
Thrisca kembali ke kamar dengan langkah lesu nan gontai. Setelah pertemuan keluarga selesai, Ron tidak diperbolehkan tinggal berlama-lama di kediaman Nyonya Aswinda.
Cucu dari Tuan Hasan itu terusir dengan mulus dari istana neneknya tanpa bisa mengucapkan sepatah katapun pada sang istri.
Pria yang masih sibuk mencari cincin itu, kembali mengamuk selama perjalanan pulang dan memarahi supir yang tidak bersalah.
"Sial! Sebenarnya Icha itu istri siapa?! Kenapa aku tidak boleh membawa pulang istriku sendiri?!" amuk Ron seraya berteriak kencang di dalam kendaraan roda empat yang tengah ia tumpangi.
Ron merogoh kantong dan menghidupkan ponsel kecil miliknya. Pria itu ingin sekali menghubungi sang istri dan meminta maaf untuk pertengkaran mereka tadi pagi, namun ia takut Thrisca tidak akan menjawab telepon darinya.
Suami Thrisca itu hanya bisa menggerutu seorang diri untuk melampiaskan kekecewaannya pada sang nenek yang masih saja menahan istri tercintanya.
***
Hari sudah larut. Kediaman Nyonya Aswinda sudah sepi sunyi tanpa suara seorang pun. Lampu-lampu terang yang menghiasi kediaman mewah itu juga berangsur-angsur padam, menyisakan beberapa lampu kecil yang dibiarkan menyala di bagian depan rumah.
"Kenapa Ron tidak menghubungiku? Apa dia masih marah padaku?! Tapi dia tadi menggenggam tanganku.. seharusnya dia sudah tidak marah, kan?" gumam Thrisca.
Wanita itu memandangi layar ponselnya dan menatap wajah tampan sang suami yang terpampang di layar.
"Ron, apa kau tidak merindukan anak kita? Sudah dua malam kau tidak bersamaku, kau tidak rindu padaku?" celoteh Thrisca pada foto sang suami.
Wanita itu mulai merebahkan diri di ranjang dan menarik selimut tebal untuk mengerubuti seluruh tubuhnya. Selama beberapa jam, Thrisca terus berguling kesana-kemari di ranjang luas yang ia tempati seorang diri.
Kreekk!!
Thrisca langsung terperanjat kaget begitu ia mendengar suara pintu jendela yang berderit di malam yang sunyi itu.
"S-siapa itu?!" teriak Thrisca seraya menjauh dari jendela besar yang bertengger di kamarnya.
Wanita itu tidak mendengar jawaban apapun, namun suara deritan jendelanya terdengar semakin kencang. Terlihat jelas seseorang tengah mencoba membuka paksa pintu jendela besar yang terpasang tak jauh dari tempatnya berdiri.
Wanita yang tengah berbadan dua itu mulai berkeringat dingin dan gemetar ketakutan hingga ia tak sanggup berlari cepat meninggalkan kamar.
Istri Ron itu berusaha menghidupkan lampu dan mencari benda keras yang bisa ia gunakan sebagai tameng untuk menghadapi penyusup yang masuk ke dalam kamarnya.
Thrisca mengambil kunci pintu kamarnya dengan panik hingga ia kesulitan sendiri membuka pintu kamar tempatnya beristirahat itu.
Wajah Thrisca semakin menegang begitu ia mendengar suara langkah kaki seseorang yang sudah berhasil masuk ke dalam kamarnya. Tubuh wanita itu makin gemetar hebat hingga ia tak mampu lagi membuka pintu yang sudah terpampang di depan matanya.
Thrisca memejamkan mata dan bersimpuh di lantai, berharap penyusup yang masuk ke kamarnya itu tidak akan melukainya. Air matanya mengucur deras, beriringan dengan keringat dingin yang membasahi dahinya.
"T-tolong jangan sakiti aku!" ujar Thrisca dengan suara bergetar.
Penyusup itu berjongkok di hadapan Thrisca, kemudian meraih tengkuk wanita itu dan mendaratkan kecupan liar di bibir merah wanita yang tengah berbadan dua itu.
Thrisca yang menerima ciuman tiba-tiba itu, langsung membuka mata dan melayangkan tamparan keras ke wajah pria kurang ajar yang sudah mencium bibirnya.
"Jangan kurang ajar!" pekik Thrisca tanpa berani melihat wajah penyusup yang membuatnya ketakutan itu.
