
Nadine berkeliling pusat perbelanjaan kecil di dekat rumah kosannya seraya membawa kantong belanja mini.
Wanita itu nampak tidak bersemangat selama beberapa hari terakhir semenjak kunjungan Cherry yang mengatakan bahwa temannya itu mendapat lamaran dari Genta.
Nadine bahkan sengaja menghindari Cherry selama di kantor dan tidak menanggapi satu pun pesan dan panggilan dari temannya itu.
Teman Thrisca itu nampak bingung bagaimana ia harus bersikap pada Cherry ke depannya jika wanita itu benar-benar menikahi pria yang disukainya.
"Cherry sebentar lagi akan menikah.. sebaiknya aku juga segera mencari calon suami," gumam Nadine lemas.
Wanita yang terus melamun itu, berjalan dengan tatapan kosong hingga ia tidak sadar telah menubruk seseorang.
"Aduh!"
Nampak seorang wanita merasa kesal melihat keranjang belanjanya berceceran karena ditabrak seseorang.
"Ma-maaf, Mbak. Saya tidak sengaja,"
Nadine segera membantu merapikan barang belanjaan wanita yang ditabraknya.
"Matamu kau taruh mana?! Jalan yang benar!" omel wanita yang tidak lain ialah Jane.
Jane menatap Nadine dengan mata membulat, mencoba mengingat-ingat kembali dimana ia pernah menemui wajah familiar itu.
"Wanita ini.. bukankah ini pegawai kantor yang kulihat tengah bersama Han beberapa waktu yang lalu?" batin Jane.
"Maaf, saya tidak sengaja."
Nadine menyodorkan keranjang belanja yang sudah rapi pada Jane.
Jane merampas keranjang belanjaannya dengan kasar dan memasang tampang ketus pada Nadine.
"Minggir!" dorong Jane kesal hingga membuat Nadine sempoyongan.
"Dasar wanita sombong!" rutuk Nadine lirih.
"Tidak ada yang bisa dilihat dari wanita itu! Han pasti sudah buta!" gumam Jane geram.
***
Susan membuka mata dan melirik ke sekitar ranjang untuk mencari sosok pria yang baru saja ia layani semalaman.
Wanita itu meringis kesakitan di sekujur tubuh karena permainan kasar dari pelanggannya yang sudah bermain puas dengan tubuhnya.
Seorang pria yang berselimutkan handuk, muncul dari pintu kamar mandi dan kembali menatap Susan dengan hasrat menggebu.
"Sayang, kau liar sekali semalam.." ujar Susan dengan suara manja.
Pria tua yang dilayani oleh Susan, tidak lain ialah Tuan Derry, ayah dari Ron.
"Bagaimana kalau bermain satu ronde lagi?" pinta Tuan Derry seraya menggerayangi tubuh Susan.
Pria tua itu makin bersemangat menggigiti dan menyesap buah besar milik ibu satu anak itu.
Susan yang terus melenguhh dan mendesahh, membuat gairah suami dari Nyonya Daisy itu makin meningkat dan bersemangat.
Pria tua itu segera melempar handuk yang dipakainya dan kembali menikmati tubuh janda yang baru saja ia beli dengan uang.
Bibir pria itu mulai berkelana menyusuri tiap sudut tubuh Susan dan mulai menyambangi **** ********** ibu satu anak itu.
Bak mendapat mainan baru, ayah satu anak itu begitu menikmati bibir gawang yang telah ia nodai. Tuan Derry semakin beringas melayangkan kecupan, jilatan hingga gigitan kecil ke lembah nikmat yang akan kembali ia sambangi.
Pria tua itu makin tak sabar untuk kembali menancapkan bendera. Pria paruh baya yang bergelimang harta itu masih cukup lihai dalam menyodokkan tongkat kerasnya, menanamkan banyak benih ke dinding-dinding rahim wanita simpanannya yang baru.
"Di usia sematang ini, kau masih saja hebat.." ujar Susan disertai desahann yang tak tertahan.
"Kau membuatku semakin bersemangat.."
"Aku sudah melayanimu sepuasnya, beri aku bonus besar.." pinta Susan manja.
"Kau mau apa? Aku bisa berikan apapun untukmu.."
"Benarkah? Aku tidak hanya ingin uang. Aku harus menemukan seseorang. Carikan orang itu untukku.."
***
"Ron, kenapa kau masih di sini memakai piyama tidur? Ayo, Ron! Kita harus cepat berangkat!"
Thrisca menarik-narik tangan sang suami yang masih duduk lunglai di tepi ranjang dengan wajah tak semangat.
"Sayang, bagaimana kalau nanti saja kita mengunjungi ayahmu? Aku sedang tidak ingin melakukan perjalanan jauh.." ujar Ron kembali dilanda kecemasan, mengkhawatirkan sang istri jika mereka harus bepergian jauh.
"Kita naik kereta saja, bagaimana?" ajak Thrisca.
