
Nadine, Ron dan Thrisca duduk melingkar di tengah lapangan seraya berbincang sejenak di hari penuh awan mendung itu.
"Sebenarnya aku dalam perjalanan ke rumahmu. Aku baru saja ingin menghampiri Cherry untuk berangkat bersama," ujar Nadine.
"Ke rumahku?" tanya Thrisca seraya mengerutkan kening.
"Aku senang kau baik-baik saja. Aku sungguh lega saat tahu kau sudah memiliki keluarga baru," ungkap Nadine.
"Kau mendengar sesuatu tentangku?"
"Yovan memberitahuku. Maaf aku datang terlambat. Pemakamannya sudah selesai dua hari yang lalu, kan?" sesal Nadine.
"Aku baik-baik saja. Terimakasih sudah mau berkunjung,"
"Kapan kau menikah dengan pria ini?" tanya Nadine dengan setengah berbisik.
"Belum lama. Baru beberapa bulan. Pernikahannya di luar kota, jadi aku tidak sempat mengundang teman disini." terang Thrisca.
"Jadi, alasan kau pergi keluar kota itu?"
"Iya. Karena suamiku. Aku ikut suamiku. Aku tidak tinggal disini lagi," jelas Thrisca.
"Bagaimana dengan kuliahmu? Kau sudah resmi berhenti?" tanya Nadine.
"Soal itu, entahlah. Aku masih belum memikirkannya."
"Aku bukan bermaksud ingin pamer, tapi hari kamis besok adalah hari wisudaku dan Cherry. Kalau kau masih berada disini, kau mau datang, kan?" undang Nadine.
Thrisca melirik ke arah suaminya dengan mata membulat lebar mengirim sinyal pada sang suami agar mengijinkannya pergi. Ron mengusap rambut sang istri seraya mengangguk kecil, memberikan ijin pada gadisnya itu.
"Tentu, aku pasti datang. Aku boleh mengajak Ron, kan?" ujar Thrisca dengan senyum sumringah.
"Kau tidak perlu bertanya padaku. Tentu saja kau harus mengajak suamimu," tukas Nadine.
Selesai berbincang sejenak, Nadine pamit undur diri dan meninggalkan pasangan suami-istri itu melanjutkan kencan di taman.
"Maaf, Tuan. Aku asal bicara tadi. Aku boleh pergi, kan? Setelah selesai datang ke wisuda mereka, aku akan segera pulang. Kau tidak perlu menemaniku disini sampai hari Kamis." ujar Thrisca.
"Kau sudah mengajakku tadi, sekarang kau ingin mencampakkanku?!" protes Ron.
"Tapi acaranya masih beberapa hari lagi. Pekerjaanmu akan semakin menumpuk jika kau terlalu lama berada disini,"
"Aku tidak mau membahas pekerjaan di hari kencan kita! Ayo, gendut!"
Ron menarik tangan istrinya untuk melanjutkan acara kencan mereka.
"Apa ini?"
Thrisca menatap sepeda yang terparkir dihadapannya dengan mata berbinar-binar.
"Sepeda, bodoh! Ayo naik!"
Ron bersiap di bangku pengendara diikuti Thrisca duduk di bangku penumpang.
Gadis itu menarik sedikit pakaian sang suami tanpa berani memeluk pria garang itu.
"Kau akan jatuh terjungkal jika tidak berpegangan dengan benar! Kemarikan tanganmu!"
Ron menarik kedua tangan sang istri dan melingkarkannya di pinggang si pengendara itu.
Thrisca memeluk pinggang suaminya dengan erat seraya menempelkan kepalanya di punggung sang suami.
Ron mengayuh sepedanya perlahan mengitari taman. Angin yang berhembus semilir membawa hawa sejuk bagi pasangan suami-istri yang masih menikmati kencan itu.
Thrisca tak henti-hentinya menampakkan wajah tersenyum saat berkeliling bersama sang suami mengitari taman dengan sepeda roda dua itu.
