
Pagi hari, Ron bangun terlebih dulu dan mengecek dahi istri yang terbaring di sampingnya.
"Sepertinya sudah benar-benar sembuh." gumam Ron pelan.
Selama beberapa malam Ron memaksa Thrisca tidur bersamanya di kamar utama dengan alasan ingin menjaga Thrisca yang tengah sakit. Namun melihat sang istri sudah sembuh, Ron tidak yakin bisa mengikat gadis itu untuk tetap tidur bersamanya di kamar yang sama.
"T-tuan, maaf aku bangun siang lagi.."
Thrisca segera bangun begitu melihat Ron sudah membuka mata terlebih dulu.
"Aku tidak mengatakan apapun." ujar Ron dingin.
Pria itu bangkit dari ranjang dan segera bersiap untuk bekerja. Kali ini Ron akan pergi dari rumah sang istri dan menyelesaikan pekerjaannya dari rumahnya yang lain. Ron ingin melihat apakah istrinya itu akan menahannya atau tidak.
"Hari ini aku akan pulang. Besok aku akan menjemputmu untuk bertemu kakek," ujar Ron seraya memakai kemeja di depan istrinya.
"Baik."
Thrisca menjawab perkataan Ron dengan cuek.
"Ck, paling juga sebentar lagi menangis! Kenapa tidak bilang saja kalau masih ingin ditemani?!" batin Ron geram.
Thrisca keluar dari kamar Ron dengan ekspresi kosong. Gadis itu memasuki kamar tamu dan berbaring di kamar yang biasa ia tempati.
"Aku sudah benar-benar sembuh sekarang, Ron tidak akan memperhatikanku lagi.." gumam Thrisca lemas.
"Apa aku sudah gila?! Kenapa aku mengharapkan perhatian dari pria itu?!"
Thrisca memukul-mukul kepalanya sendiri.
Thrisca membuka pintu kamarnya dan mendapati Ron sudah berdiri dengan tangan terlipat di depan pintu kamar.
"Apa yang kau lakukan disini?! Sudah kubilang, kamar kita di atas!" bentak Ron pada istri cantiknya itu.
"Itu hanya kamarmu. Disinilah tempatku. Lagipula aku sudah sembuh. Aku tidak perlu tidur di kamar itu bersamamu dan kau tidak perlu lagi menjagaku." ujar Thrisca dengan ekspresi tak peduli.
"Kau menjagaku karena kau merasa bersalah sudah membuatku celaka kan? Dengan kesembuhanku ini, rasa bersalahmu seharusnya sudah hilang." sambung Thrisca.
"Benar! Aku menjaganya karena aku merasa bersalah padanya! Seharusnya aku tidak berharap lebih untuk bisa mengikat gadis menyebalkan ini ke kamarku!" gerutu Ron dalam hati.
"Benar! Karena kau sudah tidak membutuhkanku lagi, aku akan pergi!"
Ron keluar dari rumahnya dengan membanting pintu sekeras mungkin.
Beberapa hari bersama dengan sang istri membuat Ron menaruh harapan lebih pada hubungan mereka. Pria itu bahkan membatalkan perceraian mereka dan ingin mencoba membangun hubungan yang baik dengan sang istri.
Namun sepertinya sang istri tidak memiliki harapan yang sama seperti Ron. Pria itu kembali melihat kenyataan dan tetap akan menceraikan Thrisca setelah mereka menemui kakek Ron.
Ron yang kesal dan marah pada Thrisca, kembali masuk ke dalam rumah untuk mengatakan sesuatu sebelum pria itu benar-benar pergi.
"Gendut, kita akan melanjutkan perceraian kita setelah bertemu dengan kakek besok. Aku akan membawakan surat cerai yang baru," ujar Ron dengan tatapan dingin pada istrinya.
Istri Ron itu hanya mengangguk tanpa menjawab perkataan suaminya. Beberapa hari yang lalu, Thrisca sangat senang saat Ron memberikan surat cerai padanya. Namun beberapa hari kemudian, semuanya berubah dengan cepat.
Entah karena tidak ingin kesepian atau tidak ingin ditinggalkan oleh Ron, kata-kata perceraian dari suaminya itu terasa sangat menyakitkan di telinga Thrisca.
"Tehnya sudah habis.. waktu mampir sudah selesai. Keputusan yang bagus aku tidak menaruh harapan lebih pada pria itu." gumam Thrisca.