"Kereta apanya? Bagaimana kalau kau kenapa-napa lagi saat menyeberang jalan? Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada kereta yang kita tumpangi?" ujar Ron kembali dilanda kecemasan berlebihan.
"Ron--"
"Kita tunda saja bulan madunya. Untuk beberapa minggu ini lebih baik kita di rumah saja. Tidak perlu bepergian. Aku janji aku tidak akan membuatmu bosan! Aku akan menemanimu di rumah setiap hari!" bujuk Ron berapi-api.
Thrisca semakin merasa iba melihat suaminya yang nampak tertekan dengan kecelakaan yang dialami sang istri beberapa waktu yang lalu.
Bukan Thrisca yang mengalami trauma, namun sepertinya sang suami yang dilanda trauma berat pasca kecelakaan yang melanda Thrisca. Pria itu terus merasa was-was pada hal kecil dan mulai gelisah tidak jelas.
"Ron, aku akan menemanimu ke dokter--"
"Bukan aku yang membutuhkan dokter, tapi kau! Minggu depan kau ada pemeriksaan lagi. Lebih baik tunggu sampai kau benar-benar pulih, baru kita pergi mengunjungi ayahmu." bujuk Ron lagi.
"Kau tidak apa-apa kan, Ron? Kau juga nampak kurang sehat. Lebih baik kita tunda saja rencana kita untuk bepergian,"
Thrisca menarik selimut dan kembali membaringkan tubuh sang suami di ranjang.
"Kau mau sarapan apa? Akan aku buatkan." tawar Thrisca.
"Tidak perlu. Aku saja!"
Ron langsung membuang selimutnya dan berlari menuju dapur.
Thrisca mengekor di belakang sang suami dan mengikuti pria yang mulai sibuk dengan pisau dan bahan makanan itu.
"Kau ingin memasak apa? Biar kuban--"
Ron segera merebut sayuran yang ada di tangan sang istri dan mengusir Thrisca jauh-jauh dari dapur.
"Duduk saja di sana! Jangan lakukan apapun!" perintah Ron.
Thrisca hanya bisa menurut dan duduk di meja makan seraya memandangi sang suami yang sibuk dengan panci dan wajan.
Istri Ron itu sibuk berkirim pesan pada sang ibu mertua, melaporkan kondisi Ron yang nampak memprihatinkan.
"Halo, Bu?"
Thrisca mengangkat telepon dari ibunya sambil berbisik.
"Ibu akan segera ke sana membawa dokter." ujar Nyonya Daisy.
"Kau tenang saja. Ibu akan segera ke sana. Coba tahan Ron di suatu tempat. Jangan sampai dia tahu kedatangan ibu yang membawa dokter,"
"Baik, Bu. Ron juga masih berada di dapur. Dia--"
"Apa?" potong Nyonya Daisy cepat.
"Apa?" tanya Thrisca balik.
"Kau bilang Ron di dapur? Apa yang dilakukan bocah itu di dapur?" tanya Nyonya Daisy mengerutkan kening.
"Memasak sarapan."
Ibunda dari Ron itu melongo dengan sukses dan membeku seketika saat mendengar perkataan Thrisca.
"Memasak apa? Bocah itu hanya akan meledakkan dapur! Ron pasti sakit parah!"
Nyonya Daisy bergegas menutup telepon Thrisca dan bersiap menyambangi kediaman sang putra.
Thrisca yang mengamati Ron dari jauh, nampak terharu melihat suaminya yang berusaha keras menyiapkan sarapan untuknya meskipun pria itu payah dalam urusan dapur.
Dua puluh menit kemudian, beberapa mobil mewah mulai ramai memasuki pekarangan rumah Ron. Dari dalam kendaraan roda empat itu, muncul Nyonya Daisy, Nyonya Aswinda, Tuan Hasan, serta seorang dokter yang siap merawat Ron.
Nyonya Daisy masuk ke rumah sang putra dengan mengendap-endap seperti penyusup, dan berbisik-bisik memanggil Thrisca sebelum kedatangannya diketahui oleh Ron.
"Ibu?"
Thrisca segera berlari kecil menghampiri sang ibu dan bersembunyi di balik tembok dapur, mengamati Ron dari tempat tersembunyi bersama ibu mertuanya serta kakek dan nenek mertuanya.
"Nenek, kakek.." sapa Thrisca pada kakek dan nenek Ron dengan berbisik.
"Apa yang terjadi pada Ron? Dia tidak mengamuk di dapur, kan?" tanya Nyonya Daisy cemas.
"Ron hanya menyiapkan sarapan sederhana. Sebentar lagi dia akan selesai memasak." ujar Thrisca.
"Ada angin apa bocah itu mengunjungi dapur?" tanya Nyonya Aswinda heran.
"Ron tidak memperbolehkanku melakukan apapun, Nek. Wajahnya sudah pucat, tapi dia tetap saja memaksa untuk memasak, mencuci piring, mengepel lan--"
"Apa?!" potong Nyonya Daisy, Nyonya Aswinda dan Tuan Hasan bersamaan.
