
"Ron, pinggangku sakit.." keluh Thrisca pagi-pagi seraya membangunkan sang suami yang masih memejamkan mata di sampingnya.
"Hem?"
Ron menggeliat di atas kasur dan melingkarkan tangannya di tubuh sang istri tanpa membuka mata sedikitpun.
"Ron, sudah pagi.. bangun!"
Thrisca mengguncang-guncangkan tubuh suaminya dengan suara serak.
"Apa, Sayang? Aku masih mengantuk. Nanti saja,"
"Ron!"
Thrisca mencubiti lengan suaminya dengan kencang hingga membuat mata Ron langsung terbelalak kaget.
"Aww!! Apa yang kau lakukan, Gendut?!!" omel Ron seraya mengusap-usap lengannya yang memerah.
"Bangun, Sayang. Sudah pagi," ujar Thrisca seraya menarik lengan suaminya dengan manja.
"Mana yang sakit?"
Ron meraba-raba tubuh sang istri yang masih tak berbusana dan memijat-mijat tubuh bagian bawah istrinya.
"Ron, lain kali kendalikan tenagamu. Aku bisa mati!" protes Thrisca seraya menarik tangan suaminya untuk memijat pinggangnya yang pegal.
"Hem? Iya," jawab Ron asal.
"Ron, bolehkah aku mencari kegiatan di luar rumah?" ijin Thrisca dengan wajah takut-takut.
"Kegiatan apa?"
Ron mulai tersadar sepenuhnya dan berbicara dengan suara beratnya yang khas dan mengintimidasi.
"Suara Ron menyeramkan sekali," batin Thrisca dengan nyali mulai menciut.
"Aku.. ingin mempersiapkan diri untuk kembali ke universitas. Boleh, kan?"
Ron mengernyitkan dahi dan menatap sang istri dengan wajah tidak senang.
"Sayang, bisakah nanti saja mengurus kuliahnya? Aku ingin kau fokus mempersiapkan kehamilanmu, bukan mengurus pendidikanmu."
"Tapi Ron, aku ingin ibumu menerimaku sebelum anak kita lahir. Banyak mahasiswi yang sudah menikah dan beraktivitas dengan mudah di kampus meskipun tengah hamil. Aku tidak akan menunda kehamilan, tapi aku juga tidak akan menunda untuk melanjutkan pendidikan." ungkap Thrisca.
"Lalu bagaimana denganku? Mana mungkin aku bisa meninggalkanmu sendirian di kota yang jauh saat kau sedang hamil?"
"Ada Bibi Susan, Ron. Lagipula kota itu tempat tinggalku sejak kecil. Aku akan baik-baik saja disana,"
"Aku yang tidak akan baik-baik saja, Gendut! Aku yang akan kacau tanpamu disini!" ujar Ron seraya memeluk sang istri dengan erat.
"Aku akan mendukungmu, Sayang. Apapun yang kau inginkan, aku akan memenuhinya. Tapi aku tidak mengijinkanmu jauh dariku!" sambung Ron.
"Ron, aku melakukan semua ini juga demi dirimu. Aku ingin segera menjadi istri yang pantas untukmu, Ron. Tolong dukung aku," pinta Thrisca.
"Istri yang pantas apanya? Kau sudah menjadi wanita idamanku, Icha. Aku tidak akan menuntut apapun lagi darimu."
"Ron--"
Belum sempat Thrisca melanjutkan kalimatnya, Ron sudah membungkam bibir sang istri dengan kecupan ganas darinya.
"Aku tidak ingin mendengar apapun mengenai hal ini! Aku ingin selalu melihatmu saat aku membuka pintu kamar ini, kau mengerti?" ujar Ron mendominasi.
***
Ron memasuki gedung perusahaannya dengan wajah masam. Pria itu masih ingin menghabiskan waktu berlama-lama dengan sang istri, namun Thrisca terus saja mendesaknya dengan pembahasan mengenai pekerjaan.