***
Selama di perjalanan menuju rumahnya, Ron terus uring-uringan dan berteriak pada Han di dalam mobil.
Awalnya Ron memang berharap Thrisca akan menolaknya. Namun saat ia benar-benar mendapat penolakan dari sang istri, Ron mulai murka dan tidak terima.
"Han, siapkan surat gugatan cerai! Besok aku akan menyuruh si gendut itu menandatangani surat itu di depan pria tua menyebalkan yang menjebakku dalam pernikahan ini!"
Han hanya bisa mengangguk menuruti perintah dari bosnya.
"Kasihan sekali, Nona. Sayang sekali gadis secantik itu harus menjadi janda," batin Han.
Sementara di rumah, Thrisca kembali menyibukkan diri dengan pekerjaan rumah. Gadis itu menyapu lantai dengan tatapan kosong. Mencuci piring tanpa bersemangat. Dan mencuci baju dengan lemas.
"Lebih baik aku pergi belanja saja.."
Thrisca segera berganti pakaian dan hendak mengajak tukang kebunnya untuk pergi berbelanja.
Gadis itu memakai pakaian sederhana dan menyisir rambutnya dengan rapi. Dengan berbekal tas kecil, Thrisca bergegas menghampiri Pak Iman.
"Pak Iman, bisa minta tolong sebentar?"
"Mana daftar belanjaannya, Nyonya?"
Tukang kebun itu langsung menangkap maksud majikannya memanggil.
"Aku ingin berbelanja sendiri. Tapi aku tidak tahu jalan kesana. Bisakah Pak Iman menemaniku?" pinta Thrisca.
"Tentu saja, Nyonya.."
Pak Iman segera bersiap untuk berangkat menemani majikannya. Karena tidak ada supir dan mobil yang ditinggalkan Ron untuknya, Thrisca harus mencari kendaraan sendiri jika ingin bepergian.
Begitu keluar dari gerbang, tiba-tiba mobil Ron mendekat ke arah rumahnya. Sang pengemudi pun langsung memberhentikan mobil saat melihat gadis cantik itu berjalan bersama tukang kebun rumah mencari kendaraan umum.
"Nona?"
Han keluar dari mobil menghampiri Thrisca. Ternyata penumpang mobil itu hanyalah Han seorang. Asisten Ron itu berniat mengambil beberapa barang Ron yang ada di rumah istri bosnya itu.
"Mas Han, sendiri kesini?" tanya Thrisca agak kecewa tidak melihat sosok Ron.
"Bos menyuruh mengambil beberapa barang yang tertinggal. Nona ingin kemana? Aku bisa mengantar," tawar Han.
"Tidak perlu. Ambil saja barang Tuan. Aku hanya ingin pergi berbelanja. Pak Iman bisa membantuku." tolak Thrisca.
"Pak Iman pulang saja. Biar aku yang mengantar Nona," perintah Han pada tukang kebun itu.
"Apa nanti Ron tidak akan marah? Mas Han ambil saja barang Tuan dan cepat kembali."
"Kenapa bos harus marah? Bosku bukan hanya Tuan Ron. Nona Thrisca juga majikanku."
Han membukakan pintu mobil untuk Thrisca dan membawa gadis itu menuju minimarket terdekat.
Han membawakan keranjang belanjaan Thrisca dan mengekor mengikuti gadis itu.
"Nona membutuhkan sesuatu?"
"Tidak. Aku hanya ingin mengajak makan malam bersama. Apa itu akan mengganggu pekerjaanmu?" tanya Thrisca dengan hati-hati.
"Dengan senang hati, Nona. Terimakasih atas tawarannya."
"Apa yang ingin kau makan? Aku akan memasakkannya untukmu," tawar Thrisca.
Pria itu ikut memilih bahan makanan bersama Thrisca. Han tidak sungkan memilih bahan makanan dari hidangan yang ingin ia makan.
"Mas Han suka hidangan kentang? Aku juga suka sekali dengan kentang," ujar Thrisca dengan senyuman manis.
"Bagaimana kalau mengambil buah juga?"
Han mulai terbawa suasana dan semakin asyik memilih belanjaan bersama istri bosnya.
Tringg!!
Dering telepon mengusik kesenangan Han yang tengah menemani seorang gadis cantik berbelanja.
Melihat nama yang tertera pada ponsel, asisten Ron tersebut langsung berkeringat dingin. Karena tengah membawa keranjang belanja, Han tidak bisa menjauh untuk mengangkat telepon.