"Ron, aku merasa seperti sedang berkencan dengan pacar.." ujar Thrisca diselingi tawa kecil.
"Gendut, berkencan dengan suami tentu saja lebih menyenangkan daripada berkencan dengan pacar!" cibir Ron.
Pria itu berusaha keras menyembunyikan wajah senangnya dari sang istri. Sama seperti Thrisca, hati Ron pun ikut berbunga-bunga saat mendapat pelukan erat dari istrinya. Pria itu tidak bisa berhenti tersenyum-senyum sendiri seraya mengayuh sepeda kecil itu mengitari taman yang rindang.
"Apa kau juga seromantis ini dengan mantan-mantanmu dulu?" tanya Thrisca membuka perbincangan.
"Gendut, mantan-mantan pacarku kebanyakan model terkenal. Mana mungkin aku bisa mengajak mereka berkeliling menggunakan sepeda seperti ini?"
"Oh," komentar Thrisca singkat.
Gadis itu mulai merasa rendah diri saat mengetahui mantan-mantan kekasih dari suaminya yang kebanyakan berasal dari kalangan wanita berkelas.
"Hanya 'Oh' saja?"
"Lalu aku harus bilang apa? Aku harus memuji mantanmu yang berasal dari kalangan elit?" sindir Thrisca.
"Gendut, aku tidak bermaksud membandingkanmu dengan mereka. Kau juga tidak kalah cantik dari mereka. Kau ribuan kali lebih cantik. Yang terpenting kau bisa menjaga diri dengan baik," puji Ron.
"Sepertinya kau masih kesal pada Lilian,"
"Aku sudah tidak menyimpan perasaan apapun padanya. Tidak ada lagi sedikitpun kemarahan ataupun kebencian. Dia hanya wanita asing. Tolong jangan sebut-sebut lagi namanya," ujar Ron dengan suara lirih.
Thrisca terdiam dan tidak lagi melanjutkan obrolan dengan suaminya. Ron pun ikut membisu tanpa tahu harus berkata apa pada sang istri.
"Ayolah, Ron! Sudah sejauh ini, kenapa kau malah merusak suasana?!" batin Ron geram pada dirinya sendiri.
"Gendut, kau mau makan sesuatu? Atau minum sesuatu?" tawar Ron dengan ramah.
"Tidak." jawab Thrisca cepat.
"Kau tidak perlu meminta ijin padaku." jawab Thrisca datar.
"Ayolah, Thrisca! Kalau kau kesal pada dirimu sendiri, jangan lampiaskan pada orang lain! Kau ini benar-benar sudah merusak kencanmu sendiri!" batin Thrisca memaki dirinya sendiri.
"Aku tidak boleh kesal pada Ron! Jika aku merasa rendah diri, itu adalah masalahku!"
Thrisca masih sibuk mengomeli dirinya sendiri hingga ia tidak sadar suaminya memanggil-manggil namanya berulangkali.
"Gendut, telingamu ini masih berfungsi atau tidak?!" omel Ron seraya menarik telinga sang istri.
"Ron! Kenapa kau menarik telingaku?!"
"Aku menyuruhmu turun sejak tadi! Apa yang kau lamunkan?! Kau sedang bersamaku disini, tapi kau berani memikirkan orang lain?!"
"Bukan begitu, Ron.." ujar Thrisca lirih.
"Maafkan aku. Aku tidak ingin merusak kencan kita hari ini," ujar Thrisca dengan manja seraya memeluk lengan sang suami.
"Tidak biasanya kau bersikap manja seperti ini," cibir Ron seraya melingkarkan tangannya di pinggang sang istri.
"Kau ingin membeli sesuatu, kan? Boleh aku meminta makanan manis?" tanya Thrisca dengan mata berkilauan.
"T-tentu. Beli saja apapun yang kau mau," jawab Ron tergagap seraya memalingkan wajahnya yang mulai memerah dari sang istri.
Thrisca melepas pelukannya pada Ron dan berlari kecil menghampiri penjual permen kapas.