Begitu membuka pintu ruangannya, suasana hati Ron semakin buruk saat melihat ibunya dan Lilian sudah duduk di sofa ruangannya dengan tatapan dingin.
"Apa yang ibu lakukan disini?" tanya Ron malas.
"Apa yang kau lakukan pada Lilian?!" omel Nyonya Daisy.
"Melakukan apa?"
"Ron, kau benar-benar ingin mendepak Lian dari sini?!" tanya Nyonya Daisy dengan suara nyaring.
"Apa yang kau lakukan disini?!"
Ron tidak menanggapi omelan ibunya dan beralih pada Lilian yang masih berdiri mematung tanpa mengucapkan apapun.
"Aku.. datang untuk menandatangani pembatalan kontrak." jawab Lilian.
"Bagus! Kemasi juga barang-barangmu dari rumah istriku!" tutur Ron.
"Ron!"
Nyonya Daisy mulai kehilangan kesabaran menghadapi putra yang tidak mau menuruti keinginannya itu.
"Bibi, aku pamit."
Lilian pergi meninggalkan ruangan Ron dengan mata berkaca-kaca.
"Ron, kenapa kau tega sekali pada Lian?!" omel Nyonya Daisy pada sang putra.
"Bu, pekerjaanku masih banyak. Tolong ibu pulang saja! Jangan membuatku semakin pusing!"
"Pulang ke rumah ibu sekarang! Ada hal yang ingin ibu bahas denganmu!" perintah ibu beranak satu itu.
"Katakan saja disini," ujar Ron malas.
"Ikut ibu pulang sekarang!" ujar Nyonya Daisy seraya mendorong kursi roda sang putra.
Han segera berlari mengejar sang bos seraya membawa berkas-berkas pekerjaan hingga ia tidak sengaja menabrak seorang wanita yang berdiri di pintu masuk.
"Maaf, Pak. Saya tidak sengaja,"
Suara lembut seorang wanita mengalun di telinga Han. Wanita itu tidak lain ialah Nadine, teman sekolah Thrisca dari kampung halaman istri sang bos.
"Tidak apa-apa," ujar Han datar seraya memunguti kertas-kertas yang berhamburan di lantai dibantu oleh Nadine.
"Perusahaan besar memang beda. Pegawainya saja setampan model," gumam Nadine seraya memandangi Han yang sudah berlalu keluar gedung.
"Cherry!"
Wanita itu berteriak girang saat melihat salah satu temannya yang sudah muncul di dalam gedung perusahaan.
"Nadine, kau benar-benar berhasil mendapat kesempatan magang itu? Aku benar-benar bangga padamu,"
"Aku tidak seperti dirimu yang masuk dengan bantuan orang dalam," sindir Nadine.
"Bantuan apanya? Pamanku hanya membantuku mencarikan informasi. Aku masuk dengan usahaku sendiri!" bela Cherry.
"Bukankah Icha pernah bilang kalau dia dan suaminya tinggal di kota ini? Bagaimana kalau kita mencoba menghubungi Icha?" seru Nadine penuh semangat.
Kedua sahabat itu berkeliling gedung perusahaan sejenak sekaligus mengurus berkas untuk keperluan magang di perusahaan milik keluarga Ron itu.
"Kupikir kau tidak jadi mendaftar magang disini?" ujar Cherry membuka perbincangan.
"Mencari pekerjaan tetap juga tidak mudah. Lagipula jika kerja kita bagus, kita bisa mendapat kesempatan menjadi pegawai tetap disini, kan?" ujar Nadine bersemangat.
"Jangan bermimpi terlalu tinggi dulu! Bisa menjadi karyawan magang disini saja aku sudah bersyukur," ungkap Cherry.
"Tidak ada yang tahu, kan? Mungkin saja kita berjodoh dengan perusahaan impian ini.." ujar Nadine seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling bangunan gedung.