Aww!!
"Sayang, ini aku.."
Thrisca langsung membuka mata begitu ia mendengar suara yang familiar. Suara seorang pria yang ia rindukan. Suara dari ayah calon bayi yang tengah ia kandung.
"Ron?!"
Thrisca langsung melompat ke pelukan suaminya begitu ia melihat sosok Ron dengan jelas di depan matanya.
"Ron, kau membuatku takut!" omel Thrisca dengan air mata bercucuran.
"Maaf, Sayang.. aku sudah membuatmu ketakutan,"
Ron mendekap erat sang istri seraya mengusap lembut rambut wanita kesayangannya itu.
"Kupikir kau masih marah padaku. Maafkan aku, Ron. Aku tidak akan berkata seperti itu lagi.."
"Tidak, Sayang. Aku yang salah. Tidak seharusnya aku mengomel padamu dan anak kita.." sesal Ron.
Ron kembali melanjutkan ciumannya yang sempat tertunda karena tamparan sang istri. Pria itu nampak bersemangat mencumbu sang istri yang sangat ia rindukan.
Pria berhasrat besar itu bahkan melucuti pakaian sang istri tanpa sungkan dan membiarkan bibir serta jemarinya menyambangi seluruh kulit tubuh istrinya yang sudah bertelanjang bulat.
"Ron, berhenti.."
Thrisca mendorong pelan tubuh suaminya yang masih menautkan bibir di gundukan dada besarnya.
Wanita itu nampak cemas suaminya akan kebablasan, mengingat baru beberapa hari yang lalu sang suami baru saja melakukan ritual "tancap bendera" bersamanya.
"Kenapa?"
"Kau boleh melakukan sesukamu, tapi ini tidak boleh.." ujar Thrisca seraya menutupi **** ************* dengan tangan.
"Hei--"
"Ron, aku sedang hamil. Dan kau baru saja mendapat jatah beberapa hari yang lalu. Kita tidak bisa sering-sering bercinta saat aku sedang hamil, Ron.."
"Baiklah.." jawab Ron dengan wajah cemberut.
"Kau ke sini karena merindukanku, kan? Bukan hanya karena merindukan tubuhku, kan?" selidik Thrisca.
"Mana mungkin aku begitu, Sayang. Aku benar-benar merindukanmu.."
"Ron, nenek bilang beberapa hari lagi ada acara pertunangan relasi bisnis. Besok nenek juga akan menerbitkan artikel untuk mengumumkan kehamilanku. Nenek bilang, aku boleh datang menemanimu ke acara itu.."
"Kau yakin ingin hadir di acara tidak penting seperti itu? Aku lebih suka menemanimu beristirahat di rumah.." ujar Ron cuek.
"Kau tidak akan hadir?"
"Aku akan hadir kalau kau mau menemaniku," ujar Ron seraya mengecup kening sang istri.
Pria itu membopong tubuh semok Thrisca menuju ranjang dan membaringkan tubuh telanjang wanita itu di kasur empuk yang melintang luas di kamar besar itu.
Ron memeluk erat sang istri yang mulai memejamkan mata dalam dekapannya. Pria itu tak henti-hentinya mencuri cium sang istri yang sudah terlelap dalam pelukan bahu lebarnya.
"Sayang, bagaimana kabarmu? Daddy benar-benar merindukanmu.."
Ron menciumi perut sang istri yang sudah berkelana di alam mimpi. Calon daddy itu terus mengusap perut Thrisca dan mengajak biji kacang di perut istrinya itu berbincang semalaman.
"Besok Daddy akan memperkenalkanmu dan mommymu ke dunia Daddy.. cepatlah datang ke dunia kami, Nak."
***
Thrisca duduk manis di depan cermin rias dengan wajah gugup. Wanita itu sudah berdandan cantik dan siap melakukan pemotretan untuk artikel yang akan memuat berita mengenai dirinya.
Ron yang sudah kabur dari rumah sang nenek sejak pagi, belum juga datang menjemput istrinya di kediaman Nyonya Aswinda.
"Nek, Ron belum datang?" tanya Thrisca cemas.
"Tidak perlu gugup, Sayang. Kau hanya akan mengobrol biasa dengan wartawan. Nenek hanya mengundang satu perusahaan media untuk mewawancaraimu. Wawancaranya juga tertutup. Ron akan menemanimu di sana," ujar Nyonya Aswinda menenangkan Thrisca.
