"Bukan begitu, Sayang.."
"Aku memang tidak bisa mengikuti gaya kencan pria bangsawan sepertimu. Aku tidak suka kencan di hotel mewah! Aku tidak terbiasa memakan makanan aneh dengan banyak sendok dan garpu! Aku tidak pernah masuk ke bar mahal! Kau puas?!"
"Astaga, temperamen wanita hamil benar-benar mengerikan.." keluh Ron dalam hati.
Pria itu tidak membalas perkataan sang istri yang tengah mengomel. Ron mendekat ke arah Thrisca, kemudian mengusap-usap lembut kepala wanita hamil itu seraya melempar senyuman manis.
"Kenapa kau tersenyum seperti itu padaku? Kau juga tidak terbiasa dengan hadiah murah, kan? Karena itu kau membuang syal rajutanku ke tempat sampah!" omel Thrisca makin menjadi-jadi.
"Me-membuang apa?!" tanya Ron bingung.
"Tidak perlu berpura-pura! Kau yang membuat syal rajutanku yang belum jadi, kan?! Aku melihatnya di tempat sampah! Siapa lagi yang membuangnya kalau bukan kau!"
Wanita itu kembali mengingat jahitannya yang belum selesai sempat dibuang oleh Ron ke tempat sampah.
"Jahitan? Maksudmu benang aneh itu?"
"Benang aneh?! Aku sudah bersusah payah belajar merajut dan kau menyebutnya benang aneh?!"
Thrisca mengambil bantal dan memukul-mukulkan benda empuk itu ke badan sang suami.
"Aku tidak tahu kalau itu milikmu! Kupikir itu hanya benang yang sudah tidak terpakai.." ujar Ron seraya berlari menghindar dari amukan sang istri.
"Aku bahkan begadang di kamar mandi setiap malam, tapi kau seenaknya membuang hasil kerja kerasku!"
Ron menatap sang istri tanpa berkedip dan segera menangkap ayunan bantal yang dipukulkan padanya.
"Begadang?" tanya Ron dengan sorot mata tajam menatap sang istri.
Thrisca segera mengalihkan pandangan dan menyembunyikan wajahnya dari sang suami. Wanita itu berhenti memukulkan bantal pada Ron dan sibuk merapikan rambut tanpa menghiraukan ucapan Ron.
"Jadi, kau begadang di kamar mandi hanya untuk menyiapkan syal rajut itu untukku?" tanya Ron penuh haru.
"Siapa juga yang begadang.." sanggah Thrisca lirih.
Ron berjongkok di hadapan sang istri dan memeluk perut rata ibu hamil itu. Calon daddy itu menyingkap kain yang menutupi perut Thrisca dan mendaratkan ciuman bertubi-tubi pada calon buah hatinya yang tengah tumbuh di perut sang istri.
"Sayang, lihat apa yang sudah dilakukan mommymu. Kenapa dia harus mengajakmu begadang setiap malam? Lain kali, kau harus menjaga mommy dengan baik.." ujar Ron berbicara dengan calon bayi yang ada di perut Thrisca.
"Ron, bayi di perutku belum berbentuk. Kau berbicara dengan biji kacang?" ejek Thrisca.
"Biji kacang apanya? Kau mengatai anakmu sendiri?!"
Perdebatan kecil Ron dan Thrisca kini sudah berubah menjadi perbincangan penuh tawa antara pasangan suami-istri itu.
Ron segera menggandeng tangan sang istri keluar untuk menikmati kencan bersama di hari ulang tahun mereka.
"Ron, pakai ini!"
Thrisca mengambil masker dari dalam tas kecilnya dan memakainya benda kecil itu untuk menutup wajah suaminya.
"Sayang, sampai kapan aku harus memakai benda seperti ini? Aku bukan artis! Tidak akan ada orang yang mengenaliku!" protes Ron.
"Pakai saja!" paksa Thrisca. Wanita itu juga ikut mengenakan masker seperti sang suami.
Ron menarik tangan sang istri dan hendak membukakan pintu mobil, namun wanita itu justru kembali menutup pintu yang akan dibuka oleh Ron.
"Kenapa lagi?"
"Tidak perlu naik mobil. Naik kendaraan umum saja," ajak Thrisca.
"Kendaraan umum apanya?!" tanya Ron dengan wajah memelas.
"Kau bilang kau ingin berkencan dengan gaya wanita miskin, kan? Aku bukan putri pejabat, aku bepergian dengan kendaraan umum. Kau tidak mau menemaniku naik kendaraan umum?" pinta Thrisca.
"Tapi kau sedang hamil, Sayang. Tidak nyaman kalau naik kendaraan umum,"
"Ron, banyak wanita hamil di luar sana naik kendaraan umum dan mereka baik-baik saja." bela Thrisca.
"Aku tidak peduli dengan wanita hamil lain. Aku hanya peduli dengan wanita hamil yang sudah menjadi istriku."
"Sayang, naik kendaraan umum hanya akan membuatmu semakin lelah--"
"Ron, kau bilang aku boleh melakukan apapun hari ini?!" potong Thrisca cepat.
Wanita itu menatap sang suami dengan wajah memelas. Manik mata Thrisca membulat lebar dan menatap sang suami dengan mata bening nan cantik yang membius.
Ron menghela nafas sejenak. Pria itu hanya bisa mengalah tanpa bisa membantah keinginan sang istri.