Hampir saja tiga orang tua itu berteriak heboh saat mendengar cerita Thrisca mengenai Ron.
"Pak tua, cucumu itu pasti sudah gila!" bisik Nyonya Aswinda pada Tuan Hasan.
"Memangnya Ron bisa bersih-bersih rumah?" tanya Nyonya Daisy.
"Ron memberikan cuti pada semua pelayan. Pekerjaan rumah jadi terbengkalai. Aku sudah menawarkan diri untuk mengerjakannya, tapi Ron terus melarangku." sesal Thrisca.
"Ron terus sibuk membersihkan rumah.
Dia bahkan menyapu halaman dan menyirami tanaman. Ron juga mencucikan pakaian dalamku," imbuh Thrisca merasa bersalah.
"Aku tidak tahu putramu serajin itu.." cibir Nyonya Aswinda pada ibunda Ron.
"Ron sudah semakin dewasa. Dia benar-benar tahu cara merawat istri," puji Tuan Hasan.
"Kita bahas ini nanti saja. Sekarang kita harus fokus pada target," sela Nyonya Aswinda.
"Dokter membawa obat bius, kan?" tanya Nyonya Daisy.
"Tentu, Nyonya."
"Ibu akan membius Ron?" tanya Thrisca cemas.
Keluarga besar Ron itu nampak siap menyergap dan menculik Ron untuk dibawa ke rumah sakit. Mereka berlima masih asyik berunding, memikirkan bagaimana cara teraman bagi mereka untuk bisa membuat Ron berobat dan beristirahat.
"Lebih baik dirawat di rumah saja. Kau sudah membawa dokter ke sini, kan? Untuk apa pergi ke rumah sakit?!" ujar Nyonya Aswinda pada ibu Ron.
"Ron harus tetap menjalani pemeriksaan di rumah sakit, Bu! Dia harus istirahat total." sanggah Nyonya Daisy.
"Tidak! Biarkan saja dia dirawat di rumah! Akan lebih repot membawa bocah itu ke rumah sakit!"
"Tidak bisa! Putraku harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit!"
Keributan antara Nyonya Aswinda dan Nyonya Daisy makin terdengar jelas ke telinga Ron. Tuan Hasan dan Thrisca sudah berusaha melerai kedua Nyonya itu, namun ibu dan nenek Ron itu masih saja sibuk berdebat.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Ron.
"Diam!" bentak Nyonya Aswinda dan Nyonya Daisy bersamaan.
Thrisca dan Tuan Hasan menoleh ke arah sumber suara dengan gugup. Belum sempat mereka menyekap Ron, sang calon korban sudah memergoki mereka terlebih dulu sebelum mereka beraksi.
"Kakek, pegang kaki Ron!"
Thrisca langsung melompat ke pelukan Ron dan melingkarkan kedua tangannya erat ke tubuh sang suami.
Sementara Tuan Hasan segera memegangi kaki Ron, disusul dengan Nyonya Aswinda dan Nyonya Daisy yang memegang tangan Ron.
"Apa yang kalian lakukan padaku?!" pekik Ron hingga membuat telinga Thrisca berdengung.
"Ron, dorong saja aku kalau kau tega menyakitiku! Kau juga bisa dengan mudah melepaskan diri dari ibu dan nenek. Tapi apa kau tega mendorong kami ke lantai yang keras?" ujar Thrisca dengan wajah memelas.
"Kalian curang! Ini pelanggaran hak asasi! Kalian tidak bisa seenaknya padaku!" omel Ron tanpa bisa berbuat apa-apa.
Pria itu tentu saja tidak tega mendorong sang istri yang saat ini tengah memeluknya. Ron juga tidak mungkin mendorong nenek dan ibunya dengan kasar hanya untuk melepaskan diri.
Dokter segera menghampiri Ron dan menyuntikkan obat penenang pada suami Thrisca itu.
Thrisca beserta para orang tua itu menyeret Ron dengan susah payah menuju kamar, dan mengistirahatkan pria berwajah pucat itu di ranjang.
"Thrisca, ibu titip Ron, ya? Nanti sore ibu akan kembali ke sini lagi." pamit Nyonya Daisy.
"Segera hubungi nenek kalau kau kesulitan berada di rumah sendiri," tambah Nyonya Aswinda.
"Kami pamit, Nak. Kau juga istirahatlah," Tuan Hasan mengusap lembut kepala cucu menantunya dan berlalu meninggalkan kediaman Ron bersama dengan istri dan menantunya.
Thrisca kembali ke kamar dan memandangi Ron yang kini tertidur pulas karena obat tidur.
"Ron, kali ini aku yang akan menjagamu.." ujar Thrisca seraya mengecup kening sang suami.
***
Bersambung...
Halo teman-teman pembaca semua. Terima kasih atas dukungannya untuk DEAR, MY RON mulai dari like, komen, fave, vote sampai bonus kembang-kembangnya 😘
Mau promo yang baru, jika berkenan intip juga dong karya baru author berjudul SALAH PENGANTIN bergenre fantasi romance.
ditunggu jejaknya ~