"Besok aku juga harus datang ke acara relasi bisnis ayah?"
"Tentu. Kau harus hadir menemani Ron. Ini akan menjadi kemunculan pertamamu di publik setelah berita kehamilanmu dirilis."
"Bagaimana kalau aku mendapat respon buruk? Pernikahanku dan Ron dulu juga sempat menjadi olok-olokan media.." ungkap Thrisca cemas.
"Tidak perlu khawatir. Bagaimanapun respon masyarakat mengenai pemberitaan ini, tidak akan berpengaruh apa-apa bagi keluarga kita."
Ron yang sudah sampai di istana Nyonya Aswinda, telah berdiri di ambang pintu kamar yang ditempati oleh sang istri.
Pria itu membulatkan mata lebar-lebar, menatap sang istri yang nampak cantik nan menawan dalam balutan gaun selutut dengan model sederhana namun elegan.
Thrisca semakin terlihat segar dan cantik saat menampilkan rambut panjang terurai yang berhiaskan jepit bunga warna-warni.
"Ron.." sapa Thrisca pada sang suami yang sudah muncul di balik pintu.
"Siapa yang menyuruhmu berdandan seperti ini?!" ledek Ron.
"Kenapa? Aku tidak cantik?"
"Benar! Kau sangat jelek!" ejek Ron seraya mengecup singkat bibir sang istri.
"Ron! Nanti lipstik istrimu bisa rusak!" ujar Nyonya Aswinda seraya memukul belakang kepala sang cucu dengan keras.
"Nek! Nanti rambutku bisa rusak!" omel Ron balik seraya merapikan setelan jas yang ia kenakan.
"Nek, apa yang harus kukatakan jika mereka menanyakan penampilanku yang sangat berbeda? Mereka tidak akan menuduhku melakukan operasi plastik, kan?" tanya Thrisca agak panik.
"Sayang, ada aku di sini. Untuk apa kau bertanya pada nenek tua ini?! Aku akan mengatur segalanya! Aku akan menghancurkan perusahaan media itu jika mereka berani memuat berita buruk tentangmu!" tukas Ron bersemangat.
"Ikuti saja apa kata suamimu yang sok pintar ini. Ron pasti tahu apa yang harus dia lakukan," jawab Nyonya Aswinda.
Ron menggandeng tangan sang istri keluar dari kediaman sang nenek. Suami Thrisca itu memboyong istrinya ke kantor perusahaannya untuk melakukan wawancara.
Ron sengaja membawa Thrisca ke perusahaannya untuk memamerkan istri cantiknya terlebih dulu pada seluruh karyawan kantor pusat Diez Group.
"Kenapa tidak wawancara di rumah saja, Ron?" tanya Thrisca yang sudah terduduk di dalam mobil bersama sang suami dan hendak berangkat menuju perusahaan.
"Aku harus mengenalkanmu dulu pada pegawaiku. Mereka harus tahu siapa nyonya majikan yang mereka layani selama ini," ujar Ron antusias.
Jantung Thrisca berdegup semakin kencang dan tak karuan saat mobil yang ia tumpangi hampir sampai di gedung perusahaan sang suami.
Thrisca melirik ke arah jendela mobil dan melihat suasana di luar gedung yang sudah ramai dengan karyawan. Karpet merah terbentang di pintu masuk dan para karyawan Diez Group berjejer rapi, siap menyambut kedatangan Nyonya Ron Diez.
"Ron, untuk apa karpet merah itu?!"
"Tentu saja untukmu, Sayang."
"Kau berlebihan sekali! Ini kan bukan kunjungan presiden!" omel Thrisca seraya memukuli lengan sang suami.
"Bukan kunjungan presiden, tapi kunjungan ratuku."
Ron kembali melayangkan kecupan singkat di bibir merah sang istri.
Pria itu keluar dari mobil terlebih dulu dan membukakan pintu untuk istri tercintanya.
Thrisca menarik nafas dalam-dalam sebelum ia menapakkan kaki keluar dari kendaraan roda empat yang ia naiki.
"Selamat datang di duniaku, Nyonya Ron.." ujar Ron mengulurkan tangan pada sang istri seraya melempar senyuman manis pada wanita kesayangannya itu.
***
Bersambung...