DEAR, MY RON

DEAR, MY RON
BAB 123



Pagi hari, Thrisca bangun terlebih dulu dan berkeliling di seluruh sudut rumah sang suami. Wanita itu berjalan kesana-kemari ke setiap ruangan namun ia tidak mendapati siapapun di istana besar milik Ron itu.


"Kemana semua orang?" gumam Thrisca heran.


Wanita itu mengetuk pintu kamar Genta, namun tidak juga ada jawaban dari dalam ruangan tempat Genta biasa beristirahat. Thrisca beralih ke kamar asisten rumah tangga, namun ia juga tidak menemukan satu pun asisten rumah tangga di kediaman sang suami.


"Mas Gen tidak ada, Bi Inah juga tidak terlihat. Penjaga keamanan juga menghilang. Apa mereka semua sudah tidak bekerja di sini?" gumam Thrisca bingung.


Tak ingin lagi mencari orang-orang, Thrisca pun mulai bergerak mengurus pekerjaan rumah karena tidak ada satupun asisten rumah tangga.


Wanita itu menyambangi dapur dan hendak menyiapkan sarapan sederhana sebelum sang suami terbangun.


Ron yang mulai menggeliat di kasur, meraba-raba seluruh sisi ranjangnya dengan mata tertutup untuk mencari keberadaan sang istri.


Begitu ia tidak menemukan satu tubuh terbaring di sampingnya, Ron segera bangun dengan gelagapan dan berlarian mencari sang istri.


"Icha?"


Ron berkeliling kamar dan memanggil-manggil nama Thrisca, namun ia tak juga mendapat sahutan.


"Icha?!"


Pria itu berlari keluar kamar dengan panik seraya berteriak heboh memanggil istrinya.


"Icha? Kau dimana?!" teriak Ron makin heboh.


Thrisca yang sayup-sayup mendengar suara teriakan Ron, segera menghentikan aktivitasnya dan berjalan ke arah sumber suara.


"Icha?!"


Ron berteriak makin kencang dan makin kalang kabut berkeliling rumah dengan wajah cemas.


"Ron?" panggil Thrisca lirih begitu ia melihat sosok suaminya yang nampak bingung mencari dirinya.


Ron segera menoleh dan berlari menghampiri sang istri dengan girang begitu ia mendengar suara yang sangat ingin didengarnya.


"Sayang, apa yang kau lakukan di sini?" omel Ron seraya mendekap erat sang istri.


"Aku.. aku sedang menyiapkan sarapan," ujar Thrisca.


Ron menatap celemek yang tengah dikenakan oleh istrinya dan melirik ke arah pisau yang berada di genggaman tangan Thrisca.


"Apa yang kau lakukan?! Singkirkan benda itu!"


Ron memukul punggung tangan Thrisca hingga wanita itu menjatuhkan pisau yang ada di genggamannya ke lantai.


"Ron, apa yang--"


"Istirahat saja di kamar! Kenapa kau keluar-keluar kamar?! Aku akan buatkan sarapan! Kau tidak boleh masuk ke dapur! Banyak benda berbahaya di sana! Jangan sentuh pisau, jangan sentuh kompor, jangan sentuh air panas!"


omel Ron meledak-ledak.


"Ron, aku hanya--"


"Hanya apa?! Tidak ada alasan lagi! Cepat kembali ke kamar! Atau kau ingin jarimu terpotong karena pisau di tanganmu itu?!" bentak Ron.


"Astaga, Ron menyeramkan sekali!" batin Thrisca gemetar ketakutan.


Wanita itu melepas celemek yang melilit tubuhnya dan segera masuk ke kamar tanpa lagi berani bercicit di depan Ron.


Ron dengan semangat membuatkan sarapan khusus untuk sang istri, sementara Thrisca duduk dengan bosan seorang diri di dalam kamar.


"Lebih baik aku mandi dulu saja.." gumam Thrisca.


Wanita itu masuk ke dalam kamar mandi dan membasuh tubuhnya ekstra hati-hati agar tidak mengenai luka-luka yang masih belum sembuh dari badannya.


"Ron terus saja memelukku. Padahal tubuhku masih penuh luka," gumam Thrisca kesal.


Di luar kamar mandi, Ron yang sudah selesai membuatkan sarapan, segera kembali ke kamar dengan membawa nampan penuh makanan.


"Icha--"


Ron membeku seketika saat ia kembali tak dapat melihat sang istri. Pria itu kembali kelabakan mencari sang istri dan menggedor-gedor pintu kamar mandi.


"Icha? Sayang? Kau di dalam?" teriak Ron dari luar kamar mandi.


"Kenapa lagi pria itu?!" gumam Thrisca berdecak kesal.


Wanita itu segera menyambar handuk dan membuka pintu sebelum Ron menjebol pintu kamar mandi.


"Kenapa, Ron?"


"Apa yang kau lakukan di dalam?! Di situ licin! Panggil aku kalau kau mau mandi! Jangan masuk sendirian ke toilet! Bagaimana kalau kau terpeleset di dalam dan terbentur di lantai?!" omel Ron lagi-lagi meledak tidak jelas.


"Ron, aku--"


"Aku apa?! Jangan lakukan apapun! Minta tolong padaku saja! Aku tidak akan kemana-mana!"


"Ron, sebenarnya ada apa denganmu? Kekhawatiranmu sangat tidak masuk akal," protes Thrisca.


"Turuti saja apa kataku! Kemarilah!"


"Ron, kenapa kau memperlakukanku seperti bayi begini?!" rengek Thrisca.


