DEAR, MY RON

DEAR, MY RON
BAB 167



"Ayah, ibu, nenek ... kalian akan menyambut dua cucu dariku," tambah Thrisca dengan senyum sumringah.


Nyonya Daisy dan Nyonya Aswinda saling pandang selama beberapa saat, kemudian berhambur memeluk sang menantu.


"Benarkah? Cucu ibu kembar?" tanya Nyonya Daisy penuh haru.


"Iya, Bu." jawab Thrisca girang.


"Cicitku," gumam Nyonya Aswinda tak kalah girang mengusap perut Thrisca yang mulai membuncit.


Manik mata Tuan Derry pun ikut berkaca-kaca menyambut berita gembira dari sang putra.


"Sudah selesai belum menangisnya? Ayo cepat lakukan game ini dan segera buat makanan. Anak dan istriku bisa kelaparan!" omel Ron seraya merebut sang istri dari dekapan Nyonya Daisy dan Nyonya Aswinda.


"Siapa yang akan memainkan gamenya? Icha kan sedang hamil," tanya Nyonya Aswinda.


"Tentu saja ibu," jawab Nyonya Daisy diiringi tawa kecil.


"Kau ingin menyuruh tua bangka ini berlarian membawa bola?" protes Nyonya Aswinda.


"Ayolah, Nek! Kita akan menjadi tim yang kompak! Ayo kalahkan buaya darat itu!" ujar Ron seraya mengajak sang nenek berhigh five ria dan melirik sinis ke arah Tuan Derry.


"Kau pikir kau bisa mengalahkan ayah? Tanya pada ibumu, ayah dulu jagoan basket saat masih kuliah!" tukas Tuan Derry tak mau kalah.


Pertandingan sengit antara dua tim itu pun tak terelakkan lagi. Thrisca benar-benar mendapatkanmu hiburan dari permainan seru antara Tuan Derry dan Nyonya Daisy melawan Ron dan Nyonya Aswinda.


Keributan dan gelak tawa mulai menggema memenuhi lapangan kecil itu. Thrisca tak henti-hentinya tersenyum senang melihat keakraban Ron dan Tuan Derry yang mulai kembali.


Sejenak mereka semua melupakan kenangan pahit masa berkabung setelah ditinggal oleh Tuan Hasan.


Nyonya Aswinda bisa tertawa lepas meskipun wanita tua itu nampak kesulitan memainkan bola di lapangan dengan tubuhnya yang hampir renta.


Tuan Derry serta Nyonya Daisy juga bisa menghabiskan waktu bersama dengan kompak di sela-sela hubungan mereka yang kurang akur.


"Nenek! Cepat oper bolanya padaku!" pekik Ron heboh di tengah lapangan.


"Pak Tua! Cepat rebut bolanya!" omel Nyonya Daisy ikut berteriak.


"Punggungku sakit," rengek Nyonya Aswinda bergerak bak siput.


Tuan Derry hanya bisa tertawa melihat sang ibu yang kesulitan bergerak membawa bola.


Kehebohan mereka pun berakhir saat Tuan Derry dan Nyonya Daisy keluar sebagai pemenang, mengalahkan Ron serta Nyonya Aswinda.


"Kita menang!" pekik Nyonya Daisy girang seraya memeluk sang suami. Tuan Derry pun ikut mendekap erat sang istri yang sudah bertahun-tahun tidak ia peluk.


"Bagaimana, Daisy? Aku masih jago, kan?" bisik Tuan Derry.


Mendengar suara Tuan Derry yang begitu dekat, Nyonya Daisy langsung mendorong Tuan Derry hingga tubuh pria itu sempoyongan.


"Peluk saja. Kenapa harus malu begitu?" goda Nyonya Aswinda.


"Buaya darat itu lebih suka memeluk simpanannya, Bu." sergah Nyonya Daisy.


"Ibu, pipi ibu memerah." ledek Thrisca seraya tertawa kecil.


"Bisakah kalian berhenti meledekku?!" gerutu Nyonya Daisy dengan wajah tersipu.


Ron nampak mematung, memandangi kedua orang tuanya dari kejauhan. Entah kapan terakhir kali pria itu dapat melihat ayah dan ibunya nampak akur seperti ini. Setelah ribuan pertengkaran yang ia dengar selama bertahun-tahun, akhirnya Ron bisa kembali melihat wajah girang kedua orang tuanya saat tengah bersama.


"Ron, ayo!" ajak Thrisca mengulurkan tangan pada sang suami.


Wanita itu menyodorkan tangannya seraya melempar senyum manis pada sang suami.


Ron diam membeku menatap senyum cantik istrinya. Hati pria itu nampak berbunga-bunga melihat uluran tangan dari istri tercintanya.


"Semua ini tidak akan kudapatkan kalau bukan karena kau," gumam Ron lirih.


"Hm? Apa kau bilang? Ayo cepat, kita harus membuat sandwich untuk makan siang!" ajak Thrisca.


Ron menarik uluran tangan Thrisca dan membawa tubuh wanita hamil itu dalam dekapannya.


"Terima kasih untuk semua hadiah yang kau berikan pada hidupku," gumam Ron penuh haru.


"Apa yang kau bicarakan, Ron?" tanya Thrisca membalas pelukan sang suami tak kalah erat.


"Ayo, kau harus menerima hukumanmu! Aku ingin sandwich tanpa keju,"


Thrisca berlari kecil seraya menarik tangan suaminya menuju karpet kecil yang sudah terlentang di bawah pohon.


"Kemari, Ron!" panggil Nyonya Daisy dengan senyum merekah pada sang putra.


Pria itu berlari kecil bersama Thrisca menghampiri Nyonya Daisy, Nyonya Aswinda serta Tuan Derry yang menampakkan senyum lebar padanya.


"Pemandangan macam apa ini? Mereka tidak pernah tersenyum segirang ini padaku," batin Ron mulai merasakan hal aneh dengan kehangatan yang didapatnya dari keluarganya.


Ron melirik ke arah tangannya yang digenggam erat oleh sang istri. Pria itu nampak kesulitan mengekspresikan kebahagiaannya yang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata.


Rasa senang, gembira, haru bercampur aduk dalam hatinya. Piknik sederhana ini benar-benar membawa kebahagiaan pada pria galak yang tak pernah mendapatkan kehangatan dari keluarga.


"Inikah yang mereka sebut dengan ... bahagia?" batin Ron seraya melempar senyuman manis pada orang-orang terkasih yang ada di sekelilingnya.


***


Bersambung...