
Thrisca dan Genta masuk ke dalam rumah Ron secara beriringan. Genta masuk terlebih dulu dan menyapa istri dari pamannya itu.
Sementara Thrisca membutuhkan waktu lebih banyak untuk mempersiapkan diri sebelum bertemu dengan ibu mertuanya itu.
"Gen, pulanglah ke rumah ayahmu! Kenapa kau selalu mengungsi di rumah putraku? Karena ini Ron tidak bisa membawa pulang kekasihnya ke rumahnya sendiri," omel Nyonya Daisy pada keponakannya sendiri.
"Bibi, apa aku bukan putramu? Aku hanya meminta satu kamar tamu untuk tidur," oceh Genta pada bibinya.
Thrisca berjalan perlahan menuju ibu mertuanya dan mencoba memberi sapaan ramah pada ibu kandung suaminya itu.
"Selamat malam, Nyonya." sapa Thrisca.
Nyonya Daisy menatap Thrisca bak melihat hantu keluar dari sarang. Wanita itu tidak percaya ada sosok wanita yang menempati rumah putranya.
"T-thrisca? Kenapa kau bisa ada disini? Bukankah Ron sudah menempatkanmu di rumah lain?" tanya Nyonya Daisy dengan ekspresi terkejut.
"Ron hanya mengajakku melihat-lihat. Aku akan pulang ke rumah lama setelah Ron kembali dari urusan pekerjaannya." ujar Thrisca penuh hati-hati.
"Mengajak melihat-lihat? Ron sedang pergi ke luar negeri kan? Tidak ada Ron disini, kenapa kau masih diijinkan tinggal di rumah ini?" tanya Nyonya Daisy dengan wajah tidak suka.
"Bibi, Ron hanya mengajak istrinya tinggal di rumahnya. Dan Thrisca adalah istri pertama Ron. Tidak ada yang aneh jika Ron membawa istrinya ke rumahnya sendiri," bela Genta.
"Ron tidak pernah membawa gadis manapun pulang ke rumah ini. Bagaimana bisa dia mengajak wanita ini masuk ke rumah kesayangannya ini?"
Sama seperti pertemuan sebelumnya, Nyonya Daisy masih tidak memberi sambutan yang hangat pada Thrisca.
Istri Ron itu hanya bisa tersenyum mendengar hinaan dari ibu mertuanya. Bagaimanapun juga Thrisca harus tetap menjaga sopan santun di depan orang tua yang sudah membesarkan suaminya itu.
"Nyonya, boleh aku membuatkan teh jika Nyonya berkenan?" tawar Thrisca.
"Tidak perlu! Aku hanya ingin melihat rumah anakku. Kukira rumah ini kosong selama Ron pergi." tutur Nyonya Daisy tanpa senyum sedikitpun.
Thrisca berdiri mematung dengan kepala tertunduk. Wanita itu tidak berani mengangkat kepalanya setelah mendapat perlakuan dingin dari ibu mertuanya. Genta semakin tidak tega melihat Thrisca yang nampak seperti orang tertindas di hadapan bibinya.
"Gendut, mandi dulu sana! Kau berkeringat banyak setelah berlari keliling taman tadi kan?" ujar Genta seraya mengedipkan mata.
Pria itu mencoba membuat-buat alasan agar Thrisca bisa menghindari Ibu dari sepupunya itu. Thrisca menatap Genta dengan wajah bingung untuk beberapa detik sebelum akhirnya ia menyadari maksud dari saudara iparnya itu.
"Genta sedang menolongku? Aku memang benar-benar ingin melarikan diri dari ibunya Ron," batin Thrisca lega.
"B-benarkah? Sepertinya aku memang berkeringat banyak. Nyonya, maaf Thrisca harus membersihkan diri terlebih dahulu." pamit Thrisca pada sang ibu mertua.
Nyonya Daisy hanya menggerakkan jarinya untuk mengusir menantunya yang berbadan gempal itu. Thrisca mulai bernafas lega setelah gadis itu memasuki kamar Ron.