Gadis itu membawa dua permen kapas besar dengan senyuman lebar menuju ke tempat sang suami menunggu.
"Tuan, kau pernah makan ini?" tanya Thrisca seraya memamerkan permen kapas berwarna merah muda itu pada Ron.
"Kenapa kau membeli makanan anak kecil seperti ini?"
"Jadi kau tahu makanan ini?"
"Memangnya aku sebodoh itu? Memang belum pernah makan, tapi aku sering melihatnya. Makanan dari gula ini juga sering dijual di taman hiburan," ujar Ron cuek.
"Cicipilah! Rasa manisnya bisa membantu suasana hati menjadi lebih baik,"
Thrisca menyodorkan satu bungkus permen kapas untuk sang suami.
"Itu hanya mitos! Memperbaiki suasana hati apanya," ujar Ron seraya menyuapkan permen kapas ke mulutnya.
Pria itu tidak menunjukkan reaksi apapun setelah menelan makanan manis itu. Namun melihat sang istri yang nampak senang menikmati permen besar itu, Ron tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum saat menatap gadisnya.
Bukan permen yang bisa membuat suasana hati Ron menjadi lebih baik, melainkan senyuman manis sang istrilah yang dapat memperbaiki suasana hati pria galak itu.
Ron menikmati permen kapasnya seraya memandangi sang istri yang tengah duduk disampingnya tanpa berkedip.
"Apa ada sesuatu di wajahku?" tanya Thrisca seraya mengusap-usap wajahnya saat melihat Ron yang terus menatapnya dengan intens.
"Ada,"
"Apa?" tanya Thrisca seraya mengusap wajahnya dengan panik.
"Wajah jelekmu!" ejek Ron seraya mencubit pipi sang istri.
"Ron!"
Thrisca menepis tangan suaminya yang mencubit pipinya gemas.
"Gendut, apa aku berhasil membuatmu senang kali ini? Apa kau.. ingin berkencan lagi denganku lain kali?" ajak Ron dengan wajah malu-malu.
"Ron, kau juga belum pernah melakukan kencan seperti ini, kan? Pria dewasa berkelas sepertimu tidak akan mengajak seorang gadis naik sepeda memakai seragam sekolah dan menikmati permen di taman. Kau pasti mendapat ide ini dari internet, kan?" ejek Thrisca.
"Mana mungkin aku bisa memikirkan hal-hal konyol seperti ini?! Di internet bilang, gadis-gadis akan suka diajak berkencan naik sepeda. Aku hanya ingin mencobanya," sanggah Ron dengan wajah cemberut.
Thrisca semakin gemas melihat wajah cemberut sang suami yang menggerutu padanya.
"Terimakasih sudah mengajakku hari ini,"
Thrisca menggenggam erat tangan Ron seraya melempar senyuman manis pada sang suami.
"B-biasa saja! Hanya naik sepeda, apa istimewanya?!" ujar Ron dengan tergagap seraya memalingkan wajahnya.
"Sial! Kenapa si gendut tersenyum seperti itu padaku?" batin Ron gemas.
"Peluk aku," pinta Ron dengan suara tidak jelas.
"Apa?"
Thrisca yang tidak mendengar suara kecil Ron, mendekatkan wajahnya ke arah sang suami.
Pria berbadan tegap itu langsung menarik tubuh mungil sang istri masuk ke dalam pelukannya.
"Aku akan sering-sering mengajakmu berkencan seperti ini," bisik Ron di telinga istri cantiknya.
Thrisca tersenyum tipis menanggapi ajakan dari suami tampannya itu. Pasangan suami-istri istri itu berpelukan semakin erat di tempat terbuka dengan masih mengenakan seragam sekolah.
"Dasar bocah jaman sekarang,"
Beberapa orang tua yang berlalu-lalang di sekitar Ron dan Thrisca terus berbisik julid menatap pasangan suami-istri yang berpenampilan ala siswa sekolah itu.
***
Bersambung..