
Thrisca dan Han duduk di ayunan taman kecil di pusat kota. Kedua orang itu menghabiskan satu porsi kebab sebagai makan siang, kemudian bersantai sambil bermain ayunan di bawah pohon rindang.
"Mas Han kakimu panjang sekali?" komentar Thrisca saat melihat Han yang terlalu menekuk kakinya saat duduk di ayunan.
"Ayunannya terlalu pendek," ujar Han seraya tersenyum kecil.
"Mas Han, boleh minta tolong dorong aku?" pinta Thrisca.
Han beranjak dari bangku ayunannya dan mendorong pelan ayunan yang ditempati oleh istri bosnya.
Thrisca menikmati angin segar yang berhembus di teriknya matahari siang itu. Wanita itu menikmati bangku yang mengayun pelan membawa tubuhnya bergerak maju mundur secara perlahan.
"Mas Han, apa menurutmu aku bisa mengimbangi Ron?"
"Mengimbangi bagaimana?" tanya Han bingung.
"Ron pria yang sempurna. Aku juga ingin menjadi wanita yang sempurna untuk Ron. Paling tidak aku ingin membuat Ron tidak malu saat memperkenalkanku pada orang-orang," ujar Thrisca.
"Bos bukan pria seperti itu. Bos sangat mencintai Nona. Apapun yang Bos lihat dari diri Nona sudah terlihat sempurna."
"Mas Han, kau pintar sekali berbicara? Sejak tadi kau terus memberi petuah untukku," cibir Thrisca.
Han tertawa kecil menanggapi cibiran Thrisca.
Perbincangan mereka terhenti saat ponsel Han tiba-tiba berdering kencang. Kedua orang itu tidak menyadari ada sepasang mata yang mengawasi mereka dari kejauhan.
"Halo?"
"Sedang menikmati kencan dengan kekasih kecilmu, Han?!" sindir Jane melalui telepon.
"Kau mengawasiku?"
"Jadi, karena wanita itu kau menolak ajakan kencanku?"
"Apa maksudmu?"
"Siapa wanita itu? Sepertinya tidak asing," selidik Jane.
Han segera berdiri di depan Thrisca untuk menutupi wajah istri bosnya itu. Thrisca nampak terkejut melihat Han yang tiba-tiba berdiri tepat di hadapannya dan menghalangi pandangannya.
"Mas Han, ada apa denganmu? Menyingkirlah dariku," usir Thrisca seraya mendorong tubuh Han menjauh darinya.
"Jane, sebaiknya kau tidak tahu dan tidak perlu mencari tahu. Atau kau akan tahu akibatnya!" ancam Han.
"Wanita itu begitu penting bagimu? Apa dia sudah menjadi istrimu? Aku ingat dia tengah berbelanja bersamamu di supermarket di hari kita bertemu lagi,"
"Kau meneleponku hanya untuk berbicara omong kosong?!" ujar Han makin kesal.
"Aku hanya kecewa kau menolakku demi wanita itu. Lian juga sudah membatalkan kontrak. Sepertinya kita tidak akan punya banyak kesempatan untuk bertemu,"
"Aku tidak punya urusan apapun denganmu." tukas Han sinis.
"Baiklah. Selamat menikmati kencanmu,"
Jane menutup sambungan telepon dengan kesal dan melempar ponselnya geram.
Wanita itu melajukan mobilnya perlahan meninggalkan taman tempat Han dan Thrisca duduk bersantai.
Thrisca tak berani bersuara sedikitpun setelah mendengar perkataan dingin Han pada seseorang di telepon.
"Wajah Mas Han sama menyeramkannya seperti Ron," batin Thrisca menciut.
"Nona masih ingin berada disini?" tanya Han seramah mungkin pada Thrisca.
Pria itu mulai menyingkir dari hadapan Thrisca dan kembali mendorong ayunan kecil yang tengah diduduki oleh wanita cantik berambut panjang itu.
"Mas Han, bolehkah aku duduk disini sebentar lagi?" pinta Thrisca.
"Tentu saja, Nona.."
"Mas Han, apa kau tahu istri-istri dari kakek dan ayahnya Ron?" tanya Thrisca kembali membuka percakapan.
"Kenapa Nona?"
"Istri pertama dari kakek dan ayah Ron berasal dari keluarga terpandang, kan? Mereka juga tidak memiliki masalah dalam memiliki keturunan, kan?"
"Istri pertama Tuan Besar dulunya pedagang keliling di kota kecil."
"Istri kakek bukan nona muda?" tanya Thrisca dengan bola mata membulat lebar.
"Tuan Besar juga bukan tuan muda pada masa remajanya. Sepertinya Nona tidak tahu kisah Tuan Besar dan kakek Nona,"
"Kakekku? Kakek tidak pernah berbicara apapun padaku. Aku tidak terlalu akrab dengan kakek. Kakekku sangat galak," keluh Thrisca.
"Tidak perlu berkecil hati hanya karena latar belakang dan status, Nona. Tuan Besar sendiri yang memilih Nona, jadi Nona sudah menjadi pilihan terbaik sebagai menantu keluarga Diez." puji Han.
"Bukan itu masalahnya, Mas Han. Tadinya aku memang berkecil hati karena latar belakang dan statusku, tapi kali ini ada hal lain yang lebih kucemaskan.." ujar Thrisca lirih.
"Mas Han, jika Mas Han menikah nanti. Lalu Mas Han mengetahui bahwa istri Mas Han memiliki gangguan kesuburan dan sulit memiliki keturunan, apa Mas Han akan meninggalkan istri Mas Han?" tanya Thrisca meminta pendapat Han.
