
Thrisca segera berganti pakaian di dalam mobil, sementara Ron kembali berkeliling menyambangi toko-toko yang terletak tak jauh dari taman.
Thrisca keluar dari mobil dengan rok seragam yang terlalu pendek dan baju agak ketat.
"Pria bodoh itu kenapa memilih baju sekecil ini?!" gerutu Thrisca.
Ron kembali menghampiri Thrisca dengan membawa satu buah bola basket di tangannya.
Pria itu menatap sang istri tanpa berkedip saat melihat pakaian ketat yang melekat di tubuh istrinya itu.
"Gendut, ada apa dengan badanmu? Kenapa roknya pendek sekali?!" omel Ron begitu ia mendekat pada sang istri.
"Harusnya aku yang bertanya padamu! Kenapa kau memilihkan baju sekecil ini?"
Ron memberikan bola basket ditangannya pada Thrisca dan segera mengobrak-abrik isi mobilnya untuk mengambil kemeja.
Pria itu melingkarkan lengan kemeja di pinggang sang istri dan menutup rok pendek sang istri dengan kemejanya yang besar nan lebar.
"Sudah lebih baik," ujar Ron melihat penampilan istrinya dari atas hingga bawah.
"Jadi, seperti ini penampilan si gendut saat mengenakan seragam sekolah? Icha terlihat sangat imut," puji Ron dalam hati.
"Ron, apa aku terlihat aneh dengan seragam ini?"
"Aneh apanya? Kau terlihat cantik," ujar Ron seraya menarik tangan sang istri.
Ron dan Thrisca berjalan mengelilingi taman seraya membawa bola basket. Pria itu segera berlari dengan penuh semangat saat menemukan lapangan basket yang dikelilingi pohon rindang di sekitar taman.
"Gendut, kau pasti tidak pernah berolahraga! Bagaimana dengan basket? Kau bisa memainkannya? Aku akan menunjukkan gaya ala Michael Jordan padamu!" ujar Ron penuh percaya diri.
"Michael Jordan apanya," gumam Thrisca seraya tertawa kecil mendengar ocehan suaminya.
"Lihat ini, gendut!"
Ron berlari menuju ring dengan sok keren dan melompat kesana-kemari untuk memasukkan bola.
Ron beberapa kali melakukan shoot dengan gaya sok keren dan mengharapkan sorakan dan pujian dari sang istri.
Namun selama ia bermain solo, sang istri hanya menatap dirinya dari jauh dengan wajah datar tanpa ekspresi.
"Si gendut ini benar-benar!" gerutu Ron dalam hati.
Pria itu berlari menghampiri sang istri dan mengajak Thrisca untuk bermain.
"Gendut, bagaimana kalau kita bertanding? Pemenangnya akan mendapat hadiah dari pihak yang kalah. Bagaimana? Aku tidak akan mempersulitmu," tantang Ron dengan nada meremehkan pada sang istri.
"Apa hadiahnya?" tanya Thrisca dengan wajah malas.
"Apapun yang kau mau dariku. Tapi jika kau yang kalah, kau harus memberikan hadiah untukku! Bagaimana?"
"Aku ingin kau tidak melarang-melarangku lagi! Terlebih lagi untuk urusan keluar rumah. Aku memang hanya gadis rumahan, tapi aku juga ingin sesekali keluar rumah dan mencari suasana baru. Bagaimana?" tawar Thrisca.
"Aku tidak pernah melarangmu." ujar Ron dengan wajah tak berdosa.
"Kau boleh pergi keluar asal bersamaku. Kau tidak boleh pergi sendiri. Kemanapun kau pergi, harus ada aku!" sambung suami Thrisca itu.
"Pria ini benar-benar berniat menjadi permen karet?!!" gerutu Thrisca kesal.
"Apa hadiah yang kau mau?" tanya Thrisca.
"Berikan sesuatu yang istimewa untukku. Sesuatu yang tidak akan didapatkan oleh pria lain. Sesuatu yang hanya akan kau berikan padaku." ujar Ron penuh harap.
"Aku tidak memiliki semacam benda istimewa. Apa yang harus kuberikan pada Ron kalau dia yang menang?" batin Thrisca kebingungan.
"Baik. Aku akan menyiapkan sesuatu untukmu jika kau menang,"
"Baiklah! Aku tidak akan bermain serius. Kau bisa memulainya,"
Ron meraih tangan istrinya dan memberikan bola itu pada Thrisca.
"Aku sudah bisa mulai?" tanya Thrisca.
"Tentu!"
