
"Ron,"
Thrisca berlari girang menghampiri sang suami yang sudah kembali dari jeratan pekerjaan.
Wanita itu memeluk manja lengan Ron dan menyambut sang suami dengan senyum sumringah.
"Ada apa denganmu? Kau mendapat hadiah dari kupon?" cibir Ron pada sang istri.
"Memangnya hanya kupon yang bisa membuatmu tersenyum?!" sinis Thrisca.
"Besok kau libur, kan? Ayo kita piknik bersama!" ajak Thrisca antusias.
"Piknik apanya? Beraktivitas di luar hanya akan membuatmu cepat lelah. Terlebih lagi sekarang di perutmu ada dua bayi. Istirahat saja di rumah,"
"Ron, aku butuh udara segar! Aku membutuhkan oksigen lebih banyak untuk dihirup. Kau tidak kasihan padaku dan bayi kita yang harus berebut oksigen tipis di dalam rumah pengap ini?" rengek Thrisca mendramatisir.
"Oksigen apanya? Kau ini pintar sekali mengarang cerita," omel Ron sembari mengecup gemas pipi sang istri.
"Aku sudah mengajak nenek dan ibu untuk piknik bersama. Kita akan berangkat besok," ujar Thrisca tanpa menghiraukan penolakan dari Ron.
"Untuk apa mengajak para wanita tua itu? Kita pergi kencan berempat saja! Tidak perlu mengajak wanita-wanita tua menyebalkan itu!" sergah Ron.
"Aku sudah mengatur semuanya dengan ibu. Kita hanya perlu berangkat besok," tukas Thrisca.
"Hei, aku ini tidak mengerti ucapanku sama sekali ya?! Sudah kubilang kita akan pergi berempat! Hanya kita berempat saja! Aku tidak mau ada perusuh!"
Thrisca melirik ke arah Ron dengan tatapan mengejek. Suara pekikan dan omelan Ron kini tak lagi menjadi masalah untuk Thrisca.
"Terserah kau saja! Kalau tidak mau ikut ya sudah! Aku bisa pergi bersama ibu," ujar Thrisca.
Pria itu ingin sekali berteriak dan meledakkan bom yang sudah bersarang di otaknya. Sudah berminggu-minggu lamanya Ron berusaha keras bersabar demi sang istri yang tengah mengandung. Namun, sikap menyebalkan Thrisca semakin lama semakin di luar batas hingga membuat amarah Ron memuncak.
"Kau pikir hanya karena kau hamil, aku akan menurut begitu saja? Aku tidak akan tunduk padamu hanya karena--" pekik Ron berapi-api dengan wajah masam.
"Ron, aku mau mangga." potong Thrisca cepat. Wanita itu menatap sang suami dengan mata berbinar yang menggemaskan hingga membuat Ron lupa seketika dengan luapan amarahnya .
"Baik." jawab Ron dengan suara lembut dan tak lagi melanjutkan omelannya.
Thrisca tak bisa menahan tawanya begitu melihat perubahan ekspresi Ron yang begitu cepat. Baru sedetik yang lalu Ron berkata tak akan menurut padanya, namun di detik selanjutnya pria itu luluh kembali pada sang istri.
"Ron, bisakah kau membelikan susu yang lain? Susu yang biasanya membuatku mual." rengek Thrisca.
"Tentu, Sayang. Aku akan membelikannya nanti,"
"Ron, bisakah kau ganti spreinya dengan warna yang lebih imut? Sprei warna gelap di kamar membuatku susah tidur," rengek Thrisca lagi.
"Tentu, aku akan mencari sprei lain nanti."
"Ron, bisa tolong isikan baterai ponselku di kamar. Sepertinya ponselku mati," titah Thrisca.
"Baik."
Pria itu berlari menuju kamar dengan cepat dan kembali secepat kilat.
"Ron, bisa tolong ambilkan air putih? Tenggorokanku terlalu kering,"
Ron berlari cepat mengambil gelas minuman untuk sang istri.
"Ron, bisakah kau ambilkan air minum yang hangat. Ini terlalu dingin," rengek Thrisca.
"Siap!"
Ron kembali berlari menuju dapur untuk mengambil air minum yang baru.
"Ron, bisakah kau ambilkan buah yang lain? Mangganya terlalu asam,"
"Iya."
"Ron, bisakah kau membersihkan kulitnya sekarang?"
"Hm."
"Ron, bisakah kau--"
Ron memijat kepalanya yang pening setelah berlarian kesana kemari masih dengan kemejanya lengkap. Pria itu berbaring di sofa dengan kepala tersandar di paha sang istri.
Ron melingkarkan tangan di pinggang sang istri dan membenamkan kepala di perut wanita hamil yang hampir membuncit itu.
"Kau tidak mengomel lagi?" tanya Thrisca sembari mengusap lembut rambut sang suami.
"Bagaimana bisa aku mengomel pada istri cantikku ini?" goda Ron.
"Maaf, Ron. Apa aku membuatmu kesal?" tanya Thrisca dengan wajah sesal.
"Aku mungkin akan mendaftar menjadi biksu jika kau masih saja menguji kesabaranku,"
Thrisca tertawa kecil menanggapi ocehan Ron. Wanita hamil itu sangat sadar dengan tingkah menyebalkannya, namun ia tak bisa menahan diri untuk tidak menyuruh sang suami. Melihat Ron berlarian kesana kemari membuat Thrisca gemas hingga ia tidak sadar sudah menyiksa pria malang itu hingga kelelahan.
"Bangun, Sayang. Mandi dan ganti pakaianmu. Aku akan menyiapkan makan malam," ujar Thrisca sembari menarik-narik lengan sang suami.
"Aku ingin berbaring sebentar lagi," rengek Ron manja.
"Ron, kau sudah bau keringat!" omel Thrisca.
"Bagaimana kalau kita makan di luar?" ajak Ron antusias.
"Tidak biasanya kau mengajakku makan di luar," cibir Thrisca.
"Sayang, kalian ingin makan apa? Daddy akan membelikan apapun untuk kalian," ujar Ron mengecupi perut sang istri sembari berbincang dengan calon bayi mereka.
"Aku ingin memakanmu, Daddy!" bisik Thrisca diselingi tawa kecil.
"Kenapa? Pesonaku membuatmu tidak bisa berpaling dariku?"
Ron bangkit dari sofa, kemudian membopong sang istri menuju kamar untuk sekedar melakukan kunjungan sejenak pada kedua buah hatinya.
***
Bersambung...