"Gadis itu bahkan berani masuk ke kamar putraku? Apa otak Ron sudah rusak?!" batin Nyonya Daisy geram saat melihat Thrisca berjalan menuju kamar anak laki-lakinya.
Thrisca segera melepas baju tebalnya dan menenangkan dirinya yang masih dilanda kegugupan. Gadis itu meraih ponselnya dan mendapatkan banyak pesan serta panggilan tak terjawab dari sang suami.
"Ron menelepon hingga sebanyak ini?" gumam Thrisca tak percaya saat melihat jumlah panggilan tak terjawab dari sang suami.
Thrisca membasuh muka dan berganti pakaian sebelum ia menanggapi pesan dari sang suami. Gadis itu segera membalas pesan Ron untuk meminta saran bagaimana ia harus menghadapi sang ibu mertua yang tengah berkunjung.
"Maaf, Tuan. Nyonya kesini dan aku sedang menyambutnya di ruang tamu. Aku tidak mendengar ponselku yang berbunyi." tulis Thrisca pada pesan singkat yang ia kirim pada Ron.
Beberapa detik kemudian, ponsel Thrisca berdering kencang hingga membuat gadis itu terkejut. Ron tidak memberi balasan pesan pada istrinya, namun pria itu memilih untuk melakukan panggilan video dengan istri cantiknya itu.
Thrisca segera merapikan rambutnya sebelum mengangkat panggilan video dari sang suami.
"Gendut.." sapa Ron pada istrinya begitu Thrisca menerima panggilan video darinya.
"Tuan," sapa Thrisca sekenanya pada sang suami.
"Kenapa buram gambarnya? Kameramu jelek sekali! Aku tidak bisa melihat wajahmu dengan jelas!" omel Ron pada sang istri.
"Maaf, gadis jelek ini hanya mempunyai ponsel jelek!" ujar Thrisca kesal.
"Ada apa denganmu? Sejak pagi kau terus mengabaikanku dan bersikap dingin padaku. Apa aku membuat kesalahan padamu?!" tanya Ron mulai jengkel.
"Tidak ada." jawab Thrisca datar.
"Gendut, katakan saja ada apa? Aku bukan peramal, Sayang! Bagaimana aku bisa menebak isi pikiranmu?" bujuk Ron pada gadis cantik berbaju putih itu.
"Aku tidak apa-apa. Aku hanya sedikit kesal tadi pagi. Maaf, aku sudah bersikap menyebalkan." ujar Thrisca mencoba mengalah.
Gadis itu mencoba menahan amarahnya dan sadar diri mengenai posisinya di sisi Ron. Gadis yang sudah menjadi istri Ron itu merasa tidak pantas untuk merajuk pada suami terpaksanya itu hanya karena rasa cemburunya.
"Apa yang kau lakukan dengan Gen semalam? Kau yakin Gen tidak berbuat macam-macam padamu?!" tanya Ron mencoba mengubah topik pembahasan.
"Gen bahkan tidak melihatku sebagai wanita. Kau pikir dia akan tertarik pada Thrisca gendut?!" ujar Thrisca dengan wajah cemberut.
"Gendut, kau tidak suka hadiah yang kukirim? Ini bunga pertama yang kubelikan untukmu. Ini pasti juga bunga pertama yang kau dapat dari seorang pria bukan? Kau tidak merasa terharu sedikitpun dengan usahaku untuk menyenangkanmu?"
"Aku tidak memintamu untuk membujukku," ujar Thrisca lirih seraya menundukkan kepala untuk menyembunyikan wajah malunya.
Bunga yang dikirim oleh Ron memanglah bunga pertama yang pernah Thrisca dapatkan dari seorang pria. Gadis itu merasa malu dan payah karena tidak pernah mendapat bunga dari siapapun.