***
Kediaman Tuan Derry.
"Ibu menipuku lagi?!" protes Ron geram saat melihat ada kumpulan dokter yang berkumpul menyambangi kediaman utama sang ayah.
Sang kakek, Tuan Hasan dan ayahandanya pun turut berkumpul di istana orang tua Ron itu.
"Hari ini juga kamu harus siap-siap untuk operasi! Ibu juga sudah mengurus berkas perceraianmu dengan Thrisca!" tutur Nyonya Daisy.
Tuan Hasan dan Tuan Derry hanya duduk memainkan ponsel masing-masing tanpa menghiraukan Nyonya Daisy.
Ron menghela nafas sejenak sebelum akhirnya ia memutuskan untuk menapakkan kaki sehatnya di depan sang ibu.
Putra semata wayang Nyonya Daisy itu tiba-tiba berdiri dari kursi roda dan berjalan menghampiri sang ibu.
"Ibu, lihat kakiku!" ujar Ron dengan wajah datar.
Nyonya Daisy yang sibuk dengan berkas perceraian sang anak, menoleh ke arah putranya dengan wajah tercengang.
"Ron, apa maksud semua ini?"
Nyonya Daisy menghampiri sang putra seraya memeriksa kaki anak laki-lakinya itu.
"Ibu, aku baik-baik saja. Aku.. tidak pernah lumpuh." ujar Ron lirih.
Nyonya Daisy menatap sang putra dengan mata membulat lebar.
"Heh, pak tua! Kau sudah tahu?"
Nyonya Daisy melirik ke arah sang suami yang hanya diam tak bereaksi saat Ron menampilkan kaki sehatnya.
"Ayah juga sudah tahu?"
Nyonya Daisy beralih ke ayah mertuanya, Tuan Hasan.
Tuan Hasan dan Tuan Derry masih mengabaikan Nyonya Daisy dan asyik dengan dunia ponselnya masing-masing.
"Kalian semua membodohiku?!" omel Nyonya Daisy seraya menjewer telinga putranya.
"Dasar anak nakal! Kakek dan ayahnya juga sama saja!"
Nyonya Daisy memukul-mukul punggung anaknya dengan kesal.
"Ibu, usir dulu tamu-tamu ibu itu!" protes Ron seraya berlari menghindari amukan sang ibu.
Beberapa menit kemudian kegaduhan antara ibu dan anak itu dapat mereda sejenak.
Semua dokter yang dipanggil oleh Nyonya Daisy sudah berhamburan keluar dari kediaman Tuan Derry.
Nyonya Daisy duduk berkumpul bersama ayah mertua, suami serta sang putra di ruang tamu kediaman megah itu.
"Jadi?"
Nyonya Daisy melirik dengan tatapan tajam ke arah Ron.
"Aku akui, aku salah. Aku melakukan itu agar Thrisca menolak menikah denganku." jelas Ron.
"Ayah, lihat cucumu benar-benar tersiksa dengan perjodohanmu itu! Sampai kapan ayah akan menyiksa putraku?" protes Nyonya Daisy pada Tuan Hasan.
"Ibu, dengarkan aku dulu! Aku belum selesai bicara," keluh Ron.
"Diam, Ron! Ibu sedang berbicara pada kakekmu!" bentak Nyonya Daisy.
"Ayah, tolong lepaskan Ron sekarang juga! Ron pria sehat dan mapan! Aku akan mencarikan wanita yang sempurna untuk menjadi menantu keluarga kita!" ujar Nyonya Daisy berapi-api.
"Daisy, aku tidak memaksakan keinginanku pada Ron. Aku sudah memberikan kesempatan baginya untuk memilih. Ron sudah dewasa dan dia tahu apa yang harus dia lakukan." ujar Tuan Hasan penuh wibawa.
"Ibu, aku memang melakukan ini untuk menolak perjodohanku dengan Thrisca. Tapi itu dulu, Bu! Sekarang dan sampai kapan pun aku tidak akan pernah menceraikan Thrisca!" ungkap Ron tegas.
