
Cherry dan Nadine duduk di luar gedung perusahaan dengan lesu. Dua wanita malang itu terus menghela nafas berat setelah mereka menerima pengumuman pegawai magang yang diterima sebagai karyawan resmi.
Sayangnya, nasib baik belum berpihak pada dua teman Thrisca itu. Nadine dan Cherry harus beralih mencari pekerjaan lain dan hendak meninggalkan kota besar tempat Thrisca tinggal itu.
"Apa rencanamu, Nadine?" tanya Cherry lemas.
"Entahlah. Aku mungkin akan pulang sebentar," jawab Nadine.
"Kau akan bertahan di kota ini?" tanya Cherry.
"Mungkin. Aku akan mencoba mencari pekerjaan lain. Bagaimana denganmu?"
"Aku? Aku belum tahu. Aku ingin pulang saja," jawab Cherry tak semangat.
"Bagaimana kalau kita mengunjungi Icha sebelum kita pulang?" ajak Nadine.
"Tentu!" sahut Cherry.
Setelah beberapa menit berkendara dengan taksi, akhirnya Nadine dan Cherry sampai di kediaman sang sahabat.
Kedua teman Thrisca itu masuk ke dalam pekarangan rumah Thrisca dan berdiri di depan pintu tanpa berani mengetuk benda kotak besar itu.
"Bagaimana kalau ada Ron di dalam? Aku takut melihat wajahnya," ujar Cherry bergidik ngeri.
"Kau tidak bertanya pada Icha tentang Ron? Aku juga takut melihat wajah jutek pria itu," tukas Nadine.
"Aku hanya mengirim pesan kalau kita akan berkunjung," jawab Cherry lemas.
"Dasar bodoh! Harusnya kau tanya dulu dia di rumah bersama siapa, dia sedang melakukan apa, dia sibuk atau tidak!" omel Nadine seraya menoyor kepala Cherry.
Ceklek.
Pintu sudah terbuka terlebih dulu sebelum Nadine dan Cherry mengetuknya. Kedua wanita itu langsung berdiri dengan gugup begitu seseorang muncul dari balik pintu.
"Nadine," sapa Han pada Nadine.
"P-pak Han di sini? Selamat siang, Pak." balas Nadine seraya menundukkan kepala.
"Kalian ingin menemui Nona? Nona ada di dalam." ujar Han.
"T-terima kasih, Pak."
Nadine dan Cherry segera berlari masuk ke dalam mencari sosok Thrisca.
"Nadine!" panggil Han sebelum wanita itu masuk lebih dalam ke kediaman Ron.
"Iya, Pak?"
Nadine berhenti sejenak dan menoleh ke arah Han.
"Bagaimana hasil seleksinya? Kau lolos sebagai karyawan resmi?" tanya Han.
"Em, itu. Sepertinya aku kurang beruntung." jawab Nadine disertai cengiran kuda.
"Maksudmu?"
Han kembali masuk ke dalam rumah dan mendekat menghampiri Nadine.
"Aku dan Cherry tidak lolos." jawab Nadine seraya tersenyum kecut.
"Benarkah? Lalu sekarang kau--"
"Besok aku akan mengambil barang-barangku di kantor. Besok hari terakhirku, Pak. Terima kasih atas bimbingannya selama ini." pamit Nadine pada Han.
"Dimana kau akan mencari pekerjaan baru? Kau masih tetap tinggal di kota ini, kan?" tanya Han.
"Itu.. aku tidak tahu. Mungkin aku akan pulang."
"Pulang kemana?!" tukas Han panik.
"Orang ini kenapa?!" batin Nadine heran.
"Tentu saja pulang ke kampung halamanku." jawab Nadine seramah mungkin.
"Oh.." jawab Han singkat.
"Hanya 'Oh' saja?!" batin Nadine kesal.
"Kalau begitu.. permisi, Pak." pamit Nadine meninggalkan Han yang masih berdiri di pintu.
"Nadine tidak lolos? Artinya aku tidak akan memiliki banyak kesempatan lagi untuk melihat Nadine?" gumam Han kecewa.
***
"Kalian sudah datang?" sapa Thrisca pada kedua temannya yang sudah duduk manis di ruang tamu.
Nyonya rumah itu menyambut hangat kedua tamunya dengan mengenakan lingerie tipis yang mengekspos kulit mulus istri Ron itu.
Manik mata kedua sahabat Thrisca itu sibuk menatap tanda merah yang terlukis di leher jenjang istri cantik Ron.
"Icha, itu.." goda Nadine seraya menunjuk tanda merah dari Ron di leher Thrisca.
"Itu apa?" tanya Thrisca bingung.
Wanita itu mulai tersadar ia hanya mengenakan pakaian terbuka dan memamerkan hasil lukisan sang suami di leher dan dadanya.
Thrisca segera menutup lehernya menggunakan tangan dan menunjukkan wajah yang sudah memerah bak kepiting rebus.
"M-memangnya kenapa dengan leherku? Ini sudah sering terjadi! Bukan hal yang aneh untuk wanita bersuami sepertiku! Kalian wanita lajang tidak akan pernah tahu!" omel Thrisca dengan tergagap.
"Sudah sering terjadi? Sepertinya kau terlalu sering melakukan hal itu dengan suamimu.." ledek Cherry.
"Diam kalian!"
Thrisca mengambil bantal sofa dan melempar benda empuk itu ke arah dua temannya.
"Siapa yang datang, Sayang?"
Ron yang mendengar suara keributan di ruang tamu, ikut menghampiri sang istri yang tengah menyambut tamu.