Namun Thrisca tidak dapat memungkiri bahwa ia merasa cukup senang dengan hadiah yang Ron dibelikan untuknya. Meskipun hanya bunga dan coklat, tapi nyatanya gadis itu tidak pernah mendapat benda biasa itu dari pria manapun. Dan Ron adalah pria pertama yang memberikan hadiah itu untuknya.
"Wajahmu memerah! Kau bilang tidak suka bunga karena tidak bisa membuatmu kenyang! Tapi kau cukup terharu dengan puluhan buket bunga dariku kan?" goda Ron pada istrinya yang sudah berwajah merah tomat itu.
"Terharu apanya? Memangnya siapa yang butuh bunga?! Aku mengangkat telepon darimu bukan untuk membicarakan hadiah darimu!" elak Thrisca.
Gadis itu mulai salah tingkah di depan sang suami saat mereka membahas hadiah kiriman Ron. Istri Ron itu segera mengganti topik pembicaraan sebelum wajahnya semakin memerah.
Wajah malu Thrisca mendadak menjadi murung saat membahas ibu mertuanya.
"Ibuku datang? Tidak biasanya wanita itu datang. Biarkan saja! Ibuku tidak pernah menginap." ujar Ron cuek.
"Bagaimana bisa kau bersikap sesantai itu? Ibumu hampir membuat jantungku rontok, Ron!" rengek Thrisca.
"Biarkan saja. Ibuku masih berpihak pada Lian. Apapun yang kita lakukan hanya akan membuat wanita itu semakin kesal. Sapa saja sekenanya."
"Mudah sekali Ron mengatakan hal itu?! Pria seperti Ron tidak akan pernah mengerti kerasnya dunia menantu bersama ibu mertua!" batin Thrisca jengkel.
"Gendut, tolong jangan dimasukkan ke hati setiap perkataan dari ibuku. Anggap saja hanya angin lalu. Kau istriku, kau hanya perlu mendengar perkataanku." ujar Ron mencoba menenangkan sang istri.
Thrisca hanya diam tanpa menanggapi ucapan sang suami. Gadis itu juga ingin sekali mengabaikan semua perkataan dingin dari ibu mertuanya, namun ia tidak bisa melupakan begitu saja perlakuan tidak menyenangkan yang didapatkannya dari sang ibu mertua.
"Gendut, kenapa tidak menjawab? Aku benar-benar lelah hari ini. Tolong jangan membuatku semakin kesal dengan sikap menyebalkanmu ini!"
Ron mulai mengomel dan memarahi istri cantiknya itu.
"Apa semua wanita sama menyebalkannya sepertimu? Kalian selalu saja merajuk tidak jelas dan membuatku pusing!"
Omelan Ron kali ini tidak terdengar seperti omelan seperti biasanya.
Pria itu menatap Thrisca dengan wajah lelah bercampur kesal. Ron bahkan tidak memarahi Thrisca dengan suara nyaring, namun berbicara dengan nada rendah dan ketus.
Ini adalah kemarahan paling menyakitkan yang pernah Thrisca terima dari semua omelan yang pernah ia dengar dari suaminya.
"Maaf, aku hanya membuatmu semakin lelah. Istirahatlah,"
Thrisca tidak bisa menahan tangisnya saat mendengar ucapan Ron yang mengatakan dirinya menyebalkan dan hanya membuat Ron kesulitan.
"Sejak kapan aku jadi cengeng begini?!" batin Thrisca kesal seraya mengusap air matanya yang sudah mengalir membasahi pipinya.
Gadis itu segera mematikan sambungan telepon dari sang suami sebelum pria itu melihat dirinya yang tengah berlinang air mata. Namun Ron terlanjur menyadari mata merah sang istri dan berusaha mengatakan sesuatu sebelum Thrisca mengakhiri panggilan.
Sayangnya, kalimat maaf yang ingin diucapkan Ron kalah cepat dengan gerakan jari sang istri. Belum sempat Ron menyelesaikan satu kata, Thrisca sudah memutuskan sambungan terlebih dahulu.
