DEAR, MY RON

DEAR, MY RON
BAB 53



Matahari sudah terik dan panasnya mulai menyengat ke seluruh tubuh, namun istri Ron masih saja terlelap nyenyak di kasur kecilnya seperti bayi yang kelelahan.


Sang suami yang sudah bangun terlebih dulu, nampak asyik memainkan ponsel dan bersandar di dinding dapur rumah kecil sang istri.


Ron tengah sibuk menyiapkan sarapan sederhana untuk istrinya yang masih terlelap di balik hangatnya selimut.


Pria itu melihat ponselnya dengan antusias dan mengamati benda kecil itu dengan cermat.


Ron yang masih bingung membaca resep masakan di internet, tanpa sengaja memegang wajan panas yang sudah bertengger di atas kompor.


"Aww! Sial!"


Ron langsung kalang kabut mengibas-ngibaskan tangannya yang mulai memerah karena tersentuh benda panas.


Tiba-tiba seseorang meraih tangannya dan sebuah kain kecil dingin nan basah mendarat di kulit pria yang hampir terbakar itu.


Ron menatap wajah orang yang tengah memegang tangannya yang tidak lain ialah Susan.


Pria beristri itu segera menarik tangannya dengan kasar dan melempar tatapan kesal pada ibu beranak satu itu.


"Apa yang kau lakukan?!" bentak Ron pada Susan.


"Aku hanya membantumu," jawab Susan lirih.


"Minggir!" usir Ron dengan kasar pada istri ayah mertuanya itu.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Susan.


Ron tidak menjawab ocehan Susan. Pria itu sibuk mengurus kompor dan menyiapkan susu hangat untuk sang istri.


"Aku akan memasak sarapan untukmu. Istrimu pasti belum bangun?" tanya Susan lagi.


Ron masih tetap diam dan sibuk mengaduk gelas yang sudah berisi susu hangat buatannya.


"Wanita itu benar-benar kelewatan! Sudah bersuami tapi masih saja malas. Bahkan membiarkan suaminya kelaparan di pagi hari seperti ini," oceh Susan.


"Ini rumah istriku! Mau jam berapapun istriku bangun, memangnya apa urusannya denganmu?" ujar Ron dengan sinis.


"Bukan begitu, tapi dia bukan wanita karir. Dia hanya duduk manis di rumah. Kenapa bangun pagi untuk menyiapkan sarapan saja tidak bisa?"


"Istriku bukan pembantu! Memangnya kenapa kalau istriku hanya duduk di rumah? Aku sendiri memang ingin melihat istriku hanya duduk manis di rumah!"


"Thrisca beruntung sekali memiliki suami yang memanjakannya sepertimu," puji Susan seolah ia menepis begitu saja semua perkataan kasar yang dilontarkan oleh suami anak tirinya itu.


"Dasar muka bebal!" gumam Ron seraya membawa segelas susu menuju kamar sang istri.


"Ron benar-benar suami yang perhatian. Mimpi apa Thrisca bisa mendapatkan suami yang tampan dan perhatian seperti itu," gumam Susan seraya menatap Ron yang berjalan meninggalkan dapur.


"Sayang.."


Ron mengusap-usap lembut wajah sang istri untuk membangunkan putri tidur itu.


"Bangun, Gendut!"


Pria itu mencubiti pipi halus Thrisca dengan gemas.


Ron mulai kesal melihat sang istri yang enggan membuka matanya dan hanya membolak-balikkan tubuhnya untuk memindah posisi tidur.


"Baiklah, kau masih ingin tidur, kan? Aku akan menemanimu dengan senang hati."


Ron berbaring disamping sang istri dan menarik lembut pakaian istrinya itu hingga beberapa kancing piyama sang gadis terlepas.


Pria kurang belaian itu berkelana masuk ke dalam pakaian sang istri dan menjelajahi tubuh istri perawannya itu dengan tangan nakalnya.


Thrisca yang merasakan sentuhan tidak nyaman di tubuhnya, segera membuka mata dan menyingkirkan tangan Ron dari dalam piyamanya.


"Ron! Apa yang kau lakukan pagi-pagi begini?!" omel Thrisca masih dengan mata tertutup.


"Sudah siang, gendut! Jangan lewatkan sarapanmu! Cepat bangun atau aku akan melakukan hal yang lebih dari ini!"


Thrisca segera membuka mata dengan paksa dan merapikan rambutnya yang acak-acakan.


Ron mengancingkan kembali piyama istrinya dan mengusap-usap lembut kepala gadisnya itu.