"Halo, Bos?" jawab Han dengan takut-takut.
"Apa kau mengambil barangku ke luar planet?! Kenapa lama sekali?!"
Ron berteriak dari kejauhan mengomeli asistennya itu.
"Sebentar lagi aku akan kembali, Bos." ujar Han lirih.
"Mas Han, mau jeruk?"
Thrisca menoleh ke arah Han. Melihat pria itu tengah sibuk mengangkat telepon, gadis itu mengecilkan suaranya.
Namun suara merdu gadis itu terlanjur terdengar ke telinga Ron.
"Suara siapa itu?!" tanya Ron dengan nada curiga.
"I-itu--"
Belum sempat Han menjawab, suara lain kembali terdengar ke telinga Ron.
"Jeruknya manis-manis. Cicipi saja. Suruh suamimu mencicipi jeruknya," seorang pedagang jeruk berbicara pada Thrisca dan Han.
Thrisca hanya tersenyum kecil dan mengambil beberapa jeruk. Gadis itu membuka jeruk dan menyuapkannya pada Han karena tangan pria itu sibuk memegang keranjang belanja dan juga ponsel.
"Ini Mas, cicipi jeruknya.."
Thrisca menyuapkan jeruk ke mulut Han dengan santai.
"Kalian pasti pengantin baru. Yang satu cantik, yang satu tampan. Kalian benar-benar serasi,"
Suara pedagang jeruk itu kembali mengusik telinga Ron.
"Kau sedang menemani istrimu berbelanja?! Memangnya sejak kapan kau punya istri?!! Istri siapa yang kau bawa itu?!" pekik Ron hingga membuat telinga Han berdengung.
"Tidak ada yang menemani Nona berbelanja, Bos.." ujar Han sepelan mungkin.
"Berani kau membawa istriku keluar?! Kemarin kau melucuti pakaian istriku, sekarang kau ingin mengambil peranku dan menemaninya berbelanja?!!"
"Bos, aku tidak ada maksud lain. Aku tidak tega membiarkan nona naik kendaraan umum." jelas Han.
"Bagaimana penampilannya sekarang?"
"Apa?"
Han nampak bingung mendengar pertanyaan sang bos.
"Bagaimana penampilan si gendut itu?!" tanya Ron geram.
"Nona.. sangat cantik. Nona memakai kaos panjang berwarna putih dan rok selutut berwarna hitam. Rambut panjangnya yang tergerai benar-benar cantik," puji Han.
"Kau berani menatap istriku?!! Kau sudah tidak ingin punya mata lagi?!"
Amarah Ron semakin meluap saat mendengar ocehan Han tentang istrinya.
Pria itu semakin kesal pada istrinya saat mengetahui gadis itu berdandan cantik saat bersama pria lain namun istrinya itu malah memakai sumpalan kain aneh saat bersama dengannya.
"Si gendut itu benar-benar!! Berikan telepon padanya!" teriak Ron.
"Nona, Bos ingin berbicara.."
Han menyerahkan ponselnya pada Thrisca.
"Halo?" Thrisca menjawab telepon Han dengan suara lirih.
"Apa yang sedang kau lakukan sekarang?! Tadi pagi aku membahas mengenai perceraian, dan sekarang kau sudah bergerak mencari penggantiku?!" omel Ron pada Thrisca.
"Mas Han hanya membantuku.."
"Panggil dia Han!" bentak Ron.
"Mas Han lebih tua dariku! Aku hanya ingin bersikap sopan padanya."
"Lalu kau pikir yang kau lakukan saat ini adalah bentuk kesopanan?! Kau menarik pria lain untuk menemanimu berbelanja disaat kau memiliki suami?!!"
"Apa aku pernah menjadi istrimu?" tanya Thrisca dengan getir.
"Apa?!"
"Aku tidak pernah benar-benar menjadi istrimu. Kau tidak pernah menganggap keberadaanku! Kau tidak pernah menemuiku dan kau tidak pernah pulang ke rumah yang kau berikan padaku! Apa aku masih bisa menganggap diriku sebagai istri seseorang?!"
Ron terdiam sejenak sebelum membalas perkataan sang istri. Semua yang Thrisca katakan benar adanya. Mereka berdua memang pasangan suami istri. Namun itu hanyalah status yang tertulis di atas kertas.
Kenyataannya, Ron dan Thrisca tidak pernah menjadi pasangan yang sebenarnya.
***
Bersambung