Tepat setelah mendengar perkataan sang suami, Thrisca segera melesat berlari menuju ring. Badan gadis ramping itu berlari dengan lincah seraya mendribble bola dengan lihai.
Ron diam membeku menyaksikan aksi sang istri yang berlari dengan cepat menuju ring dan melompat tinggi untuk memasukkan bola.
Pria itu mematung memandangi sang istri dengan mata berkilauan dan terpesona melihat istrinya berhasil melakukan shoot dengan mudah.
Thrisca tersenyum lebar saat ia melihat bola masuk ke dalam ring dengan lancar.
"Wah, aku tidak tahu kalau badanku masih bisa bergerak sebebas ini.." gumam Thrisca takjub dengan dirinya sendiri.
Gadis itu mengambil bola dan berlari ke arah Ron seraya melempar senyuman manis pada suaminya.
"Gendut, kau keren sekali.." puji Ron dengan mata berbinar memandangi sang istri tanpa berkedip.
Pria yang tadinya ingin mendapatkan pujian dan sanjungan dari sang istri, kini berbalik Ron sendiri yang sibuk menyanjung dan memuji istrinya.
Thrisca memalingkan wajahnya dari Ron untuk menyembunyikan pipi merahnya yang tersipu malu.
"Kupikir kau gadis rumahan yang tidak pernah berolahraga," tutur Ron masih dengan mata berbinar.
"Aku memang tidak suka olahraga. Tapi ayahku membelikanku bola basket dan mengajariku bermain. Aku pernah mengalami obesitas saat masih remaja, saat itu ayahku--"
Thrisca yang semula berbicara dengan senyum sumringah, tiba-tiba berhenti begitu ia sadar gadis itu menyebut-nyebut ayahnya.
Raut wajahnya berubah suram ketika ia mengingat sang ayah yang kini sudah tidak bersamanya lagi.
"Ayahku yang mengajariku," ujar Thrisca lirih seraya mengusap pipinya yang sudah banjir air mata.
Ron segera menarik tangan istrinya masuk ke dalam dekapan bahu lebarnya. Pria itu memeluk Thrisca dengan erat seraya mengusap lembut rambut gadis berparas cantik itu.
Suami Thrisca itu menepuk-nepuk punggung sang istri untuk menenangkan gadisnya itu.
"Sudahlah, gendut. Aku membawamu kesini untuk bersenang-senang."
Ron melepas dekapannya pada tubuh Thrisca dan mengusap lembut pipi basah istrinya.
"Maaf, Ron. Kau pasti sudah bosan melihatku terus-terusan menangis," ujar Thrisca dengan wajah murung.
"Gendut, kau boleh bersedih. Tapi aku tidak mengijinkanmu menangis terus-menerus seperti ini! Aku tahu kau bukan gadis cengeng." hibur Ron seraya menepuk bahu sang istri pelan.
"Kau harus bahagia, gendut! Demi ayahmu.."
Pria itu kembali mendekap sang istri seraya melayangkan kecupan di kening istri cantiknya.
Thrisca mengangguk pelan dalam pelukan Ron meskipun gadis itu masih berlinang air mata.
***
Ron dan Thrisca kembali melanjutkan pertandingan dan berakhir dengan kemenangan Thrisca. Ron sengaja mengalah untuk menyenangkan sang istri dan akan mengabulkan apapun permintaan istri satu-satunya itu.
Pasangan suami istri itu duduk di tengah lapangan dengan membelakangi satu sama lain untuk saling bersandar. Thrisca menyenderkan kepalanya di punggung lebar sang suami untuk melepas penatnya setelah lelah berlarian membawa bola di lapangan.
"Ron, aku menang. Aku boleh meminta apapun, kan?" tanya Thrisca dengan mata tertutup dan kepala tersandar di punggung Ron.
"Kau mau apa? Kau cuma ingin aku berhenti melarangmu, kan?"
Ron menoleh sedikit ke arah sang istri yang tersandar di belakangnya.
"Bukan itu! Aku ingin yang lain."
"Yang lain apa? Jangan buat permintaan aneh-aneh,"
"Aku tidak akan menggunakannya sekarang. Aku hanya ingin meminta jawaban 'Ya' darimu."
"Jawaban 'Ya' untuk apa dulu? Jangan mencoba menjebakku!"
"Suatu saat nanti, jika aku menginginkan sesuatu. Kau hanya perlu menjawab 'Ya' untuk memenuhi permintaanku itu. Kau mau, kan?" pinta Thrisca.
"Kau pasti ingin mengerjaiku, kan? Kau akan menggunakan kesempatan ini saat aku melarangmu melakukan sesuatu, iya kan?!" selidik Ron dengan wajah penuh curiga.