"Kau memang bayi, kan?! Menyeberang jalan dengan benar saja kau tidak bisa! Anak SMP bahkan sudah pintar menyeberang jalan, kenapa sudah setua ini kau masih saja ceroboh hingga bisa tersenggol oleh truk?!" teriakan dan bentakan Ron semakin menjadi-jadi, menggema ke seluruh ruangan kamar.


"Baiklah aku salah. Maafkan aku," ujar Thrisca lirih.


"Ada beberapa pekerjaan yang harus kuurus. Tunggu di sini, jangan kemana-mana! Aku hanya akan mengambil kertas-kertas sial itu di ruang kerjaku." ujar Ron.


Thrisca yang nampak bosan, hanya bisa berjalan berkeliling kamar dan melihat pemandangan dari jendela besar yang ada di kamar sang suami.


Cuaca sangat cerah dan rerumputan hijau di luar sana nampak menyegarkan. Namun Thrisca tidak memiliki keberanian untuk meminta ijin pada sang suami menghirup udara segar di luar rumah meskipun hanya sebentar.


"Icha! Duduk saja di ranjang!"


Entah sampai kapan Ron akan terus berteriak pada Thrisca untuk hal-hal yang tidak penting.


Pria itu berlari menghampiri sang istri dan menjauhkan Thrisca dari jendela besar yang terbuka lebar di kamarnya.


"Jangan dekat-dekat dengan jendela! Bagaimana kalau kau jatuh?! Bagaimana kalau kau tersungkur ke bawah sana?! Tutup saja jendelanya!"


Ron menutup jendela dengan kasar hingga membuat Thrisca terkejut.


Manik mata wanita itu mulai berkaca-kaca setelah sepanjang hari terus saja mendengarkan teriakan sang suami.


"Kenapa kau terus saja berteriak padaku, Ron? Katakan saja kalau kesal dan marah padaku.."


Thrisca mengusap pipinya yang basah karena air mata tangisannya.


Raut wajah garang Ron berangsur-angsur berubah dan mulai menunjukkan sisi lembut. Pria itu mengusap rambut sang istri penuh kasih dan memeluk hangat tubuh wanita tercintanya.


"Ma-maaf, Sayang. Aku tidak bermaksud membentakmu, aku hanya.. hanya tidak ingin terjadi sesuatu padamu. Tolong istirahat saja hari ini," ujar Ron dengan suara selembut dan seramah mungkin.


"Maaf, kalau aku hanya bisa membuatmu khawatir, Ron. Aku memang payah dan tidak bisa diandalkan," tukas Thrisca dengan wajah muram.


"Bukan begitu maksudku. Aku tahu kau memang payah, tapi aku hanya--"


"Aku memang payah?! Kau mengatakan itu padaku, Ron?"


Thrisca memukul-mukul dada bidang suaminya dengan kesal.


"Icha--"


"Ron, bukan aku yang butuh istirahat. Kau yang butuh istirahat. Berhentilah mengkhawatirkanku."


"Kalau aku beristirahat, bagaimana aku bisa menjagamu?! Aku sengaja menyingkirkan semua orang di rumah ini karena aku ingin menghabiskan waktu hanya bersamamu! Kau yang terluka parah dan kau yang membutuhkan lebih banyak istirahat!"


Sikap posesif Ron makin lama makin parah, diimbuhi dengan kecemasan yang berlebihan pada sang istri. Pria itu bahkan tidak bisa melepaskan pandangannya sedikit saja dari sang istri.


"Ron.."


Thrisca menggenggam erat jemari sang suami dan menatap cemas pada pria hobi mengomel itu.


"Kau baik-baik saja, kan? Kau kurang istirahat, Ron." ujar Thrisca seraya mengusap punggung tangan sang suami.


"Aku baik-baik--"


"Bagaimana kalau kita periksa ke dokter? Mungkin kurang istirahat membuatmu stress dan terus gelisah." ajak Thrisca.


"Aku tidak apa-apa, Sayang. Stress apanya? Aku justru akan lebih stress jika aku tidak bisa melihatmu!" sanggah Ron.


"Kalau begitu, temani aku istirahat saja."


Thrisca menarik lembut tangan Ron dan mengajak pria itu berbaring di sampingnya.


"Kau harus tidur di sini! Kau tidak boleh kemanapun!"


Thrisca membaringkan kepalanya di bahu sang suami dan memeluk erat pria kesayangannya itu.


"Maaf, Ron. Aku tidak bisa berbuat banyak untukmu.." sesal Thrisca.


"Berbuat apa? Kau hanya perlu berdiri di tempat yang bisa kulihat.."


Ron mengecup lembut bibir sang istri dan menyesap dalam benda lunak itu. Kecupan hangat itu mulai berubah menjadi pagutan panas yang panjang.


Setelah berminggu-minggu tak dapat menikmati bibir lembut sang istri, kali ini akhirnya Ron dapat menyesap kembali madu candu yang sudah lama tidak disambanginya.


"Bagaimana kalau kita pergi berbulan madu sebelum pernikahan kita?" ajak Ron.


"Bulan madu?"


"Selama kita menikah, aku bahkan belum pernah mengajakmu berbulan madu, kan? Ayo pergi jauh bersamaku dan mengisi lagi perutmu.." bujuk Ron seraya mengusap perut rata sang istri.


Wajah wanita itu mulai memerah, tersipu mendengar ucapan sang suami yang nampak bersemangat ingin sesegera mungkin mendapatkan bayi pengganti untuk calon anak mereka yang sudah tiada.


***


Bersambung...