"Ron, apa kau sudah buta?! Apa kakekmu mengancammu?! Ceraikan Thrisca sekarang juga! Ibu sudah menyiapkan calon istri untukmu." sanggah Nyonya Daisy.
"Daisy! Dengarkan perkataan putramu! Ron bukan lagi anak-anak. Dia yang paling tahu apa yang dia inginkan. Biarkan dia mempertanggungjawabkan semua pilihan yang diambilnya!" bentak Tuan Hasan.
Nyonya Daisy menciut seketika saat mendengar suara nyaring dari ayah mertuanya.
"Kau pikir aku mencarikan sembarang gadis untuk cucu kesayanganku? Thrisca seribu kali lebih baik dari wanita liar yang pernah dikencani putramu. Aku tidak akan pernah membiarkan Ron membuang Thrisca. Aku yang akan membuat Thrisca membuang Ron!" sambung Tuan Hasan.
"Ibu belum mengenal Thrisca, kan? Thrisca gadis yang baik, Bu. Dia pandai mengurus suami dan selalu menurut padaku. Ibu pasti akan menyukai Thrisca jika ibu sudah mengenalnya," bujuk Ron pada ibunya.
Nyonya Daisy hanya diam tidak menanggapi ocehan putranya.
"Daisy, jangan terus mendesak Ron untuk memenuhi keinginanmu! Biarkan dia sendiri yang memilih kebahagiaannya," ujar Tuan Derry membela sang putra.
"Kau tahu apa soal mengurus anak, Pak Tua?! Yang kau tahu hanyalah menambah istri dan simpanan!" sindir Nyonya Daisy pada suaminya, Tuan Derry.
"Kau sudah puas bermainnya, Ron?! Mulai besok buang kursi rodamu! Selesaikan pekerjaanmu dengan benar!" tutur Tuan Hasan seraya beranjak dari bangku untuk meninggalkan kediaman sang putra.
Tuan Derry ikut bangkit dari kursi dan memberikan ruang untuk istri dan putranya berbicara lebih banyak.
"Ron, kau benar-benar ingin mempertahankan Thrisca karena keinginanmu sendiri?" tanya Nyonya Daisy dengan lirih.
"Tolong restui aku dan Thrisca, Bu. Istriku sangat tertekan karena sikap dingin ibu. Aku ingin cepat-cepat memberimu cucu. Tolong terima istriku demi aku, Bu.." pinta Ron seraya menggenggam tangan sang ibunda.
"Kau ingin ibu memahamimu, tapi apa kau pernah memahami perasaan ibumu? Selama berbulan-bulan ini tidur ibu tidak pernah nyenyak karena terus memikirkanmu, Ron! Ibu takut kau tidak akan bisa berjalan lagi," ujar Nyonya Daisy dengan mata berkaca-kaca.
"Ibu terus menundukkan kepala di hadapan orang-orang, ibu terus mendengarkan cibiran untukmu dan istrimu! Ibu tidak sanggup lagi, Ron.."
"Bu, tidak perlu mendengarkan perkataan orang-orang! Aku bahagia bersama istriku, Bu. Tolong utamakan kebahagiaanku. Aku akan menuruti apapun kemauan ibu, tapi jangan ambil Thrisca dariku, Bu!" ujar Ron memohon pada Nyonya Daisy.
Ibu satu anak itu hanya terdiam mendengarkan permintaan dari putranya. Selama ini Ron tidak pernah meminta apapun padanya.
Putra yang selalu hidup berkecukupan dengan segala akses kemudahan itu selalu memasang wajah angkuh bahkan di depan orang tuanya.
Namun hari ini, putra angkuh Nyonya Daisy itu datang memohon pada sang ibunda hanya demi mempertahankan menantu gendut yang tidak disukai oleh wanita paruh baya itu.
***
Bersambung..