"Kenapa kau selalu berprasangka buruk padaku?! Aku tidak akan meminta yang aneh-aneh."
"Baik, aku akan menjawab 'Ya' untuk semua permintaanmu nanti. Tapi hanya untuk permintaan yang tidak merugikanku! Kau mengerti?!"
"Memangnya apa yang bisa dirugikan darimu? Aku juga tidak bisa mengorupsi semua uangmu," cibir Thrisca.
"Kenapa kau perlu merampok uangku? Seluruh isi dompetku sudah menjadi milikmu!"
"Benarkah? Milikku apanya. Aku saja tidak pernah menyentuh dompetmu,"
Ron mengambil dompet di sakunya dan melempar benda kecil itu tepat ke tangan sang istri.
"Ron, apa yang kau lakukan?! Simpan sendiri dompetmu!"
Thrisca menyingkirkan dompet yang ada di tangannya dan melempar kembali wadah uang itu pada sang pemilik.
"Gendut, dompet ini berisi uang yang sudah susah payah kukumpulkan untukmu. Memangnya untuk apa lagi aku bekerja rodi bagai kuda kalau bukan untukmu?"
Ron kembali melempar dompetnya ke arah Thrisca.
"Aku hanya bercanda, Ron!"
Thrisca berbalik badan dan menyimpan dompet kecil suaminya itu ke dalam kantong baju pria yang duduk di hadapannya.
Gadis itu duduk sangat dekat dengan sang suami hingga ia hampir masuk ke dalam dekapan pria jangkung itu.
Melihat wajah gadisnya yang hanya berjarak beberapa senti, Ron segera meraih leher sang istri dan mengecup bibir merah istrinya di tempat terbuka itu.
"Gendut, semuanya sudah menjadi milikmu. Termasuk aku," bisik Ron di telinga sang istri hingga membuat Thrisca geli.
Pria itu kembali ******* bibir lembut sang istri dengan antusias seraya menjalarkan tangan panjangnya untuk menjelajahi tubuh sang istri.
"Ron, jangan disini!"
Thrisca menghentikan ciuman dari suaminya dan mengeluarkan tangan pria itu dari dalam pakaiannya.
Gadis itu celingukan di sekitar taman, khawatir akan ada orang yang melihatnya bermesraan bersama sang suami di depan umum.
"Icha!"
Tak jauh dari tempatnya duduk bersama sang suami, seorang gadis nampak berlari ke arah Thrisca dengan senyum sumringah.
Thrisca segera mendorong Ron menjauh hingga pria itu tergeletak di lapangan. Gadis itu segera berdiri dengan panik dan merapikan pakaiannya yang berantakan.
"Gendut! Kenapa kau memperlakukanku seperti selingkuhan?! Aku mencium istriku sendiri memangnya tidak boleh?!" omel Ron ikut bangkit dan berdiri di samping sang istri.
"Maaf, Ron. Itu temanku memanggilku," ujar Thrisca seraya menunjuk ke arah Nadine yang berlari kecil menghampirinya.
"Kukira aku salah lihat," sapa Nadine begitu ia sudah sampai di hadapan Thrisca.
"Kenapa kau memakai baju seperti ini?" tanya Nadine keheranan.
"Oh, itu aku hanya iseng saja." ujar Thrisca asal.
"Kau bersama siapa? Bukan Yovan?" bisik Nadine seraya melirik ke arah Ron.
"Sudah kubilang, Yovan bukan suamiku." terang Thrisca.
Ron langsung menoleh ke arah Thrisca dengan tatapan tajam saat pria itu mendengar kata "Yovan" dan "suami" secara bersamaan.
"Sayang, kenalkan ini teman sekolahku. Nadine." Thrisca meraih lengan Ron dan memeluk lengan kekar pria itu dihadapan Nadine.
"Nadine, kenalkan ini Ron. Suamiku," ujar Thrisca seraya menatap Ron dengan ternyuman manis pada pria itu.
"SUAMI?" pekik Nadine tak percaya.
"Kapan nikahnya?!"
Nadine mencubiti pipi temannya itu dengan kesal karena ia benar-benar tidak diundang dalam acara pernikahan teman masa sekolahnya itu.
***
Bersambung..
coffee break dulu promosi..
Kali aja ada yang main ke lapak we*toon, mampir yuk ke komik author berjudul MY CHARMING DADDY di we*toon kanvas indo ✌🏻 ini dulunya novel gagal author yang akhirnya author jadikan versi komik 😂
Ditunggu jejaknya ya!