"Sulit memiliki keturunan? Itu bukan aib, Nona. Kenapa aku harus menceraikan istriku?"
"Mas Han belum menikah, jadi mudah saja mengatakannya." cibir Thrisca.
"Ron mengajakku melakukan pemeriksaan ke dokter. Aku merasa baik-baik saja selama ini, tapi dokter bilang aku memiliki sedikit masalah kesuburan." terang Thrisca mulai bercerita.
"Belakangan ini Ron sering sekali membahas anak. Ron sudah berkali-kali mengatakan padaku kalau dia ingin cepat-cepat memiliki anak dariku dan melarangku menunda kehamilan." sambung Thrisca.
"Lalu?"
"Lalu apa lagi? Dokter mengatakan aku mungkin memiliki masalah kesuburan. Aku tidak yakin aku bisa memberikan anak untuk Ron." ungkap Thrisca dengan wajah murung.
"Nona sudah memastikannya? Bisa saja ada yang salah saat pemeriksaan. Nona coba saja pindah ke rumah sakit lain."
"Bagaimana kalau hasilnya sama saja dan lebih parah?!"
"Nona akan menyerah begitu saja?" tanya Han.
Thrisca terdiam sejenak dan mengingat kembali apa saja yang sudah ia lalui hanya demi bisa hidup bersama dengan suaminya.
Wanita itu bahkan sudah bertekad menyeimbangkan diri dengan Ron. Meskipun ia belum mengusahakan apapun, namun setidaknya ia sudah berniat memperbaiki diri untuk sang suami.
"Kau benar. Aku bahkan belum memulai apapun. Setidaknya aku harus mencoba melakukan sesuatu dulu sebelum aku memutuskan untuk menyerah." tukas Thrisca.
***
Thrisca membuka pintu mobil dan mendapati sang suami sudah berpakaian rapi mengenakan setelan jas.
Ron nampak mempesona dengan jas hitam lengkap dan tatanan rambut rapi. Pria itu langsung tersenyum cerah begitu melihat sang istri sudah kembali ke kediamannya.
"Ron, kau mau pergi?" tanya Thrisca seraya memandangi Ron dari ujung kaki hingga kepala.
"Aku harus menemani kakek. Ini akan menjadi kemunculan pertamaku tanpa kursi roda." jelas Ron.
"Aku ingin sekali mengajakmu, tapi sepertinya suasana hati wanita ini masih buruk." ujar Ron dalam hati.
"Acara apa? Ron tidak berniat mengajakku? Bukankah tamu pesta orang kaya biasanya membutuhkan pasangan? Apa dia takut aku hanya akan membuatnya malu?" batin Thrisca kesal.
"Hati-hati di jalan," ujar Thrisca sekenanya dan beranjak pergi meninggalkan sang suami.
"Hanya itu?"
Ron menarik tangan sang istri sebelum wanita itu memasuki pintu rumah.
"Apa lagi?" tanya Thrisca malas.
"Aku sudah menunggumu sejak tadi. Hanya makan siang saja, kau pergi sampai sore hari! Kau benar-benar ingin mengabaikanku?"
Ron menarik Thrisca masuk ke dalam dekapannya.
Pria itu melayangkan kecupan di bibir merah sang istri yang masih menampakkan wajah cemberut.
Thrisca menyambut ciuman hangat dari sang suami dan membalas Ron dengan kecupan tak kalah mesra.
"Aku akan segera pulang,"
Ron mencium pucuk kepala sang istri bertubi-tubi.
Entah kenapa tiba-tiba saja mata Thrisca nampak berkaca-kaca. Wanita itu memang sengaja menghindar dari Ron karena dia merasa malu dan kecil hati di depan Ron setelah mengetahui hasil pemeriksaan dari rumah sakit. Namun nyatanya hasil pemeriksaan itu tidak menjadi masalah besar bagi Ron.
Pria yang Thrisca abaikan itu masih tetap bersikap lembut padanya dengan perhatian yang tidak luntur sedikitpun.
"Aku tidak pergi jauh. Hanya sebentar saja,"
Ron nampak panik saat melihat mata sang istri yang mulai memerah dan berkaca-kaca.
"Kalau begitu aku tidak usah pergi saja," ujar Ron mengusap air mata istrinya dan menarik tangan Thrisca untuk masuk ke dalam rumah.
"Ron, aku tidak apa-apa. Tidak tahu kenapa mataku tiba-tiba berair. Aku tidak apa-apa,"
Thrisca melepas genggaman tangan Ron darinya dan segera mengusap wajahnya yang basah dengan air mata.
"Bukannya aku tidak mau mengajakmu, tapi aku tahu suasana hatimu sedang buruk. Lebih baik istirahat saja di dalam. Aku akan menemanimu,"
"Aku tidak apa-apa, Ron. Pergilah sebelum kakek memarahimu."
"Bagaimana aku bisa pergi jika saat ini kau masih menangis di depanku?!" tukas Ron mulai jengkel.
"Aku tidak akan menangis lagi. Aku akan masuk ke dalam. Hati-hati, Sayang.."
Thrisca mendorong tubuh Ron pelan dan melambaikan tangan pada pria itu.
"Gendut! Berhentilah membuatku cemas,"
Ron berlari menghampiri sang istri dan mendekap wanitanya erat.
"Maaf, Ron. Aku sudah bersikap menyebalkan hari ini." ujar Thrisca dengan isak tangis.
"Bukan hanya hari ini! Setiap hari kau selalu bersikap menyebalkan!" omel Ron dengan garang.
"Tidak perlu dipikirkan, Sayang. Masih ada pemeriksaan lanjutan. Kau akan baik-baik saja." ujar Ron seraya mengusap lembut kepala sang istri.
***
Bersambung...