Ron memijat kepalanya yang pening dan menyesali perkataannya pada sang istri. Pria itu hanya kesal dengan sikap Thrisca yang terus merajuk tanpa tahu apa sebenarnya yang diinginkan oleh istrinya itu.
Ron kembali mencoba menghubungi sang istri meskipun ia tahu Thrisca pasti tidak akan mengangkat telepon darinya.
Sementara Thrisca yang masih memegang ponsel, nampak bingung harus menjawab telepon dari Ron atau tidak. Gadis itu mengusap air matanya dengan cepat dan memutuskan untuk mengangkat telepon dari suaminya. Thrisca tidak ingin membuat Ron semakin kesal dengan sikapnya yang cengeng dan mudah merajuk.
"Ada apa lagi?"
Thrisca mengangkat panggilan video dari sang suami dengan senyum paksa.
Ron tahu dengan jelas sebelum mematikan panggilan video, gadis itu mengusap air mata di pipinya. Namun hanya dalam waktu sekejap, wajah penuh air mata itu berubah menjadi senyuman yang penuh kepiluan.
Pria itu semakin merasa bersalah saat melihat sang istri yang mencoba memberinya senyuman meskipun dengan terpaksa.
"Sayang, aku tidak bermaksud berkata seperti itu. Maafkan aku," sesal Ron.
"Tidak apa. Kau benar. Aku memang menyebalkan. Aku yang seharusnya meminta maaf. Aku harus menemui ibumu lagi. Beristirahatlah,"
Thrisca mencoba mengakhiri panggilan itu dengan cepat.
"Kalau kau kesal padaku, maki saja aku! Melihatmu tersenyum paksa seperti itu hanya semakin menyakitiku." ujar Ron dengan senyum kecut.
"Baiklah. Aku membalas omelanmu lain kali. Aku harus pergi sekarang. Ibumu pasti masih ada di ruang tamu," pamit Thrisca lagi.
Gadis itu langsung mengakhiri panggilan tanpa menunggu persetujuan dari suaminya. Ron menghela nafas panjang dan menyenderkan kepalanya di kursi. Thrisca benar-benar sudah mengacak-acak suasana hati tuan muda tampan nan galak itu.
Sementara Thrisca kembali melanjutkan tangisannya setelah ia memutuskan sambungan telepon dari sang suami.
"Apa Ron harus mengatakan kata-kata sekejam itu padaku? Dia bilang aku menyebalkan? Dia bilang aku hanya bisa membuatnya pusing?!" gumam Thrisca pada dirinya sendiri seraya mengusap ingus di hidungnya.
Setelah puas menangis, Thrisca segera keluar dari kamar untuk kembali menemui sang ibu mertua. Beruntung ternyata ibu dari suaminya itu telah pergi meninggalkan istananya.
Gadis itu memeriksa ke setiap sudut rumah hingga memeriksa mobil sang ibu mertua untuk memastikan bahwa wanita itu benar-benar sudah pergi.
"Kau cari apa, Gendut?" tanya Genta yang melihat Thrisca celingukan ke sekeliling bangunan rumah.
"Ibunya Ron sudah benar-benar pergi kan?"
"Sudah pergi dari tadi." jawab Genta.
Thrisca merasakan kelegaan yang luar biasa begitu mendengar kabar gembira itu.
"Bibi Daisy memang seperti itu. Jangan dimasukkan ke hati," hibur Genta.
"Mas Gen, soal kencan buta.. kau tidak bercanda kan?" tanya Thrisca tiba-tiba membahas masalah kencan buta yang ditawarkan Genta padanya.
"Kenapa, Gendut? Kau ingin berpisah dari Ron lebih cepat karena Bibi Daisy?" tanya Genta dengan mata membulat lebar.
"Apapun alasannya, aku tidak bisa bertahan lebih lama bersama dengan Ron. Apa menurutmu aku mempunyai kesempatan untuk mendapatkan seorang pria di luar sana?" tanya Thrisca ragu-ragu.
***
Bersambung..