Pria yang bertelanjang dada itu nampak percaya diri muncul di tengah-tengah para wanita lajang yang sedang bertamu ke rumahnya.
"Sayang, pakai bajumu!" omel Thrisca seraya mencubiti pinggang Ron.
"Aku akan siapkan minuman. Kalian duduk saja di sini," pamit Thrisca seraya menyeret Ron menyingkir dari ruang tamu.
"Kau tidak bilang akan ada tamu," ujar Ron membuka perbincangan di tengah-tengah kesibukan sang istri yang sedang menyiapkan minuman.
"Hanya teman yang berkunjung, Ron. Cherry dan Nadine juga sudah sering berkunjung kemari. Aku tidak boleh mengundang mereka lagi?" tanya Thrisca memelas.
"Bukan begitu, Sayang. Tapi seharusnya mereka tahu waktu untuk berkunjung! Mereka benar-benar mengganggu!" protes Ron.
"Mengganggu apa, Ron? Aku tidak sedang sibuk." sanggah Thrisca.
"Mereka sudah mengganggu waktuku bersamamu!" omel Ron seraya memeluk erat sang istri dari belakang.
"Ron, pergilah ke kantor! Kau sudah mengambil libur panjang selama beberapa hari ini,"
"Sudah ada Han yang mengurus pekerjaan.." jawab Ron cuek.
"Kasihan Mas Han, Ron. Kapan dia bisa menikah kalau kau terus menyita waktunya untuk bekerja lembur setiap hari?!"
"Biarkan saja Han terus melajang! Aku tidak peduli!"
"Ron, kau ini!"
Thrisca menepuk punggung tangan sang suami dan melepaskan diri dari dekapan Ron.
Wanita itu kembali ke ruang tamu dan berbincang dengan kedua sahabatnya.
"Kami tidak akan lama. Aku dan Cherry hanya ingin berpamitan." ujar Nadine.
"Berpamitan?"
"Aku dan Cherry tidak lolos menjadi karyawan resmi. Mulai besok kami tidak bekerja lagi di Diez Group." terang Nadine.
Thrisca mencubit pinggang sang suami yang sibuk memainkan kuku di sampingnya.
"Ron, lakukan sesuatu.." bisik Thrisca di telinga sang suami.
"Melakukan apa?!" balas Ron tak peduli.
"Em, jadi kalian akan pulang? Atau tetap berada di kota ini?" tanya Thrisca.
"Mungkin kami akan pulang," jawab Cherry.
"Kapan? Beritahu aku kalau kalian akan pulang."
"Tentu.."
***
Sore hari, Nadine dan Cherry berpamitan dari rumah sang sahabat.
Kedua wanita itu melambaikan tangan pada Thrisca dengan takut-takut karena Ron yang terus menatap intens ke arah mereka.
"Ron, kau menakuti teman-temanku!" gerutu Thrisca kesal.
"Aku tidak melakukan apapun!" jawab Ron dengan wajah tanpa dosa.
"Ron, tidak bisakah kau melakukan sesuatu?! Biarkan teman-temanku bekerja di perusahaanmu, Ron!" rengek Thrisca.
"Kalau tidak lolos ya sudah! Kenapa masih memaksa?!"
"Ron, kau benar-benar tidak pengertian!"
Thrisca mendorong tubuh sang suami dan masuk ke dalam rumah dengan wajah cemberut.
"Sayang, kenapa kau marah padaku? Bukan salahku kalau mereka tidak lolos.." Ron mengejar sang istri yang sudah berlarian masuk ke dalam kamar.
Sementara, Nadine dan Cherry yang baru saja keluar gerbang rumah Ron, dikejutkan dengan sosok Han yang berdiri tepat di depan pintu gerbang kediaman sang bos.
"Pak Han.." sapa Nadine pada Han yang berdiri di samping kendaraannya dengan pakaian kasual.
Pria itu menatap lekat ke arah Nadine tanpa menghiraukan Cherry yang juga berada di tempat itu.
"Em, Nadine.. ada barang yang tertinggal di kantor. Aku harus kembali. Kau pulang saja dulu," ujar Cherry kabur, tak ingin mengganggu temannya.
"Biar aku tema--"
"Nadine, kau sudah mau pulang?" tanya Han memotong ucapan Nadine.
Sementara Cherry sudah berlari jauh, meninggalkan Nadine bersama dengan Han.
"I-iya, Pak. Selamat malam.." pamit Nadine.
"Biar kuantar.." tawar Han.
"T-tidak perlu, Pak." tolak Nadine halus.
"Aku bukan lagi atasanmu. Panggil saja dengan namaku,"
"Memangnya kita seakrab itu?" cibir Nadine tanpa sadar.
"Ehm, maaf. Aku tidak bermaksud berkata seperti--"
Belum sempat Nadine melanjutkan kalimatnya, Han sudah lebih dulu menarik tangan Nadine dan memasukkan wanita cantik itu ke dalam mobilnya.
"Bagaimana kalau sekalian makan malam?" ajak Han malu-malu.
"Hm? Makan malam dalam rangka apa?"
"Anggap saja sebagai perpisahan. Kau sudah banyak membantu pekerjaanku selama beberapa bulan ini." ujar Han setenang mungkin.
"Terima kasih, Pak. Tapi sepertinya itu tidak per--"
"Hanya makan malam. Untuk yang pertama dan terakhir kalinya. Kau mau, kan?" tanya Han seraya menatap wajah Nadine tanpa berkedip.
"Kenapa dia menatapku seperti itu?!" batin Nadine dengan jantung mulai berdegup tak karuan.
***
Bersambung...