"Baiklah, kau ingin naik apa?" tanya Ron menyerah.
"Bagaimana kalau kereta?" ajak Thrisca.
"Kereta apa? Tempat itu sesak dan tidak nyaman. Pakai taksi sa--"
"Ron!!" rengek Thrisca mulai kesal.
"Baiklah!"
Pasangan suami-istri itu berjalan kaki keluar gerbang menuju stasiun kereta yang berada tak jauh dari rumah Ron.
Thrisca memeluk erat lengan sang suami seraya menikmati sinar matahari pagi yang masih hangat dan menyehatkan.
"Mau kugendong? Stasiunnya agak jauh," tawar Ron.
"Tidak perlu, Ron. Kenapa harus repot menggendong segala?! Aku ingin berjalan lebih lama bersamamu," ujar Thrisca manja.
Ron berjalan sepelan mungkin mengikuti langkah kecil kaki sang istri. Pria itu terus menatap ke arah wanita yang memeluk lengannya seraya berjalan santai menikmati udara pagi.
"Kau ingin jalan-jalan pagi setiap hari? Aku bisa menemanimu," tawar Ron.
"Kandunganku belum membesar, Ron. Nanti saja kalau perutku sudah agak membesar,"
"Memangnya jalan pagi hanya untuk ibu hamil besar?!" cibir Ron.
"Kenapa? Kau ingin jalan-jalan pagi denganku?" goda Thrisca.
"A-aku hanya kasihan melihatmu yang bosan terus berada di rumah! Kalau tidak mau ya sudah!"
"Tentu saja aku mau.." jawab Thrisca cepat.
Pasangan suami-istri itu berjalan sepelan mungkin menuju stasiun. Ron dan Thrisca nampak tidak rela jika acara jalan-jalan mesra mereka berakhir dengan cepat.
"Sayang, lihat! Stasiunnya penuh. Kau bisa tergencet jika masuk ke sana,"
Ron masih berusaha membujuk Thrisca agar tidak menaiki kendaraan umum.
"Ada kursi prioritas untuk ibu hamil, Ron. Tidak perlu khawatir," ujar Thrisca tenang.
"Dasar wanita keras kepala!" omel Ron dalam hati.
"Ayo, masuk!"
Thrisca menarik tangan sang suami masuk ke salah satu gerbong kereta yang sudah berhenti di hadapan mereka.
Ron terus mendekap tubuh mungil sang istri agar wanita itu tidak bersenggolan dengan penumpang lain yang berdiri berdesakan di gerbong.
"Ke sini, Sayang.."
Ron mengajak sang istri menghampiri salah satu bangku prioritas yang berisi penuh dengan anak muda.
"Hei!"
Ron menatap salah satu pria muda yang tengah duduk santai memainkan ponsel di bangku yang penuh.
Pria yang tengah duduk itu mendongakkan kepala dan melihat Ron yang sudah siap mengamuk di gerbong kecil itu.
"Apa matamu buta? Kau tidak lihat kalau bangku ini hanya untuk kaum disabilitas, balita, orang tua dan ibu hamil?!" sindir Ron.
"Ron, jangan begitu.." bisik Thrisca.
"Apa kakimu patah?! Atau kau membawa bayi tak terlihat? Atau kau juga hamil?!" sindir Ron sinis.
"Ron, bicara baik-baik saja.." bisik Thrisca lagi mencoba menenangkan sang suami.
"Kenapa? Kau ingin mendapatkan bangku untuk pacarmu?" ujar pria itu dengan nada mengejek.
"Dasar bedebah sial--"
"Ron, sudahlah.."
Thrisca menarik tangan sang suami yang mengepalkan tinju untuk memukul pria tidak tahu malu itu.
"Istriku sedang hamil! Menyingkirlah dari bangku ini sebelum aku menyingkirkanmu keluar dari kereta ini!" pekik Ron hingga membuat perhatian penumpang gerbong itu tertuju padanya.
"Dasar anak muda, tidak mau mengalah dengan wanita hamil!" bisik beberapa penumpang mulai kesal dengan pria yang duduk di bangku prioritas itu.
"Cih, menyebalkan!" pria itu berdecak kesal dan terpaksa bangkit dari bangku sebelum penumpang lain ikut menyeretnya dari tempat duduk itu.
"Astaga, Ron benar-benar membuatku malu! Seharusnya aku tidak mengajak pria ini naik kendaraan umum," sesal Thrisca dalam hati.
"Duduk sini, Sayang.."
Ron mendudukkan sang istri dengan senyum sumringah setelah berhasil mendapatkan bangku untuk istri dan anak tercintanya.
"Ron, lain kali bicara baik-baik saja." ujar Thrisca seraya menggenggam tangan sang suami yang berdiri di hadapannya.
"Bicara baik-baik apanya?! Orang-orang seperti itu harus diberi pelajaran! Aku akan benar-benar menghajarnya jika aku tidak bisa mendapatkan bangku untukmu," omel Ron bersemangat.
Thrisca merasa malu sekaligus terharu melihat sikap suaminya yang begitu perhatian dan menyayanginya. Wanita itu tidak bisa berhenti tersenyum memandangi sang suami yang masih dilanda amarah, membicarakan pria yang baru saja beradu mulut dengan Ron.
***
Bersambung...