Pria itu menyodorkan segelas susu hangat untuk sang istri yang masih menempel dengan selimut itu.


"Tidak perlu drama! Minum saja! Habiskan,"


"Jam berapa sekarang?" tanya Thrisca seraya bersiap meneguk susu hangat di tangannya.


"Jam sembilan," jawab Ron dengan santai.


Thrisca langsung menyemburkan susunya hingga mengenai pakaian sang suami begitu ia mendengar jawaban jam yang sudah menyentuh angka begitu banyak.


"M-maaf, Ron! Aku tidak sengaja! Maaf, kukira ini masih pagi. Kau pasti melewatkan sarapan lagi karena aku. Maaf, Tuan.."


Thrisca mengusap pakaian suaminya dengan panik dan terus-menerus meminta maaf pada pria tampan di depannya itu.


Ron mengatur nafas sejenak, mencoba meredam amarahnya dan memaklumi semburan susu lengket dari sang istri.


"Tidak apa-apa, Sayang. Tidak perlu meminta maaf," ujar Ron tanpa mengomel sedikitpun.


"Tidak perlu berpura-pura sabar seperti itu, Ron. Bentak saja aku seperti biasanya," ujar Thrisca dengan wajah murung.


"Gendut, ini hanya air. Kenapa aku harus membentak istriku hanya karena segelas air ini?"


Ron bangkit dari ranjang dan segera melepas baju lengket itu dari tubuhnya.


"Gendut, ganti bajumu cepat. Kita cari sarapan di luar saja," ajak pria yang gagal membuat makanan layak konsumsi itu.


"Aku bisa memasak untukmu. Tidak akan lama,"


"Turuti saja apa yang kukatakan! Kita masih memiliki banyak agenda kencan yang menunggu," ujar Ron dengan antusias.


"Ron, apa kau tidak lelah? Istirahat saja hari ini."


"Tidak bisa! Kau hanya akan duduk termenung di rumah dan itu akan membuat kesedihanmu kembali menumpuk."


"Aku akan membuat hari-hari menyenangkan untukmu sampai kesedihanmu benar-benar hilang," sambung Ron seraya menggenggam tangan sang istri.


Thrisca membalas genggaman tangan sang suami dan mengusap lembut tangan besar suaminya itu.


"Ron, kenapa dengan tanganmu?" tanya Thrisca saat melihat sebagian kecil punggung tangan suaminya yang memerah.


"Ini bukan apa-apa," jawab Ron cuek.


"Sepertinya luka baru, iya kan? Tanganmu tidak memerah seperti ini kemarin," selidik Thrisca.


"Sudahlah! Itu hanya luka kecil,"


"Luka sekecil apapun tetap harus dirawat! Mana boleh bos tampan sepertimu memiliki tangan yang kasar," ujar Thrisca seraya menarik tangan sang suami dan mendudukkan pria tampan itu di kasur.


Thrisca segera membongkar lacinya untuk mencari salep luka. Gadis itu mengoleskan obat luka ke tangan suaminya dengan lembut.


Ron tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang tersipu malu saat mendapat perhatian dari sang istri.


"Ini hanya luka kecil, kau berlebihan sekali.." ujar Ron sambil mengulum senyum.


Thrisca hanya melempar senyum tipis pada sang suami seraya mengusap-usap lembut punggung tangan pria berkulit putih itu.


"Kau pasti melakukan sesuatu di dapur. Kau mencoba memasak lagi?" tebak Thrisca.


"T-tidak! Siapa yang mau membuang waktu dengan panci-panci gosong itu! Belilah alat masak yang baru! Panci di dapurmu sudah menghitam semua!"


Ron sontak mengomel untuk menutupi wajahnya yang memerah malu karena ia gagal menyiapkan sarapan untuk sang istri.


"Benar, kan? Kenapa kau masih saja bandel masuk ke dapur?! Lain kali bukan hanya tanganmu yang akan terbakar, tapi jarimu juga akan ikut terpotong!"


"Aku menyesal sudah membaca resep masakan semalaman hanya demi membuatkanmu sepiring sarapan! Kau ini benar-benar tidak tahu cara menghargai kebaikan seseorang!" protes Ron pada sang istri.


Hari mereka kembali dipenuhi keributan-keributan kecil yang semakin menyemarakkan gubuk kecil peninggalan ayah Thrisca.


Sedikit demi sedikit, gadis yang sudah tidak memiliki orang tua itu mulai bisa menerima kepergian sang ayah tercinta dan mulai membiasakan diri untuk hidup bersama suaminya yang kini telah menjadi satu-satunya keluarga terdekat yang tersisa.


***


Bersambung..